Rabu, 18 Januari 2017

Tentang Anak dan Cara Mengatasi Dilema Dalam Rumah Tangga



 
Tentang anak dan cara mengatasi dilema dalam rumah tangga (sumber foto : pixabay)
Tulisan ini merupakan lanjutan dari Fakta Tentang Anak dan Titik Rawan Dalam Rumah Tangga

Sahabat Moma, dua puluh tahun silam, seorang pemuda – melalui seorang sahabat- pernah bertanya. Salah satunya tentang anak. Ketika itu saya menjawab lewat sebuah tulisan. Bahwa ....


Anak adalah madrasah

Tempat orangtua belajar alif, ba, ta dirinya dan Tuhannya

Anak adalah sekolah

Tempat orangtua belajar a,b,c  kehidupan, dan hakikat penciptaannya.

Anak adalah cermin

Tempat orangtua kembali berkaca untuk mengenal dirinya sendiri.

(masih panjang uraian yang saya tuliskan tentang anak ini, tapi poin-poin di ataslah yang paling melekat dalam benak saya). Qadarullah, tak lama kemudian Allah Swt mempertemukan saya dengan pemuda itu dalam sebuah ikatan suci atas nama-Nya.

Jawaban yang saya berikan ketika itu, merupakan jawaban ideal. Hasil proses perenungan seorang mahasiswi semester 8. Ideal memang, tetapi belum memiliki pengalaman apapun terkait masalah anak.

Dan ketika Allah Swt mentakdirkan saya memiliki 3 balita dalam 6 tahun pertama pernikahan kami, mendadak saya lupa gambaran ideal saya tentang anak. Hari-hari seolah berlari. Melesat. Hingga kerap saya gagal memaknai hari-hari yang telah lalu.

Apakah saya bahagia?
Perlukah itu ditanyakan bila kehadiran anak menjadi semesta bagi seorang ibu? Bila air mata anak menjadi panah yang menghunjam di sanubari seorang ibu?
Tidak pernah ada kata sesal atas kelahiran mereka yang susul-menyusul. Karena setiap lelah terbayar tunai ketika melihat mereka tertawa ceria. 

Alhamdulillah, kini saya menjadi ibu dari 7 anak-anak yang baik dan tidak terlalu menyulitkan saya. Bahkan mereka seperti tim penghibur yang kompak. Yang membuat hidup ini terlalu ceria untuk dijadikan bak drama Korea. Saya curiga, mungkin, ini juga yang menjadi salah satu resep awet muda. Hehehe... 

Ya, saya sadari, saya bukanlah ibu yang baik bagi mereka.  Sebagai ibu, masih terlalu banyak kekurangan yang melekat di diri ini. Meski sudah belasan tahun mendampingi anak-anak, masa belajar –ternyata- belum berlalu. Saya pun masih terbata-bata belajar menjadi ibu.

Selama belasan tahun pula, saya belajar mengatasi dilema-dilema dalam rumah tangga dengan anak-anak yang menjadi pusatnya. Berikut beberapa hal yang saya rangkum dari perjalanan saya bersama anak-anak, tentunya juga bersama Si Dia.

7 Cara Mengatasi Dilema Dalam Rumah Tangga Sejak Dini

1. Anak itu diinginkan

Tidak ada seorang anak pun yang meminta untuk dilahirkan. Atau memiliki kesempatan untuk menawar, pada siapa mereka dititipkan. Kita-lah menginginkan kehadiran mereka. Kita-lah meminta mereka menjadi buah hati kita. Tempat kita menyemai harapan dan masa depan. 

Kesadaran bahwa kehadiran anak itu diinginkan, di-mau-i, akan menumbuhkan kesabaran luar biasa dalam menghadapi polah mereka yang terkadang menjengkelkan. Ya, anak tidak selalu lucu dan menggemaskan. Ada kalanya mereka membuat kita mengeluarkan ‘tanduk’. Namun, bagaimana pun mereka adanya, bukankah keberadaan mereka kita inginkan?

2. Libatkan peran ayah sejak awal

Ketidakbecusan saya sebagai ibu pada masa-masa awal, ternyata merupakan anugerah tersendiri bagi saya dan anak-anak. Betapa tidak, yang mengajari saya memandikan, bahkan menggendong anak, adalah ayah mereka. Dan, ya, termasuk ketika meninabobokan mereka.

Pengalaman saya yang nol besar dalam merawat dan mengasuh bayi itu menciptakan kelekatan antara anak dan ayah secara alamiah. Itu sebab, saya bisa dengan santai meninggalkan bayi mungil saya di rumah, selama ada ayahnya yang mendampingi. 

Hingga anak yang ke-7, tradisi memandikan anak di awal kehidupannya menjadi kehormatan bagi Sang Ayah. Ayah bahagia, dan ibu pun senang, karena bisa beristirahat sejenak pasca melahirkan.

3. Tidak ada anak ayah atau anak ibu

“Jangan biarkan ada anak ayah, ada anak ibu,” pesan Mamah  di masa awal saya menjadi ibu. Misal, anak pertama anak ayah, anak kedua anak ibu. Atau yang cantik anak ibu, yang kurang cantik anak ayah. Atau seperti apapun bentuk pembagiannya.

