Selasa, 21 Maret 2017

Menjadi Ibu Bahagia di Tengah Kerempongan



Tetap menjadi ibu yang bahagia, meski selalu repot.

Saya kerap mendapat pertanyaan bagaimana cara mengatur waktu antara menjadi ibu dengan kegiatan menulis dengan aktivitas rumah tangga dengan jumlah anak yang banyak. Pertanyaan semacam ini selalu membuat saya tersenyum.

Menjadi ibu dari 7 anak memang “sesuatu”. Sulit membayangkan “kerempongan” yang saya hadapi dengan para balita dan anak-anak yang sedang bertumbuh. Apalagi saya tidak memiliki ART.  Kok bisa? 

Begini, menurut  saya, repot atau tidak, sebetulnya bermain di ranah persepsi. Bila kita menganggap menjadi ibu rumah tangga dengan 7 anak itu merepotkan, ya memang menjadi repot. Semua hal  akan dipandang sebagai hal yang merepotkan.

 Akan tetapi bila kita menganggap punya anak banyak itu berarti banyak rezeki, maka rezeki-lah yang akan menghampiri dan bertambah. Eh, beneran kok ini.

Lagi pula, mana ada sih dalam hidup ini yang  tidak repot. Menjadi ibu jelas repot. Nggak punya anak pun repot juga. Repot menahan perasaan tiap ditanya, “udah punya anak berapa?” “Kok belum ‘isi’ juga? Jangan ditunda-tunda lho, nanti malah kebablasan...dst.”

Nah, kan, jadi semua tergantung dari sudut pandang kita. Mau tak mau kita harus mengubah sudut pandang. Mengubah  energi negatif menjadi energi positif.  Tidak mudah memang. Saya akui itu. Namun bila kita berhasil, cara berpikir kita pun, otomatis, akan menjadi positif.

Dengan berpikir positif maka kerempongan akan segera sirna dan yang muncul adalah keseruan bersama anak-anak.  Kita lebih dapat menikmati kelucuan yang muncul secara spontan ataupun asyiknya menulis di sela-sela padatnya aktivitas yang kita jalani dalam keseharian.

Bagi menjadi penulis seperti saya, bisa menyisihkan waktu untuk menulis, itu menjadi kebahagiaan tersendiri lho.
Salah satu karya yang dimuat di harian Kompas Anak, hasil dari menyisihkan waktu luang

Selain hal yang disebut , barangkali tips berikut juga bermanfaat bagi Sahabat Moma. 

Tips Menjadi Ibu bahagia :

 1. Gunakan skala prioritas.

 Sahabat Moma pasti sangat paham, bahwa pekerjaan rumah tangga itu nggak istilah selesai. Habis mencuci baju terbitlah segunung setrikaan. Kelar memasak, menumpuklah cucian piring. It’s okey.  Namun dengan skala prioritas, kita lebih mudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan  terhindar dari melakukan hal-hal yang sia-sia, semacam gontok-gontokan di media sosial, misalnya.

2. Membangun kerja sama dengan seluruh anggota keluarga.

Nah, ini bagian penting dalam rumah tangga. Bagian yang paling saya suka. Tanpa membangun kerja sama dengan seluruh anggota keluarga, rasanya mustahil saya bisa menjadi penulis. Harus ada kerja sama yang baik dengan anak-anak dan suami. Agar pekerjaan rumah tangga dapat diselesaikan dengan baik dan ibu tetap memiliki ruang untuk mengembangkan potensi diri.

3. Berlapang dada bila kita tak sempurna.

Tak ada seorang ibu pun yang sempurna. Setiap ibu memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Misalnya, Ok. Saya nggak cukup ahli dalam memasak, tapi saya bisa jadi ibu yang asyik. Catet!

4. Gunakan fasilitas yang mendukung.

Misalnya dengan menggunakan fasilitas dalam rumahtangga, seperti mesin cuci, magicom dan lain-lain. Sehingga kita bisa mengalokasikan waktu dan tenaga dengan lebih baik.
 

5. Me Time!

Bertemu dengan penulis-penulis kece. It'sme time!

Tidak ada ibu yang tak sibuk. Sesibuk apa pun, sisihkanlah waktu untuk melakukan me time. Ini penting banget untuk me recharge energi kita yang terkuras setelah melakukan aktivitas seharian. Apa yang saya sukai dan saya anggap sebagai me time? Membaca buku novel kesukaan. 

Tak harus piknik loh. Mahal dan merepotkan buat emak dengan 7 anak seperti saya. Cukup memiliki waktu luang mendekap buku, oooh, itu sudah menyenangkan. Atau bertemu dengan sahabat-sahabat. Waaah, asyiknyaaa

Kunjungan sosial bersama teman-teman pengajian juga bisa membahagiakan
 

Betapa pun, kebahagiaan seorang ibu itu amat penting. Karena dalam rumah tangga, menjadi ibu adalah menjadi matahari. Sinarnya mampu menghangatkan dan menjadi sumber cahaya bagi anak-anaknya. Namun jangan lupa, ibu pun bisa menghanguskan kebahagiaan buah hatinya, bila ia tak bahagia.

2 komentar:

  1. berlapang dada, bener banget Mbak. Aku lagi merasakan butuh sesuatu untuk me time. Baca postingan Mbak, aku jadi semangat lagi nih.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^