Rabu, 08 Maret 2017

4 Bahaya Mengancam Bila Anak Di Bawah Umur Berkendara



Anak di bawah umur berkendara rentan mengalami tindak kjahatan. (poto : pixabay)


Saya teringat beberapa tahun silam, ada sebuah kecelakaan yang merengut korban jiwa yang  terjadi di perumahan yang kami tempati. Berita itu membuat shock para orangtua yang selama ini membebaskan buah hati mereka, anak-anak di bawah umur berkendara motor di jalan raya.


Sayangnya, peristiwa itu begitu mudah dilupakan. Hingga hari ini saya sering mengelus dada melihat perilaku ugal-ugalan, aksi kebut-kebutan dan atraksi sirkus di jalan raya. Siapa lagi pelakunya bila bukan anak-anak yang masih berseragam putih merah atau putih biru itu.

Sebetulnya sih bukan salah anak-anak seratus persen. Betapa pun, mereka hanyalah anak-anak yang memerlukan penyaluran energi. Anak-anak yang sibuk mencari jati diri. Anak-anak yang belum mampu mengontrol emosi dan mengendalikan diri dengan baik.

Kebut-kebutan di jalan itu merupakan hal yang menyenangkan bagi mereka. Memacu adrenalin.  Membuat mereka tampak keren dan gagah. Itu poin penting di mata mereka. Perihal bahaya yang mengancam, oh, itu bukan hal penting. Apalagi bila mereka mengidolakan Si Boy Anak Jalanan, yang menjadi sinetron andalan di salah satu teve swasta tanah air itu.

Jujur saja, saya pribadi bisa memahami itu. Karena cara berpikir, kerangka berpikir  mereka kadang kala belum masuk pada wilayah itu. Mereka masih terpusat pada kebutuhan untuk diakui dan diterima keberadaannya di antara teman-temannya.


Saya tahu, mengizinkan anak membawa kendaraan terkadang meringankan beban orangtua. Kita bisa menyuruh anak-anak membeli barang di minimarket.
Atau, mengizinkan anak  berangkat sekolah sendiri. Tidak perlu repot-repot mengantar mereka sekolah. Tak perlu mengeluarkan uang lebih untuk urusan antar jemput anak sekolah. Ini jauh lebih irit memang.

Atau,mungkin bisa menimbulkan kebanggaan tersendiri saat dipandang sebagai orang yang mampu membelikan kendaraan bermotor. Mampu membahagiakan anak dengan memenuhi keinginan mereka untuk bermotor ria.
  
Saya mungkin termasuk orangtua yang kolot. Tetapi saya merasa nyaman mengantar anak saya sekolah hingga ia cukup matang untuk berkendara di jalan raya. Yaitu saat ia sudah duduk di kelas 2 SMA. Usia yang saya rasa cukup membuatnya berpikir lebih panjang dan tenang ketika menghadapi suasana di jalan raya.


Saya pun faham, selain anak-anak yang ugal-ugalan, ada juga anak di bawah umur yang berkendara dengan baik. Mereka menaati nasihat orangtuanya agar tidak sembrono berkendara di jalanan. Namun, mereka pun tak  terbebas dari ancaman bahaya yang mengintai di jalan.

Perlu ada upaya edukasi baik bagi pelajar seperti yang dipaparkan oleh teman saya, Mbak Diah dalam tulisannya tentang penyuluhan berkala  yang akan sangat baik bila diadakan di sekolah-sekolah. Juga, seperti yang ditulis oleh Mbak Ade, untuk meningkatkan kesadaran orangtua agar dapat memberikan pilihan yang tepat bagi anak-anaknya.

Apa saja sih bahaya membiarkan anak di bawah umur bebas berkendara di jalan?

1. Kecelakaan

Yup, kecelakaan memang momok mengerikan di jalan, yang bisa terjadi pada siapa saja. Mungkin yang celaka bukan si pelaku, melainkan orang lain.

 Seperti yang diceritakan suami saya saat melintasi sebuah jalan, konon di jalan itu sering terjadi  kecelakaan– dan salah satunya menimpa rekan sekerjanya-  Penyebabnya selalu sama. Akibat ulah anak di bawah umur yang berkendara secara ugal-ugalan. Anak yang sama (berdasarkan info dari orang yang berada di tempat kejadian)

Anak itu hanya terjatuh dari motor dan lecet sedikit, tetapi teman sekerja suami saya menderita patah tulang dan harus menjalani pengobatan yang panjang.
Yang menyebalkan (sejujurnya menyesakkan sih)  saat orangtua si anak dikonfirmasi, mereka tampak sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Mereka hanya meminta maaf pada korban. Itu saja. Dan menganggap sikap itu sudah cukup. 

Menurut saya, orangtua dengan sikap masa bodoh seperti ini harusnya mendapatkan hukuman yang setimpal. Akibat sikap permisif yang berlebihan pada anak, korban-korban berjatuhan.

2. Penipuan

Aksi tipu-tipu ini paling banyak menyasar anak-anak di bawah umur sebagai korbannya. Modus yang sering terdengar misal : menukar motor baru yang dibawa anak dengan motor mogok jelek dengan alasan meminjam. Nyesek banget  kan yaa?


3. Perampokan

Perampokan inu kerap menimpa anak-anak dengan modus minta diantar ke suatu tempat lalu diancam dengan senjata untuk menyerahkan motornya. Atau dengan modus memberikan informasi palsu, lalu digiring ke tempat sepi, lalu motor dirampas dan korban ditinggalkan di tempat sepi. Bahaya menjadi berlipat-lipat bila menimpa remaja putri.

4. Hipnotis

Hipnotis betulan atau pun "hanya' sekadar permainan pikiran ini beberapa kali terjadi di perumahan kami. Kasian deh mendengar, anak yang menjadi korban pulang dengan pikiran linglung setelah sadar motornya hilang. Ada yang masih menggenggam pisang, ada yang menunggu berjam-jam di tempat yang sama. Ada yang berjalan jauh karena diturunkan di lokasi yang jauh dari rumahnya. Dan biasanya mereka mengalami trauma loh.

Selain hal-hal di atas, tentu masih ada ancaman-ancaman lain yang mengintai anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan. Akankah kita tetap membiarkan anak-anak kita bebas berkendara? Pilihan ada di tangan kita, para orangtua.

 


7 komentar:

  1. aku itu heran loh mba...sama ortu yg ngasi motor sama anak dibawah umur. sayang anak tp gak sayang nyawa anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Lia. Sayang anak gak sayang nyawa anak.
      Sayangnya banyak yang gak sadar ya?

      Hapus
  2. Betul. Kadang bangga anak bisa naik motor.. saya juga herannn

    BalasHapus
  3. Paling bete kalau ada anak kecil sepeda motoran di jalan, aku pernah hampir celaka gara2 anak2 kecil macam ini :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaaa, saya juga paling bete liat abg momotoran di jalan. Sambil becanda lagi.

      Hapus
  4. aku sih udh tegas ga akan ngasih izin anak bawa kendaraan sebelum umurnya cukup dan dia punya SIM.. Disiplin seperti ini harusnya diajarin sejak anak kecil, jd dia bisa ngerti dan terbiasa utk disiplin dalam hal2 lainnya.. ntahlah.. harus gimana ya mba, ngerubah mindset orang tua yg malah bangga beliin anaknya mobil ato motor pdhl umur msh remaja nanggung gitu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Fanny, mengubah mindset ini yang gak mudah ya? Rasa bangga yang salah kaprah.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^