Kamis, 03 Mei 2018

Cerita Disabilitas Yang Bersemayam Dalam Dada


Disabilitas, sebuah cerita tentang mereka (foto punya Bun Nur)

Acara puncak penyerahan hadiah berbagai lomba Inspirasi Kartini yang didukung oleh Kayumanis Foundation di Cinnamon Boutique Syariah Hotel telah lama berlalu, tetapi ingatan saya tak jua beranjak dari pemandangan yang saya lihat selama di sana. Pemandangan yang memancing ingatan saya puluhan tahun silam. (eaa, tua bener Maak..)


Iya, puluhan tahun silam, saat saya masih berseragam putih abu. SMA.  Saya bersekolah di SMAN 6 Bandung, se-angkatan dengan saya, ada 3 orang teman penyandang disabilitas netra. Kami tak pernah sekelas, tetapi saya mengagumi semangat pantang mundur dan pantang menyerah kawan-kawan tuna netra.

Semangat ini menarik perhatian saya ketika berkesempatan mengunjungi panti Wyataguna, ada banyak kegiatan yang memantik rasa ingin tahu saya lebih dalam. Salah satunya melihat mereka bertanding sepak bola. Iya, sepak bola! Lucu, seru, dan rasa haru mengaduk-aduk hati. Beberapa saat langkah saya tertahan memperhatikan keseruan permainan mereka. Memperhatikan bagaimana cara mereka bermain. Menghayati riuh suara penonton setiap kali bola bergulir keluar garis. Sungguh, mereka berbahagia dan antusias dalam permainan itu.

Selain itu, keinginan kuat mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi yang bisa mereka raih, menarik perhatian saya. Saya turut merasakan aliran energi saat mereka berani bermimpi. Berani menghadapi tantangan yang sulit. Berani menghadapi perlakuan yang berbeda dari lingkungan.

Menjadi reader menjadi salah satu bentuk simpati dan dukungan yang bisa saya berikan pada teman-teman disabilitas. Yaaah, meski sekadar membantu membacakan pelajaran, dan membantu menulis tugas sekolah yang mereka diktekan. (Ssst, saya kasih tau ya, jawaban mereka tuh puanjang-puanjang deh. Heran saiyah dengan kemampuan mereka merangkai kata dan mendiktekan dengan runut apa yang ada dalam pikiran mereka)

Di sana saya bertemu lagi dengan teman-teman SMA yang memang tinggal di panti tersebut. Kang Usep dkk. Hebatnya, mereka juga kuliah. Ya, beberapa teman tuna netra melanjutkan pendidikan tinggi. Kebanyakan memang memilih UPI sebagai kampus dengan alasan dekat dengan panti, tetapi ada juga yang mengambil jurusan Hukum di universitas lain.

Pengalaman mendampingi mereka, mesti tak lama dan hanya sesekali saya lakukan, tetap saja membekas. Keinginan-keinginan yang bagi kita hanyalah hal biasa-biasa saja, tetapi bagi mereka menjadi hal yang mustahil, seperti, ingin melihat keindahan pelangi. Betapa mereka rindu akan warna dan memahami keindahan setiap warna.

Juga beberapa pertanyaan-pertanyaan --yang mungkin kita tanyakan karena rasa penasaran, tetapi bagi mereka, terasa menyebalkan dan menghina—semacam : bagaimana cara mereka minum? Apakah tidak kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa melihat? Bisakah mereka melakukan banyak hal tanpa pertolongan orang?

Mungkin bagi kita yang bisa melihat, mustahil tanpa melihat kita bisa melakukan banyak hal. Akan tetapi di panti itu saya melihat dengan mata kepala, setiap ruangan tampak bersih dan rapi. Tempat tidur, lemari dan barang-barang tersusun rapi. Begitu juga dengan lantainya, bersih. Semua itu dikerjakan penghuni panti sendiri. Mereka memiliki jadwal piket untuk memastikan semua barang dan kondisi asrama bersih dan rapi. Kerapian memang memudahkan mereka untuk menemukan barang-barang yang mereka butuhkan.

Banyak sekali hal menarik selama saya menjadi reader. Saya menikmati interaksi yang terkadang menghangatkan hati, kadang juga menjengkelkan.  Juga belajar mengerti, tentang dunia mereka yang begitu gelap, dunia yang mereka harap bisa mereka sejenak saja benderang, agar bisa menikmati indahnya pelangi.

Disabilitas bukanlah kutukan

Tak ada takdir buruk bagi setiap insan di dunia. Setiap takdir itu baik dan membawa kebaikan. Kita hanya perlu memahami lebih dalam dan lapang dada menyikapinya.

Seperti para disabilitas yang berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, mereka tak  tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh dimengerti dan dimanusiakan. Sejatinya, keberadaan mereka bukanlah beban bagi lingkungannya, melainkan sarana agar kita semakin mengasah sisi kemanusiaan kita.

Keberadaan disabilitas merupakan sarana agar kita semakin bersyukur atas kondisi diri, dan takdir hidup yang kita jalani. Saling mengisi untuk menjadi insan terbaik di mata Sang Pencipta.

Ah, semoga sekelumit cerita disabilitas ini berkenan di hati pembaca. Salam

4 komentar:

  1. iya mereka juga perlu diapresiasi agar mereka mersa dirinya bs diterima ya. sekarang aku mendampingi 6 orang yang berkebutuhan khusus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, keren Mba Tira... Tetep semangat ya Mbaa

      Hapus
  2. Salam kenal mbak,saya baru belajar menulis,en baru belajar ngeblog .. keren tulisannya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir mba Sri. Salam kenal

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^