Senin, 26 Desember 2016

Di Ujung Kemarau - Cerpen Majalah Femina Ed. 47. 21 Nov - 2 Des 2016


Cerpen Majalah Femina Edisi 47 (21 Nov - 2 Des 2016)  






Ada kata-kata yang sedemikian tajam menghunjam. Hingga bilangan tahun tak juga mampu menguburnya. Kata-kata yang begitu gelisah dan penuh amarah. Maka, biarlah dendam itu mewujud dalam sebuah fiksi. Sahabat, selamat menikmati ....





Di Ujung Kemarau

Oleh : Liza P Arjanto
          Anggita menatap resah langit biru yang mendadak berubah kelabu. Udara panas yang mengepung membuatnya yakin akan satu hal, bahwa hujan akan turun dalam curah yang lebat.  Kegelisahannya semakin menjadi saat rincik hujan menderas.
          Tanpa sadar ia menggigil. Hujan ini kembali membuat hatinya terasa pedih. Ia beranjak memasuki pondok yang telah menaunginya sejak kedatangannya ke tanah ini. Beberapa bulan yang lalu.  Ia tak menyadari sepasang mata tajam yang memandangnya dengan tatapan heran.
          Ia memilih berada di sini, di tanah asing, dimana hujan turun tak sesering di tanah kelahirannya. Untuk mengobati luka hatinya. Ia bekerja keras sepanjang waktu. Melakukan observasi di hutan lindung bersama Yose, pemuda asli Papua.
Yose adalah anak tetua adat. Masih keturunan raja terakhir di Pulau Salawati ini. Sekalipun, secara struktural pemerintahan tidak memiliki wewenang, namun masyarakat setempat masih menaruh hormat pada keluarga besarnya.
          Anggita amat terbantu dengan kehadiran pemuda bermata kelam  itu. Ia mengenalkan kebiasaan-kebiasaan setempat dan mengajaknya berbaur dengan masyarakatnya. Pada waktu-waktu tertentu ia menikmati hidangan sagu yang diperoleh dari pohon-pohon sagu yang terdapat secara bebas di pinggir hutan.
          Yose mengajarinya budaya di tanah Sorong tersebut, hingga ia memahami kebijakan masyarakat setempat dalam memperlakukan alam. Mereka hidup berdampingan secara harmonis dengan alam sekitar. Hutan-hutan yang terlindungi, perairan yang bersih dan sungai-sungai yang jernih menunjukkan penyatuan alami masyarakat dengan lingkungannya.
          Terkadang Anggita terheran-heran dengan luasnya pengetahuan yang dimiliki pemuda itu. Sekalipun Yose selalu menampilkan diri sebagai sosok sederhana, diam-diam Anggita curiga, Yose tidak sesederhana yang kerap ditampilkannya.
Mereka sering meneliti biota laut dan sungai. Salah satu tempat favoritnya adalah Sungai Dokter. Aliran sungai yang jernih berpagar hutan lebat amatlah memesona. Tak jarang mereka bersua dengan penduduk setempat yang tengah berendam di sungai tersebut. Menurut, Yose, masyarakat setempat percaya, sungai tersebut memiliki keistimewaan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Anggita menganggap hal itu konyol dan tak percaya sedikit pun akan takhyul tersebut. Namun, Yose dengan tegas mengingatkan agar ia menghargai kepercayaan tersebut.
          Anggita kerap memperhatikan ikan-ikan kecil yang lalu lalang dalam aliran sungai nan jernih itu. Kawanan ikan tersebut seolah menari melawan arus.
          “Kami menyebutnya ikan pelangi,” ujar Yose sambil tersenyum. Ia menyukai ketakjuban yang memancar dari wajah Anggita. Terasa wajar dan jauh dari kepura-puraan.
          “Indah sekali, Yose.”
          Mata bulat Anggita bersinar-sinar ketika menatap ikan yang bewarna ungu dengan bercak biru tua pada bagian belakangnya, sementara insang ikan tersebut tertutup warna keemasan dan siripnya warna violet kebiruan. Dalam jumlah yang banyak kawanan itu tampak bagai pelangi yang tak henti bergerak.
Anggita pun seringkali terpesona menatap keindahan lautnya. Sering ia berpikir,  mungkin Tuhan tengah tersenyum ketika menciptakan Kepulauan Raja Ampat ini. Tempat dimana ia bisa melupakan dirinya. Dan melarutkan kepedihan hatinya.
          “Kamu tak ingin kembali ke Pulau Jawa?” tanya Yose suatu kali. Anggita mengangkat bahu.
          “Aku belum menemukan alasan untuk kembali.”
          “Bila kamu sudah menemukan alasan?”
          “Entahlah. Kuharap alasan itu cukup kuat untuk membawaku pergi dari tempat yang menakjubkan ini.”
Saat itu senja turun pelahan. Cahaya keemasan memantul berkilau di atas lautan sejauh mata memandang. Suasana terasa magis. Perempuan itu termangu menatap bulatan cahaya yang pelahan tenggelam. Pada saat yang sama lelaki itu pun tengah terpaku menatap keindahan lekuk wajah Anggita.
          *
          Seperti kemarin, pagi ini pun langit tak biru sempurna. Udara yang terasa mengepung menimbulkan kegelisahan di hati Anggita. Tiba jua ia di penghujung musim kemarau. Yose memperhatikannya sejak tadi.
          “Sebentar lagi musim hujan tiba.” Mata Yose menakar raut Anggita. “Tak baik berada di tepi laut saat hujan turun. Sebaiknya kamu pindah ke rumahku. Mama yang memintanya.”
          “Akan aku pikirkan dulu,” potong Anggita cepat. Ia tak ingin terlihat begitu rapuh dengan dengan alasan tak masuk akal. Yose mengangkat bahu.
 “Sebaiknya...ummh, kurasa kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”
“Aku tidak...” Anggita mencoba untuk menyanggah. Namun, sinar mata Yose yang dalam membuatnya urung membantah.
*
Musim kemarau begitu cepat berlalu, setidaknya begitulah perasaan Anggita. Ia tak siap menghadapi musim penghujan yang datang di tempat persembunyiannya ini. Ingatannya pada Dion kembali bersama bulir-bulir yang jatuh di tanah coklat.
          Peristiwa itu terjadi saat hujan turun teramat deras.
