Selasa, 12 Desember 2017

Cegah Kejang Pada Anak Akibat Demam




Demam tinggi bisa menyebabkan kejang pada anak (Poto : Fixabay)

Mom, badai Cempaka dan Badai Dahlia baru saja menerpa tanah air. Badai ini membuat cuaca menjadi dingin disertai hujan lebat yang turun terus-menerus. Kondisi seperti ini tentunya berdampak pada kesehatan Si Kecil dan bisa menyebabkan demam. 


Ah, ya, bunda mana sih yang hatinya tidak porak-poranda melihat demam yang merengut keceriaan buah hatinya? Saya termasuk ibu yang trauma dengan demam tinggi pada anak.

Karena demam tinggi berpotensi menimbulkan kejang pada anak. Sementara, kejang yang terjadi pada anak, terutama yang berusia kurang-lebih 1 tahun, biasanya menyebabkan kerusakan pada jaringan otak anak yang baru saja berkembang.

Akibatnya?
Mengganggu proses tumbuh kembang anak. Tidak sedikit anak menjadi delayed setelah mengalami kejang. Seperti, terlambat bicara, terlambat berjalan. Kondisi seperti ini butuh waktu lama bagi anak untuk mengejar ketertinggalannya. Butuh proses yang sangat panjang.

Dan, proses itu sungguh  melelahkan.

Melelahkan secara fisik, iya. Karena harus mengantar anak menjalani terapi di pusat tumbuh kembang.

Melelahkan kantong, sudah pasti. Hitunglah berapa rupiah yang harus Bunda keluarkan untuk 1 kali sesi terapi, seminggu minimal 2 kali terapi. Silakan hitung dalam sebulan Bunda harus menyisihkan berapa rupiah untuk mengejar ketinggalan Si Kecil.

Akan tetapi, di atas semua itu kelelahan mental-lah yang paling terasa menekan. Terutama bila ada tetangga yang usil membanding-bandingkan anak-anak.
Lelah yang ditimbulkan rasa sedih dan khawatir, ketika melihat anak kita yang sudah berusia 3 tahun baru belajar melangkah, sementara anak-anak di bawahnya sudah berlarian dengan lincahnya. 

Usia 5 tahun, baru bisa mengatakan, “Bu, mam.” Ketika ia merasa lapar. Atau mengatakan, “Bu, mo pis.” Saat ia merasa ingin buang air kecil. Sementara anak-anak seusianya sudah bisa mendeskripsikan keinginannya dengan jelas. Atau sudah bisa bercerita dengan amat baik.

Hal inilah yang dialami anak ketiga saya. Jadi, saya tahu betul bagaimana rasanya hati yang porak-poranda melihat anak yang mengalami kejang. Menimbulkan semacam trauma tersendiri bila melihat gejala anak demam. (Jangan sampai terulang lagi peristiwa itu).

Jadi ketika beberapa waktu lalu, Dek Syahid demam agak tinggi, setelah mengecek suhu tubuhnya, saya memberinya obat penurun panas, yang selalu tersedia di rumah. (O,ya, Mom, sebaiknya obat penurun panas hanya diberikan bila suhu tubuh anak mencapai 38,5 C)

Saya baru membawa anak ke dokter bila anak demam lebih dari 3 hari dan tidak mempan diberi obat penurun panas, serta ada indikasi lain. Misalnya : batuk, diare, atau ada ‘penampakan’ pada kulit anak. Baca juga : 5 Cara Mengatasi Flu Singapura

Demam sendiri sebetulnya bukanlah penyakit. Melainkan ‘alarm’ tubuh yang bekerja untuk memberitahukan, bahwa ada sesuatu yang ‘salah’ di dalam tubuh. Entah akibat infeksi virus, bakteri, kurang cairan atau kelelahan fisik semata. 

Namun yang perlu diwaspadai adalah kejang-kejang yang bisa saja terjadi pada anak yang tidak tahan dengan demam yang tinggi. 

Bunda, berikut tips untuk mengatasi anak kejang demam : 


  • Jangan panik

  • Baringkan anak di tempat datar dengan posisi miring ke salah satu sisi tubuh

  • Letakkan bantal atau benda lunak lain di bawah kepala

  • Keluarkan benda atau makanan yang ada dalam mulut

  • Longgarkan pakaian anak

  • Jauhkan dari benda-benda berbahaya

  • Beri obat kejang melalui anus.

  • Segera bawa ke UGD terdekat.

Selain itu, beberapa hal yang harus Bunda ketahui bila anak kejang :


  1. Jangan menyelipkan benda apa pun ke dalam mulut anak. Seperti: sendok, karet ataupun  kain yang digulung, karena berisiko melukai anak.
  2.  Jangan memberikan minum atau cairan apa pun karena bisa menyebabkan anak tersedak
  3.   Jangan menahan gerakan tubuh anak
  4.  Perhatikan juga durasi dan sebab-sebab terjadinya kejang untuk mengantisipasi kejang berikutnya dan mengambil tindakan medis. 

Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Mom.

4 komentar:

  1. Oohh, ternyata malah nggak boleh ya masukin sendok. Aku sudah menduganya. Soalnya bisa bikin lecet. Tapi, katanya kalau nggak digituin, anak bisa gigit lidah sendiri. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mbak Nisa, sendok cuma bikin lecet. Kayaknya enggak akan gigit lidah kok.

      Hapus
  2. Aku belom pernah ngalami. Tp ini well noted banget..makasi sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai mba Ruliiii. Aku cuma sekali, efeknya lamaaa. Jadi bikin trauma

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^