Minggu, 16 April 2017

Kisah Mesra Antara Aku dan Orang Cina di Sekitarku


Keluarga Besar


Tulisan kali ini hampir seluruhnya tentang kenangan. Juga curhat tentunya. Kali ini aku mengabaikan SEO dan segala pernik optimasi blog. Aku hanya ingin menyampaikan keresahanku. Karena issue SARA yang kian memanas.



Suasana belakangan ini sungguh tak nyaman. Dan aku pun mengira-ngira, apa yang sekiranya dirasakan om dan tante-ku, dua orang adik mamaku yang berdarah asli Cina.
Apakah aku ada keturunan Cina? Tidak.

Meski tak memiliki setetespun darah Cina, Abahku memiliki wajah oriental. Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa sebagian anakku juga memiliki mata sipit dan berkulit putih, meski emaknya berkulit eksotis (baca : gelap). 

Masa Kecil di Kepulauan

Masa kecilku berlalu dengan menyenangkan di kota Kabupaten Tembilahan. Salah satu pulau di antara pulau-pulau kecil yang ada di Kepulauan Riau. Udara laut yang panas, sungai tenang bewarna cokelat muda, jembatan-jembatan kayu, rumah-rumah kayu beratap seng,  dan keramahan penduduk yang terdiri dari beragam etnis menjadi pemandangan sehari-hari. Tepatnya hingga aku berusia 11 tahun.

Aku bersekolah di SD Muhammadiyah, salah satu SD favorit pada masanya. Jangan heran bila di dalam kelas, aku mempunyai teman-teman Cina sebagai saingan berat dalam mata pelajaran apapun. Ya, bahkan dalam pelajaran Hadist dan Sejarah Islam. Hey, mereka pekerja keras dan mau belajar.

Beberapa di antaranya menjadi teman dekatku. Mereka sering mengundang kami untuk bermain bersama. Dan kami saling mengunjungi saat hari raya tiba. Dulu aku tak mengerti mengapa kami berbeda. Mereka tampak biasa saja. Pun orangtua mereka yang rata-rata berdagang kelontong di pasar.

Kami saling tolong menolong bila salah satu di antara kami terkena musibah. Seingatku, musibah yang paling sering melanda itu adalah kebakaran. Yup, karena daerah perairan, rumah yang didirikan di atas rawa dibangun dengan menggunakan kayu dan seng sebagai atapnya. Tidak pandang pribumi ataupun Cina, guru-guru kami menganjurkan kami untuk saling menolong bila ada yang tertimpa bencana.

Tetangga sebelah rumahku pun Cina. Aku selalu ngiler melihat bakpau-bakpau putih mengkilat dan bolu-bolu yang mengembang dan menguarkan aroma harum. Sayang,mamaku tak pernah mau membelikan bila aku merengek minta bolu. Bahkan mamaku diam-diam melarang enci sebelah rumah untuk memberi makanan apapun pada keluarga kami.

Tetapi baik mamaku atau enci sebelah tidak pernah melarang kami – aku dan A Hong, salah satu teman kecilku, untuk bermain bersama. Itu artinya, kami memiliki hari-hari yang menyenangkan dan penuh petualangan. Karena, aku tak tahu, apa bedanya aku dan A Hong, selain mata dan kulit kami yang berbeda. 

Oya, juga pilihan pemilu kami pun berbeda. Suatu kali kami bertengkar. Dan itu adalah saat pemilu. Aku ngotot memilih gambar Ka’bah/ Bintang dan ia memilih gambar Banteng. Seperti pilihan orangtua kami masing-masing. Akan tetapi itu tidak menyebabkan kami berselisih terlalu jauh. Pasca adu mulut, kami kembali asyik bermain.

Aku dan Om Cina-ku

Dulu aku  tak pernah mengerti, mengapa om-ku dilarang bermain jauh dari rumah Ayah (kakekku, tapi beliau tak pernah mau disebut kakek, jadilah kami semua memanggilnya : Ayah). Untunglah rumah ayah besar. Beliau memiliki penginapan dengan belasan kamar yang sering dikunjungi tamu. Aku menghabiskan sebagian masa kanak-kanakku di penginapan ayah.

Dulu, aku juga tak mengerti, mengapa ada seorang bapak-bapak Cina, yang selalu melintasi rumah Ayah setiap sore dan matanya selalu tertuju pada om-ku itu. Kakak-kakakku saling berbisik, tapi aku tak mengerti maksudnya.

Lalu ketika aku memahami perbedaan di antara aku dan om – teman sepermainanku- itu, aku menjadi makin tak mengerti, mengapa Mamih lebih menyayanginya. Padahal aku adalah cucu kandungnya sendiri.  Cucu dari satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya. 

