Jumat, 30 September 2016

Ibu Suka Marah-Marah? Kenali 5 Pemicu dan Tips Mengelola Amarah


Tips mengelola amarah amat penting bagi seorang ibu





Saya percaya,  tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang ingin mengisi hari-harinya dengan mengumbar amarah, terlebih pada buah hatinya. Sayangnya, kemarahan itu sering muncul begitu saja. Nyaris seperti kebiasaan yang sulit dihindari. Bila Anda tergolong ibu pemarah, barangkali tips mengelola amarah dalam artikel bermanfaat dan dapat membantu.


Saya teringat di masa-masa awal menjadi ibu. Ketika itu saya masih amat muda (ehm!) dengan pengalaman yang minim. Menjadi ibu bukanlah perkara mudah. Selain harus berjibaku dengan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai, saya juga harus berurusan dengan balita yang lahir susul-menyusul. Dus, beradaptasi dengan suami, sosok yang begitu asing pada mulanya.

Sungguh tak mudah

Pelahan, saya mulai kehilangan kendali atas diri saya. Saya yang semula ceria dan easy going berubah menjadi orang yang menyebalkan, pemarah dan tak sabaran. (puk-puk Pak Suami yang mau bersabar menghadapi tingkah istri mudanya. Eh, mamah muda, maksudnya. ^_^)

Ketika itu, ngomel dan cemberut adalah menu harian yang wajib ditelan suami dan para balita itu. Jarang sekali saya bisa tertawa lepas dan berwajah ceria. Kalaulah ada, maka itu hanya sesaat. Dan itu dapat dipastikan di awal bulan. Atau, ketika anak-anak berada dalam asuhan Pak Suami, dan ibu bisa sedikit rileks saat jalan-jalan di mal.

Semakin bertambah usia, bertambah pengalaman, dan bertambah juga jumlah anak yang lahir kemudian, saya justru semakin santai menikmati keseharian saya sebagai seorang ibu.

Saya mulai bisa menikmati kelucuan-kelucuan tingkah polah anak-anak saya. Hal yang dulu bisa membuat saya marah, kini terlihat lucu dan menggemaskan. Saya menikmati kerepotan menghadapi Si Kecil dengan lebih santai dan lapang dada. 

Dan.... ternyata ini sering lho menuai protes dari anak-anak yang tumbuh dan besar dalam asuhan ibu yang pemarah (ups, ibu yang masih muda). Mereka protes, melihat sikap ibu yang lunak terhadap ulah adiknya. Sebab, ketika mereka melakukan hal yang sama duluuu, ibunya pasti langsung marah dan bertindak tegas. (Duh, maafkan ibumu ya, Nak. Dulu kan ibu masih belajar menjadi ibu)

Jujur, betapa kerap saya menyesali ketidaksabaran saya di masa lalu. Kemarahan yang begitu mudah diumbar hanya untuk hal-hal yang sepele. Sering saya berharap, waktu bisa diputar ulang. Agar saya bisa bersabar menghadapi mereka.  Sehingga  mereka tumbuh menjadi anak-anak yang penyabar dan juga lapang dada.


Sayang waktu tidak bisa diputar ulang. Dan pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa. 

Rasa sesal itu terus membayang seiring dengan pertumbuhan mereka, seandainya dulu saya menemukan tips mengelola amarah, mungkin rasa sesal yang muncul tidak terlalu menyesakkan dada.

Berdasarkan pengalaman di masa lalu, saat membersamai para balita yang mengemaskan itu, saya mencoba berbagi, barangkali tips ini bermanfaat bagi Sahabat Moma  ^_^

5 Pemicu dan Tips Mengelola Amarah

1. Ketidakpatuhan dianggap sebagai serangan terhadap ego pribadi.

Mom, seringkali amarah saya meledak saat anak tidak patuh. Maunya saya, setiap kali  menyuruh anak melakukan atau tidak melakukan suatu pekerjaan, mereka menurut. Patuh tanpa protes. Itu saja.

Akan tetapi, bukan anak-anak namanya bila tidak melakukan uji coba. Termasuk, menguji kesabaran ibu. Celakanya, saya kerap terpancing dan menganggap ketidakpatuhan itu sebagai serangan terhadap  ego pribadi. 

Jangan mau kalah sama anak, demikian pesan Mama saya jauh-jauh hari. Dan saya menerapkan pesan itu tanpa melihat situasi. Akibatnya, saya sering meledak bila anak tidak mematuhi perintah.

