Kisah Hijrah Manager Artis Merangkap Chef : Wendra Basarah

By MomaLiza - 00.04.00


Foto : Koleksi Wendra


Mengenal sosok Wendra Basarah seperti menemukan lukisan mozaik yang menakjubkan. Setiap kepingan warna membawa kisah tersendiri yang tak henti membuatmu terpana. (Saya rasa, saya beruntung mengenal lelaki tangguh ini dan menggali kepingan-kepingan cerita dalam kehidupannya. Trims Mbak Lottati Mulyani yang telah mengenalkan kami :) ) 

Tidak, tidak melulu berisi tentang hal-hal yang menyenangkan dan membanggakan. Selain warna-warna cerah, juga warna-warna suram yang terkadang membuatmu mengerutkan dahi. Namun, secara keseluruhan, kisah perjalanan hidupnya sangat inspiratif. (Baca juga : Ojek Payung )



Kali ini saya menuliskan sekeping kisah, sebuah alasan,  yang membuat manager artis merangkap chef ini berani melangkah untuk hijrah. Meninggalkan gemerlapnya dunia malam dan menjalani kehidupan yang lebih keras. Yaitu : Mamduh.
Mamduh ketika menjadi petugas upacara (Foto : Koleksi Wendra)


______
Akulah Yang Beruntung Memilikinya
Oleh : Liza Permasih

            Ruang dingin full AC itu mendadak terasa gerah. Aku tercekat menatap sosok lelaki kecil yang tergolek lemah dengan selang yang menghiasi tubuhnya. Kupejamkan mata mengusir sesak yang sedari tadi menyergapku.
            “Tolong katakan, apa yang bisa saya bantu untuk mengurangi penderitaannya?”tanyaku pelahan.
Namun berakibat kejut yang begitu nyata di bola mata perempuan yang pernah sangat dekat denganku belasan tahun silam. Ah, tidak. Nyatanya ia tak pernah benar-benar pergi dari hatiku. Perempuan itu tertunduk tak mampu berkata. Tapi aku tahu, ia butuh lebih dari sekadar kata-kata.
            Saat itu menjadi awal pertemuanku dengan lelaki kecil luar biasa itu. Mamduh, nama panggilannya. Terlahir dengan hidrocephalus membuatnya senantiasa berurusan dengan rumah sakit. Aku tak bisa menutupi perasaan sayang yang membuncah begitu saja saat melihat wajahnya. Entah karena ia anak dari satu-satunya perempuan yang kucintai, atau, karena aku tak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya.
            Melihat wajahnya, aku membayangkan seorang Wendra kecil. Jika dirinya terlahir dengan penyakit bawaan seperti Mamduh, adakah yang mau merawatnya dengan penuh ketulusan?
            Hatiku mendadak pedih. Masa kecilku, bukanlah masa yang indah. Namun, sebuah masa yang penuh dengan kegetiran. Masa yang penuh perjuangan dan kerja keras. Alhamdulillah, aku berhasil sampai ke titik ini. Pada titik yang kerap membuatku tercenung.  
            Siapa yang bisa menduga takdir hidup seseorang?
            Seorang anak kecil, kurus dan tak diinginkan. Yang memulai harinya sebelum ayam berkokok dan saat semua masih tertidur nyenyak dalam selimut hangatnya. Hidup menumpang di rumah nenek membuatku dituntut untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sebelum diizinkan berangkat sekolah. Tak ada  kesempatan bermain dan bersenda gurau dengan teman sebaya.
            Sekolah kemudian menjadi tempat bersenang-senang. Aku betul-betul menikmati masa-masa sekolah. Aku berusaha keras menjadi yang terbaik di antara kawan-kawan. Karena hanya di sekolah aku bisa menjadi diriku sendiri. Di sekolah, aku merasa berharga.
 Tinggal di Kota Hujan membuatku  memandang hujan sebagai salah satu cara Tuhan menyayangiku. Hujan adalah berkah. Berkah yang aku jemput bersama payung kesayangan sepulang sekolah. Ya, akulah ojek payung yang menanti pelanggan  di emper-emper pertokoan.
