Minggu, 01 Oktober 2017

Pre Marriage Talk, Pentingkah Dalam Membentuk Keluarga Harmonis?


Pentingkah Pre-Marriage Talk dalam membentuk keluarga harmonis? (Foto : Fixabay)


Membaca tulisan Mbak Virly --saya rekomendasikan tulisan ini bagi pasangan yang ingin menikah --di Jurnal Saya tentang pentingnya pre-marriage talk (semacam ungkapan penyesalan karena tidak melakukan hal itu) melempar ingatan saya jauh ke masa lalu. 



Jodoh itu rezeki, ujar seorang sahabat saya semasa kuliah. Suatu masa yang kini terasa bagai mimpi. Saat itu kami sering diskusi soal pernikahan. Tentang segala hal dan –tentu saja-- target menikah! Hahaha...

Balik lagi kepersoalan jodoh itu adalah rezeki. Itu Artinya, jodoh itu hak Allah Swt. Terserah Allah Swt saja, mau memberi cepat atau lambat. Memberi di dunia atau di akhirat. Memberi satu untuk selamanya, dunia dan akhirat. Atau pun, hanya beberapa saat saja di dunia. Memberi beberapa sekaligus, atau dicicil. Semua itu rezeki. Dan itu hak Allah Swt. Itu salah satu kesimpulan dari diskusi kami.

Bila jodoh itu rezeki, lantas apa perlunya pre marriage talk? Toh, semua sudah ada suratan takdirnya. Nah, kalau sudah membahas takdir, itu bahasannya akan sangat panjang. Sebab kita tahu, takdir itu ada yang bisa diubah ada juga yang tidak. Hanya Allah Swt saja yang Maha Tahu akan perjalanan hidup dan takdir kita hingga ke penghujung hari.

Akan tetapi, sebagai manusia, kita punya kewajiban yang disebut ikhtiar. Ikhtiar yang maksimal dan doa yang kita panjatkan tentu akan sangat mempengaruhi perjalanan hidup yang kemudian menjadi takdir kita.

Sepemahaman saya, pre marriage talk merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita agar mendapatkan belahan jiwa yang sesuai dengan diri kita. Belahan jiwa yang membuat kita cenderung dan merasa tentram jika berdekatan dengannya. Saya lebih suka menyebutnya menyatukan misi dan visi sebelum memutuskan untuk menikah. Sehingga memudahkan kita untuk membentuk keluarga harmonis. Idealismenya seperti itu sih..

Pengalaman saya hal-hal semacam ini tuh bisa menjadi proses yang amat lucu. Bila tidak disebut mencengangkan.

Jadi ceritanya seorang sahabat (perempuan, hehehe, ini penting untuk dijelaskan) memberikan beberapa pertanyaan titipan dari seseorang  (ia berkeras untuk tidak menyebutkan jati diri si penanya). Si Penanya hanya meminta jawaban secara tertulis. Tertulis!

Pertanyaan-pertanyaan yang unik, menurut saya sih, duluu...

Seingat saya, pertanyaan-pertanyaan itu semacam ini : bagaimana pendapat saya tentang wanita karir, tentang poligami, tentanganak, tentang kedudukan suami, istri, orang tua dan anak, dan pertanyaan lain yang saya lupa. Hanya 5 pertanyaan pokok, dan saya menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menjawabnya.

Ketika itu saya menjawab tanpa beban. Apa adanya. Alasannya, pertama saya nggak ngerti maksud pertanyaan itu apa? Jangan-jangan hanya pertanyaan iseng sahabat saya. Kedua, saya juga nggak tau siapa yang bertanya, laki-laki atau perempuan?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Seolah mendapat ujian tertulis yang menuntut seluruh pemahaman yang saya dapatkan baik melalui bacaan maupun hasil perenungan. Maklumlah ketika itu kerjaan saya kalau nggak baca, ya merenung.

Jawabannya tergantung mood. Kalau mood lagi normal, saya jawab dengan lugas dan proposional. Misal ketika menjawab tentang poligami, saya jawab, poligami itu hukumnya boleh, tetapi saya tidak ingin dipoligami. Akan tetapi, karena jodoh itu rezeki, maka poligami itu adalah takdir. (kurang lebih saya menjawab seperti itu)

Ada juga jawaban saya yang bersemangat. Berapi-api. Yaitu ketika membahas tentang wanita karir. Bukan karena saya ingin jadi pekerja kantoran, melainkan karena menurut saya, karir tertinggi seorang perempuan itu adalah menjadi ibu rumah tangga. Itu cita-cita saya. Dan itulah yang saya promosikan dengan panjang lebar, semacam upaya untuk membentuk opini. Padahal sih niatnya pingin nyari temen yang seide.

