Jika Anak Late Bloomer

By MomaLiza - 12.24.00



Pernah mendengar istilah Late Bloomer, Mom? Istilah ini diberikan pada anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam proses perkembangannya. Dan, bagi kami, salah satu di antaranya adalah Syahid.

Terlahir sebagai anak ke-7 membuat Syahid istimewa. Jarak usianya dengan kakak terdekatnya, Zidna, terpaut 5 tahun. Sementara dengan kakak sulungnya, 19 tahun! Kondisi ini membuat Syahid tumbuh dalam limpahan kasih sayang.

Entah karena dilimpahi kasih sayang yang berlebihan dari kakak-kakaknya, atau karena ibunya yang sudah terlalu lelah memberikan stimulasi – dan mau enaknya saja—Syahid tumbuh menjadi bayi yang malas bergerak.

Bagaimana tidak malas bergerak, bila Syahid ingin mengambil mainan, maka kakak-kakaknya langsung memberikan mainan itu. Tanpa usaha keras mainan dan apapun yang Syahid inginkan datang dengan sendirinya. Ia hanya menunjuk ke arah benda yang diinginkan atau bersuara “uh”, selesai.

Sementara kuping ibu tak tahan lagi mendengar tangisan, akibatnya Syahid lebih sering berada dalam gendongan daripada bergerak bebas di lantai. 

Pada awalnya hal ini tidak terlalu mengkhawatirkan. Perkembangan motoriknya meski agak terlambat, namun masih terhitung normal. Misalnya, jika bayi lain bisa berguling-guling saat berusia 3 bulan, Syahid melakukannya ketika menginjak usia 6 bulanan. 

Ketika pada umumnya bayi lain belajar duduk, merangkak saat berusia 8 bulan, Syahid baru bisa merayap. Itu pun dengan malas.

Perkembangannya semakin tertinggal saat menginjak usia 1 tahun. Ia belum bisa berjalan. Belum bisa bicara. Ia tertinggal jauh dari teman-teman sebayanya, bahkan yang dibawahnya.
Sedih? Tentu saja.
Cemas? Pastinya.

Kami mulai lebih serius memperhatikan perkembangan Syahid. Memijatkan Syahid ke tukang pijat bayi mulai kami lakukan secara berkala. Juga menstimulasi perkembangan motoriknya dengan membelikan mainan dan benda-benda penunjang. Melatih ia berdiri dan berjalan sambil berpegangan. Juga mengurangi frekuensi menggendong. Namun perkembangan  Syahid masih belum terlihat.

Waktu terus berlalu, belum tampak keinginan Syahid untuk belajar berdiri dan berjalan . Belum tampak juga keinginannya untuk mengikuti suara-suara. Ia tampak nyaman-nyaman saja dengan kemalasannya. Meskipun, kami yakin Syahid baik-baik saja dan normal, wacana membawa Syahid ke pusat tumbuh kembang pun makin sering kami bahas.

Hingga suatu malam, Syahid berjalan antara saya dan bapaknya. Tanpa pegangan. Amazing rasanya. Kami menyangka inilah saatnya. Tapi keesokan harinya, Syahid kembali mogok berjalan. Hari-hari selanjutnya  -hingga berbulan-bulan kemudian) ia seolah-olah lupa, bahwa ia pernah bisa berjalan.

Memaksa Syahid untuk kembali berjalan, jelas bukan pilihan.  Bila dilatih berdiri saja sudah menangis heboh, bagaimana mungkin kami tega memaksanya berjalan tanpa melepaskan pegangan tangan?

Masa itu pun akhirnya tiba


Late Bloomer bukan hanya membutuhkan waktu untuk menunjukkan keterlambatannya, namun juga harus menemukan orang yang tepat. Orang yang tepat ini akan membantu memunculkan kemampuannya tersebut. (SitiMugi Rahayu, M.Pd :Apa salahnya Jadi Late Bloomer:hal. 19)
 
Hingga suatu saat, Zidna berseru gembira. “Ibu, lihat sini. Syahid bisa jalan.”
Tepat di usia 2,5 tahun, Syahid baru bisa berjalan.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Syahid melangkah berjalan dari Zidna ke arah Arsyad dengan gembira. Dari satu pelukan ke pelukan lainnya. Wajahnya riang. Dan yang lebih membahagiakan, kemampuan barunya itu berlanjut pada hari-hari berikutnya.

