Selasa, 27 September 2016

Bila Anak Mengalami Bullying di Sekolah



Anak-anak rentan mengalami bullying di sekolah. Stop Bullying!



Tema bullying di sekolah ini bukan hal aneh bagi saya. Hampir semua anak saya mengalami bullying saat berinteraksi dengan teman-temannya di sekolah. Mengapa? Karena anak-anak saya termasuk anak yang pendiam dan bertubuh mungil, sehingga kerap menjadi sasaran empuk teman-temannya di sekolah.


Apakah bullying hanya terjadi di sekolah negeri?

Berdasarkan pengalaman anak-anak saya, dengan rasa menyesal saya harus mengatakan, bahwa bullying sangat mungkin terjadi di semua sekolah. Baik sekolah negeri, sekolah swasta, maupun sekolah Islam Terpadu. Selain dari informasi yang saya dengar, juga karena pengalaman. Sebab, saya menyekolahkan anak-anak saya di sekolah yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi fisiknya.

Mom, bullying di sekolah jelas bukanlah hal sepele. Melainkan berdampak besar bagi perkembangan anak. Baik bagi pelaku bullying, maupun bagi korbannya.

Sebagaimana dilansir Telegraph, Kamis, 19 Desember 2013, berdasarkan hasil riset dari tim peneliti University of Warwick dan University of Bristol, Inggris, bahwa anak-anak yang mendapatkan tindakan bullying di sekolah cenderung akan mengalami gangguan jiwa. Saat beranjak dewasa, mereka kerap mengalami halusinasi dan paranoid, berupa mendengar suara-suara aneh.

Sayangnya, dari tahun ke tahun jumlah korban terus mengalami peningkatan. Entah karena kesadaran masyarakat yang terus meningkat dan semakin banyaknya liputan media, atau, bisa jadi karena kondisi di masyarakat memang sudah begitu parah.

Berdasarkan data yang tercatat oleh World Vision Indonesia, pada tahun 2008 saja, terjadi 1.626 kasus. Setahun berikutnya, tahun 2009, mengalami peningkatan menjadi 1.891 kasus, 891 di antaranya terjadi di sekolah. 

Bagaimana kondisi saat ini?

Setahu saya, semakin mengkhawatirkan. Apa lagi bila melihat maraknya bullying yang ditayangkan di media sosial. Duh, hati seperti teriris dan tak percaya melihat generasi penerus bangsa melakukan hal-hal rendah seperti itu.

Lalu, apa sih bullying itu?

Sejiwa, dalam bukunya, Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak, mengatakan bahwa bullying adalah situasi di mana seseorang yang kuat (bisa secara fisik maupun mental) menekan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini, sang korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik dan mental.

Siapa saja pelaku bullying di sekolah?

Pada umumnya, pelaku bullying di sekolah adalah teman atau kakak kelas anak kita sendiri, namun bukan tidak mungkin karyawan dan, bahkan, guru, menjadi pelaku bullying di sekolah.

Macam-macam tindak bullying di sekolah ini terbagi atas 3 kategori.

Yaitu :

1. Bullying Verbal

Seperti : memaki, menghina, mengejek, menyebar berita bohong, membodohkan, dan lain sebagainya.

2. Bullying Fisik

Seperti : memukul, menampar, mengeroyok dan bentuk penyiksaan fisik terhadap korban.

3. Bullying Emosional

Seperti : melakukan intimidasi dan pengucilan terhadap korban.

Mom, sayangnya, tidak semua anak terbuka dan berani menceritakan kasus bullying yang menimpanya. Begitu juga dengan anak-anak saya. Namun dengan mengenali tanda-tanda yang umum terjadi pada korban bullying, kita tentu bisa mengetahui apa yang terjadi pada buah hati kita.

Yuk, kenali tanda-tanda anak mengalami bullying di sekolah :


  1. Anak kerap mengurung diri di kamar.
  2.  Menjadi lebih emosional dan kasar terhadap saudaranya
  3.   Malas berangkat sekolah
  4.  Konsetrasi belajar dan prestasi menurun
  5.   Menjadi penakut dan kerap gelisah
  6.  Sering mengalami mimpi buruk.