          “Jangan pergi, Mas,” pintanya, rasanya seperti memohon sebuah keajaiban. Meski ia sudah memperkirakan jawabannya, toh, ia  tetap melakukannya. Lelaki itu, mendengus. Pandangan matanya mengiris Anggita. Seolah-olah perempuan itu tak lebih dari gumpalan daging yang tak berharga.
          “Apa selama ini, kau membayangkan cinta, Anggita?” suara Dion terdengar mengejek. Anggita memejamkan mata. Setiap kata yang keluar dari mulut Dion tak ubahnya sembilu yang mengiris hatinya. Rasanya menyakitkan. Terlebih karena ia sadar, ia memang mencintai Dion.
          “Jangan bayangkan cinta. Karena aku tak pernah merasakannya. Tidak denganmu. Pernikahan ini hanyalah omong kosong. Camkan itu.”
          Anggita hanya bisa terdiam. Pun ketika hujan mengaburkan bayangan lelaki itu dan membawanya pergi. Malam itu ia hanya bisa menggigil. Menyesali kebodohan dan kenaifannya sementara hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Lelaki itu merampas seluruh harga dirinya, menginjaknya dan meninggalkan kekosongan yang membekukan saraf.
          Entah mengapa sejak saat itu ia membenci hujan. Ia membenci kenangan yang dibawa hujan dalam setiap tetesnya. Lebih dari semua itu, Anggita membenci dirinya yang selalu berpikir bahwa sebuah pernikahan akan menumbuhkan cinta di hati yang lain.
          Pernikahan itu hanya bertahan dua bulan. Tidak lebih. Dion terpaksa menikahinya untuk memenuhi permintaan ibunya yang tengah sakit keras. Pernikahan yang dipaksakan demi ambisi orangtua, begitulah anggapan Dion. Ia memutuskan meninggalkan Anggita tepat sehari setelah ibunya menghembuskan napas. Ia memilih mengejar cinta yang lain. Anggita pernah melihat fotonya. Seorang wanita cantik dengan lesung pipi yang mendekik indah di pipi.
          Dion tidak peduli tindakannya tersebut melukai keluarga besar istrinya. Terutama Anggita. Rasa malu dan terluka membuat Anggita melarikan diri dari kota kelahirannya, dimana hujan bisa runtuh sewaktu-waktu. Ketika kantor tempatnya bekerja membutuhkan tenaga peneliti untuk di tempatkan wilayah timur Indonesia , tanpa berpikir dua kali Anggita langsung mengajukan diri.
          Hingga detik ini ia tak pernah menyesali keputusannya untuk berada di pulau tercantik di dunia. Pulau Salawati.
Dan, kini hujan kembali menyapa. Tanpa sadar Anggita menggigil menahan perih yang pelahan merayapi hatinya. Masihkah ia mencintai Dion? Entahlah. Yang ia tahu, luka itu masih mengalirkan darah.
“Masuklah ke dalam, Anggita. Hujan tak baik untuk kesehatanmu.” Suara lembut Yose menyentak kesadarannya. Ditatapnya mata kelam Yose. Mata itu seperti samudra yang selalu menenangkannya.
Kadang Anggita berharap, menemukan tatapan selembut itu pada sepasang mata Dion. Kenangan itu kembali menusuk hatinya. Anggita memejamkan mata, berharap bayangan Dion tak lagi mengganggunya.
“Kamu selalu tampak terluka setiap kali hujan turun.” Yose masih menatapnya. “Ada apa Anggita?”
“Aku..., baik-baik saja,” elaknya. Tatapan mata Yose menimbulkan debar lembut di dadanya.
“Kukira,  kamu sama sekali tidak baik-baik saja.” Yose menekan ujung kalimatnya. Anggita menghela napas. Berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk mengeluarkan beban batinnya.
“Ia pergi saat hujan turun. Dan tak pernah kembali,” lirih suara Anggita.
“Karena itukah kamu membenci hujan?”
“Terdengar tolol, bukan?” Anggita menertawakan kebodohannya.
“Kamu masih mencintainya?”
“Entahlah.” Suara Anggita tak yakin.
          *
Anggita memutuskan untuk menuruti saran Mama Latifah Salamit, ibunda Yose. Berada di tempat sunyi akan sangat berisiko bagi kondisi psikisnya yang tidak stabil. Anggita duduk di teras rumah yang terbuat dari kayu. Hari sudah beranjak siang. Yose pun sudah tiga hari pergi ke kota karena ada urusan yang harus dikerjakannya.
Entah mengapa ia merindukan kehadiran Yose. Tatapan pemuda itu selalu menghangatkan hatinya. Kerap di malam-malam sunyi, ia rindu suara Yose yang selalu mengingatkannya untuk beristirahat bila ia terlalu keras kepala melakukan pekerjaan-pekerjaan sulit.
Pemuda itu pun memiliki wibawa yang memancar pada saat ia berada di tengah-tengah masyarakatnya. Kekagumannya pun kian bertambah ketika mengetahui, Yose meraih gelar sarjana dari sebuah universitas ternama di Pulau Jawa, namun lebih memilih membangun daerahnya daripada menikmati karir cemerlang di perusahaan asing.
          Ingatannya tentang Yose membuat ujung bibirnya melengkung indah. Ah, Yose....
          “Anggita.”
Anggita mengenali suara itu. Yose. Dadanya berdebar.
          Anggita menoleh. Senyum yang mengembang di wajah Anggita tiba-tiba membeku. Yose tak sendiri. Yose datang bersama seorang perempuan cantik yang menggandeng lengannya dengan sikap manja.
 Entah mengapa, Anggita merasa ia pernah melihat perempuan itu. Wajah itu sangat familiar dalam benaknya. Ia mulai merasa tak nyaman. Wajah itu mengingatkannya akan sebuah luka. Luka yang perlahan kembali menganga.
          “Kamu terlihat sehat sepeninggalku. Oya, kenalkan ini Sadine. Teman kuliahku dulu. Ia ingin berlibur di sini beberapa hari. “
          Sadine tersenyum manis. “Senang bertemu denganmu.” Anggita terpana. Dekik yang indah itu pernah ia lihat. Persis seperti yang dilihatnya pada selembar foto.  Foto yang ia temukan di dalam dompet suaminya. Tiba-tiba Anggita merasa bumi di bawah kakinya berguncang dan pandangan matanya menjadi gelap.
 Tamat.