 Receh demi receh kukumpulkan, untuk jajan dan biaya sekolah dan sebagian untuk membantu meringankan beban orangtua di kampung. Menjadi ojek payung mengajariku adanya harapan setiapkali langitku tersaput mendung gelap.
Aku menghela napas. Menghapus kenangan yang menyeruak begitu saja ketika melihat sosok mungil Mamduh. Kutatap wajah lembut di sampingku dan tersenyum menenangkan. Sebagai seorang manager artis yang menaungi puluhan artis berbakat dan ternama di tanah air, waktuku sangat padat. Tapi aku berjanji akan kembali dalam waktu dekat.
Aku berjanji untuk meluangkan waktuku demi Mamduh.
Keluarga, Sebuah alasan untuk hijrah (Foto : Koleksi Wendra)
*
Pelahan aku mendorong kursi roda memasuki ruang meeting. Sontak seisi ruangan menyapaku dan Mamduh yang duduk ceria di atas kursi rodanya. Mamduh tampak menikmati suasana di kantorku. Senyum menghiasi wajahnya. Sesekali ia becanda dengan anak-anak asuhku atau crew film yang berada di dekatnya. Ia anak yang ramah dan sopan, meski memiliki keterbatasan, ia tidak rendah diri. Melainkan bersemangat mempelajari berbagai hal yang ditemuinya.
Sejak memutuskan untuk menikah dengan ibunya Mamduh, aku memang total merawat Mamduh. Aku membawanya hampir dalam setiap kesempatan. Aku menikmati kebersamaan ini. Begitu pula Mamduh. Maka tak heran jika kantorku menjadi rumah kedua bagi Mamduh.
Kini Mamduh sudah bersekolah di sekolah Islam terbaik di kota kami. Meski kemampuan motoriknya belum banyak kemajuan, namun kemampuan belajarnya  berkembang pesat, terutama kemampuan berbahasa Inggrisnya. Di samping itu, kami pun membekalinya dengan ilmu agama dengan mengundang seorang ustadz untuk mengajarinya mengaji dan menghapal Al-Qur’an. Alhamdulllah kemauan dan semangat Mamduh membuat rasa lelah dan berat saat merawatnya terobati.
Sering sekali aku mendengar, orang mengatakan, alangkah beruntungnya Mamduh memiliki ayah tiri sebaik aku.  Yang begitu perhatian dan telaten merawat Mamduh.  Tidak ada seorang ayah, bahkan ayah kandung yang melakukan sebaik yang kulakukan pada Mamduh, ujar mereka. Biasanya aku hanya tersenyum mendengarnya.
Semula aku tidak menyadari apa arti menjadi seorang ayah. Aku hanya ingin menyayanginya dengan tulus. Namun keberadaan Mamduh menyadarkanku akan banyak yang semula tak terpikirkan.
Menjadi seorang ayah membuatku selektif memilih pekerjaan. Jika dulu dengan mudahnya aku mengelola even-even berbau maksiat sebagai pekerjaan sampingan, kini aku berpikir ribuan kali untuk menerima tawaran pekerjaan yang sama. Pelahan aku meninggalkan kelamnya dunia gemerlap. Semua demi kebaikan Mamduh. Kurasa setiap ayah seharusnya melakukan hal yang sama.

Chef Wendra dalam sebuah tayangan di TRANSTV (Foto : Koleksi Wendra)
Uang menjadi prioritas kesekian. Alih-alih memilih jalan mudah berbau maksiat, aku memilih kembali pada profesi lamaku sebagai chef, di samping pekerjaan utamaku sebagai manager artis.  Profesi yang melelahkan tentunya, akan tetapi memberikan ketenangan batin yang dulu tak pernah kurasakan.
Jadi, kurasa, akulah yang beruntung memilikinya.
Selesai.


Kisah inspiratif ini, serta puluhan kisah menarik lainnya dibukukan dalam buku antologi Menjaring Cahaya. Buku ini bisa dipesan melalui penulis.



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^