Rabu, 10 Mei 2017

Romantisme di Pernikahan Usia Matang



Perlukah romantisme di usia pernikahan yang matang?



Beberapa waktu lalu teve menyiarkan berita pernikahan selebrita tanah air, Ibu Nani Wijaya dan Bapak Ajib Rosidi. Pernikahan pada saat masing-masing berusia amat-sangat matang. (ini usaha keras saya menghindari kata: lanjut usia). Romantisme semacam apa yang dicari pada level usia sematang itu?


Ah, ya, tentu saja saya tidak berhak menghakimi atau mencari-cari alasan pernikahan beliau. Beliau tentunya lebih tahu kebutuhan apa yang mereka rasakan. Dan saya sedikit bisa meraba sekaligus berempati pada pasangan sepuh tersebut.  
  

Romantisme di Pernikahan Matang

Saya menyebut pernikahan yang sudah mencapai 20 tahun adalah usia pernikahan yang matang. Matang, karena telah melewati masa-masa yang penuh gejolak. Saya membahasnya di Titik Rawan Dalam Pernikahan

Pada titik ini, kita dapat mengenal pasangan dengan baik. Kelebihan-kelebihan sekaligus kekurangannya. Bisa berada di titik ini, merupakan hasil kompromi kita terhadap pasangan. Pilihan kita – untuk kesekian kalinya--- untuk tetap membersamainya meskipun kita tahu persis, betapa menjengkelkannya dia, umh... atau kita, kadang-kadang.
   
Nah, dalam usia sematang ini, terkadang romantisme –saya tetap menganggap hal ini penting dalam sebuah pernikahan—hadir dalam bentuk yang tak terduga dan lucu.

Seorang teman – dalam sebuah status di akun medsosnya-- menyarankan sebaiknya mengucapkan kata-kata cinta tiga kali sehari. Agar pasangan tahu, betapa kita teramat mencintainya. Agar cinta tumbuh subur, sesubur masa awal pernikahan. Sebelum semua menjadi terlambat, dan kita tak sempat mengucapkan kata cinta.

Saran yang baik!
Lantas saya pun mempraktekkan saran tersebut. Lebih pada rasa penasaran. Perlukah kita mengucapkannya 3 kali sehari? Seperti laiknya minum obat. Tepat seperti yang saya perkirakan, suami saya malah tertawa terbahak-bahak. 

Dan  anehnya, tidak membuat saya merasa sedih.   
Mungkin, bertahun-tahun bersama membuat saya insyaf, bahwa saya menikah dengan makhluk Tuhan yang alergi dengan kata-kata romantis. Setidaknya, waktu telah mengajari banyak hal, salah satunya berlapang dada.

Berbeda dengan romantisme di awal pernikahan, dulu saya kerap menerima ucapan cinta  berupa kartu ucapan yang terselip di bawah bantal, romantisme di usia pernikahan duapuluh tahun lebih,  muncul dalam bentuk saling lempar bantal, atau berbalas kentut. Nggak jelas banget kan ya?

Kebersamaan mengarungi biduk rumah tangga dengan segala persoalannya membuat kita percaya dan memahami suami jauh lebih baik. Sehingga kata-kata penuh canda terasa jauh lebih bermakna.

Begitu pula dengan diskusi-diskusi seru tentang persoalan politik tanah air, dan segala hal tentang kehidupan mengandung sisi romantisme tersendiri.

Dan, ya, terkadang,  pijitan ringan di punggung tangan ataupun di bahu menjadi momen indah. Cukup untuk menyampaikan rasa empati terhadap pasangan. Cukup untuk mengisyaratkan cinta yang sama besarnya. Cukup menyampaikan degup yang sama 
 dalam dada.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya mengerti, mengapa ada saja pasangan usia lanjut berkeras untuk menikah, di tengah gunjingan yang tak sedap, barangkali. Kebutuhan untuk saling mengisi dan melengkapi terkadang jauh lebih besar daripada kebutuhan akan aktivitas badani. Dan pernikahan merupakan satu pilihan yang paling memungkinkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Simak juga tulisan Mbak Diah Dwi Arti :  Menikah Pada Jumpa Pertama 
Dan Tentang Kebiasaan-Kebiasaan Sebelum Menikah di blog Mbak Ade Delina Putri

Baca juga :

5 komentar:

  1. Suamiku juga bukan tipe pria romantis dengan mengucapkan kata cinta setiap hari, mba. Tapi sikap dan perilakunya udah menunjukkan dia sayang. EHem. Smoga selalu Sakinah Mawadah Warahmah mba :)

    BalasHapus
  2. Tulisannya cocok di hati mbak. Walau pernikahan keduaku baru masuk tahun keenam bulan depan. Pernikahan pertama bertabur romantisme tapi hatinya tak ada buatku. Aku lebih nyaman menjalani pernikahanku yang kedua ini. Berbalas kentut itu aku bangettt 😊

    BalasHapus
  3. Ia itu mbak, kmrin heboh2 ttg pernikahan yg sudah sangat matang itu. Tapi kalau dipikir2 ya, menurutku itu baik krn mereka bisa saling melengkapi n membahagiakan dg cara mereka melalui iktan yg halal

    BalasHapus
  4. Perlu banget! Menurutku sepanjang pernikahan memang perlu banget romantisme diciptakan. Supaya cinta terus menghangat dan tidak pudar :)

    BalasHapus
  5. Berbalas kentut...aduhai ya mbak. memang beda ya romantisnya orang muda dengan orang yang ga muda lagi.

    tapi pernah seorang teman saya protes ke orang tuanya, katanya, "Bapak sama Ibu tuh suami istri apa bukan sih? Kok tidurnya sendiri-sendiri??"

    Hihi... ya mungkin itu juga bentuk romantisme di kala usia matang ya. memberi privasi lebih kepada pasangan. atau...karena jumlah kamar yang kosong bertambah karena anak-anak sudah menikah semua.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^