Sabtu, 19 Agustus 2017

Salah MPASI Berujung Drama Penuh Airmata



Salah dalam pemberian MPASI pada anak bisa berakibat fatal

Salah MPASI berujung drama?

Serius, Mom? 
Ya seriuslah... masa serius-seriusan? *nah loh

Sebetulnya, ini salah satu sejarah paling memalukan bagi saya. Juga pengalaman yang merontokkan anggapan bahwa punya anak banyak berarti khatamlah sudah urusan yang kaitan dengan tumbuh kembang anak. Termasuk soal pemberian MPASI.


Tetapi, ternyata saya salah, Sodara-sodara...
Nggak ada cerita punya banyak anak berarti jago dan pintar dalam segala hal. *ente aja kali Mom. 

Ternyata...
Punya 7 anak bukan jaminan saya pintar dalam urusan pemberian MPASI. 
Tujuh anak berarti 7 cerita.
Tujuh pengalaman yang berbeda.
Tujuh kali pula saya harus mengakui kebodohan saya sebagai ibu.

Pedih memang mengakui ini, tetapi kenyatanya memang demikan. Punya banyak anak membuat saya menyadari kebodohan saya.

Jadi ceritanya, ketika Ramadhan lalu, saya berniat menjalankan ibadah shaum. Syukur-syukur bisa full.  Salah satu pertimbangannya tentu usia Syahid yang sudah cukup untuk diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Yup, usia Syahid sudah 6 bulan ketika itu.

Selain usianya yang sudah cukup untuk diberi MPASI, Syahid pun terlihat antusias setiap kali dilakukan uji coba makan. ((Uji coba??)) Senang deh melihat matanya yang berbinar menatap makanan, terlebih bila disuapi makanan tersebut.

Ahahahai.... emak mana yang tak melambung perasaannya melihat anak doyan makan?
Apa lagi sebelumnya saya sempat dibuat bingung dengan ulah kakaknya –anak ke-6 -- yang menolak semua jenis makanan dan minuman, kecuali bubur bayi dan susu. 

Salah satunya akibat terlambat mengenalkan bermacam-macam MPASI. Bukan terlambat yang sangat. Karena ketika usia Si Kakak 7 bulan, saya mulai mengenalkan beragam MPASI, sayangnya ia sudah menentukan pilihan dan mempertahankannya hingga usia 3 tahun lebih. 
Baca juga :
5 Penyebab Anak Terlambat Bicara 
Tips Sederhana Deteksi Dini Anak Terlambat Bicara 
 7 Tips Terapi Bicara Yang Sederhana

Ya, memang pada akhirnya –setelah perjuangan melelahkan-- Si Kakak bisa menikmati nasi dengan pilihan lauk yang terbatas (hingga saat ini ia tidak suka sayur, dan memilih makanan keringan). 

Akan tetapi, efek yang terlihat paling berat dari kebiasaan makan bubur susu yang cenderung encer, adalah ia mengalami keterlambatan bicara. (Hal mana yang juga dialami anak ke tiga saya yang juga mempunyai pola MPASI yang sama. Hanya mau bubur susu merk tertentu).

Ada semacam trauma tentu saja. Hal ini juga yang mendorong saya untuk memberikan MPASI secepatnya dan kebetulan bertepatan dengan ibadah shaum yang wajib saya jalani. Meski ada kekhawatiran ASI saya berkurang, namun niat dan tekad saya sudah bulat untuk tetap berpuasa.

Akibat salah MPASI, Dek Syahid mengalami sembelit yang parah

Salah MPASI dan Drama Penuh Air Mata

Berikut ini kronologi MPASI Dek Syahid yang mendebarkan dan bersejarah. Juga ada bagian-bagian yang enggak banget yang tetap saya tuliskan agar bisa diambil hikmahnya.

Pekan pertama

Semua berlangsung baik dan lancar. (Terlalu lancar bahkan, karena Si Dedek doyan makan. Hehehe). Saya memberikan biskuit bayi secara bertahap. Lalu mulai memberi bubur susu. Tidak ada masalah, karena makanan itu dilahap dengan penuh semangat. Dan pup-nya (yang selalu ibu nantikan) keluar lancar tanpa masalah.

