Jumat, 16 September 2016

Bukan Disabilitas Biasa




Tini Djajadi dalam sebuah pelatihan bersama Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia


Beberapa waktu lalu saya pernah melihat tayangan penangkapan disabilitas palsu oleh Satpol PP. Ya, orang-orang yang secara fisik masih sehat dan sempurna, tetapi berpura-pura menjadi penyandang disabilitas untuk mendapatkan belas kasihan orang. Mereka menjual ‘cacat tubuh’nya demi mendapatkan recehan.

 Tayangan tersebut membuat saya gemas bukan kepalang. Apa pasal? Sebab saya kenal beberapa teman dekat, penyandang disabilitas, yang selalu berjuang untuk menghapus stigma negatif tentang para penyandang disabilitas. Mereka berjuang keras, bahkan jauh lebih keras, dari orang normal lainnya.

Demi apa?
Demi mendapatkan keseteraan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka berjuang demi menegakkan harga diri sebagai manusia yang bermartabat dan utuh. Bukan hanya di pandang dari satu sisi saja, yaitu keterbatasan fisik.

Salah satu teman dekat saya, penyandang disabilitas, yang selalu saya kagumi adalah Teh Tini Djajadi.

Ibu dua anak ini tidak hanya piawai menulis, melainkan juga jago menyanyi, membaca puisi, dan terampil membuat aneka kue, baik kue tradisional maupun kue kering  (nah, untuk kue kering, Teh Tini biasa menerima pesanan menjelang lebaran).

Saya mengenal beliau pertama kali dalam Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, lalu kami bertemu lagi dalam penggarapan buku antologi inspiratif, Berpikir Positif. Kedekatan kami semakin dalam seiring intensnya komunikasi yang terjalin. Kami pun sempat bersama-sama  belajar di kelas Penulis Tangguh. 

Semangatnya yang pantang menyerah sering membuat saya salut. Di usianya yang sudah tak muda lagi, Teh Tini tetap aktif  bergerak dan menyebar manfaat bagi sesama. Kini Teh Tini yang mendapat amanah sebagai Ketua Himpunan  Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI)  ini semakin intensif melakukan pembinaan bagi kaum disabilitas agar bisa menjadi pribadi-pribadi mandiri yang berguna dan bermartabat.

Yuk mengenal Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia

Menurut Teh Tini, HWDI ini merupakan komunitas sosial wanita disabilitas yang salah satu programnya adalah membantu kesejahteraan disabilitas melalui berbagai pelatihan ketenagakerjaan dan tersebar hampir di seluruh kota besar provinsi, bahkan sampai Papua. 

Komunitas ini memfasilitasi berbagai pelatihan bagi penyandang disabilitas yang disesuaikan dengan kemampuan, minat maupun bakat. Seperti :
  1.         Pelatihan IT
  2.         Design grafis
  3.         Menjahit
  4.         Craft
  5.         Kuliner

Khusus untuk wilayah Bandung, selain diberikan oleh pengurus, pelatihan juga kerap  diberikan oleh komunitas pengrajin yang  berada  di Bandung. Ini tentunya merupakan hal yang harus disyukuri,  karena selain mereka mau datang dan memberikan  ilmunya  langsung  kepada para disabilitas. Memberikan bimbingan langsung dan bersabar terhadap keterbatasan disabilitas.
Craft, salah satu keterampilan yang bisa diajarkan pada disabilitas

Selain memberikan pelatihan, organisasi ini juga memfasilitasi para disabilitas dengan berbagai pameran untuk memasarkan produk,   membantu  menjalin kerja sama dengan pihak lain, termasuk dengan bantuan mencarikan mitra usaha yang bisa memberikan modal usaha.
Karena himpunan ini bersifat sosial, dana operasional sebagian besar berasal dari dana pribadi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk menerima bantuan dari pemerintah ataupun swasta. 

Sudah selayaknya upaya pemberdayaan disabilitas ini mendapat sambutan dan dukungan masyarakat luas. Agar tak ada lagi stigma negatif yang muncul di masyarakat mengenai kaum disabilitas. 

Bukankah yang paling baik di antara manusia adalah yang paling banyak menebar manfaat?  

2 komentar:

  1. Setuju dengan closing nya itu mbak :

    Bukankah yang paling baik di antara manusia adalah yang paling banyak menebar manfaat?

    Kami berdua pasangan disabilita mbak suka kesel dan menangis jika ketemu yang seperti ituh , mencacatkan diri hanya u/ receh
    Sementara kami yang disabilita berusaha mensehatkan diri u/ bekerja layaknya mereka yang sehat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Tapi bisa hidup mandiri dengan keterbatasan yang kita miliki adalah luar biasa.

      Keep spirit!

      Makasih yaa sedah mampir :)

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^