Minggu, 08 Oktober 2017

Yuk, Memahami Penyandang Autoimun





Penyandang penyakit autoimun hanya ingin dimengerti (foto : shutterstock)

Ada suatu masa saya begitu takut mendengar kata : penyakit autoimun. Ini bukan penyakit biasa tentu saja. Cenderung aneh dan ‘sedikit’ mencemaskan. Betapa tidak, penyakit ini menetap seumur hidup pada diri penderitanya. Seumur hidup! Sungguh tak terbayangkan!


Lalu takdir membawa penyakit autoimun ini ke dalam hidup saya. Menyerang dan berdiam di tubuh orang yang saya sayangi. Jujur saja, saya sempat shock (dan sedikit lega) ketika pertama kali mendengar suami saya mengidap penyakit autoimun Hipokalemia.

Selama ini, kita tahu bahwa autoimun adalah panglima yang bertanggung jawab terhadap daya tahan tubuh. Autoimun merupakan sistem tubuh yang berfungsi melawan virus atau penyakit yang datang dari luar. Akan tetapi dalam satu kondisi yang disebut sebagai takdir, ‘panglima’ ini justru menjadi penyakit di dalam tubuh.

Tidak menyerang bakteri atau virus yang berasal dari luar, penyakit autoimun ini membuat serangan terhadap jaringan tubuh yang sehat. Apa yang menyebabkan ‘panglima’ ini berubah menyerang tubuh sendiri? Tidak ada seorang pun yang tahu. Sejumlah dokter spesialis mengatakan itu penyakit ini bersifat genetis. Namun itu pun tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Apa pemicunya?

Dokter pun menggelengkan kepala. Menurut keterangan dokter spesialis yang kami temui, pemicu penyakit bisa bermacam-macam. Setiap orang memiliki pemicu sendiri-sendiri. Jika suami saya pemicunya adalah rasa lelah yang sangat (setelah kerja berat yang berlebihan), tetangga di dekat rumah saya pemicunya adalah AC (yup, air conditioning). Sesederhana itu!

Tadi saya sebutkan sedikit lega, kenapa?
Jadi, ketika awal suami saya mulai mengalami kelumpuhan secara bertahap, dokter umum yang saya temui mengatakan, ada kemungkinan suami saya terkena GBS. Yep! Penyakit yang mendera salah satu pesohor negeri ini, Alm. Pepeng.

Dokter mengatakan dengan bahasa sederhana, penyakit itu disebabkan oleh virus yang memakan otot secara pelahan. Dari kaki terus naik ke atas, dan menjadi fatal, ketika virus tersebut menyerang otot jantung.

Saya shock.

Apalagi gejalanya relatif sama. Kelumpuhan yang terjadi secara bertahap. Mulai dari kaki menjalar pelahan hingga kelumpuhan yang menyeluruh. Hingga menggerakkan leher pun memerlukan perjuangan.

Alhamdulillah, ketika mendapatkan perawatan medis di Bandung, dokter ahli syaraf menyatakan penyakit yang menyerang suami saya ‘hanya’ periodical paralysis hipokalemia. Kelumpuhan sementara akibat sel-sel otot tidak bisa menyerap kalium. Sehingga menyebabkan sel-sel syaraf tidak bisa memerintah otot untuk melakukan gerakan, sekalipun perintah sederhana seperti menggerakkan jari.

Baca ini ya : Kurang Kalium Penyebab Kelumpuhan Sementara?

Itu artinya kelumpuhan yang diderita suami saya hanya bersifat sementara. Alhamdulillah. Ini luar biasa melegakan. Dengan perawatan dan obat yang tepat, kelumpuhan itu berangsur-angsur hilang dan pulih seperti sediakala. Dokter mewanti-wanti agar suami mengingat ingat faktor pemicu dan menghindarinya.

Dalam kondisi ekstrim, kekurangan kalium ini tidak saja melumpuhkan fisik, namun juga bisa menyebabkan kematian, yaitu bila otot jantung sudah tidak bisa menerima perintah.

Itu sebabnya, bila gejala-gejalanya sudah mulai terasa, misalnya rasa pegal yang teramat sangat di bagian kaki (bisanya menjalar ke bagian atas) lalu sering buang air kecil di malam hari, suami saya akan segera beristirahat dan mengkonsumsi obat sesuai resep dokter.

Akan tetapi, meskipun berusaha menghindari pemicunya, namun tak jarang penyakit ini muncul karena kondisi fisik dan aktivitas fisik yang tak bisa dihindari. Kelelahan yang sangat bagi penyandang autoimun kerap tidak dimengerti oleh orang lain.

Ya, penyandang autoimun bisa bekerja sebagaimana yang lainnya. Tidak ada bedanya yang lain. Penyakit autoimun tidak menular dan tidak merugikan siapa pun. Mereka bisa bekerja sebaik yang lain secara optimal.
 
Mereka hanya butuh dimengerti

Kerap penyandang autoimun dianggap pemalas hanya karena berusaha menjaga kondisi fisiknya. Padahal menjaga kondisi fisik inilah yang menjadi kunci agar penyakit autoimun tidak muncul kepermukaan dan menolak kontrol atas perintah sel-sel syaraf.

Selain menjaga kondisi fisik, stres juga kerap menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun ini. 
Baca : Periodical Paralysis, Kelumpuhan Sementara

Tak terasa lebih dari 8 tahun lamanya saya mendampingi penyandang autoimun. Rasanya saya makin terbiasa. Tak terlalu panik seperti tahun-tahun pertama. Sesekali tentu saja saya merasa sedih, ketika melihat orang yang kita sayang tergolek lemah, tak bisa berjalan, tak mampu duduk  sendiri atau bahkan menggaruk sendiri bagian tubuhnya yang terasa gatal.

Tetapi, saya menganggap itu hal yang biasa saja. Tak lagi merasa panik. Tak lagi merasa cemas. Karena saya yakin, beberapa hari ke depan suami saya bisa beraktivitas sebaik biasanya.

Saya, anak-anak dan siapa pun yang berada di lingkaran terdekatnya hanya perlu memahami dan mengerti, bahwa kondisi penyandang autoimun berbeda. Hal ini yang sering luput dari pemahaman orang kebanyakan.

 Bila mereka menahan diri untuk tidak bekerja secara berlebihan, atau bahkan ketika mereka memilih untuk lebih banyak tiduran, percayalah, itu bukan karena mereka malas. Tetapi, boleh jadi mereka sedang ‘membujuk’ penyakit autoimun untuk tidak muncul dan mengambil alih kekuasaan atas fisik mereka.

Tidak selamanya mereka bermalas-malasan, hanya sesekali saja, yaitu ketika mereka merasakan gejala-gejalanya. Percayalah, mereka terpaksa melakukan itu, bukan karena suka, melainkan karena terpaksa.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca. Salaam...


4 komentar:

  1. Aku baru dengar ada penyakit semacam itu. :( Pemicunya juga belum jelas ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah banyak kok mbak Nisa yang kena penyakit ini. Cuma mungkin sebagian orang belum faham. Penyakit autoimun rata-rata membuat penderitanya lemas... lalu lumpuh.

      Hapus
  2. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan ya, Mbak? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Allah...
      Sehat itu mahaaaallll mbak Esti

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^