Padahal, mungkin saja ketidakpatuhan itu berasal dari ketidakmengertian anak. Atau, anak tengah sibuk mengeksplorasi dunia mereka. 

Mom, daripada membuat anak mengerjakan sesuatu karena  merasa takut, bukankah lebih baik bila kita  mengajak dan melibatkan mereka dalam kegiatan secara bersama-sama. Misalnya, merapikan mainan bersama-sama. Bagaimana pun, mereka  hanyalah anak-anak.

2. Tidak sesuai harapan

Seringkali kita merasa kecewa ketika anak  jauh dari harapan. Atau, berdecak tak sabar ketika anak tidak bisa melakukan hal-hal yang kita anggap sederhana. Sementara di luar sana, anak-anak lain dapat melakukannya dengan mudah.

Jujur, Mom,  dulu saya sering memarahi Si Sulung, hanya karena ia tidak berani main seluncuran. Saya geram bukan kepalang, ketika ia tak bisa melangkah melewati polisi tidur tanpa berpegangan tangan. Saya kecewa berat, ketika ia belum juga bisa melompat di usianya yang baru 4 tahun. 

Saya lupa, meski ia tidak bisa melompat dengan lincah. Juga bukan anak yang berani menaiki papan seluncuran, ia sesungguhnya anak yang lucu dan menggemaskan. Ia  pintar bercerita, pintar bernyanyi dan pintar menyenangkan orang lain. 

Kemarahan membuat saya tidak bisa melihat kelebihan anak. Dan itu membuatnya merasa tertekan. Andai saya bisa memutar ulang waktu, yang ingin saya lakukan hanyalah memeluknya. Dan, membisikkan betapa bangga saya memilikinya.
Mencoba berempati terhadap apa yang ia rasakan. Merasakan ketakutan dan kecemasannya. Sungguh, yang ia butuhkan adalah dukungan untuk berani melangkah melewati tantangan. Bukan wajah cemberut ibunda.

3. Rasa jenuh dan lelah yang tak berujung

Menjadi full time mom memang tak mudah. Rasa jenuh dan pekerjaan domestik yang tak ujung seringkali muncul dalam bentuk kemarahan yang siap diumbar setiap saat.
Tak perlu peristiwa besar untuk menunggu muntahnya amarah, cukup hal-hal sepele yang sering dilakukan Si Kecil. Semisal, melukis dinding rumah dengan crayon. Atau, menumpahkan air minum di lantai. 

Mom, bila Anda berada di titik ini, segeralah me-refresh diri. Lalukan penyegaran. Me time. Mintalah time out sejenak pada suami. Lakukan apa yang ingin Anda lakukan untuk menyenangkan diri sendiri.

Tak perlu mengeluarkan biaya besar. Cukup memeluk diri sendiri, dengan semangkuk baso pedas atau menikmati novel-novel favorit. Bisa juga dengan meluangkan waktu untuk menulis.  Atau, mengobrol dengan teman-teman dekat. Intinya, beristirahat sejenak dari rutinitas harian.

4. Memetik buah kemarahan

Kata orang anak adalah cermin terbaik. Ia akan memantulkan bayangan sesuai dengan citra yang ditangkapnya melalui indera. Sayang sekali kita kerap lupa, bahwa tingkah laku anak merupakan cerminan sikap kita terhadapnya.

Saya teringat, dulu sekali, saking marahnya pada anak, saya pernah melempar benda ke dinding. Ketika itu tak terpikir bahwa anak kedua saya begitu cepat menangkap momen yang hanya satu kali saya lakukan.

Apa yang terjadi kemudian?
Setiapkali merasa marah, ia dengan spontan melempar benda apa pun yang ada di tangannya. Tahukah, Mom, butuh waktu lama untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu.

Menyadari kesalahan, memang selalu menjadi hal yang paling menyakitkan dalam proses mendidik anak. Kerap emosi kita tersulut ketika melihat anak melakukan hal-hal buruk, padahal mereka hanya memantulkan sikap yang pernah kita tunjukkan pada mereka.

Mau tidak mau, meski menyakitkan, evaluasi diri harus kita lakukan untuk memperbaiki sikap kita terhadap anak-anak. Hingga akhirnya anak pun akan menampilkan sikap sesuai dengan yang kita inginkan.

5. Tekanan berat yang dialami

Tekanan berat yang dialami ibu, kerap membuat ibu kesulitan mengelola amarah. Ini manusiawi, Mom. Bukankah setiap orang akan mengalami ujian dalam hidupnya? Terlebih bagi seorang ibu. Sayangnya, biasanya ujian datang secara beruntun dan tak terduga.

