Jumat, 03 November 2017

Ruwi Meita, Penulis Thriller Indonesia



 
Ruwi Meita, Penulis Thriller Indonesia yang mulai go international
Sahabat Moma, duluuu, pertama kali bergabung di kelas menulis asuhan Bun Nurhayati Pujiastuti, Penulis Tangguh, saya tak menyangka bakal bertemu –setidaknya di dunia maya—dengan sosok mengagumkan, bertalenta tapi rendah hati, Ruwi Meita. Seorang penulis thriller dan suspense yang selalu sukses membuat bulu kuduk merinding.



Bila pada masa awal menulis di kelas -- akhir tahun 2012--, saya pontang-panting mengikuti maunya Bun Nur, tidak demikian dengan teman saya yang satu ini. Tiap tantangan yang diberikan di dalam kelas, selalu dikerjakan dengan baik  dan selalu menimbulkan decak kagum.Tinggallah saya dan beberapa teman yang harus jatuh-bangun, tertatih-tatih mengikuti.

Saya pikir semua yang ada di dalam kelas Penulis Tangguh sama dengan saya, belajar menulis cerpen dari NOL. Ternyata saya salah, Sodara-sodara.

Ruwi Meita mulai belajar menulis sejak SMA di Bengkel Sastra (program penulisan untuk murid-murid SMA) yang diadakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Di sana dia mulai belajar menulis cerpen di bawah asuhan Agus Noor dan Sri Hardjanto Sahid. (Pantesan aja kan, tulisannya bikin melongo sejak awal jumpa di kelas)

Pada tahun 2002 lewat penerbitan indie,  Ruwi Meita membuat antologi Cerpen Mari Mengutuk Laki-Laki dengan nama pena Ludriatin. Selain itu dia mulai mengirimkan cerpen-cerpen di media antara lain.
Laki-Laki Penghuni Danau (Koran Tempo)
Anakku Matahari (Femina)
Kursi Malas Selena (Femina)
Ketika Sasi Bertanya (Femina)
Being Me (Kawanku)
Kesepakatan di Musim Panas (HAI)
Purnama di Pura Besakih (Gadis)
Ritual Petang (Femina)
Pemutar Aroma (Femina)
Tarian Hujan (Cerber Femina)
Menghidu Aroma (Femina)

Karir menulisnya beralih ke novel sejak tahun 2005 dengan menulis novel-novel yang diadaptasi dari layar lebar antara lain
1.     Dara Manisku
2.     Missing
3.     Rumah Pondok Indah
4.     Hantu Bangku Kosong
5.     Terowongan Casablanca
6.     Pocong 3
7.     Angker Batu
8.     Kekasih
9.     Tri Mas Getir
10.   Sepuluh
11.    Gunung Kawi

Setelah menulis novel-novel adaptasi, ia mulai menulis karya mandirinya antara lain :
1.     Rumah Lebah : Rahasia Wajah-Wajah Asing
2.     Sex On Chatting
3.     The Apuila’s Child
4.     Kaliluna :Luka di Salamanca
5.     Kamera Pengisap Jiwa
6.     Cruise Chronicle
7.     Misteri Patung Garam
8.     Garam (terjemahan ke bahasa Melayu novel Misteri Patung Garam)
9.     The Days of Terror
10.   Alias
11.    Misteri Bilik Korek Api  (ini yang terbaru loh..)

Ruwi Meita ini juga merupakan salah satu penulis favorit saja lho, alasannya, karena di antara sekian penulis, novel-novelnya selalu membuat saya ketagihan membaca. Terutama novel-novel thrillernya. 

Didukung riset yang dalam dan serius, Ruwi selalu berhasil menciptakan ketegangan dalam novel-novelnya. Penceritaan yang mendetil juga membuat pembacanya seakan menghadapi sendiri suasana mencekam yang ada di dalam novelnya.

Nggak percaya?

Baca saja sendiri. Kebetulan, ada nih buku teranyarnya yang baru saja terbit. Misteri Bilik Korek Api. 

Oya, novel-novel Ruwi Meita, meskipun bergenre thriller dan suspense, aman dibaca oleh remaja kita. Karena ibu dua anak ini sangat berhati-hati memasukkan adegan agar tidak ada yang melanggar norma susila.

Mengenal sosok Ruwi Meita yang humanis n so cool  ini tentunya membuat saya kecipratan rezeki.  Betapa tidak, penulis yang aktif dalam grup penulisan PENULIS TANGGUH di bawah asuhan Nurhayati Pujiastuti dan juga mengasuh kelas menulis novel online KEEP CALM AND FINISH  YOUR NOVEL. Tempat saya banyak belajar tentang cara menulis yang baik dengan pengalaman dan ilmunya yang segudang banyaknya.

 Ah, ya, ia  percaya berbagi dengan orang-orang yang berminat dalam dunia penulisan merupakan kebahagiaan tersendiri. Untuk itu ia juga mendirikan sebuah komunitas yang belajar untuk mencintai membaca dan menulis di Ponorogo yaitu Komunitas Literasi Indonesia Ponorogo (KLIP). 

Ssst, mau tahu penghargaan yang diraihnya sampai saat ini? Nah ini dia...

1.     Juara Pertama Lomba Novelet Fiksi Fantasi Diva Press 2013 untuk noveletnya yang berjudul The Apuila’s Child
2.     Juara Pertama lomba cerpen Kompetisi Tulis Nusantara 2014 yang diadakan KEMENPAREKRAF untuk cerpen berjudul Pulung Gantung
3.     Juara tiga sayembara cerpen Femina 2014 untuk cerpen berjudul Pemutar Aroma
4.     Juara tiga sayembara cerpen Femina 2016 untuk cerpen berjudul Menghidu Aroma

Kerennya lagi, Ruwi Meita tidak membatasi dirinya dalam menulis satu genre saja. Baginya melompat-lompat dari genre satu ke genre lain adalah sebuah petualangan yang menantang. Untuk itu dia mulai belajar untuk menulis skenario film animasi. 

Tidak mengherankan bila ia pun piawai menulis skenario film animasi untuk beberapa studio animasi antara lain Diva Series (Studio Kestari) dan Uwa and Friends (Studio Hicca). Film pendek animasi yang ditulisnya berjudul Through Her Eyes (Studio Hicca Animation).

Keren banget kan teman saya ini. Makanya jangan heran kalau saya pun terbawa-bawa keren. Karena kekerenan itu menular. *aissshh...

Bagi yang ingin mengenal lebih dekat sosok penulis yang memiliki hobi renang dan yoga ini, sok atuh meluncur ke akun Fbnya Ruwi Meita. Akun Ig @ruwimeita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^