Selasa, 03 Januari 2017

10 Cara Sehat Menjalani Kehamilan dan Melahirkan di Usia Rawan



Tetap sehat menjalani kehamilan dan melahirkan di usia rawan



Tak seorang calon ibu pun ingin melahirkan anak di usia rawan. Usia yang penuh risiko, baik bagi ibu maupun janin yang dikandung. Itulah yang saya pikirkan saat mengetahui bahwa saya hamil lagi. Lagi? Ya, untuk yang ke-7 kalinya!


Shock. Panik. Itu yang pertama kali saya rasakan. Memang sih kehamilan yang tidak direncanakan selalu mengundang rasa galau yang berlebihan. 

Begitu banyak kekhawatiran yang membayangi. Misalnya tentang kemungkinan bayi terlahir abnormal, kemungkinan harus menjalani operasi caesar. Di samping itu, sanggupkah saya mendidik amanah ini? 

Rasanya, saya tak siap menjalani kehamilan kali ini. Apalagi ini adalah kehamilan ke-7. Terlalu berat dan penuh risiko. Informasi yang saya dapatkan dari internet dan teman-teman yang memiliki kapabilitas dalam bidang kesehatan pun cenderung melemahkan semangat.

Ketika itu, rasanya, menjalani awal masa kehamilan menjadi mimpi buruk yang seakan tak berakhir. Air mata begitu kerap tertumpah hanya untuk hal-hal sepele. Saya menjadi sosok yang sangat sensitif, menyebalkan dan kontra produktif. Baca juga pengalaman saya Anak itu Hak Allah

Saya sadar kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Bagaimanapun, kehamilan ini merupakan anugerah yang tidak boleh diabaikan. Ada sebentuk kehidupan yang sedang tumbuh. Dan benih itu harus dirawat dengan sepenuh hati.

Saya ingin menjalani kehamilan yang sehat, bahagia dan melahirkan dengan cara yang normal. Mungkinkah? Berdasarkan pengalaman yang lalu, berikut ini hal-hal yang saya lakukan agar bisa menjalani kehamilan yang sehat di usia rawan.



10 Cara Sehat Menjalani Kehamilan dan Melahirkan di Usia Rawan

1. Ikhlas

Hal ini mungkin terasa aneh bagi ibu-ibu yang lain, akan tetapi, bagi saya, perlu perjuangan untuk sampai ke titik ini. Menerima kehamilan ini berikut segala persoalannya dengan lapang dada. Seperti saat mengalami morning sickness yang melelahkan, atau pun mendengar komentar-komentar negatif yang dilontarkan orang-orang tanpa berpikir.

Ikhlas menjadi energi positif yang membuat kita bisa menerima dan menjalani kehamilan ini dengan baik. Berusaha untuk ikhlas ini pun menjadi “kerja” yang terus-menerus diperbaharui sepanjang masa kehamilan. Karena setiap fase perkembangan janin mempengaruhi tubuh dan aktivitas keseharian kita.

2. Cari dukungan

Masa awal kehamilan adalah masa yang sangat menekan, beruntung saya memiliki teman-teman yang selalu memberikan suport dan bersedia meluangkan waktu untuk mendengar curhat dan kegalauan saya.

Begitu juga dengan suami, tanpa dukungan dari suami dan orang-orang terdekat, mustahil rasanya bisa menjalani kehamilan dengan bahagia.

3. Membangun pikiran positif

Membangun pikiran positif ini bukanlah hal sulit bila kita berada dalam kondisi normal, tetapi, bila dalam kondisi fisik yang lemah, itu menjadi pekerjaan berat yang menguras emosi.

Pada masa awal kehamilan, saya sengaja merahasiakan kehamilan dari orang-orang yang bisa mengeruhkan suasana hati dan pikiran. Saya tidak ingin mendengar komentar-komentar negatif yang akan mempengaruhi pikiran dan berdampak pada perkembangan janin.

Selain itu, berdoa menjadi salah satu cara paling efektif dalam membangun pikiran positif. Menyandarkan diri pada Yang Mahakuasa, akan membuat kita merasa kuat. Merasa tak sendiri, karena Dia amat dekat. Lagi pula, bukankah Allah sesuai dengan prasangka hambaNya? Jadi, mengapa tidak berpikir positif atas setiap ketentuan yang telah ditetapkan-Nya?