Ketika kita terjebak di dalam badai masalah, dan nyaris putus asa, mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa adalah solusi yang paling aman, nyaman serta mudah.
Dengan bersandar  pada Dzat Yang Maha Perkasa, Allah Swt, kita akan mendapatkan kekuatan dan optimisme dalam menghadapi tekanan yang kita temui dalam kehidupan.

Nah, Sahabat Moma, saya akui, mengelola amarah bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan mengenali sumber pemicu amarah, kita akan lebih mudah mengambil sikap yang lebih bijak. Tidak hanya bagi buah hati kita, melainkan juga menyenangkan bagi diri kita sendiri. 

Selamat mencoba... Selamat menikmati hari-hari yang menyenangkan!

Baca juga :
Membangun Kerjasama dengan Anak 
Ujian Hidup Tak Mengenal Usia

42 komentar:

  1. Aku bgt nihhh...kl udah Capek bawaannya lbh mudah emosi. Mana anakku kembar jdnya mrk partner in crime

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo me time bundaaa....
      Aku temenin deeeeh

      Hapus
  2. Makasih tipsnya.
    Baca artikel ini seperti melihat cermin. Aku banget hehehehehe... Tapi sekarang anak2 udah gedhe, tinggal ketawa sendiri kalau ingat kelakuan mereka saat balita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.... ketawa sambil meringis kalo liat keketusan anak-anak itu.
      Nempel bangeeeeet ajaran si mamah muda

      Hapus
  3. Pas banget mbak tipsnya untukku. Yang bikin nyesel itu, udah tau teorinya tapi nerapinnya huhuhu.. Ga semudah membalikkan telapak tangan. Rasanya kalau habis marah2 gitu... Nyesel bukan main. Kupeluk anakku sambil berbisik, maafin bunda ya nak.

    Tambah nyesek.. Ketika si anak senyum dan mencium pipiku.. Huhu bener2 mengasuh anak itu mengasuh diri sendiri. Justru dari anak dapat banyak ilmu...

    Makasih momaliza tips kerennya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Embeeeeeerrr.... teori dimana-mana gampaaang.
      Praktek yang susah minta ampun

      Hapus
  4. Hiks, serasa bercermin. TFS Mbak Liza...

    BalasHapus
  5. Huhuhuhu dan saya cuma bisa nangis karena setiap kali saya marah setiap kali itu pula sy menyesal tp ternyata tak bisa mencegahnya saat amarah itu datang.
    Kok jadinya anak2 ga mau denger klo gak pale marah *duuuh!
    Makasih sharingnya mba. Jujur pelajaran terberat dlm hidup adalah menjadi ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.... menjadi ibu tuh pelajaran terberat dan gak pernah mengenal kata tamat.

      Hapus
  6. Ini reminder banget buat aku, mbak Liza. Aku masih susah mengontrol emosi, terutama ketika anak-anak aku anggap nggak patuh, nggak nurut atau melakukan sesuatu yang menurutku berbahaya.
    Harus belajar sabaaar lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, sama-sama belajar mbak Ika ^_^

      Hapus
  7. aku sudah berhasil mengenali diri sendiri, mba. Pas PMS dan tanggal tua jangan ada yg berani nyolek-nyolek akuh. Ya ampun, masalah kecil aja seakan-akan bisa bikin emosi meledak pada saat itu.

    Jadi biasanya aku udah wanti2 ke anak2. Alhamdulillah mereka ngerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good job, Mom.
      Mengenali diri sendiri sangat membantu dalam mengelola emosi. Penting bangeeet.
      Syukurlah anak-anak memahami ^_^

      Hapus
  8. Jika saya marah juga saking kagetnya suka meledak2 mba tapi seiring berjalan waktu dan informasi yang saya dapatkan akhirnya saya mampu menahan amarah saya lewat diam. Setelah itu saya katarsis nyuci piring atau beres2 stlh saya uda mulai reda baru saya omongin anak saya. Tapi emang betul mba pemicu utama marah adalah kelelahan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kita semua berproses, termasuk anak-anak.
      Semoga langkah kita senantiasa dimudahkan berproses menuju kebaikan. ^_^

      Hapus
  9. Saya punya sepupu yang memang pemarah banget terhadap anaknya. Bahkan kerap memukul tanpa ampun. Sedih melihat anaknya kena marah dan jadi nangis melulu. Sudah dinasehatin teteup aja begitu. Nanti saya mau minta dia baca postingan ini, ah. TFS, Mba LIza.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuuuuuuh.... kasian banget anak-anaknya.
      Semoga mamanya cepet menyadari, bahwa, anak-anak juga perlu disayang dan dicintai. Agar dimasa tua, mereka pun menyayangi kita.

