Minggu, 01 Januari 2017

Kisah Inspiratif - Anak Itu Hak Allah - Majalah Ummi

Kisah Inspiratif - Nuansa Wanita Majalah Ummi Ed, November 2016

Tak ada rezeki yang salah mengetuk pintu. Tak juga salah arah menuju. Hanya kebodohan kita semata yang menutupi keindahan takdir yang telah tersurat untuk kita. Dan ketidaktahuan, membuat kita gagap dalam menjalani rencana-Nya.

 

Anak Itu Hak Allah
Oleh : Liza Permasih

          Tak pernah terpikir olehku, bahwa doa yang kerap kulantunkan begitu gencar akhir-akhir ini akan dijawab Allah Swt dengan cepat. Dalam doaku, aku memohon agar Allah Yang Maha Kaya memberikan keluasan rezeki pada kami sekeluarga dengan rezeki yang halal, berkah dan banyak.


          Akan tetapi Allah Swt sungguh tak terduga. Tak lama berselang, aku mulai merasakan datangnya rezeki yang tak terduga itu. Rezeki yang membuatku merasa panik, sekaligus cemas. Karena rezeki kali ini datang dalam wujud tanda-tanda kehamilan. Sebuah rezeki tak terduga dan, sungguh, tak kuharapkan, pada mulanya.



 Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini, bahwa diusiaku yang tak lagi muda, aku harus menjalani kehamilan lagi.  Ya, aku hamil lagi. Di saat putri sulungku sedang mencecap bangku kuliah, dan adik-adiknya butuh biaya besar untuk melanjutkan sekolah. Sementara satu-satunya sumber penghasilan rutin hanya mengandalkan suamiku yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta.



Seperti kehamilan yang sebelumnya, kali ini pun aku mengalami morning sickness yang melelahkan. Nyaris tak ada aktivitas yang bisa kulakukan selain tidur dan tidur. Aku tidak bisa memasak dan membersihkan rumah seperti biasa. Aku tidak bisa membaca, menulis dan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan lainnya.



 Aku bahkan tidak bisa memeluk anak-anakku yang masih memerlukan pelukan. Kondisi fisik yang lemah karena kurangnya asupan makanan, juga sensitivitas hidung yang berlebihan membuatku menjadi sosok paling tak berguna dan menyebalkan sepanjang trisemester pertama kehamilanku.



Kehamilan ini juga membuatku menarik diri dari pergaulan.  Baik interaksi di dunia nyata maupun di dunia maya. Aku enggan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kerap terkesan menuduh dan memojokkan. Alih-alih memberi suport yang lebih kubutuhkan, kebanyakan orang terpicu hanya untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyinyir yang membuatku tertekan.



Sungguh tak mudah menjalani kehamilan kali ini. Dengan kondisi seperti ini, suport dari teman-teman dekat terasa bagaikan oase bagiku. Mereka tidak hanya menguatkan, namun juga menumbuhkan keyakinan bagiku.



“Anak itu hak Allah,” ujar seorang teman.



Aku terdiam sejenak. Di tengah pergulatan batin antara penolakan dan penerimaan serta rasa cemas akan masa depan anak-anakku, aku seolah ingatkan kembali. Bahwa aku hanyalah seorang hamba yang harus menerima takdir yang ditetapkan atas hidupku. Teringat juga, betapa banyak calon ibu  lain yang mendamba anak dan mengusahakan hingga menghabiskan dana yang tak sedikit.



Anak adalah hak Allah. Dzat yang memberikan kehidupan dan rezeki. Atas dasar apa aku merasa berhak menolak kehadiran anak yang tengah kukandung? Bukankah rezekinya sudah ditanggung oleh Dzat Yang Maha Kaya?



*



“Wah, sudah besar ya, Bu?” Dokter kandungan yang cantik itu pun tersenyum lembut seraya menggerakkan jemarinya mengatur posisi tampilan terbaik di layar monitor. Nanar mataku menatap gambaran janin yang tampak sudah terbentuk dengan baik.



“Sehatkah ia, Dok? Dibanding kakak-kakaknya, sepertinya kali ini agak lemah.”



“Sehat, baik. Agak lemah karena faktor usia ibu dan sudah kehamilan ke-7. Kita dengar detak jantungnya ya...”



Dokter memutar sebuah tombol. Seketika itu pula aku mendengar detak jantung yang terasa begitu merdu di telingaku. Keharuan sontak melingkupi hatiku. Maafkan, ibumu, Nak, bisikku pelan. Ibu akan belajar mencintaimu, sebagai anugerah ke tujuh. Karena kau pun berhak dicintai seperti yang lainnya.


Tamat.



13 komentar:

  1. Masya Allah, luar biasa ya Mak. Rezeki besar. Alhamdulillah sekarang sudah lahir dengan normal pula. Uuuh salut :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah lancar, selamat dan dimudahkan. Babynya juga lucuu...
      Alhamdulillah

      Hapus
  2. Ingat temanku, yang sangat pengen punya anak. :'D Hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak itu hak Allah sih yaaa... Gak bisa sesuka-suka kita ada dan tidaknya.

      Hapus
  3. Barokallah ya Mbk, semoga Allah memudahkan lancarnya rezeki dan kesehatan. Wah, udah bisa nulis lago, dedek lagi apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin semoga dikabul juga untuk yang mendoakan.

      Iyaaaa... pinginnya sih aktif nulis lagi

      Hapus
  4. Balasan
    1. makasih sudah mampir dan berempati ya, say

      Hapus
  5. tetap...nangis bacanya mbak. apalagi pas sudah lahir...makin ga paham pd diri sendiri kenapa dulu pernah tidak menerimanya.

    itu pas sy hamil anak kedua pernah muncul perasaan itu. sekarang? uh...masya Alloh. menyesal knp dulu menyesal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa... saya juga selalu nangis tiap baca tulisan ini. Kita kadang suka berpikir berlebihan ya

      Hapus
  6. Kisah yang sangat menginspirasi.. Patut disyukurinya Mba..walau usia sudah tidak muda lagi namun Allah masih meberi rejeki tak ternilai berupa kehamilan.. alhamdulilah ya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih tuk apresiasinya, mbak Rita :)

      Betul, mbak, hanya terkadang kebodohan kita terlalu mendominasi sehingga abai bersyukur.

      Hapus
  7. Selamat yaa... Kembali dipercaya Allah untuk menerima amanah. Allah ingin tambah satu lagi media untuk menyalurkan cinta dan rejekiNya. Allah ingin menambah lagi satu pintu syurga untuk Mbak . *Jadi ngirii :)

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^