Kamis, 26 April 2018

Semalam Di Cinnamon Boutique Syariah Hotel Bandung


Cinnamon Boutique Syariah Hotel Bandung


Hari menjelang sore dan mendung saat saya dan anak-anak melangkah memasuki lobby Cinnamon Boutique Syariah Hotel menuju meja resepsionis. Sambutan yang hangat, ramah dan santun  menyapa kami. Tanpa ketegangan sedikit pun, meski mamak yang teledor ini gagal menunjukkan identitas diri (KTP ketinggalan di rumah, kebiasaan buruk yang tak boleh ditiru. Haaiiish...)


Kami menunggu di lobby yang mewah namun terasa hangat, ketika resepsionis menghubungi panitia untuk konfirmasi kedatangan kami. Tak makan waktu lama, akhirnya kami mendapatkan kamar di lantai 6. (Horeee....)

Dengan berbagai drama tak jelas, sampailah kami ke ruangan yang disediakan panitia. Hal pertama yang menarik perhatian saya pertama kali saat memasuki kamar adalah mukena dan Al-Qur’an yang disediakan hotel. (Hei, ini betul-betul hotel yang menggunakan konsep syariah dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya ketersediaan perangkat ibadah, selama berada di lobby tadi pun, mata saya terasa amat nyaman dengan busana-busana yang dikenakan tamu. Semua berpakaian sopan dan pantas).

Bertemu Guru Menulis dan Teman Seperjuangan

 

 
Bertemu perempuan-perempuan hebat ini, membuat saya turut merasa keren

Berada di Cinnamon Boutique Syariah Hotel Bandung bagi saya lebih terasa sebagai keajaiban. Rezeki tak terduga. Teh Tini, (Dra. Kustini, ketua Himpunan Wanita Disabilitas  Prof. Jabar) ketika meminta saya membentuk tim juri, beberapa waktu lalu, tidak menyebutkan apapun terkait apresiasi untuk para juri. 

Tentu saja undangan untuk menghadiri penyerahan hadiah untuk pemenang Lomba Menulis Surat Inspirasi Kartini ini membuat  kami, tim juri, terkaget-kaget. Tidak ada wacana untuk ketemuan sebelumnya. Menjadi juri merupakan bentuk kepedulian kami pada saudara disabilitas kami. Itu saja.

Tawaran menjadi juri, bagi saya, terutama, merupakan kesempatan emas untuk bisa sedikit menunjukkan rasa simpati di tengah-tengah kesibukan saya sebagai ibu, penulis dan marketer properti syariah. Apa susahnya menjadi juri dan membaca surat-surat, begitu pikiran saya sebelumnya.

Namun, ternyata, menjadi  juri tidak hanya membuat saya bisa menunjukkan rasa solidaritas pada sesama. Menjadi juri mengajari saya banyak hal. Tentang dunia disabilitas, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, harapan-harapan dan mimpi mereka. Juga tentang perjuangan-perjuangan mereka yang menakjubkan dan melampaui keterbatasan mereka. 

Ya, menembus batas itu membutuhkan perjuangan hebat. Salah satu pejuang disabilitas yang menarik perhatian saya adalah Teh Tini. Sudah lama saya mengenal Teh Tini di dunia maya, sudah sejak lama pula saya mengagumi kiprah beliau dalam menembus keterbatasan fisiknya. Jangan biarkan orang melihat kekurangan kita, tetapi buatlah orang-orang hanya melihat kelebihan kita, ujarnya.

Alhamdulillah, menjadi juri menjadi jalan bagi saya untuk bertemu dengan Teh Tini, sosok inspiratif yang tak henti-hentinya membuat saya kagum. Dan malam itu, membuat kekaguman saya bertambah-tambah, melihat totalitas beliau dalam menyelenggarakan hajat akbar disabilitas.
 
Menjadi juri juga membuat saya berkesempatan bertemu dengan Bun Nur (Nurhayati Pujiastuti), guru saya dalam menulis. Sosok sederhana namun tangguh, yang membuat saya berhasil menembus media massa dan bangga menyematkan profesi : penulis dalam biodata saya. Ini pertemuan ketiga. Dan selalu saja menimbulkan kerinduan untuk bertemu lagi dan lagi.

Malam itu, saya juga bertemu dengan Teh Tina (Tina Sulyati). Teman seperjuangan sejak awal mula menulis. Teman mojok saat baper melanda. Jika saya, alhamdulillah, berhasil menembus media massa nasional meski dengan susah payah. Teh Tina berhasil menancapkan prestasi di layar kaca. Menjadi penulis skenario yang karyanya tak pernah sepi menghiasi layar kaca. 

Sungguh rezeki luar biasa bagi saya, bertemu dengan mereka, sosok Kartini masa kini yang tidak hanya sukses sebagai istri dan ibu dalam keluarganya, melainkan juga mampu berkiprah di dunia luar. Mendidik masyarakat melalui kemampuan menulis.

