Kamis, 29 September 2016

Perkembangan Anak, Mengapa Aku Berbeda?




Perkembangan anak secara fisik dipengaruhi oleh faktor genetis


Pelangi-pelangi alangkah indahmu ... Merah kuning hijau di langit yang biru... Pelukismu agung, siapa gerangan... Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan...

Perkembangan anak berbeda satu sama lain. Meskipun terlahir dari rahim yang sama, mereka jelas berbeda dan unik. Subhanallah... tak ada satu pun anak saya yang memiliki wajah serupa, begitu pula dengan warna kulit dan sifat pembawaannya. 


Seperti halnya pelangi, mereka mewarnai hari-hari saya dengan segenap keberadaan mereka yang unik. Ada yang ceria, cerewet, mudah menolong, namun ada juga yang pendiam, pemarah, malas dan sebagainya. 

Begitu juga dengan penampilan secara fisik. Ada yang putih, ada juga yang kecoklatan, bahkan berkulit gelap. Bermata sipit, sedang, bahkan bulat. Berhidung mancung, juga pesek. Hahaha, lengkap deh pokoknya.

Dulu bahkan, ada yang berulang kali bertanya, apakah anak saya keturunan Cina, karena si anak yang ditanya bermata sipit dan berkulit putih. Bahkan, pernah juga ada yang menuduh anak saya keturunan Arab, karena matanya yang bundar dan berbulu mata amat panjang dan lentik. 

Ajaib memang. Variasi genetik yang banyak dari ibu blasteran (Kalsel, Riau dan Sunda) dan bapak Jawa, membuat tampilan fisik anak-anak saya bermacam-macam.

Bila sebagai orangtua, saya memandang mereka penuh takjub akan kekuasaan Sang Pencipta, Allah Swt, akan tetapi ternyata berbeda dengan apa yang anak-anak saya rasakan. Tak jarang ada yang protes karena merasa berbeda dengan saudaranya.

Misalnya...
 “Kenapa sih aku begini? Sudahlah paling hitam, paling kecil lagi. Beda sama yang lain. Yang lain putih-putih dan tinggi. Gara-gara itu, teman-temanku nggak percaya kalau aku anak bapak. Nggak percaya juga aku kakaknya X dan Y.”

Dan banyak lagi protes-protes yang meluncur dari mulut mereka. Bila mereka menyampaikan keluhannya dengan nada sewot, saya malah menanggapinya dengan menahan tawa. Menurut saya, semua itu lucu. 

Tentu karena sebagai ibu, saya tahu, setiap anak memiliki kekurangan di satu sisi, tetapi kelebihan di sisi lainnya, dan itu tidak dimiliki oleh saudaranya yang lain. 

Bagi saya, mereka saling melengkapi satu sama lainnya.  Saya memandang mereka sebagai kesatuan yang utuh. Ah, ya, mungkin karena saya adalah seorang ibu. Bila anak melihat kekurangan, maka  ibu akan berusaha mencari kelebihan dari setiap anak-anaknya. Maka jangan heran,  bagi seorang ibu,  di dunia ini tidak ada yang lebih hebat dan lebih menawan daripada anak-anaknya... (LOL)

Lalu, apa pendapat psikolog mengenai perkembangan anak yang berbeda-beda secara fisik ini?
Dalam buku ini, Psikolog Endah Kurniadarmi membahas perkembangan anak secara lengkap dan komunikatif


Psikolog Endah Kurniadarmi, dalam buku Nyebur Ke Dunia Anak, mengatakan, bahwa  fisik merupakan hal pertama yang terlihat pada diri seseorang seseorang sebagai bentuk performance.

Lebih jauh, Endah menyebutkan, bahwa dalam sebuah komunitas sangat wajar bila orang-orang yang dianugerahi penampilan memikat akan mendominasi perhatian, selanjutnya barulah diberikan pada orang-orang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi atau memiliki harga diri tinggi (self esteem)

Memiliki fisik yang menarik memang memiliki beberapa keuntungan bagi anak-anak. Namun jangan lupa, di samping memiliki keuntungan, anak-anak yang berwajah menarik juga memiliki sejumlah kendala dalam mengembangkan potensi dirinya dengan lebih baik. 

Misalnya, terganggunya pelajaran karena banyaknya perhatian dari lawan jenis. Atau pun keinginan untuk terus menjadi pusat perhatian. Berbeda halnya dengan anak-anak yang memiliki penampilan fisik biasa-biasa saja. Ia bisa fokus mengoptimalkan potensi dirinya tanpa gangguan yang berarti.

Apa yang harus dilakukan orangtua bila anak merasa terganggu dengan penampilan fisiknya?

Endah menguraikan beberapa tips yang bisa kita lakukan, yaitu :

1. Bantu anak untuk mengatasi persoalan fisiknya.

Misal:  anak yang merasa kecil dan pendek, bisa kita ikut sertakan dalam les renang dan menjaga asupan makanan yang bergizi.  Begitu juga bila anak terganggu dengan tubuhnya yang gemuk,  bantulah ia untuk menjalani program diet yang sehat.