Lalu, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap?

1. Dekati anak

Lakukan pendekatan agar anak merasa aman dan nyaman menceritakan perasaan dan kejadian tak mengenakkan yang menimpanya. Jangan lupa, tanyakan juga apa yang ingin kita lakukan untuknya. 

Setiap kasus, setiap anak, tentu mempunyai keinginan yang berbeda penangannya. Diskusikan apa tindakan terbaik untuk anak. Tidak semua keinginan kita disetujui anak, tidak semua keinginan anak juga harus kita ikuti. Dengan diskusi, anak akan merasa nyaman dan tahu, ia akan terlindungi dari tindak serupa di kemudian hari.

2. Cross check

Mom, kita harus mencari informasi yang jelas dan benar dari pihak sekolah. Jangan menelan mentah-mentah informasi yang diberikan anak. Hal ini untuk menghindari salah paham yang mungkin saja terjadi.

3. Mediasi dengan pihak sekolah

Mintalah pihak sekolah untuk menjadi mediator antara orangtua, baik pihak pelaku, maupun korban. Dengan mediasi ini, diharapkan tidak terjadi lagi kasus-kasus serupa di sekolah. Minimal, guru dan pihak sekolah memberikan perhatian lebih pada korban dan melakukan pengawasan ketat pada pelaku.

Hal inilah yang paling sering saya lakukan. Dan biarkan anak mengetahui, bahwa kita peduli pada kejadian yang menimpanya. Di samping itu, boleh jadi si pelaku bullying mengetahui, bahwa kita tidak membiarkan tindak kekerasan yang dilakukannya pada anak kita.

4. Menuntut dengan tegas

Bila mediasi belum juga membuahkan hasil, orangtua korban bisa mengajukan tuntutan tegas. Misal, mengajukan tuntutan pada sekolah untuk mengeluarkan siswa bermasalah bila kasus ini terus berlanjut.

Terkadang, bila perlu, saya langsung mendatangi pelaku, hanya untuk menunjukkan sikap, bahwa, bila ia terus melakukan bullying, maka ia harus siap berhadapan dengan ibunya (hmmm,semacam kode, jangan ganggu anak macan.  Meski tanpa kata-kata mengancam, biasanya ini efektif lho... ^_^)

5. Mendampingi anak

Anak yang mengalami bullying, baik fisik maupun mental memerlukan pendampingan. Semakin berat kasusnya, semakin lama proses pendampingan ini berlangsung. 

Karena selain menyembuhkan luka batin dan fisik, kita juga harus menumbuhkan rasa percaya diri agar anak tidak mengalami kasus serupa di masa mendatang. Agar anak memiliki daya tahan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya.

Tips agar anak terhindar dari tindak bullying adalah :


  • Meyakinkan anak bahwa kita menyayangi dan mencintai mereka. 
  • Membangun rasa percaya diri anak
  •  Melatih anak untuk berani berkata “tidak” terhadap hal-hal yang tidak mereka sukai.
  •   Menghindari atau melawan pelaku bullying
  •  Melapor pada guru dan pengawas sekolah, bila tidak berani melawan. 

Semoga artikel ini bermanfaat ya, Mom.Oya, silakan mampir juga di artikel milik teman saya, Mak Witri. Ternyata, urusan bully mem-bully ini tidak hanya terjadi di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan ibu-ibu. So, Bully, Budaya Atau Tradisi sih?
Salaaam....

Silakan baca juga :



Referensi :
Sejiwa. (2008). Bullying : Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta : Grasindo.
The AsianParent Indonesia



16 komentar:

  1. di tempat aku kerja, masih ada anak2 yang mengalami bullying. padahal sudah diterapkan sekolah aman :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akan selalu ada celah untuk bullying ini, Mak Witri, tapi sikap tegas dari sekolah sangat membantu menekan penyebaran dan perkembangan tindak bullying ini.