4. Menjaga asupan makanan

Sama seperti kehamilan sebelumnya, kali ini pun saya mengalami masa ngidam yang sulit. Nyaris tak ada satu pun makanan yang bisa saya telan dengan baik dan berselera. 

Meski demikian, saya tetap berusaha memenuhi kebutuhan nutrisi dengan mencari makanan pengganti yang bisa diterima oleh tubuh. Misal, dengan mengkonsumsi biskuit, roti, buah-buahan, sarikurma, dan madu. 

5. Memeriksakan kehamilan secara rutin

Hamil di usia rawan memang mengandung banyak risiko. Diusia ini ibu hamil diintai berbagai penyakit seperti kolesterol, diabetes, darah tinggi, jantung dan lain sebagainya. Meski sebelumnya tidak pernah mengalami, penyakit-penyakit ini bisa saja muncul disaat kehamilan. Karenanya rutin memeriksakan kehamilan menjadi sangat penting untuk dilakukan.

6. Lakukan aktivitas rutin

Tetap beraktivitas secara rutin membuat kita nyaman menjalani hari-hari. Apalagi bila masa-masa ngidam sudah terlewati. 

Akan tetapi, kondisi fisik setiap ibu hamil tidaklah sama. Begitu juga permasalahan kehamilan yang dialami. Karena itu amat penting bila kita juga perhatikan ritme tubuh.

Seperti yang saya alami, pada kehamilan ke-7 ini saya sering mengalami kontraksi palsu. Bukan pada tri semester ke-3, melainkan dari awal tri semester ke-2. 

Setiap kali mengalami kontraksi, saya memilih untuk beristirahat sejenak dan menghentikan aktivitas fisik. Saya juga mengurangi kerja-kerja yang banyak mengeluarkan tenaga. Bagaimana pun, usia tidak pernah bohong kan?

7. Rencanakan kelahiran bayi

Merencanakan kelahiran merupakan upaya kita untuk meminimalisir masalah di kemudian hari. Dengan merencanakan kita bisa menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan kelahiran. Misalnya, apakah kita akan melahirkan secara normal atau caesar? Di bidan, klinik, ataupun rumah sakit besar? Apakah kita memiliki asuransi, atau dana yang cukup untuk melahirkan?

Di awal kehamilan, sejumlah informasi meyakinkan saya, bahwa kelahiran ke-7 ini haruslah dengan cara caesar. Dokter kandungan langganan saya mengatakan kondisi rahim yang kian tipis dan usia rawan, membuat operasi menjadi pilihan yang paling mungkin untuk dilakukan. Beliau tidak bisa menjamin bahwa saya bisa melahirkan dengan cara normal.

Mau tak mau saya harus menyiapkan diri, baik secara mental maupun finansial. Saya memang memiliki asuransi, BPJS, tetapi persoalan yang saya hadapi bukan hanya persoalan biaya. Dan semua itu harus dipertimbangkan dengan serius.

Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk memilih melahirkan dengan cara normal di bidan (sementara keenam kakaknya lahir di rumah sakit ) itu saya lakukan setelah berdiskusi serius dengan suami, serta memiliki keyakinan bahwa kondisi kandungan dan fisik saya dalam kondisi baik berdasarkan pemeriksaan kehamilan yang rutin saya lakukan.

8. Siaga setiap saat

Kehamilan di usia rawan mau tak mau membuat saya lebih siaga. Saya lebih serius memperhatikan gejala-gejala sesaat hendak melahirkan. Plek darah atau pun sakit di bagian pinggang merupakan alarm untuk segera berangkat ke rumah sakit.

 (Seperti kehamilan sebelumnya, saya tidak mau mengambil risiko dengan menunggu rasa mulas muncul baru berangkat ke rumah sakit. Karena biasanya, rasa mulas itu muncul hanya sekian jam atau menit sebelum kelahiran).

9. Siapkan energi

Mungkin terkesan lucu. Tetapi saya memang selalu mengupayakan untuk makan dan minum sebelum melahirkan. Karena memang melahirkan itu proses yang melelahkan dan memerlukan energi lebih. Makan dan minum selain bisa menjadi sumber energi, juga bisa mengalihkan rasa nervous menghadapi proses melahirkan.

10. Berdoa

Tidak ada hal yang lebih meringankan selain berdoa memohon kekuatan pada Allah. Berdzikir dan terus berdzikir menunggu kelahiran buah hati yang telah bersemayam sembilan bulan dalam tubuh kita amatlah membantu, terlebih bila suami ada di samping kita.

