Minggu, 04 Maret 2018

Perkembangan Bayi Baru Lahir Itu Unik, Ini Cerita Saya...

Setiap bayi baru lahir memiliki cerita yang unik. Ini cerita saya..




Bahwa perkembangan bayi baru lahir itu tidaklah sama, memang tidak bisa dipungkiri. Setiap anak itu unik. Khas dan istimewa. Mereka terlahir dengan pembawaan yang berbeda-beda. 



Dari tujuh bayi saya, alhamdulillah semua lahir normal dan cukup berat badan dan usianya. Tetapi tidak ada satu pun yang sama perkembangannya. Semua memiliki cerita sendiri.

Ini cerita unik bayi-bayi saya :

Mata Merah :


Salah satu kasus unik yang saya alami adalah bayi lahir dengan bola mata merah. Siapa yang tidak khawatir, melihat mata bayi yang merah karena darah yang menggumpal?

Setelah saya konsultasikan ke dokter, hal itu tidak berbahaya. Darah menggumpal di bola mata itu akan hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah, setelah dua pekan, bola mata anak saya sudah bersih. Rupanya, pembuluh darah di matanya pecah karena proses ngeden yang sempat terhenti sesaat. Oalaaah....

Napas berbunyi grok-grok


Ada juga yang begitu lahir napasnya berbunyi grok grok grok... ini pun sempat menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Khawatir saluran pernapasannya tersumbat. Setelah diberi obat oleh dokter dan rutin menjemur, bunyi grok-grok itu pun hilang.

Bayi sering terbangun dan menangis saat tidur


Ya ya ya, setiap bayi yang baru lahir pastilah sering bangun dan menangis saat tidur. Tetapi, percayalah, mengabaikan hal yang tampak lumrah ini ternyata bisa berakibat buruk. 

Tangisan yang terlalu sering dan tidur yang tidak nyenyak (selalu terbangun setiap 10 sampai 15 menit) ternyata merupakan alarm adanya sesuatu yang tak beres dalam tubuhnya. Ternyata anak saya mengalami plek paru dan ini membuat ia sering sering jatuh sakit.

Kepala hangat


Tadinya saya pikir, kepala yang menghangat merupakan gejala ia akan tumbuh gigi. Karena kedua kakaknya mengalami hal yang sama. Dan memang gigi anak ketiga saya tumbuh di usianya ke-5 bulan. 

Tetapi ternyata, itu menunjukkan penyakit lain yang diam-diam hadir dan menggerogoti kesehatannya dan membuatnya rentan terserang penyakit.


Keracunan ASI

 

Siapa menduga bahwa ASI bisa berubah menjadi racun? Tetapi dokter langganan saya jelas-jelas melarang saya memberikan ASI ketika melihat bayi saya (umur 2 pekan) berwarna kuning. 

Pada mulanya saya menolak. Kelima kakaknya tidak ada satu pun yang keracunan ASI, bagaimana bisa bayi cantik saya keracunan ASI? Bukankah ASI merupakan asupan nutrisi terbaik bagi bayi? Nutrisi yang paling mengetahui kebutuhan bayi dan menyesuaikan kandungan protein dan mineralnya secara otomatis sesuai usia bayi?

Akan tetapi, akhirnya saya menyerah, meski tidak sepenuhnya. Saya mengurangi pemberian ASI hingga 90% dan menggantinya dengan susu formula untuk beberapa waktu. Seiring dengan itu, anak saya yang semula tidak bisa BAB sejak pulang dari rumah sakit (hingga usianya 2 pekan lebih) mulai bisa teratur mengeluarkan kotoran. 

Bersama kotoran yang terbuang itu, terangkut pula bilirubin yang terlimpah dari tubuh bayi saya. Matanya, lidah dan rongga mulutnya dan seluruh tubuhnya yang semula kuning pekat mulai pudar. Pelahan-lahan warna kulitnya menjadi normal. Sehingga saya bisa kembali memberikan ASI hingga usianya genap 2 tahun.

FYI, dokter tidak menyarankan bayi saya untuk disinar, karena bayi saya terlihat lincah dan lahap minum ASI. Selain itu, saya pun rajin menjemurnya setiap pagi. Bukan hanya 15 menit. Tetapi hingga 1 jam setiap harinya. Dokter menyarankan saya menyetop ASI karena bayi saya belum BAB sejak pulang dari rumah sakit. (catat : BAB itu proses pembuangan racun yang sangat penting) 

Si Anak Ketujuh Yang Dimanja

 

Yup, kehadiran Syahid membuat kakak-kakaknya gembira. Setiap hari mereka bergantian menjaga dan memangkunya. Seiring dengan pertambahan usia, kakak-kakaknya sering bergantian menggendong. 

Begitu pula setiap kali Syahid ingin mengambil sesuatu, kakak-kakaknya sigap membantu. Perhatian semacam ini membuat Syahid terbiasa diam, mager, dan hanya menunjuk apa yang ia inginkan.

Kondisi seperti ini sedikit banyak mempengaruhi kemampuan motoriknya. Ia tidak merasa harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Cukup dengan menangis dan menunjukkan reaksi tertentu, apa yang dinginkannya terpenuhi.
Bagi saya, ini menjadi peer tersendiri. 

Bagaimana cara membuat baby Syahid ‘mandiri’ dan tidak terlalu mudah terenyuh ketika melihat ia menangis. (Hei, ini bukan hal yang mudah bagi seorang ibu yang usianya mendekati setengah abad. Sulit sekali bersikap tegaan pada anak yang selalu tampak lucu dan imut)

Berbeda ketika periode para kakak itu lahir, saat itu saya masih amat muda (ya iyalaaah... ) dan masih sangat idealis juga tak mau kalah. Anak-anak tumbuh dengan seorang ibu yang tak sabaran dan minim ilmu, tetapi mereka tumbuh cepat. Perkembangannya motorik dan bahasanya amat baik, meskipun mereka cenderung emosional (baca : pemarah).

Ketika itu, saya pun masih menjadi ibu rumah tangga murni. Tidak ada kegiatan selain merawat anak-anak. Tidak ada gawai. Tidak ada media sosial yang mengganggu aktivitas kami. 

Nah, sekarang dengan segala perbedaan kondisi, baik fisik, emosional maupun aktivitas keseharian saya --yang tak mungkin lepas dari gawai--, membersamai Syahid menjadi tantangan tersendiri. Bisakah saya membantu Syahid mengejar semua ketertinggalannya? Semoga.... 

Itu curcol saya pagi ini, ada yang punya pengalaman unik tentang perkembangan bayi baru lahir? Yuk, sharing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^