Minggu, 15 Januari 2017

Fakta Tentang Anak dan Titik Rawan Dalam Pernikahan



Benarkah kehadiran anak bisa menyebabkan berkurangnya kebahagiaan dalam pernikahan?


Anak memang bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan rumah tangga. Kehadirannya tidak saja menghadirkan semesta kebahagiaan, namun juga terkadang turut menciptakan dilema dalam hubungan antara suami-istri. Percaya atau tidak, kehadiran anak juga  bisa menciptakan titik rawan dan mengurangi kebahagiaan dalam pernikahan.


Dalam buku 70 Parenting Tips Based on Science karangan Tract Cutchlow, ditemukan fakta bahwa kehadiran anak ternyata bisa menyebabkan berkurangnya kebahagiaan dalam pernikahan. Menurut saya, tanpa mengurangi rasa syukur akan hadir 7 hadiah manis dalam pernikahan kami, fakta itu -terkadang- ada benarnya.

Selama 2 dasawarsa usia pernikahan yang kami jalani, selalu ada hal yang –seolah-olah layak- untuk dijadikan bahan pertengkaran. Terkadang saya rasa, pertengkaran menjadi semacam bumbu penyedap dalam rumah tangga kami. Dan salah satu penyebabnya adalah anak-anak.

Saya teringat, di bulan-bulan pertama pernikahan, suami pernah mengatakan ada beberapa titik rawan dalam pernikahan, dan ia meminta saya untuk sama-sama mewaspadai titik-titik rawan tersebut. Pada mulanya saya tidak mengerti, namun waktu mengajarkan bahwa dalam pernikahan titik rawan itu memang ada dan perlu diwaspadai.

Tentang Anak dan Titik Rawan Dalam Pernikahan

1. Masa kelahiran anak

Inilah masa-masa terindah dalam pernikahan. Saat cinta tumbuh subur dan bergelora. Penuh warna suka cita. Namun, siapa yang menduga potensi konflik yang terjadi bisa begitu banyak?

Pada titik ini, ego pribadi kerap menjadi pemicu timbulnya pertengkaran. Mungkin bukan pertengkaran besar, namun cukup membuat kita merasa baper. Ego ini biasanya muncul dalam wujud ingin selalu dituruti, dinomor-satukan, serta keinginan mengubah pasangan sesuai dengan keinginan kita.

Di saat kita tengah berjibaku mencoba memahami suami dan berdamai dengan ego pribadi, anak-anak pun lahir. Kelahiran mereka membuat dunia yang semula hanya dimiliki berdua, tiba-tiba pecah oleh suara tangisan bayi. Anak dengan segala daya pikatnya kerap membuat kita, kaum ibu, kerap melupakan dan mengabaikan suami. 

Dunia terpusat pada kelucuan dan tahap-tahap perkembangan anak yang menakjubkan. Mendadak kita lupa cara menyapa suami dan memperhatikan kebutuhannya, inilah salah satu pemicu konflik dalam rumah tangga.

2. Ketika anak mulai sekolah (5 th – 10 th)

Disadari atau tidak, kita sering menganggap anak sebagai sosok yang bisa mengemban mimpi dan harapan orangtua. Atau sekadar menitipkan ambisi. Anak menjadi sarana berkompetisi. Sehingga tanpa terasa kita memaksakan kehendak kepada anak-anak untuk menjalani aktivitas yang belum tentu mereka sukai.

Kerap kondisi seperti ini menciptakan ketegangan antara ayah – ibu. Kesadaran adanya tekanan pada anak dan keinginan untuk memenuhi hak anak sebagai pribadi yang berbeda kerap berbenturan dengan ambisi salah satu orangtua. Masa-masa seperti ini rawan menciptakan konflik dalam rumah tangga.

3. Ketika anak beranjak remaja (15 th – 20 th)

Anak-anak yang tumbuh remaja dan mulai tidak lagi terlihat asyik dalam berbagai kegiatan keluarga kerap menjadi ruang kosong yang cukup membingungkan orangtua. Rumah yang biasanya hangat oleh derai tawa dan jerit tangis pelahan surut dan menyisakan kesenyapan.

