Sabtu, 23 September 2017

Wahai Suami, Jagalah Nyawa Istrimu




Melahirkan akan selalu menjadi momen paling mendebarkan bagi seorang perempuan. Tidak peduli seberapa sering ia menjalaninya, setiap kali itu pula nyawa dipertaruhkan. Maka tak heran, proses melahirkan menimbulkan tekanan tersendiri padanya.


Tujuh kali saya menjalani proses melahirkan. Saya tahu persis haru biru yang saya alami, terutama di saat menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir).  Bila ada yang bilang, “Ibu sih enak, lahirannya gampang.” “Kan udah sering lahiran, kok masih manja dan galau?”
  
Alhamdulillah, saya memang termasuk perempuan yang diberi kemudahan oleh Allah Swt dalam urusan melahirkan. Semua anak saya lahir dalam kondisi sehat, mudah dan lancar. Semua normal. Kontraksi menjelang partus pun tak pernah memakan waktu berhari-hari.

Paling lama hanya sekitar 9 jam saja. Itu anak pertama. Yang lainnya hanya memakan waktu 2-3 jam saja antara pembukaan satu hingga pembukaan lengkap. Itu sebabnya saya nggak pernah menunggu mulas muncul baru bergegas ke dokter. Bisa lahiran di jalan
 
Mudah melahirkan itu memang rezeki bagi saya, akan tetapi untuk mendapatkan kemudahan itu, ada juga ikhtiar-ikhtiar yang saya dan suami lakukan agar mudah dalam menjalani proses melahirkan.
  

Beberapa hal yang  memudahkan proses melahirkan


1. Suport dari Suami

Suport dari suami merupakan hal yang paling penting bagi setiap ibu hamil. Tak peduli berapa banyak vitamin dan suplemen yang Anda minum, tanpa dukungan suami, ibu hamil tak akan pernah menjalani proses kehamilan dan melahirkan dengan mudah.

2. Teratur memeriksakan diri

Kehamilan bukan proses sulap sim salabim. Ada sebentuk keajaiban yang Allah Swt titipkan dalam rahim seorang ibu. Memeriksakan diri dengan teratur akan memudahkan ibu untuk mengetahui kebutuhan dan proses perkembangan janin. Selain tentunya, menambah ikatan antara ibu dan calon bayi yang tengah dikandung.

3. Mengikuti saran dokter

Dalam setiap kehamilan yang saya jalani, sedapat mungkin saya mengikuti saran-saran yang diberikan dokter. Tiap kehamilan yang berbeda membuat saran yang saya terima menjadi beragam.

Ada kalanya saya disuruh diet (karena khawatir bayi menjadi besar), ada kalanya saya disuruh banyak mengkonsumsi jenis makanan tertentu. Ada kalanya saya disuruh banyak bergerak, tetapi tak jarang saya disuruh banyak beristirahat (terutama pada anak ke-5, 6 dan 7).

Hampir semua saran dokter itu saya ikuti, karena saya tahu, dokter jauh lebih paham dan memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai problem kehamilan.

4. Banyak berdoa

Memohon kemudahan dari Sang Pencipta merupakan ikhtiar yang paling dalam. Di mana segala harapan dan kecemasan tumpah menjadi permohonan pada Zat Yang Maha Kuasa. Allah Robbul’alamin.

Setelah semua ikhtiar di atas, apakah galau berlalu begitu saja?
Ternyata tidak.

Galau itu terus menemani hingga proses melahirkan berlangsung.

Sekali lagi, meskipun saya termasuk mudah dalam melahirkan –yang sedikit banyak dipengaruhi oleh ikhtiar-ikhtiar yang saya sebutkan di atas--  melahirkan tetaplah menjadi proses menakutkan bagi saya. Baca deh Cara sehat menjalani dan melahirkan di usia rawan

Tahukah, semakin sering seorang perempuan menjalani proses melahirkan, baik normal maupun melalui operasi caesar, itu artinya risiko yang disandangkan akan semakin besar.
Semakin sering melahirkan, rahim ibu akan semakin tipis, risiko mengalami pendarahan pasca melahirkan semakin besar. Ditambah lagi, dengan bertambahnya usia, tenaga ibu pun semakin berkurang. 

Sayangnya, seringkali orang-orang beranggapan sebaliknya. Mereka beranggapan, sering melahirkan itu artinya sudah berpengalaman dan tidak boleh cengeng atau manja. Oh, itu anggapan yang keliru.


Ya! Saya sudah mengalami 7 kali. Namun rasa takut menjelang melahirkan itu tetap terasa ada. Sakitnya mempertaruhkan nyawa itu, nyata! Baca juga :  10-keluhan-yang-sering-dirasakan-ibu hamil

Dan alangkah menyedihkan, bila orang yang memiliki anggapan keliru seperti itu adalah orang terdekat kita, yaitu suami sendiri.

Saya bersyukur memiliki suami yang mengerti bagaimana menjaga istri yang tengah hamil. Ia memaafkan ketika saya muntah-muntah dan menyebalkan sepanjang masa ngidam. Ia juga membebaskan saya dari kegiatan antar jemput anak sekolah pada saat kehamilan bulan ke-6 dan seterusnya.

Bukan karena soal ekonomi kami berlebihan. Tapi ini soal menempatkan prioritas. Ada dua nyawa yang dipertaruhkan, mengapa harus berhitung dengan materi?

Maka saya takjub ketika seorang sahabat memutuskan untuk menunggu proses melahirkan normal hanya karena tidak ingin merepotkan suami. Tidak ingin suaminya mengeluarkan biaya besar untuk proses melahirkan.