Berpuluh tahun kemudian, ketika aku telah berumah tangga, di ujung usianya Mamih menjelaskan semuanya. Ujar Mamih, bukan tak sayang pada cucu, tapi om-ku hanya memiliki mamih. Sementara aku memiliki orangtua dan banyak saudara yang saling menyayangi.

Usia om-ku lebih tua setahun dari usiaku. Maka tak heran bila kami berteman sejak kecil. Seingatku ia anak pintar. Selalu bisa melakukan banyak hal. Tentu saja, karena Ayah memberinya fasilitas yang banyak. Berbeda dengan aku, anak abah yang harus berbagi segala hal dengan saudara-saudaraku.

Permainan apa saja yang sedang nge-trend, ia pasti punya. Ayah tidak pelit membelanjakan uangnya untuk anak kesayangannya itu. Yang menyenangkan, om-ku itu pun tidak pelit. Jadi, mainan dan makanan apapun yang dimilikinya, aku pasti kecipratan. Ini tentu saja mengurangi rasa dongkolku.

Sifat baiknya itu tidak berkurang, meski ia tahu, sejatinya ia berbeda. Perbedaan yang makin disadarinya saat ia tumbuh remaja, lalu dewasa. Ada masanya ia merasa tertekan, tampaknya sekarang ia sudah berhasil melewatinya dengan baik. Good job, Om.

Aku dan Tante Cinaku

Bersama Tante Lin

 

Di masa kecilku, aku tak terlalu mengenal tante Cina-ku ini. Usianya terpaut jauh, 10 th an dariku.  Namun, ketika aku beranjak remaja dan dewasa, kami cukup dekat. Ia tak ubahnya kakak perempuan bagiku. Hingga kini.

Aku ingat dengan baik, ketika keluarga aslinya  datang ke rumah kami, mamih merasa gelisah. Ia khawatir, tante-ku akan ikut bersama keluarga Cinanya dan  meninggalkan mamih. Padahal ia telah merawatnya sejak masih bayi merah hingga menyekolahkannya ke perguruan tinggi.

Apakah tanteku akan meninggalkan mamih?
Ternyata tidak.

Tanteku ini telah menjadi bagian dari keluarga besar kami. Ia dicintai, dihargai dan menjadi bagian tak terpisahkan. Bahkan mamaku dalam satu kesempatan lebih mengutamakan kedua adik angkatnya yang berdarah Cina ini daripada anak kandungnya sendiri. 

Mengapa?
Karena ajaran Islam yang mengaliri nadi kami mengajarkan cinta kasih yang murni. Tidak memandang ras. Tidak memandang suku bangsa. Kami saling mengasihi dengan tuntunan yang diajarkan agama. 

Ketika mamih meninggal, ia menunggu kedatangan tanteku dari kota lain. Beliau mengembuskan napas saat berada di pangkuan mamah dan tanteku baru melangkah ke pintu rumah. Dan jauh sebelumnya, beliau berwasiat untuk membagi warisan sepertiganya untuk kedua anak angkatnya itu.
Itulah cinta.

Seperti juga cinta yang diberikan secara diam-diam atau terang-terangan diberikan oleh tante dan omku pada mamih.  Cinta yang juga mengalir pada mamah, pada kami. Cinta yang membuatku merasa tak nyaman bila mereka diganggu.Seperti dengan merebaknya issue SARA ini. 

Ini menyakitkan bagi kami. Karena sebagai muslim, kami sadar, kami satu. Muslim pribumi ataupun Cina, tak ada bedanya. Kami mencintai negeri ini, saling menyayangi dan tidak merendahkan satu sama lain.
 
Dan kami benci pada mereka yang menyulut perpecahan. Yang mengatakan Tiko pada pribumi ataupun mengatakan Cina Babi. 

Sementara Al Qur’an tak pernah memerintahkan memerangi orang kafir, kecuali orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin, yang melarang kami menjalankan ibadah dan mengusir kami dari negeri-negeri kami.

Selama mereka baik-baik saja, selama mereka tidak berulah, kami sungguh masyarakat muslim yang ramah dan baik hati. Kakek, Nenek dan Mamahku telah membuktikan itu. Mereka, orang-orang Cina yang hidup di masa kanak-kanakku dulu juga telah merasakan kedamaian itu. Hidup berdampingan dengan masyarakat muslim dengan nyaman dan tenang.

Apakah kini semua ini harus berakhir hanya gara-gara ulah kaum picik yang ingin berkuasa?
Oh, sungguh menyedihkan....

 
Dalam banyak kesempatan kami menjadi satu : Keluarga

2 komentar:

  1. Biarlah isu SARA hanya berlaku pada mereka yg membesar2kan masalah ya mba.. Buat aku Lakum dinukum Waliyadin aja ya kan..

    BalasHapus
  2. Bhineka Tunggal Ika hrs dijunjung tinggi dimanapun

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^