Hei, disabilitas bukan kutukan

 

Pemenang Lomba Menulis Surat Inspirasi Kartini beserta dewan juri

Dalam ballroom hotel yang cukup besar, saya terpana. Ruangan penuh dengan penyandang disabilitas. Wajah-wajah antusias memenuhi ruangan. Begitu hidup. Dalam kelompok-kelompok kecil para penyandang tunarungu ‘riuh’ bercakap-cakap. Mengekspresikan perasaan dengan menggunakan bahasa isyarat.

Di sudut lain, penyandang tuna daksa berkumpul, riang dan gembira merayakan hari istimewa ini. Begitu juga penyandang tuna netra yang hadir, mereka dengan sabar menanti pengumuman pemenang lomba.

Di tengah-tengah mereka, ada saya yang  takjub melihat tari jaipong yang dibawakan seorang penyandang daksa. Penari yang memasuki ruangan dengan kursi roda yang didorong. Penari yang turun dan naik kursi roda memerlukan bantuan orang lain, ternyata bisa menari sehebat itu! (seumur-umur saya tidak bisa menari. Kalaupun terpaksa menari, gerakannya akan terlihat lucu dan kaku. Bisa-bisa tari jaipong rusak kalo saya yang nari).

Beragam lomba yang diadakan HWDI sebagai pelaksana, dengan dukungan Kayumanis Foundation, para pemenang terpilih, tentu dipilih atas dasar kemampuan dan prestasi mereka sendiri. Bukan atas rasa belas kasihan.

Jangan anggap remeh kemampuan mereka. 

Mereka bersungguh-sungguh dalam lomba dan menghasilkan karya dan mengeluarkan potensi terbaik mereka, yang belum tentu dimiliki semua orang. Senormal apapun kamu, belum tentu kamu mampu melakukan apa yang dilakukan oleh disabilitas.

Allah Swt sungguh Maha Adil, yang membekali setiap ciptaanNya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak ada yang bisa mengklaim dirinya lebih tinggi dan lebih hebat dari yang lain. Sejatinya, kekurangan dan kelebihan diciptakan untuk saling mengisi dan melengkapi. Sebab itu, disabilitas bukanlah kutukan. Melainkan suatu jalan untuk menjadi insan terbaik di mata Allah Yang Maha Rahim.

Kehangatan di Lobby Hotel

 

Foto bareng Teh Nchie di salah satu spot menarik di lobby

 


“Teh, ditunggu di lobby ya.”

Pesan wa yang masuk. Maghrib saja berlalu berganti isya yang panjang dan dingin. Kami beranjak menuju lantai bawah. Teh Tini dan Bun Nur tengah menanti di sofa tengah. Meski terlihat lelah, Teh Tini tampak lega. Hajat akbarnya berakhir dengan sukses.

Di luar, hujan deras mengguyur Bandung Utara. Di dalam lobby yang di dominasi warna merah, kehangatan memelukku erat. Segera kami terlibat percakapan yang menghangatkan hati, seolah kawan yang telah belasan tahun bersama.

Surprise buat saya, ketika seorang teman blogger, blogger kece dan famous Bandung berkenan menjambangi saya di hotel. Menembus hujan dan banjir. (hatur nuhun, Teh Nchie geulis... ) Dan ternyata, kecantikannya gak bohongan loh. Cantik alami. Lebih muda pula. ((huh!))

Malam beranjak tua, meski enggan melepas, toh nyatanya kami tetap harus berpisah. Semoga pertemuan ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga ada pertemuan berikutnya.

Semalam di Cinnamon Hotel telah menimbulkan kesan amat dalam bagi saya.  Rezeki bertemu dengan perempuan-perempuan hebat. Ah, semoga Allah mengikat hati kami dalam rasa cinta hanya karenaNYa.

Alhamdulillah....


6 komentar:

  1. Ah,,bacanya bikin meleleh, kemaren di lobby cukup lama memperhatikan teman2 disabilitas, jujur bangga dengan mereka dengan segala keterbatasannya ya, Teh.
    Sukses buat Teh Tini, salut dengan acaranya dan Cinnamons yang memfasilitasi seluruh kegiatan ini.
    Aah, Teh Lizaaa akhirnya diberi kesempatan dan waktu buat ngerumpi ya meski tanpa ngopi2 geulis, alhamdulillah pisaan.
    Sukses selalu buat ibu juri, ttp semangat berkarya kitaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, meni gak kurang-kurang syukur untuk pertemuan istimewa itu ya, Teh Nchie. Next kita mesti sambil ngopi syantik yaa

      Hapus
  2. Subhanallah, jadi penyandang disabilitas tak membuat mereka minder dan malah lebih semangat lagi untuk bangkit. Semua pasti punya kelebihan masing-masing, Allah maha adil, memang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa minder itu pasti ada, Mba Nisa. Sebagian berhasil mengatasi dan berdamai dengan takdir, sebagian lagi membutuhkan dukungan untuk berani menghadapi hidup.

      Hapus
  3. Benar2 sebuah inspirasi, seakan menjadi pengingat bahwa disabilitas bukan halangan utk berkarya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Siti, sebetulnya selalu ada jalan ya, kita kita sadar. Bahwa disabilitas bukan halangan.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^