Kakak-kakaknya ternyata mampu menjadi orang yang tepat untuk memunculkan kemampuan berjalan Syahid. Dengan pelukan hangat dan suportnya, Mereka membuat Syahid mampu dan ingin terus latihan berjalan. Terutama Zidna. (Thanks to Zidna). Terlambat, memang. Namun toh, alhamdulillah, bisa juga...

Seiring dengan kemampuan motoriknya, ternyata kemampuan bicara Syahid pun mengalami kemajuan. Ia mulai senang berceloteh dan mengikuti kata-kata sederhana. Ia mulai bisa mengungkapkan keinginannya dan bisa diajak “mengobrol”.

Si Late Bloomer di sekitar kita


Mom, kita kerap memandang sebelah mata anak-anak yang memiliki keterlambatan, baik perkembangan fisik maupun motoriknya. (Dengan catatan tidak ada riwayat sakit atau diagnosa merujuk pada anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan serius). Padahal, anak-anak late bloomer ini banyak di sekitar kita. 

Anak late bloomer berbeda dengan anak delayed yang memerlukan penanganan lebih serius. Tak jarang memerlukan terapis profesional untuk membantu anak mengejar ketinggalannya dengan anak lain seusianya. Coba deh baca juga 5-penyebab-anak-terlambat-bicara. dan tips-sederhana-deteksi-dini-anak

Menjadi late bloomer bukanlah masalah, Mom. Seperti halnya bunga yang memerlukan waktu untuk berkembang, anak-anak late bloomer juga memerlukan kesabaran orangtuanya, memerlukan waktu dan menemukan orang yang pas untuk membantunya memunculkan kemampuan terbaiknya. Dan tentu saja, kesempatan-kesempatan yang diberikan orangtua untuk menemukan potensi dirinya.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun kerap baru menyadari kemampuan yang dimiliki ketika berusia matang. Contohnya, saya. Saya baru menyadari bahwa saya bisa menulis karya fiksi yang layak terbit di media nasional ketika usia saya menginjak kepala 4. Saya menemukan guru menulis yang pas dan bisa membantu saya mengasah kemampuan terpendam saya. (Jazakillah khoiron katsiro, Bun Nurhayati Pujiastuti)

Ingatkah kisah Sir Isaac Newton? Kita tahu, beliau bukanlah anak yang pandai saat bersekolah, hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Newton bukan anak yang bermasalah. Ia hanya late bloomer. Hanya terlambat berkembang. Ia membutuhkan momentum yang tepat, orang yang tepat. Dan orang itu adalah ibunya sendiri. Dengan kesabaran sang bunda, potensi terbaik Newton muncul dalam asuhannya. 

Itu baru salah satu contoh. Di luar sana, banyak sekali orang-orang hebat dan keren yang semasa kecil biasa-biasa saja, namun pada waktunya muncul sebagai sosok yang inspiratif  dan hebat. Mungkin Anda salah satunya.

Karena sejatinya setiap manusia itu unik dan memiliki kelebihan tersendiri. Ia hanya perlu menemukan orang yang pas atau momentum yang pas untuk membantunya berkembang dan menemukan dirinya.

Semoga artikel ini bermanfaat. Salam...

  • Share:

You Might Also Like

7 komentar

  1. Wah baru tau ada istilah late bloomer aku pikir sama dgn delayed ternyata berbeda yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda, Mbak. Slah satu anak saya juga delayed. Dan itu memerlukan penangan serius dan perlu observasi ari tenaga profesional untuk menegakkan diagnosa itu. Sementara late bloomer, anak biasa yang belum menemukan momentum untuk berkembang. Cenderung terlihat malas aja sih.

      Hapus
  2. Aku baru tahu istilah ini Liza. Padahal, tetanggaku dulu ada yg ngalamin hal ini. Krn lama ga punya anak (lebih dari 5 tahun) akhirnya anaknya ngalamin hal ini nih...sehat segalanya cuma malas aja kata dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mabak Ade. Biasanya karena udah terlalu nyaman dengan kondisinya, jadi males segala-galanya. Ini yang bikin perkembangannya jadi terlambat. Padahal di usia balita, perkembangan itu tumbuh cepat, bila tertinggal satu-dua tahap, ngejarnya lama dan butuh terapi juga. Ini kayak Syahid. Males bener...

      Hapus
  3. Balasan
    1. Sama-sama, terima kasih sudah mampir ya, Mbak...

      Hapus
  4. Anak saya baru merespon panggilan di usia 2 tahun sebelum nya tidak merespon, dan bicara nya belum bisa hanya bilang mamam saja pada saat lapar...apakah ini termasuk late bloomer?

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^