Pekan Kedua

Keadaan mulai tak terkendali. Bayi yang selalu terlihat lapar dan bersemangat menyantap makanan apapun, berkolaborasi dengan rasa bersalah karena air susu mulai berkurang. Saya mulai nakal menyuapinya dengan berbagai makanan yang ada saat buka puasa. Ya, lontong, tahu, melon... apa saja. Dan, Syahid menyantapnya dengan suka cita. (serius maak?? )

Mula-mulanya sedikit, lama-lama menjadi agak banyak, ujung-ujungnya.... pup Syahid mulai tidak teratur. Emak pun mulai dihinggapi rasa cemas. Rasa cemas itu berubah menjadi panik  ketika Syahid harus menangis saat pup. Lalu mulai mengalami trauma pup. Ia hanya bisa pup bila diberi pelumas. 
 

Pekan Ketiga

Nafsu makan Syahid tak kunjung berkurang, meski ia mengalami kesulitan buang air besar. Ia terus bersemangat menyantap apa saja. Ia rewel setiap melihat makanan.  Namun, saya mulai memberinya jus buah-buahan, dengan harapan pupnya bisa kembali normal dan teratur. Namun drama penuh airmata saat pup tetap terjadi.

Pekan Keempat

Sudah 3 hari lewat setelah pup yang tertunda. Kecemasan saya makin menjadi saat pelumas yang saya paksakan lewat lubang anus tak bisa masuk. Tak tahan melihat penderitaan Syahid, akhirnya saya pun membawanya ke dokter.

Walhasil, dokter cantik itu menceramahi saya soal pemberian MPASI yang terlalu bersemangat.

“Ibu, jangan terlalu bersemangat memberi MPASI. Ususnya masih halus. Pemberian bubur susu pun tidak boleh kental. Harus encer banget. Tidak boleh memberi buah-buahan sembarangan.  Jeruk  pun –harus jeruk baby-  tidak boleh terlalu banyak.  Cukup 4 siung saja. “

PLAK! teringat segala macam makanan  yang masuk perut Syahid. Dari mulai pisang, apel, melon bahkan kurma. Oh, My God.... maafkan Ibumu, Nak. Maksud hati biar lancar BAB, nyatanya malah berakibat sembelit.

“Anak ibu masih suka buang angin?” tanya dokter lagi. “Kadang-kadang? Oh baguslah.” 

 Dokter itu terlihat lega. Tinggallah si emak yang kebingungan mendengar komentar dokter.

“Kenapa, Dok?”


“Karena kalau anak ibu tidak bisa buang angin, itu artinya ada bagian usus yang tertekuk. Mampet. Itu bisa mengakibatkan kematian pada bayi. Banyak kejadian seperti ini. Apalagi bila bayi sampai muntah-muntah. Itu karena makanannya sudah masuk ke dalam saluran pernapasan.


Dan satu-satunya cara agar hal itu tidak terjadi adalah pembedahan. Anak ibu harus dioperasi. Dibuang sebagian ususnya. Dan sementara itu untuk pup-nya harus lewat perut.”


(Glek. Emak pucet sepucet-pucetnya. Rasanya pingin nangis guling-guling diamuk rasa sesal. Tapi kan nggak mungkin).


“Kasian kan bila anak sekecil ini harus menjalani operasi?”


“Jadi sekarang gimana, Dok?”


“Saya nggak bisa memberi obat pencahar ya, karena masih terlalu kecil. Saya hanya bisa meresepkan vitamin saja. Coba setiap pagi diberi air hangat. Dan  diet. Anak ibu tidak boleh makan apapun kecuali buah alpukat dan pepaya. Itu pun jangan banyak-banyak. Bila dia masih mengalami kesulitan BAB, coba rangsang dengan memasukan sabun mandi seukuran kelingking orang dewasa ke pantatnya. Itu akan memicu kontraksi.”

Kondisi Syahid yang ternyata tidak sederhana, membuat saya luar biasa menyesal dan ketakutan, bukan hanya panik.  Segala rasa tumpah ruah menyesaki dada. Saat itu saya hanya bisa berdoa. Berdoa agar Syahid bisa segera pup – sungguh tak terbayangkan saya akan merindukan dan menantikan pup anak dengan begini haru birunya.

Maka ketika Syahid mulai menampakan gejala kontraksi, saya dan suami mulai melakukan “operasi” mengeluarkan PUP dengan cara mengoreknya. (maaf, bagi yang jijik boleh diskip).

Tak ada jalan lain, karena obat pelumas ternyata tidak bisa membantu, maka kami terpaksa memaksa kotoran yang mengeras dan menyumbat itu dengan bantuan air sabun dan alat korek (kami menggunakan alat korek kuping yang dari logam, karena hanya itu yang tersedia di rumah)

Betapa ngilu rasanya mendengar tangisan Syahid. Tetapi kami harus melakukan itu agar ia tidak menjalani operasi --- selain membutuhkan biaya besar, tentu juga akan menimbulkan rasa sakit yang jauh lebih hebat --- Tak ada pilihan lain, terlebih sehari menjelang lebaran.