Saya merasa galau ketika ia memutuskan untuk tetap melahirkan secara normal dengan beberapa indikasi yang seharusnya membuat ia menjalani operasi caesar ketika HPL nya telah lebih dari 1 pekan.

Ia sempat merasa stres dan kehilangan selera makan. Hal mana, yang herannya, luput dari pengamatan suaminya. Sehingga sang suami dengan –tanpa berat hati—membiarkan istrinya memutuskan sendiri hal yang berkaitan dengan hidupnya.

Hari ini, tepat 2 pekan berlalu dari HPL. Setelah mengalami pekan yang penuh tekanan, hingga akhirnya ia berhasil meyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan yakin untuk menjalani kelahiran normal. (sesuai hasil pemeriksaan usg di bidan, semua dalam kondisi bagus, katanya). Dan saya berharap itu betul adanya. 

Akan tetapi, entah mengapa, saya tak bisa mengenyahkan rasa kesal pada para  suami, yang membiarkan istrinya yang tengah hamil tua untuk memutuskan sendiri persoalan yang berkaitan dengan nyawanya. 

Termasuk juga suami-suami yang tega melihat istri bekerja berat dengan kandungan yang terus membesar. Entah untuk urusan antar jemput anak sekolah, untuk urusan angkat mengangkat galon.

Hei, ini bukan soal ketangguhan atau mendidik istri agar tidak manja. Melainkan soal menghargai istri dan menjaga sebentuk nyawa yang Tuhan titipkan dengan sebuah ikatan kuat yang bernama ijab kabul.

Sekali lagi, ini soal nyawa. Tanggung jawab suami untuk memilih keputusan penting yang berkaitan dengan hajat hidup istri dan anak yang ada di kandungnya. Tanggung jawab suami pula untuk memastikan kenyamanan istri saat menjalani kehamilan hingga melahirkan bahkan setelahnya.

Maka,
Wahai, Suami, tidakkah menjaga nyawa istri sama pentingnya dengan menjaga nyawamu sendiri?

Tidakkah kehilangan istri sama dengan hilangnya separuh jiwamu. Mungkin kau bisa mencari pengganti, namun kau tidak akan menemukan yang serupa dengan dirinya.

Sayangi dan hargailah istrimu, karena sebaik-baiknya lelaki adalah yang paling baik dalam memperlakukan istrinya.

Salaam....

18 komentar:

  1. baper bacanya. kadang batas antara mandiri dengan diabaikan itu tak ada ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Diah.
      Dan saya meyakinkan diri bahwa bermanja-manja saat hamil itu adalah hak setiap perempuan. Hehehe...

      Hapus
    2. Betul, Mbak Diah.
      Dan saya meyakinkan diri bahwa bermanja-manja saat hamil itu adalah hak setiap perempuan. Hehehe...

      Hapus
  2. Sedihnya...
    Apalagi para bumil kadang gampang baper. Lha kalo suami ga peka rasanya makin baper. Hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget mbak Alma.
      Kalo saya bapernya baru ilang kalo udah lahiran. Hahaha

      Hapus
    2. Iya banget mbak Alma.
      Kalo saya bapernya baru ilang kalo udah lahiran. Hahaha

      Hapus
  3. Mm.. Aku anak pertama juga lahirnya di umur 46 minggu sih. Alhamdulillah normal dan sehat. Itu tentunya setelah konsul dgn medis jg.
    Kadang emang setelan para laki gitu sih, lempeng. Tapi bukan berarti cuek. Bisa jd sebenarnya mereka sdh melalui dialog2 pribadi jg. Biasanya laki2 memang berusaha utk percaya dg pilihan pasangannya. Itu salah satu bentuk dukungannya. Mengijinkan istrinya menunggu utk tetap lahiran spontan, tidak mau ditemani saat melahirkan, tetap bekerja di saat hamil tua dll. Daripada mentransfer berbagai kecemasan yg sebenarnya ada di benaknya.
    Just my two cents :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.... saya gak pernah denger ada yang sampai 46 minggu! Luar biasa...
      Semoga teman saya ini termasuk seperti ini ya. Telat lama. Tapi normal dan sehat semua. Aamiin

      Hapus
  4. Salut mbak, cita-citaku dulu pengen punya 5 anak. Terinspirasi dari kehidupan sendiri sebagai keluarga besar.

    Some, sampai saat ini masih berada di zona ikhtiar.

    Semoga setiap suami akan selalu menjaga dan menyayangi istrinya,demikian juga sebaliknya Dengan Kasih sayang yang akan menggema hingga jannah. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ikhtiarnya dimudahkan ya Mba Ririe... aamiin

      Begitulah seharusnya Mbak..

      Hapus
  5. Itu ada ya Mbak suami yang begitu? Gemletek banget bacanya. Kejam banget. naudzubillah. Padahal orang hamil tu kadang tiada daya untuk ngapa ngapain *pengalaman saya kemarin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyaaaaakkkk.... ada juga temen deket saya yang hamil besar masih jadi tukang ojek antar jemput anak sekolah, sementara si suami nganggur di rumah.

      Kalo istri hamil masih angkat galon juga dianggap biasa.

      Hapus
  6. itulah hamil dan melahirkan adalah perjuangan berat untuk seorang wanita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mbak Tira.
      Makanya sangat butuh suport dari orang terdekatnya

      Hapus
  7. Alhamdulillah 7 lancar semua..Saya 3 ceritanya beda-beda..:D
    Memang jihad perempuan dia hamil dan melahirkan ya Mbak:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mba Dian. Setiap kelahiran punya cerita dan sejarahnya sendiri. :)

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^