Rabu, 26 April 2017

Yuk Kenali Alergi Pada Anak



Waspadai alergi pada anak sejak dini


Dulu saya tidak menyangka kemerahan yang ada di pipi dan juga di kaki Rabbani merupakan gejala alergi pada anak. Saya begitu naif –atau malah bodoh sekali—karena selesai memberi susu eksklusif, saya beberapa kali memberikan MPASI yang ekstrim untuk anak seusianya. Yaitu, telur rebus.


Pada anak lain yang tidak memiliki riwayat alergi, pemberian protein tinggi seperti telur dan ikan laut mungkin tidak akan berdampak serius. Akan tetapi dengan anak yang kedua orangtuanya/ salah satunya memiliki riwayat alergi, hal itu akan menjadi serius.

Karena alergi merupakan reaksi tubuh terhadap lingkungan  atau asupan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak cocok dengan daya tahan tubuhnya yang masih dalam tahap perkembangan.

Begitu pula  yang terjadi pada Rabbani. Saya baru ‘ngeh’ dia mengidap alergi ketika kakinya tidak hanya bentol-bentol, melainkan mulai bernanah, selang beberapa hari setelah mendapat MPASI yang mengandung zat pemicu alergi (alergen). 
Dan itu sudah terlambat.

Anak keempat saya itu menderita alergi paling parah dibanding saudara-saudaranya yang lain. Sedih rasanya melihat proses tumbuh kembangnya jadi terhambat gara-gara alergi itu. Ia tidak bisa bebas bermain di luar rumah, tidak bisa beraktivitas selincah anak-anak lainnya dan juga tidak bisa  menyantap menu masakan yang mengandung telur dan ikan (dua hal yang sangat ia sukai).
 
Ke dokter? Sudah bolak-balik. 

Dari dokter umum sampai spesialis anak dan spesialis kulit saya coba. Tetapi penyakitnya itu tak kunjung sembuh. Hingga akhirnya saya mafhum, alergi tak bisa disembuhkan melainkan harus dihindari. Kelak daya tahan tubuhnya-lah yang mampu mengatasi munculnya alergi itu dalam tubuhnya.

Pengalaman Rabbani ini membuat saya mencari informasi, apa saja yang bisa meningkatkan risiko alergi dan bagaimana cara pencegahannya. Nah, ternyata hal-hal seperti berikut ini loh yang bisa menyebabkan alergi.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak.

     1. Riwayat keluarga alergi

Mom, bila ayah atau ibu memiliki riwayat alergi, kemungkinan anak terkena alergi antara 20-40% lho. Dan risiko alergi menjadi lebih besar bila keduanya memiliki riwayat alergi, yaitu sebesar 72%. 

  2. Pemberian MPASI dan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan

Pemberian MPASI atau susu formula dapat menimbulkan alergi pada anak sebagai reaksi tubuhnya yang belum mampu mencerna dan menyerap protein tinggi.

3. Paparan terhadap tungau dan debu rumah

Tinggal di kota dan pemukiman yang padat penduduk dan di kelilingi pabrik-pabrik tentu sulit menghindari bayi terpapar debu-debu halus yang beterbangan. Bila sudah memikirkan hal ini, duh, inginnya berdiam di daerah pegunungan yang sejuk dan bersih.hiks

Lalu, seperti apa penampakan alergi pada anak?
Ini nih jenis-jenis alergi yang sebaiknya diketahuinya, Mom.

Jenis-Jenis Alergi Pada Anak


     1. Alergi saluran pernapasan

Alergi ini muncul sebagai reaksi terhadap udara yang mengandung zat polutan. Seperti serbuk bunga, debu rumah, asap rokok, tungau, dsb.
Gejala yang terlihat seperti : mata gatal dan berair, hidung meler, hidung tersumbat dan batuk.

     2. Alergi Kulit

Alergi ini muncul ketika terjadi kontak antara kulit bayi/ anak dengan zat-zat tertentu. Misalkan emas imitasi, parfum, bahan pakaian dari jenis tertentu, dll.
Gejala yang tampak biasanya : kulit menjadi merah/meruam, bengkak, dermatitis dan gatal.

     3. Alergi makanan

Alergi ini merupakan penolakan tubuh pada makanan jenis tertentu. Seperti, kacang, telur, daging ayam, ikan laut, dll.
Gejalanya akan muncul berupa : kram, mual, muntah dan diare.
 Dan pada  anak dari orangtua yang mengalami simptom, alergi makanan ini akan muncul dalam bentuk : gatal pada kulit, dermatitis.

Mom,  meski secara umum alergi pada anak tidak membahayakan jiwa, namun ada juga beberapa alergi yang menimbulkan reaksi berlebihan pada tubuh penderita. Alergi inilah yang harus kita waspadai,  Seperti alergi ikan, obat-obatan yang mengandung penisilin, dan sengatan lebah.

Waspadai juga reaksi alergi yang membutuhkan perawatan medis segera.
Yaitu apabila reaksi yang muncul adalah sebagai berikut:  sesak napas, susah menelan dan pingsan.

Bagaimana mencegah timbulnya alegri pada anak?

Untuk mencegah alergi pada anak, yang dapat kita lakukan adalah :
  • Pencegahan Primer
     - Jauhkan anak dari asap rokok dan debu, terutama selama hamil dan masa bayi.    -Hindarkan anak dari lingkungan perumahan yang lembab
       - Mengurangi jumlah polutan dalam ruangan
     - Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.

  • Pencegahan Sekunder
Dilakukan dengan cara mengobati penyakit alergi tersebut. Berkonsultasilah pada dokter spesialis anak dan spesialis kulit untuk melakukan pengobatan alergi pada anak.

  • Pencegahan Tersier
Dilakukan dengan cara menghindari zat penyebab alergi atau dengan mengurangi paparan dengan zat-zat tersebut.
 

 Demikianlah pengalaman saya bersama anak yang mengidap alergi. Kabar baiknya, anak saya sekarang lebih kebal terhadap makanan yang mengandung protein tinggi. Semakin bertambah usianya semakin bisa tubuhnya beradaptasi dengan bermacam-macam makanan dan lingkungan di sekitarnya. Keluhan pun relatif berkurang. Alhamdulillah...

Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^