Rabu, 13 Desember 2017

Uniknya Anak-Anak dan Cinta Yang Tumbuh Bersama Mereka

Setiap anak itu unik



Setiap anak itu unik, kan, Bunda?  Semua orang tentu sepakat dengan hal itu. Begitu juga saya. Memiliki 7 orang anak, tentu saya paham betapa unik setiap anak yang saya lahirkan. Tidak saja unik secara fisik, melainkan juga proses tumbuh kembangnya.

Beberapa di antara anak saya berkembang sangat cepat, bahkan melebihi teman-teman seusianya dalam hal berkomunikasi, tetapi ada juga yang terlambat bicara. Terlambat berjalan dll.

Ada yang sangat ekspresif, ketika  mengungkapkan rasa sayang, ada juga yang pendiam dan malu-malu. Perkembangan motoriknya pun berbeda-beda. Tidak ada satu anak pun yang sama. Semua berbeda dan memiliki cerita sendiri-sendiri.

Wajar kalau saya sangat menikmati keseharian saya di rumah sebagai ibu rumah tangga. Karena kebahagiaan begitu kerap menyapa ketika melihat mereka tumbuh dan berkembang dari hari ke hari.

Jujur saja, saya bukan ibu yang penyabar. tak jarang tanduk saya juga muncul jika  terpancing emosi saat mereka tengah menyebalkan. Akan tetapi, biasanya hal itu tidak berlangsung lama, sebab di antara mereka  selalu saja ada kelucuan dan keseruan yang mancing tawa. Yang membuat amarah saya raib entah kemana.  Jadi wajar, kan, ya, bila saya tampak awet muda (uhuk!). Abaikan kalimat terakhir.

Seperti apa pun tingkah laku anak-anak. Baik yang lucu maupun yang menyebalkan, rasa cinta itu tumbuh memenuhi hari-hari saya.   Hanya di saat anak-anak sakit, rasa cemas itu muncul tanpa dapat saya cegah. Terutama bila Si Kecil, Syahid, sakit. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ada semacam trauma yang membuat saya cemas bila anak mengalami demam tinggi. Khawatir ia mengalami kejang dan mengganggu proses tumbuh kembangnya. Seperti yang pernah dialami salah satu kakaknya. Baca juga : Cegah Kejang Pada Anak Akibat Demam

Untuk mencegah kemungkinan kejang yang mungkin saja terjadi ( semoga tidak) saya selalu menyediakan obat penurun panas di rumah. Ini penting banget, Mom, selain untuk mencegah kemungkinan buruk, juga untuk menimbulkan rasa tenang di hati.

Nah, ketika Syahid demam cukup tinggi, sekitar 38,5 C, akibat virus influensa yang menyerangnya, saya memberinya Tempra Syrup. Obat penurun panas pilihan keluarga kami.

Mengapa Tempra?

Pengalaman memberikan penurun panas ini pada kakak-kakaknya, saya tahu, obat ini  aman di lambung, tidak menimbulkan rasa eneq di lambung, sehingga anak-anak  tetap mau makan. Dan ini penting, nutrisi yang cukup akan membuat daya tahan tubuh anak menjadi kuat.

Paracetamol ini juga tidak perlu dikocok, karena larut 100%, jadi dalam kondisi panik, saya bisa memberikannya tanpa harus mengocok, di samping itu, dosisnya pun pas untuk anak.

Uniknya Syahid --sebagai anak yang lahir dengan nomer urut 7-- ia jauh lebih manja dibanding dengan saudara-saudaranya saat seumurnya. Apa perasaan saya saja ya? Tetapi melihat track record  nya, baru bisa tengkurap bolak-balik usia 5 bulan, baru bisa duduk sendiri usia 12 bulan, saya rasa memang Syahid ini manja sekali. Begitu pun ketika ia sakit, ia tidak ingin ditinggal ibunya untuk alasan apa pun.

Walhasil, bila Syahid demam, dengan terpaksa ibu meninggalkan seluruh aktivitas. Entah menulis, atau pekerjaan domestik. Sepanjang hari kami akan menghabiskannya di atas tempat tidur. Bahkan bermain pun kami lakukan di atas kasur. 

Lalu bagaimana dengan urusan rumah dan sebagainya? Tetap aman dooong. 
Karena bila Si Kecil sakit saya akan mengkondisikan seisi rumah agar bisa berperan lebih maksimal dari hari-hari biasa. (Emoticon : Smile)

Biasanya sih saya melakukan beberapa hal berikut :
  1. Meminta pengertian seluruh anggota keluarga, termasuk jangan berisik ketika adiknya tertidur.
  2. Meminta kakak-, juga bapak, untuk turut membantu pekerjaan rumah sesuai dengan kemampuan masing-masing
  3. Menanamkan sikap mandiri pada kakak terkecil agar tidak tergantung pada ibu dan bisa menolong dirinya sendiri. Misal : makan sendiri atau cebok sendiri
  4.  Melibatkan kakak-kakak dalam menjaga dan menghibur adiknya saat ibu terpaksa harus meninggalkannya. Misalnya ke kamar mandi
  5. Meminta anak-anak untuk saling membantu dan tidak mengandalkan ibu
Nah, Alhamdulillah, dengan memberi obat penurun panas yang sesuai dan memiliki cara kerja yang cepat, panas demam yang dialami Syahid turun dengan cepat. Setelah pemberian rutin selama 2 hari, Syahid kembali sehat dan ceria. 

Keceriaannya segera saja menular pada seisi rumah. Meski Si Kecil ini sering membuat para kakak repot, tetapi senyumnya selalu dinantikan. Seperti saya, kakak-kakak selalu jatuh cinta pada tawa dan binar mata Syahid. 


Cinta yang tumbuh bersama antara Syahid dan Mbak Zidna


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

3 komentar:

  1. Tempra memang wajib Ada di Kotak obat ya mbak.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, wajib banget kalo untuk keluarga saya sih mbak Marita

      Hapus
  2. Untung ada tempra ya bun.. Jadi aman kalo anak demam ada obatnya..

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^