6 komentar:

  1. Judulnya aja bikin jatuh cinta. Keren ya bisa dimuat di majalah. :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... rezeki saya, Mbak Nisa. Makasih ya udah nyempetin baca cerpen ini.

      Hapus
  2. Aku kira ini cerpen metropop. Soalnya dulu aku hobi banget baca cerpen metropop di femina.

    Tapi maaf ya, kak, kalau aku kesal sama Dion. Ngeselin nih Dion. Gara-gara dia Anggita jadi nggak suka sama hujan dan pernikahan. Padahal kedua hal itu kan menyenangkan.

    Dan astaga, kenapa endingnya nyesek banget, kak? Aku kira Pulau Salawati dan mata samuderanya Yose akan menjadi jawaban dari kebahagiaan Anggita. Eh, malah muncul sosok "perempuan dompet".

    Duh, aku kebawa emosi nih, kak.. Hehe.. Tapi aku suka banget sama cerpennya.. Semoga nanti bisa muat di femina lagi ya, kak.. Salam Raparapa. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang Dion ngeselin kok. Btw, makasih tuk apresiasinya ya

      Hapus
  3. Endingnya menyiratkan, kalau dunia ini memang selebar daun kelor hehehe gaya benar saya ini ya, Mbak Liza.
    Ending menggantung, membuat pembaca menyimpulkan sendiri.

    Cerpennya ciamik, Mbak Liza.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^