Jumat, 23 September 2016

Yuk, Memahami Si Bossy Kecil


Di samping memiliki sisi negatif, anak bossy juga memiliki sisi positif lho.



Sebagai ibu yang selalu berada di rumah, terkadang saya memperhatikan praktik bossy ini terjadi dalam interaksi antar kakak-adik. Tentu saja sikap bossy ini kerap mengundang protes dari pihak yang merasa terdzolimi.


Terkadang hal ini bisa membuat kepala nyut-nyutan lho.  Kepada siapa lagi  mereka menuntut keadilan, bila bukan pada ibunya? Gara-gara ada yang sok-sok ngebossy, terpaksa ibu harus turun tangan untuk menjaga stabilitas dalam rumah.

Apa sih bossy itu?


Ah, ya, saya yakin semua tahu apa yang disebut bossy. Yup, betul. Sikap sok main perintah, suka mengatur, harus selalu dituruti maunya dan segala hal yang pastinya menyebalkan bagi orang lain.

Menurut psikolog Endah Kurniadarmi, dalam buku Nyebur Ke Dunia Anak, anak adalah makhluk sosial yang tengah belajar berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara melakukan pengamatan terhadap lingkungan. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, anak akan melakukan uji coba terhadap lingkungannya dengan bersikap bossy.

Jangan salah, Mom, sikap bossy ini tidak melulu jelek bagi perkembangan anak. Di samping memiliki sisi negatif, sikap bossy juga memiliki sisi positif. Apa sih sisi negatif dan positif bila anak bersikap bossy?

Sisi Positif :

  • Munculnya rasa kepemimpinan anak,
  •  Anak tampak menonjol dibanding anak lainnya, 
  •  Anak tidak mudah dipengaruhi

Sisi Negatif

  • Tumbuhnya kecenderungan anak untuk mengintimidasi dan memanipulasi, supaya keinginannya terpenuhi.

Menurut Psikolog Dra. Henny Eunike Wirawan, kepada Tabloid Nova, sikap bossy ini kerap dijumpai pada anak yang berusia 3-4 tahun. Sikap ini muncul dalam bentuk seperti : semua keinginannya harus segera dituruti, mau menang sendiri, dan lainnya. Menurut beliau, perilaku ini juga sebetulnya sudah terlihat ketika si anak berumur setahun.

Mengapa anak bersikap bossy?


1. Egosentris


Anak prasekolah masih melihat dunia dengan cara pandangnya sendiri. Jadi ia mengharapkan ada orang lain bertindak sesuai keinginannya. Akibatnya anak memiliki kecenderungan untuk sering main perintah.

2. Mencari perhatian


Kurangnya perhatian yang diberikan orangtua kerap menimbulkan sikap bossy pada anak, hal ini didorong oleh keinginannya untuk mendapatkan perhatian dari orangtua.

3. Meniru


Setiap anak adalah peniru ulung. Boleh jadi ia hanya melihat contoh dari lingkungan terdekatnya. (Hmm, boleh jadi ini karena mereka sering melihat saya yang suka memerintah mereka untuk melakukan ini dan itu, Hiks)

4. Anak selalu dilayani


Seringkali orangtua tak menyadari bahwa mereka selalu melayani anak, dan tak mengajarinya mandiri. Termasuk dilayani oleh pengasuhnya. Kondisi ini akhirnya menjadi kebiasaan dan membentuk perilaku anak yang senang main perintah. Anak akan menganggap semua orang memang harus melayaninya.

Mom, mengingat sisi negatif yang tumbuh subur berbarengan dengan sikap bossy yang dimiliki anak, ada baiknya kita lebih memberi perhatian bagaimana cara agar sikap bossy ini berkembang ke arah yang baik.

Nah, bagaimana caranya agar anak tidak memelihara sikap bossy-nya yang menyebalkan dan berpotensi menciptakan kerusuhan antar saudara, atau orang lain?

Langkah-langkah berikut ini bisa kita terapkan untuk melatih anak bossy 


1. Melatih Anak Mandiri


Melatih anak mandiri akan mengurangi tumbuhnya sikap bossy pada anak. Misalnya dengan melatihnya untuk mengambil minum sendiri, memakai pakaian sendiri dan lain-lain. 


2. Melakukan Negosiasi

Dengan bernegosiasi, orangtua tetap memiliki kontrol atas kemauan anak. Misalnya dengan mengajukan syarat tertentu. Contoh : ibu akan membuatkan susu, apabila ia mau merapikan mainannya terlebih dahulu.

3    3. Ajarkan Si Kecil untuk bersikap hormat

Jelaskan padanya bila ingin dipenuhi permintaannya, ia harus bersikap sopan dan meminta dengan cara yang baik.
Bila si kecil menolak untuk melakukan sesuai dengan permintaan, janganlah menuruti kemauannya, meskipun ia menangis.

4   4. Introspeksi diri

Anak adalah peniru ulung dan pengamat lingkungan yang cerdas. Kebiasaan kita memberi perintah pada pembantu ataupun pada anak yang lebih besar,  akan menumbuhkan sikap bossy pada diri si adik. Ada baiknya kita mengurangi kebiasaan menyuruh dan memerintah, terutama di depan si kecil.

Bagaimana, Mom, seru ya memiliki anak yang bossy? Semoga uraian di atas bermanfaat. Tetap semangaat...

Oya, artikel saya  tentang sikap bossy juga  pernah dipublish di web the AsianParent Indonesia

4 komentar:

  1. Wah, bener juga Mbak... ada lho abak tipe seperti itu
    hem, ternyata ada lebihnya juga daripada negatifnya ya
    soalnya tetangga sekitar sudah mencap anak itu ya kaya gitu, "mau menang sendiri" jadinya ga ada yang menemenin dech...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong, mbak Okti, selalu ada sisi positif dan negatifnya. Tinggal bagaimana cara ortu mengarahkan si anak bossy agar gak nyebelin bagi teman-temannya.

      Hapus
  2. Saya setuju sekali. Alhamdulillah sejak dini memang sudah saya tanamkan itu pada kedua anak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak menjadi mandiri dan kita pun bisa melepas mereka dengan tenang ketika bermain dengan anak-anak lainnya.MAkasih atas kunjungannya ya, Mbak Ika

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^