2. Bantu anak sehingga ia merasa diterima

Diterima artinya ia merasa dirinya dimengerti. Saat anak merasa dimengerti, ia akan lebih berempati dan jujur. Kedua unsur ini amat penting dalam pertemanan.

Mom, kita tahu, rasa empati yang tumbuh dalam diri anak akan membuatnya tidak mudah tergelincir untuk menghina orang lain. Sedangkan jujur, akan memudahkan anak menerima dirinya sendiri secara apa adanya.

3. Hindari kebiasaan mengolok-olok anak dari tampilan fisiknya

Tak jarang orangtua, tanpa disadari,  justru menjadi orang pertama yang menggelari anak dengan julukan-julukan yang membuat anak merasa terganggu.  Mungkin bagi orangtua julukan itu terdengar lucu, namun, bagi anak itu sama sekali tidak terdengar lucu seiring dengan pemahamannya yang terus meningkat.

4. Tanamkan rasa syukur pada diri anak

Tak ada seorang pun yang bisa memesan wajah jelita dan tubuh menawan, karena itu adalah pemberian dari Sang Pencipta. Namun, dengan menerima dan bersyukur, bagaimana pun kondisi fisiknya, ia akan bisa mengoptimalkan kelebihan yang dimilikinya.

5. Tanamkan penerimaan dan pengertian

Sehingga anak merasa nyaman dengan fisik, pikiran dan perasaan yang ia miliki. Agar ia merasa berharga dan percaya diri.

6. Ajarkan nilai-nilai moral

Sehingga kelak ia bisa menjadi anggota masyarakat yang berkualitas.

Sahabat Moma, dalam perkembangan anak, ternyata di balik protes-protes yang kerap meluncur dari bibir mungil mereka, ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. demi membantu proses perkembangan anak. Agar anak mampu berdiri tegak dan menerima kondisi fisiknya dengan lapang dada dan penuh percaya diri. Semangat....




14 komentar:

  1. Serius saua baca kata awal nya sambil nyanyi mba :-D Kalau masalah membantu anak saya alihkan untuk membantu adik yang kurang tinggi, karena adiknya cowok ya sayaikut sertakan dia olahraga basket ;-) hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, beruntung banget adiknya punya kakak yang perhatian.
      Saluuut

      Hapus
  2. Every Child is special :) jadi inget film itu
    semua anak memang harta tiak ternilai, ya Mbak
    apapun dan bagaimanapun adanya

    semoga kita jadi orang tua yang selalu bersyukur atas kesehatan dan kecerdasan anak-anak kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...
      Sebagai ortu kita hanya bisa berusaha ya mba Okti.
      Trims sudah mampir

      Hapus
  3. terima kasih ilmunya mak, olok-olok fisik justru masih sering terlontar dari kerabat-kerabat kita waktu berkumpul, susah juga melarang beliau-beliau untuk tidak melakukan hal tersebut hanya bisa membesarkan hati anak bahwa itu bukanlah masalah yang besar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Wida. Terkadang, olokan itu ringan banget meluncur dari para kerabat ya...
      Mereka gak tau dampaknya bagi perkembangan si kecil.
      tinggallah ortu yang kebagian meluruskan lagi perasaan anak.

      Hapus
  4. Sopo mbak yang paling nggak dipercaya sebagai anaknya mbak Liza? Arsyad kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karimna, Rofa dan Arsyad tuh waktu bayinya putih bangeeeettt... lucu-lucuuuuu...

      Kalo Rabbani, plek, kaya anak arab yang diadopsi.

      Hapus
  5. Sering sih ibu bpknya biasa, eh anaknya cakep bgt ato sebaliknya. Penting bgt ngajarin agar nggak ngolok org lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuuuul.... Karena kita kan gak bisa pesen wajah model siapa atau kek gimana... ^_^

      Hapus
  6. sepakat bu, orang2 kadang2 juga suka menyama2kan anak kita sih kakak kayak ibu adek kayak ayah klo gak mirip siapa2 gimana. kejaidan waktu adekku kecil dr semua anggota keluarga yg hidungnya "agak pesek" cuma dia. lalu ada yg bilang smbl bencanda klo dia mah bukan anak ayah ibu tp dpt nemu. itu membekas banget di hatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak... emang paling menyakitkan tuh kalo dibilang anak pungut karena gak mirip siapa2. Adekku karena goldar AB sendiri juga sakit hati pas dikatain anak pungut sambil becanda.

      Hapus
  7. Bahkan pas hamil saya pesan wajah Tamara Blezinsky ben mirip pura-pura benci, lah yang lahir Syafira mirip saiyaaah...xixixi. Ora iso..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah amaaaaan mirip ibunya. Gak khawatir ketuker di rumah sakit. wkwkwwk

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^