Sekali lagi, saya tidak tahu siapa yang bertanya.

Ada juga pertanyaan yang saya jawab dengan puisi. Ya. Puisi! Dua pertanyaan sekaligus. Bayangkanlah bagaimana merah padamnya wajah saya ketika tahu dari mana pertanyaan-pertanyaan ajaib itu muncul.

Dan, taraa... ternyata yang bertanya adalah orang yang saya kagumi. Ajaibnya, dia suka dengan jawaban-jawaban saya. Terutama tentang wanita karir. Ini aneh. Di saat saya mengenal banyak laki-laki yang ingin istrinya berkarir di luar rumah, dia menginginkan seorang istri yang menjadi ibu rumah tangga biasa. Dan, menurut dia jawaban saya itu yang dia cari selama masa pencariannya.

Yep! Mungkin itu yang disebut jodoh.

Setelah itu kami memang banyak membahas hal-hal lain. Akan tetapi kami telah sepakat dengan hal-hal yang prinsipil. Apa lagi kami tumbuh dalam lingkungan yang relatif sama. Yang jelas, menurut kedua orangtua kami, kami sama-sama aneh. Mungkin keanehan itulah yang membuat kami dekat dan merasa cocok.

Lalu apakah setelah proses ta’aruf dan penyatukan visi mudahkah membentuk keluarga harmonis?

Oh, tentu saja tidak semudah yang pernah saya bayangkan, Kawan.  Apa lagi kami berasal dari akar budaya yang berbeda. Saya berasal dari suku campuran (Banjar,Melayu, Sunda) dan suami dari Jateng. Sudah pasti banyak benturan.

Begitu pula hantaman konflik khas rumah tangga yang memicu perselisihan, entah karena anak, ekonomi dan lain sebagainya. Bagi saya, membentuk keluarga harmonis itu butuh perjuangan sepanjang hayat. 

Karena perselisihan kerap tak terhindarkan, namun, karena tidak menyentuh persoalan yang prinsipil (hal-hal yang telah kami sepakati sebelumnya) gelombang masalah itu pun bisa kami atasi.

Ya, pernikahan itu tidak statis dan datar. Melainkan bergelombang dan penuh pengorbanan. Bila pernikahan ala Cinderella itu ada, maka dunia ini akan terasa hampa. Pernikahan akan segera kehilangan makna.

Akan tetapi, menyederhanakan permasalahan dengan membicarakan persoalan-persoalan mendasar (yang tentu saja berbeda antara pasangan yang satu dengan yang lainnya), akan sangat membantu dalam menghadapi konflik-konflik yang terjadi dalam rumah tangga. Baca : Fakta Tentang Anak dan Konflik Dalam Rumah Tangga

Dan, Alhamdulillah, sejauh ini kami masih bersama. Bersama air mata dan tawa di setiap hari yang kami jalani. Semoga hingga akhir kelak. Menua dan bahagia bersama. Aamiin...

13 komentar:

  1. Balasan
    1. Gara-gara baca tulisanmu, Mak Virly, jadi langsung nostalgia... hahaha

      Hapus
  2. Aamiin, Alhamdulillah bangetttt ikut seneng dehhh bacanyaaaa

    BalasHapus
  3. Memang penting banget ya, mbak premarriage talk ini buat menyamakan visi dan misi pernikahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bagi saya sih penting. Untuk meminimalisir persoalan dalam rumah tangga

      Hapus
  4. tetapi setelah pernikahan berhadapan dengan banyak masalah dan gelombang kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Dan, goncangannya sedikit berkurang dengan pre marriage talk

      Hapus
  5. Menurut saya, seorang wanita sebelum menikah harus tau dulu mengenai dirinya sendiri dan bahagia dengan kehidupannya. Baru setelah itu bisa menetapkan aturan atau standar dalam pernikahan. Perlu juga disadari bahwa pernikahan bukan one way ticket untuk mendapatkan kebahagiaan. Pernikahan membutuhkan kedewasaan dan tanggung jawab yang besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, betul banget. Kita harus mengenal diri kita dengan baik sebelum memutuskan untuk menikah dengan orang "asing" betapa pun cintanya kita pada si dia. Justru, dengan pengenalan diri ini, kita bisa memilih siapa yang kira-kira bisa menjadi pendamping hidup kita.

      Hapus
  6. So Sweet... pre marriage talk menurutku penting banget... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss....Emang penting banget. Berasa kalo buat saya sih.

      Hapus
  7. wihihi...seru ya mbak. kerasa banget nuansa idealis romantisnya.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^