Anak-anak yang semula lucu dan menggemaskan, mendadak menjadi sosok-sosok asing yang emosional. Mereka mulai enggan melakukan aktivitas bersama keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tumbuh menjadi pemberontak terhadap aturan keluarga. Mendampingi mereka menjadi tantangan luar biasa dalam hidup. 

Masa seperti ini merupakan titik rawan tertinggi dalam pernikahan. Karena pada saat yang bersamaan orangtua merasa perlu bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan anak yang terus meningkat.

 Kebersamaan yang dulu sering dijalani sepenuh hati mulai terasa hambar. Masing-masing sibuk dengan dunia sendiri-sendiri. Apa lagi sosial media selalu menawarkan dunia yang tak pernah tua, yang bisa menjadi pelarian atas rasa bosan dalam rumah tangga.

4. Ketika anak tumbuh dewasa (20 th lebih)

Pernikahan yang telah melewati titik tajam relatif lebih aman untuk dijalani. Anak-anak yang sudah beranjak dewasa dan menciptakan dunia sendiri, membuat komunikasi dengan pasangan biasanya lebih mudah terjalin. Lebih banyak peluang untuk kembali berdua-duaan tanpa diinterupsi makhluk mungil menggemaskan.

Meski demikian, agaknya kita memang tak boleh lepas dari doa dan upaya untuk terus-menerus memperbaharui perasaan cinta. Baik kepada suami atau pun kepada anak-anak. Karena, tak pernah ada yang tahu ujian apa yang ada di depan sana. 


Mom, saya akui,  kehadiran anak-anak kerap menimbulkan dilema tersendiri, namun,  tentu saja mereka bukan satu-satunya penyebab dalam menurunnya tingkat kebahagiaan dalam rumah tangga. Kesimpulan itu jelas terlalu naif. 

Saya lebih cenderung menganggap diri kita sendirilah yang menjadi penyebab terbesar, tokoh utama, yang berperan dalam naik-turunnya kebahagiaan dalam rumah tangga. Karena kita lebih terampil berkeluh-kesah dan teramat sering lupa untuk bersyukur atas kebahagiaan yang kita rasakan. Termasuk mensyukuri kehadiran anak-anak di tengah-tengah kita.

Sejauh ini, meski kerap terseok-seok menghadapi masalah dalam keluarga yang disebabkan oleh anak-anak, akan tetapi saya selalu percaya, ada cara untuk mengatasi timbulnya dilema-dilema tersebut.

Penasaran ingin tahu cara saya mengatasi dilema yang disebabkan oleh anak? 




Coba baca artikel ini juga yaa :

15 komentar:

  1. Nice artikel, Mbak Liza. Btw, anakku yg sulung udah 10 tahun sebentar lagi baligh.Sejauh ini belum ada kepikiran untuk maksa pilihan anak. Ditunggu next artikelnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak Nunung. Wah, iyaa, sebentar lagi baligh... semoga bisa mendampingi mereka melewati "storm age" dengan baik.

      Hapus
  2. Aku baca ini pengen nangis, Mbak. :')

    BalasHapus
  3. Suatu saat, masa-masa itu pasti terjadi juga ya, Mbak?

    BalasHapus
  4. Berarti intinya, selalulah bersyukur ya? :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mba Esti, syukur memudahkan semuanya

      Hapus
  5. nice info mak, saya baru no 2, anak mulai sekolah, dan memang sering berdebat serta berbeda pendapat dalam mendidik anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... mending begitu sih, dari pada dibilang : terserah!

      Hapus
  6. wah semua punya titik kritisnya, bahkan tiap ahri kadang banyak hal yang bisa bikin bertengkar, tapi ya itu tadi butuh banyak hal untuk selalu bisa bersama. alhamdulilah sdh 26 tahun aku bersama suami sdh banayk rintangan yang dilalui

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... sudah saling tahu sih ya mbak Tira, jadi bertengkar pun gak pake lama.

      Hapus
  7. wah aku mesti berguru urusan RT nih ma senior :) ada yg ngomong 5 th pertama itu ujian dsb..nah aku masi mau nambah data nih mak mau nulis ini.. btw, aku suka tulisannya mak, mengalir :) lbh oke lagi kl fotonya adl cth langsung dr anak2 mb Liza nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya loh Mbak Prita, 5 tahun pertama itu seperti naik roller coaster. Tapi asyik banget...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^