      Hapus
  2. karena khawatir, maka dulu anak pertama saya pas TK saya tungguin tiap hari di sekolah.

    nyatanya memang ada aja bully membully.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... kadang memang ada juga di TK.
      Anak saya pernah juga dinakalin temannya, udah lapor guru, ternyata gurunya nanggapi dingin... saking keselnya, tuh guru sampai digigit sama anak saya.
      Di rumah, dia bilang, gurunya gak adil. hahaha....

      Hapus
  3. Saya pernah dibully,tp prestasi sy kok meningkat ya? Dan sy jd pemberani ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good job!
      Tiap anak kan unik. Ada yang semakin melesat akibat tekanan, ada juga yang depresi akibat bully.
      Tapi semua itu pasti ada prosesnya.

      Hapus
  4. Anakku pernah dibully, verbal dan fisik.Awalnya sih saya ga terlalu tanggepin aduannya karena saya pikir biasalah anak-anak suka ngadu-ngadu, kadang mengada-ada juga (maksudnya ga mau terkesan ikut campur urusan anak dan membela anak secara membabi buta) namun saat ada bukti baru berupaya ditindaklanjuti. O iya sebelumnya saya termasuk emak-emak yang ngajarin ngalah aja, memaafkan, tapi sejak baca artikel Bu Sarra Risman yang soal zaman wis akhir itu, bahwa kita ngajarin anak baik belum tentu orang lain juga begitu, saya jadi lebih tercerahkan untuk ga udah sungkan jadi mama macan hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.... kita memang sebaiknya tidak terlalu reaktif ketika mendengar anak dibully. Saya juga membiarkan dulu anak bercerita, trus kasih tips untuk menghindari pembullyan.

      Tapi, kalo dampaknya udah mulai mengganggu kenyamanan anak, dan bikin anak takut sekolah, baru saya menemui guru walas. Minta perhatian.

      Kecuali untuk kasus berat yang bikin esmosi sampe banget. Semacam, dicubitin, dicakar sampe berdarah dibelasan tempat.... nah, itu saya langsung protes berat.

      Hapus
  5. Anak sy juga sempat menjadi korban bullying di sekolah dan sayangnya pihak sekolah justru terkesan menutupi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, memang ada sekolah yang seperti itu, Mbak Rita. Menyedihkan ya..
      Semoga anaknya diberi daya tahan yang kuat terhadap tantangan di depannya.

      Hapus
  6. Waduh, dulu ya mbak saya termasuk murid yang berani. Dimarahin guru dan dipelototi saja saya tidak aksn nyungsep ketakutan karena saya gak merasa salah. Dengan saya yang begini saja juga ada murid lain yang sok bos tiba-tiba datengin saya, mirip kayak gayanya tokoh antagonis dalam sinetron, terus ngancem saya. Saya nggak takut sebenernya. Tapi males saja kalo ngelawan balik karena dia bisa bertingkah lebay,ujung-ujungnya saya yang disalahin. Hihihi.

    Buka itu akan tetap ada mbak. Tugas kita sebagai ortu untuk mengajari mereka agar bisa bersosialisasi baik, berbudi pekerti dan bermentak tangguh. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak Isnaini.... tugas kita adalah mengajari anak agar bisa bersosialisasi dengan baik, memiliki budi pekerti dan bermental tangguh.

      Terima kasih sudah berkenan mampir.

      Hapus
  7. Dl waktu sekolah sering bgt ada bullying kata2. Oetnah ngalamin jg. Untung strong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bullying verbal kayaknya emang biasa banget ya... kayak semacam budaya, karena sering juga dilakukan ortu tanpa sadar. Apa lagi sama temen sekolah...

      Alhamdulillah... dirimu setrong, Jiah. ^_^

      Hapus
  8. dampaknya dari bullying ternyata cukup memprihatinkan yaa,, kok bisa terjadi kek gtu ya,apakah pelaku bully ini biasanya berasal dari anak broken home atau gmna?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak selalu anak yang broken home, ada juga pelaku yang berasal dari keluarga baik-baik, tapi memang memiliki kencerungan terlalu memanjakan dan menuruti keinginan si anak. Sehingga si anak merasa harus selalu dituruti kemauannya.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^