 Ini saya pahami kemudian, bahwa anak akan terkotak-kotak dan terbelah dalam pemberian kasih sayang dan perhatian. Mereka tidak akan merasakan nikmatnya memiliki orangtua yang utuh. Tidak bisa merasakan perasaan yang sama antar saudara, serta lebih rentan menimbulkan kecemburuan antar anak.

4. Jangan buruk sangka

Dalam membersamai anak-anak, hal yang saya rasa paling menguras emosi adalah ketika bersabar terhadap amarah yang ditujukan suami pada anak-anak. Sebagai ibu, sungguh tak rela rasanya ketika melihat anak-anak dimarahi oleh siapa pun. Termasuk ayahnya sendiri. Ini menyakitkan. Ini juga merupakan dilema rumah tangga yang menyebalkan, menurut saya.

Tapi jangan lupa, meski kita yang mengandung dan merawat mereka, ada ayah yang miliki hak yang sama besar, terutama dalam mendidik anak-anak. Tidak pada tempatnya, kita berburuk sangka pada ayah dari anak-anak.

5. Hidupkan komunikasi

Komunikasikan pada suami dengan cara yang paling disukainya, bila kita tidak setuju akan sikapnya terhadap anak-anak. Dan terimalah saran dan pendapat suami bila ia merasa keberatan terhadap sesuatu khususnya yang berkaitan dengan pendidikan anak, karena pendidikan ini salah satu sumber konflik yang paling sering terjadi dalam rumah tangga.

Ceritakanlah juga mengenai anak-anak yang luput dari pandangan dan pendengarannya. Agar suami mengetahui setiap perkembangan anak-anaknya. 

6. Satu suara

Setiap anak memiliki kecerdasan alamiah yang bisa mendeteksi siapakah di antara kedua-orangtua-nya yang paling bisa dimanipulasi untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ini serius. Sejak balita anak-anak saya memiliki kemampuan itu. Oleh karena itu kami sepakat untuk satu suara.

Satu suara ini bukan hal mudah. Butuh pengorbanan dan upaya keras menekan ego ketika keinginan kita berseberangan dengan suami, ayahnya anak-anak. Juga sebaliknya. Jangan biarkan perpecahan menjadi titik pemicu konflik antar orangtua.

Karena itu, seringkali kami membahas terlebih dahulu, apa yang akan kami sampaikan pada anak-anak. Apa bila salah satu, dari ibu atau ayah,  telah menyatakan suatu keputusan, maka yang lain terpaksa ataupun suka rela harus diam dan setuju.

7. Berbagi peran

Berbagi peran di sini bukan hanya perihal mencari nafkah dan mengatur rumah tangga. Tetapi lebih kepada bagaimana cara menghadapi anak-anak. Terkadang, saya yang berperan sebagai emak bawel dan menyebalkan, sementara suami berperan sebagai ayah yang bijak. Terkadang juga sebaliknya. Tergantung situasi dan anak yang mana yang tengah dihadapi.

Pembagian peran ini akan membuat kelekatan ayah dan ibu pada anak menjadi sama. Kalaupun ada bedanya, namun tidak sedalam jurang. Tidak membuat anak merasa asing pada ayahnya sendiri.


Saya percaya, selain hal-hal yang disebutkan di atas, tentunya masih banyak lagi cara mengatasi dilema yang timbul dalam keluarga. Saya hanya menyebutkan beberapa hal yang pernah saya alami selama ini. 

Meski masih banyak kekurangannya, saya berharap tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. Hingga saat ini, saya pun tengah belajar menjadi ibu. Karena menjadi ibu merupakan proses belajar yang tak pernah usai. Salaaam... ^_^


Baca juga artikel ini yaaa :
Quality Time Bersama Pasangan : 5 Tip Sederhana Merawat Pernikahan 
5 Penyebab dan Tips Mengatasi Gagal Paham Antara Suami-Istri 

12 komentar:

  1. Say, no 4 itu, kenapa dari zaman mamak dulu masih nyaman dirasakan oleh emak-emak kekinian pun ya..hahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak dicolek, emak meradang... hahaha

      Hapus
  2. Duuuuuh momaaaa......setiap baca Tulisanmu tentang anak, selalu iri....iri pada sederetan makhluk imut yg dititip Allah Padamu, sementara saya hanya dititip satu....padahal saya sayang anak, jadilah anak anak orang saya anggap anak....good luck teh lizaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teh lia, anak itu hak Allah... satu, dua atau lebih syukuri sajaaa

      Hapus
  3. Well noted mbak. Penting banget untuk reminder saya nih. Makasih untuk tulisannya yg slalu menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... makasih atas kunjungannya yaaa

      Hapus
  4. 2 dasawarsa, 7 anak. Percayalah anyak pengalamannya. Aku yang usia pernikahannya baru setengahnya aja ngerasa ruempong padahal baru 4 bocilnya. Terima kasih Mba Liza. Inspiring.

    BalasHapus
  5. Duh kalau anakku lengket banget gak bisa ditinggal lama-lama sama ayahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada masanya memang Mbak Dewi, anak lengket banget sama ibunya. Biasanya dari 4 bulan sampai 1-2 tahun. Tapi,karena melibatkan si ayah sejak awal kehidupannya, anak relatif lebih mudah ditinggal sama ayahnya.

      Hapus
  6. parenting emang hrs trial and learn ya mbak, sy bayangun serumah mak Liza ma 7 org, pasti rameee

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^