      Trims sudah mampir ^_^

      Hapus
  10. Aku juga masih suka emosian, duuhhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, Bu, kita sama-sama latihan mengelola emosi dan sering-sering memeluk buah hati kita.^_^

      Hapus
  11. Huhu, kalo berurusan dengan anak kecil memang kudu sabar ya. Kasian kalo kena marah, kasian kondisi psikisnya ><

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus tarik ulur sama anak-anak. Bukan berarti tidak boleh marah sama sekali, ya, Bun.
      Ada saatnya kita harus menunjukkan sikap marah, demi kebaikan mereka.
      Marah yang terlarang itu, marah yang asal diumbar, sekadar melampiaskan kekesalan kita.

      Hapus
  12. Iya Mbaaak, susah juga nih. Kadang emang suka memancing emosi. Baru makan malam misalnya, cari-cari alesan biar makan di luar, bilang: bu, lapeeer. Aiish, ayahnya yang baru pulang kerja, ngelirik dong, nih anak masa ga dikasih makan. Hahaha. Sewot ga siiih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... itulah anak-anak, suka nyari-nyari kesempatan.
      Iseng-iseng berhadiah!
      Tarik ulur aja deh dengan anak. Biar dapet win-win solution!

      Hapus
  13. Kadang klo capek, rumah berantakan anak-anak ributt duhhh cuma bs idtighfar ajalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Kurnia, istighfar bisa mengurangi keinginan untuk marah. Abis gimana lagi, namanya juga anak-anak. Gak seru juga kan kalo mereka cuma diam.

      Hapus
  14. Aku termasuk yg gak bisa marah malahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah.... asyik dong. Pantesan Mbak Ade tampil fresh terus yaaa.

      Hapus
  15. Sepertinya harus diterapan sama diri sendiri nih. :) Makasih infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi pas bagian kudu me time ya mbak Nisa.
      Harus bin wajib ituuuuuu

      Hapus
  16. point 1, 3 dan 4 adalah hal yang paling sering memicu amarah...hiks

    sampe detik ini....

    padahal sudah janji terus dalam hati untuk tak sering2 marah...huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusiawi kok, Uni Dian. Asal, frekuensinya dikurangi setahap demi setahap. Nyesel loh, marah-marah terus... aku aja suka nyesel.

      Hapus
  17. Aku yg point lelah, sm point terakhir mbk, 2 hal itu sukses selalu bikin aku berubah jadi maknyonyor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... padahal rasanya gak mungkin juga jadi ibu tanpa lelah ya, Mba Inda?
      Yuk me time an.

      Hapus
  18. Aku banget..klo aku biasanya klo capek, suami nggak pulan2 pdhl jam kantornya udah kelar. Eh..2 anak malah bertingkah, rebutan misalnya..
    Ini yang sering jadi pemicu mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang kadang gitu sih Mbak Sulis, di saat emak sutris anak-anak tingkahnya tambah ajaib (perasaan kitaa aja kali ya?)

      Hapus
  19. Sedang belajar untuk bersabar dan memajamen marah mbak. Terima kasih sharingnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  20. Huhuhu awa2 berumah tangga masih banyak adaptasi sana sini. Numpuk sampah emosi. Kerjaan banyak, bayi baru 6 bulan terus isi lagi... Wis marah2 jadi menu harian hiks hiks

    BalasHapus
  21. Huhuhu awa2 berumah tangga masih banyak adaptasi sana sini. Numpuk sampah emosi. Kerjaan banyak, bayi baru 6 bulan terus isi lagi... Wis marah2 jadi menu harian hiks hiks

    BalasHapus
  22. kwkwkw..jenuh dan lelah tak berujung..ini sebabnya marah saya Mbak:D

    Btw, thanks tipsnya!

    BalasHapus
  23. Hihihu...pas bgt baca ini pas ada ujian menahan marah sm si sulung yg manyun dr tadi krn sesuatu hal..makasih mama liza

    BalasHapus
  24. Terima kasih Mom Liza. Saya adalah mama yang pemarah. Persis kayak artikel di atas. Saya sering lepas kendali, padahal saat ini si kecil lagi dalam usia emas. Doakan saya bisa berbenah diri dan menjadi ibu yang lebih baik.

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^