Dan, tangisannya memupus segala rasa sakit

Tak ada yang lebih melegakan selain mendengar suara tangisan bayi yang sesaat lalu masih berada dalam tubuh kita. Sebentuk jiwa yang kita ajak berjuang bersama untuk menemukan jalan lahir menuju kehidupan baru.  

Entah apa yang dirasakannya, namun pekikannya membasuh rasa sakit yang kita rasakan. Tangisannya membuncahkan rasa dalam dada. Menimbulkan keharuan sekaligus kebahagian yang sulit dilukiskan. Hingga hanya rasa syukur yang pantas kita ucapkan menyambut kelahirannya.

Akhirnya, bahwa di balik segala kesulitan selalu ada hadiah manis yang menanti. Di balik galaunya menjalani masa kehamilan di usia rawan, ada bayi lucu nan menggemaskan. 

Semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang menjalani kehamilan di usia rawan. Salaam...

21 komentar:

  1. Subhanalloh mb hamil yg ke 7, salut ya generasi sekrg sdh byk yg mundur teratur, rata2 sekrg anak 1 2.smoga lancar ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak Ningrum, meski shock diawal kehamilan, namun akhirnya saya bisa menikmati juga kehadiran anugerah ke-7 ini. :)

      Hapus
  2. Mbak...saya kepingin caesar saja. gentar mengingat yang kedua dulu sudah bukaan penuh pun berakhir caesar. Salah ga ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada yang salah, Mbak Diah.
      Kita berhak merencanakan proses melahirkan yang aman dan nyaman bagi kita. Memang tidak ada yang 100% aman dan nyaman, tetapi paling tidak menimbulkan ketenangan ketika menjalani kehamilan ini.

      Hapus
  3. Alhamdulillah...
    Kayaknya gak ada sinyal di fesbuk dulu itu xixixi...
    Surprise pas liat debaynya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixi... betooool!
      Menghindari pembully-an masal di medsos. Tau sendiri-lah kejamnya dunia maya.

      Hapus
  4. Masya Allah...luar biasa ya mbak. Aku pas melahirkan yg kelima, rasanya nano-nano hehe. Udah insya Allah cukup ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa banget. Bayangkan rasa nano2 itu bila usia di atas 40 dan sudah anak ke-6 atau 7?
      :)

      Hapus
  5. Subhanallah...salut mbak anak ke-7. Saya yang baru beranak 2 ga bisa bayangin hebohnya...semangat mbak...pasti seru ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuuu...! hehehe.. makasih udah mbak Vety

      Hapus
  6. Teh lizaaaa...kalau ada yg bully, saya salah satunya yg akan membela, betapa irinya sayah yg hanya dikasih titipan satu, walau tetap bersyukur Allah masih memberi amanah....solo untuk yang ke delapan bisa kok dititip sayaaah, ...pisss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hatur nuhuuuuuun... wahahaha. Aya pembelana.

      Hapus
  7. Infonya pas buat saya yg berencana tambah momongan tahun ini. Insya allah rezeki aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... semoga lancar ya menjalani semua prosesnya.

      Hapus
  8. MasyaAllah... yang ke-7 ya Mba. Semoga dilancarkan segala sesuatunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... makasih tuk doa dan mampirnya

      Hapus
  9. aduuh... berasa mules lagi deh baca ini.

    Aku kalau hamil sih ga terlalu masalah, mba. Tapi pas lahirannya ini, lupa segala teori. Yang pasti sih ga bisa boong, bahwa ada rasa takut yg besar saat persalinan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... percaya nggak, saya selalu stres tiap kali mo melahirkan?

      Hapus
  10. Jangankan orang luar, kadang keluarga terdekat yang kita harapkan mendukung kita pun ikut membully, Mba. Katanya: "mangkarunyakeun".Kalau karunya mestinya mereka menghibur dan membesarkan hati saya bukan sebaliknya ya. Alah kalah curhat hehe... Tapi wilujeng nampi amanah ya, Teh. InsyaAllah media menuju surganya Allah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tah, eta pisan Teh Yas. Matak saya rahasiakan ajalah, ketimbang bikin stres. Apa lagi di awal hamil... duh, bikin emosi.

      Btw, hatur nuhun doana. aamin

      Hapus
  11. waaaaw yg ke 7. Maksudnya usia rawan ini diatas 40 kah? Kurang elmu saya hihihi

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^