Kisruh PPDB : Sistem Zonasi dan Kenangan Sistem NEM Di Masa Lalu

By MomaLiza - 11.57.00



Foto : Pixabay




Sejatinya para pemenang tidak dibentuk dengan kemudahan, melainkan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya sepanjang masa.  
Apakah sistem zonasi efektif untuk memunculkan generasi para pemenang atau tidak? Ini menjadi pertanyaan besar bagi bangsa ini. Dan sebuah pesan, memaksaku kembali ke masa lalu.




 
Sebuah pesan masuk ke WhatsApp pribadi saya :

Ada kenangan luar biasa ketika saya masuk SMA. Banyak teman saya berasal dari luar daerah. SMA saya saat itu termasuk salah satu SMAN di Bandung yang dianggap favorit. Dan mungkin karena itu, banyak teman saya yang berasal dari luar daerah.

Bukan sekedar luar kota Bandung. Bukan pula sekedar luar provinsi Jawa Barat. Tapi, ketika saya di SMAN 3 Bandung, teman sekolah saya berasal dari seluruh Indonesia.

Ada teman yang berasal dari Padang, Aceh, Medan. Ada pula yang dari Gorontalo, Makasar. Bahkan dari Irian Jaya, dari Manokwari seingat saya.

Lebih luar biasanya lagi adalah mereka bahkan tinggal sendiri di tempat kost. Bukan dengan orang tua. Bukan dengan keluarga atau saudara. Daerah kost mereka biasanya sekitar jalan Bali, jalan Sumatra, jalan Jawa, daerah-daerah dekat sekolah.

Mereka adalah anak-anak muda dengan semangat dan daya juang yang luar biasa. Dengan modal NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang tinggi saat di SMP mereka membidik PTN favorit di Bandung. Dan mereka memilih cara, masuk ke sekolah di Bandung (SMA) yang banyak meloloskan siswanya ke PTN yang mereka tuju.

Ada kekaguman pada mereka. Juga pada orang tua mereka yang rela melepas anaknya jauh dari rumah. Saya sendiri orang Bandung. Jadi sukar membayangkan perasaan mereka saat SMA tinggal jauh dari orang tua maupun saudara.

Mungkin zaman indah seperti itu tak akan terulang lagi. Dengan sistem zonasi saat ini, kedekatan tempat tinggal dengan sekolah menjadi kunci untuk masuk sekolah negeri. Baik favorit ataupun bukan. Dan nilai hasil belajar bukanlah hal yang penting untuk masuk ke sekolah tersebut. Setidaknya itulah yang terukir di benak anak-anak sekolah sekarang. Dan bahkan orang tua mereka juga.

Mengapa demikian? Karena persentase kuota zonasi yang sangat besar. Karena bobot nilai jarak rumah-sekolah yang terlalu besar. Sehingga nilai hasil belajar dan prestasi mereka menjadi terkerdilkan.

Zaman itu mungkin tak akan berulang. Saat di mana sekolah di SMA dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari seorang siswa SMA tahun 1985-1988,
Yang menjadi seorang guru SMP sekarang.

Sebuah tulisan yang menyiratkan kesedihan, kemarahan dan keprihatinan mendalam tentang sistem pendidikan yang kehilangan jati dirinya di tangan para pengambil keputusan.

Saya mengenal dengan baik penulis pesan WA di atas, memahami kegelisahannya tentang semangat juang anak-anak didiknya yang dipatahkan oleh sistem yang tidak berpihak pada jiwa kompetitif dan prestasi. Karena saya adalah istri yang telah mendampingi hampir  separuh dari usianya.

Saya turut merasakan kesedihannya saat menerima pesan-pesan WA dari anak-anak didiknya yang berprestasi, namun gagal hanya karena letak rumah tidak mendukung. Sejatinya, mereka anak-anak yang dibunuh oleh sistem. Sistem yang baik, tapi belum siap diterapkan, tak ubahnya pisau tajam yang diberikan ke tangan yang belum terampil. Alih-alih memberi manfaat lebih, pisau tersebut lebih cenderung untuk melukai.

Ingatan saya pun terbang ke masa puluhan tahun silam. Masa-masa penerimaan siswa didik baru di masa lalu.  Nilai Ebtanas Murni yang kami miliki berfungsi sama dengan kunci. Kunci gerbang sekolah mana yang berhasil kami masuki tergantung besar nilai yang telah kami perjuangkan selama masa sekolah.

Saya bukan anak yang berprestasi -seperti suami saya- pada masanya. Nilai sekolah saya tergolong biasa-biasa saja. Hanya sedikit di atas cukup. Alhamdulillah. Bermodal nilai lumayan ini,  saya memilih sekolah-sekolah negeri di tengah kota. Bukan sekolah favorit seperti suami saya (SMA N 3 Bandung yang nyaris 80% lulusannya bertemu lagi di ITB dan PTN ternama lainnya).

