Senin, 20 Maret 2017

Ubud Bali, Sebuah Permata di Cincin Api Pasifik



 
Ubud Bali, seni yang mengalir di nadi masyarakatnya. Poto :Pixabay

Ada yang menari-nari dalam pikiran saya setiap kali terdengar kata Ubud Bali. Ada semacam kebanggaan juga  rasa penasaran yang menggeliat setiap membayangkan keindahan alamnya. Membayangkan pertunjukan seni dan musik yang diadakan setiap malam. Atau, mengunjungi galeri-galeri seni yang memukau.


Indonesia  memang memiliki kekayaan alam dan  budaya yang luar biasa, dan terkenal di mancanegara. Adalah  Lorne dan  Lawrence Blair, dua kakak beradik yang tertantang untuk membuat film dokumenter dengan menjelajahi Indonesia, sebuah negeri yang berada di wilayah Cincin Api Pasifik. 

Mereka menyebutkan Indonesia sebagai negeri mimpi kala terjaga. Wow. Sebuah negeri yang begitu memukau. Satu potongan liar terakhir di pojok taman dunia kita, tulis Lawrence Blair pada kata pengantar dalam bukunya, Ring of Fire. Dan, Bali menjadi tempat mereka merenda petualangan selama 10 tahun.   

Kisah nyata petualangan  mereka berdua menjadi serial TV  dan mendapatkan penghargaan Emmy Award 1989 untuk  kategori National  Educational Film.

 Ubud Bali


Kecil saja, Ubud merupakan sebutir permata yang kilaunya telah memancar ke dunia belahan barat sejak tahun 1930-an. Menarik para wisatawan dan para seniman dunia untuk mengabadikan keelokan pesona Pulau Dewata ini.

Terletak di antara jurang-jurang gunung, membuat daerah yang berada di Kabupaten Gianyar ini memiliki eksotisme tersendiri. Anda bisa menikmati seluruh wilayah Ubud dengan menyewa sepeda atau pun motor, untuk merasakan kesegaran udara yang yang berembus.

Maka tidak mengherankan bila  ‘sepotong surga’ ini berhasil memikat Raja Salman dari Saudi Arabia untuk memperpanjang masa kunjungannya dari jadwal sebelumnya.

Selain menawarkan  suasana alam  pedesaan dengan sawah-sawah hijau menghampar atau berundak-undak di sepanjang mata memandang. Ubud juga memiliki masyarakat yang tak bisa lepas dari kesenian dan budaya. Kesenian mengaliri nadi mereka dengan begitu kental.

Apa pun yang mereka sentuh berubah menjadi karya seni. Tidaklah aneh bila berbagai galeri seni dan musium tersebar di wilayah ini. Seperti Galeri Rudana, Musium Puri Lukisan, Galeri Antonio Blanco dan lain-lain.

Harmonisasi masyarakat dan alam menciptakan suasana magis yang berbalut religi.  Bila kita berkunjung ke rumah di kawasan Ubud, akan kita temui tempat khusus untuk menyimpan sesaji.  Akan kita jumpai pula hewan-hewan dan dewa yang terukir pada tiang-tiang penyangga rumah. 

Bahkan ada sebuah pura yang didiami monyet-monyet, sehingga terkenal dengan sebutan Pura Monyet. Bagi penduduk, kehadiran mamalia tersebut untuk mengingatkan agar manusia tak melakukan perilaku yang hewani.

Cita rasa seni yang juga tercetak pada dinding Pura, rumah-rumah ibadah yang berusia ribuan tahun. Tempat masyarakat menyelenggarakan perayaan adat atau pun pagelaran seni yang menjadi irama tersembunyi para pemeluk Hindu pada malam-malam yang dipenuhi bintang.  

Ubud Bali, eksotisme yang membuai di antara rangkaian keindahan yang ditawarkan Cincin Api Pasifik, Indonesia. Sudahkah berlibur ke Pantai Kuta?Jangan lupa tips berwisata bersama anak.







2 komentar:

  1. Pernah ke Ubud, tapi cuma mampir beberapa saat. Jadi penasaran dan pingin menjelajah lebih lama.

    BalasHapus
  2. Suasana pedesaannya khas banget yaa

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^