Menjelang adzan maghrib, di saat orang lain berbuka dengan suka cita, kami pun berbahagia telah berhasil mengeluarkan sebutir besar kotoran Syahid (duh jorok banget ya? Sorry....)

Tak pernah terlintas dalam pikiran, bahwa kami akan selega dan seriang itu. Bayangan bahwa Syahid harus dibelek tim dokter pelahan sirna. Meski selama dua hari ke depan kami masih harus melakukan “operasi” dengan standar operasional yang sama.
 
Kembali ceria setelah menjalani diet

Akhirnya terpaksa DIET

Yup. Tak ingin mengulangi ketololan yang sama, akhirnya kami mengikuti saran dokter untuk menjalankan program diet untuk Syahid. Ia yang semula bersiap menjadi bayi omnivor terpaksa harus bermetafora menjadi bayi burung. Hanya makan alpukat dan pepaya.

Apa boleh buat, kami harus menegarkan hati untuk tidak iseng menyuapi Syahid aneka hidangan lebaran yang menggugah selera. Meski berulang kali Syahid rewel dan unjuk rasa minta disuapi macam-macam. Menabahkan hati melihat mata Syahid yang menatap penuh minat setiap kali orang yang memangkunya memasukkan makanan ke mulut (bukan mulut Syahid).

Alhamdulillah diet itu berhasil.

Sembelit itu berangsur-angsur hilang. Ia tak histeris lagi menjelang kontraksi. Hingga kemudian kami bisa memberinya MPASI yang sesuai dengan kebutuhannya.

Catatan : Saya tetap mempertahankan diet sampai PUP Syahid teratur dan normal. Lalu pelahan mulai memberikan MPASI sesuai usianya.

Pengalaman bersama Syahid ini benar-benar menguras emosi. Di samping juga menumbuhkan kesadaran, bahwa kesalahan dalam pemberian MPASI bisa berakibat fatal. Tidak hanya sembelit, bahkan bisa merengut jiwa.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Mom. Selamat mendampingi buah hati.  Salam ^_^

14 komentar:

  1. ck ck ck mb za, mb za... Kok bisa to ampe lupa diri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak.... saking bersemangat, Mbak Wit. Duh kacian bener deh Dek Syahid.

      Hapus
  2. mbak...aduh mau ketawa bagian jadi bayi burung itu.

    duhhh...emak semangat 2017 ya. jadi catatan buat saya mbak.

    benar ya tiap anak ceritanya beda-beda. bayi saya umur 11 hari masuk RS krn kuning mbak. karena ASI kurang.

    bayangin mbak. ini anak ketiga tapi kok bisa salah.. kayak belum pernah punya anak aja.

    astaghfirullaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya Mba Diah... Malu-malu sedap gimana gitu yak. Perasaan nambah anak gak nambah pinter. Nambah oon iya. Duuuh...

      Hapus
  3. Dulu jg anak saya sembelit, pdhl pake metoda food combining (cmn mkn buah)... Duh, sedih bgt...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang metode food combining yang cocok untuk anak sembelit ya... Harus yang kaya serat.

      Hapus
  4. Iya mba.. Klo udah punya riwayat kakak susah makan, punya adik yang maemnya gampang itu bnr2 menggoda..
    Menggoda untuk memasukkan apa2😁😁
    Untung ya mba..ga jd operasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneeeeeerrrr... duh godaan banget itu. Rasanya pingin banget masukin apa aja ke mulutnya.

      Iya alhamdulillah gak dioperasi, ngebayanginnya aja udah seremmm

      Hapus
  5. Wow..7 luar biasa mommy Liza
    Ibu tangguh. Saya sering denger tuh setiap anak beda tindakan termasuk pemberian MPASI

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha tangguh di mana Mbak Siti?
      Masih salah-salah juga ternyata.

      Hapus
  6. Kwkwkw..Mbak, padahal sudah si dedek ya, tapi lupa rumusnya..Maklum lah Tapi Alhamdulillah kalo ngga sampe operasi..Semoga sehat selalu ya putranya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Mbak Dian... masih try n error juga ternyataaa.
      btw, aamiin.. makasih tuk doanya

      Hapus
  7. Aku udah melihat sendiriiii gimana Syahid pengen makan segala macam. Semoga sekarang dan seterusnya Syahid sehat-sehat yaaa.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini lagi bapil Aunty Enooooo... jadi malah gak mau makan apa-apa, huhhuhu

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^