Cukup menegangkan, tentunya.

Karena salah satu syarat memasuki sekolah idaman, selain nilai tinggi, adalah kemampuan membaca peluang dan menyesuaikannya dengan passing grade sekolah. Ada turun naik pasing grade yang berlaku setiap tahunnya. Bagi siswa yang memiliki NEM tinggi, mereka bebas memilih sekolah yang mereka inginkan.Namun, tidak demikian dengan saya, yang hanya memiliki nilai hanya sedikit di atas cukup. Kami harus teliti membaca peluang dan bersaing sehat di antara para pemilik nilai pas-pasan ini.

Saat itu tidak ada orangtua yang direpotkan dengan urusan pendaftaran anak-anak --- kecuali orangtua yang mau repot--- semua berlangsung dengan damai dan tenteram. Pengumuman sekolah pun diterima dengan penuh rasa syukur bagi siswa yang lulus, dan yang tidak lolos bersiap mendaftar di sekolah-sekolah swasta dengan legowo.

Pasca PPDB, kami pun menjalani masa-masa di sekolah dengan penuh rasa riang. Siswa-siswa relatif memiliki kemampuan yang sama. Menyukai hal-hal yang sama. Sebagai contoh, siswa SMA negeri favorit mengisi hari-harinya dengan  berburu rumus-rumus di perpustakaan-perpustakaan. Mereka menemukan kebahagiaan saat bisa memecahkan soal-soal yang diberikan gurunya. 

Berbeda halnya dengan sekolah negeri biasa, contohnya di sekolah saya, kami menikmati kebahagiaan saat guru tidak masuk kelas dan kelas diambil alih oleh teman-teman yang hobi bermain musik. Kelas berubah menjadi panggung hiburan. Ini tentu membahagiakan.

Tak terbayang rasanya, jika kami yang memiliki otak pas-pasan harus berhadapan dengan para siswa yang 'gila' belajar. Alangkah membosankannya. Dan terbayang juga kebingungan anak-anak yang jenius itu melihat polah anak-anak lain yang gemar menghambur-hamburkan waktu seperti kami.

Pada masa itu, saya suka menebak, anak sekolah dari sikap dan kebiasaan mereka saat berada di angkot. Mudah sekali membaca sikap anak-anak sekolah pada saat itu. Karena kecenderungan untuk bersikap dan memiliki kebiasaan terbentuk oleh lingkungan yang mendidik mereka.

Oya tentu saja ada anak-anak yang "tidak biasa" dari lingkungan di mana mereka tumbuh.Tentu ada saja yang berbeda. Namun secara umum, tetap ada kesamaan. 

Foto : Pixabay


Kerap saya pun bertanya-tanya, apa keunggulan sistem zonasi? 

Apakah kesetaraan pendidikan dapat dibentuk seperti bermain sulap? Tiba-tiba seluruh sekolah memiliki kemampuan siswa yang seragam?

Hei, keseragaman itu tidak lahir begitu saja. Ada proses yang berkaitan dengan banyak faktor.  Salah satunya adalah kesiapan tenaga pendidik yang mampu mengoptimalkan kemampuan masing-masing siswa. Belum lagi latar belakang keluarga yang haruslah sama-sama mendukung dan memberikan suanana kondusif bagi anak-anaknya untuk belajar.

Kita agaknya masih jauh untuk mengejar keseragaman dan kesetaraan itu. Lihat saja pembangunan sekolah yang tidak merata di setiap kabupaten. Baik fasilitas, sarana dan prasarananya.

Kita masih sangat jauh tertinggal dari negara maju dalam kesejahteraan masyarakatnya. Asupan gizi dalam setiap keluarga juga sangat jauh berbeda. Lantas mengapa memaksakan setiap anak untuk belajar di bangku yang sama?

Tidakkah lebih indah jika anak-anak berjuang sesuai dengan karakter alami mereka yang dibangun keluarga asalnya?  Berjuang menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan hidup tanpa dikebiri hak-haknya?

Seperti saya yang menikmati masa-masa menunggu angkot dan mengejar bis setiap berangkat dan pulang sekolah. Menikmati masa-masa perjuangan sesuai dengan usaha dan kemampuan belajar tanpa takut tersingkirkan oleh siswa lain yang rumahnya lebih dekat dengan sekolah impian.

Saya menikmati masa-masa itu, saat menjadi pemenang karena upaya yang saya lakukan, atau belajar menerima kekalahan karena banyak yang jauh lebih berprestasi dari saya. Anak-anak tumbuh dalam iklim persaingan yang sehat dan berjuang untuk menjadi yang terbaik dengan keterbatasan yang dimiliki. Ini tentu menjadi pengalaman yang tidak ternilai. Dan saya bersyukur telah hidup di masa itu.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^