Rabu, 21 September 2016

3 Langkah Menghilangkan Trauma Dalam Menulis

3 langkah menghilangkan ketakutan (trauma) dalam menulis

 Adalah wajar, bila seorang penulis memiliki ketakutan atau trauma tertentu dalam menulis. Sebab seringkali, tanpa kita sadari,  apa yang kita tulis berdampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Begitu pula dengan saya.  Ada kalanya saya merasa down dan mengalami trauma dalam menulis.




Teringat ujaran seorang sahabat yang mengatakan bahwa penulis itu seperti penyihir. Setiap kalimat yang ditulisnya bisa menjadi mantera sakti yang di kemudian hari terwujud. Atau, bisa berbalik mengenai si penulis itu sendiri. Percaya atau tidak, dari beberapa sharing dengan sesama penulis,  beberapa peristiwa terjadi setelah mereka menulis.

Misalnya, sering menulis kisah tentang pasangan yang dipisahkan oleh kematian, ternyata dalam kehidupannya di kemudian hari, ia mengalami hal yang sama. Menulis kisah tentang kekasih yang selingkuh, ternyata beberapa bulan kemudian ia terpaksa membatalkan pernikahan karena calon suaminya selingkuh! Dan lain sebagainya.

Pengalaman saya lain lagi. Hanya selang beberapa hari setelah saya menuliskan tentang 5 tips sederhana merawat pernikahan , ujian itu pun datang menyapa. Bayangkan, setelah sekian lama menjalani pernikahan yang adem ayem, ternyata, saya juga harus mengalami goncangan 'aneh' dan tak terbayangkan semacam itu.

Ya, jujur saja, pernikahan yang saya jalani bukanlah pernikahan yang berlangsung mulus, lancar tanpa hambatan. Ada pertengkaran, ada beda pendapat, ada gejolak emosi di sela-sela hari-hari bahagia dan menyenangkan. Menurut saya,  itu wajar saja terjadi dalam sebuah pernikahan. Namun, ujian yang menyapa kali ini betul-betul di luar perkiraan.

Ini terus terang 'mengerikan' dan menguras emosi. Saya shock. Peristiwa ini membuat  saya merasa trauma untuk menulis hal-hal yang berhubungan dengan interaksi pasangan suami-istri dan pernikahan. Saya takut mengalami ujian yang tak tertanggungkan.

Seakan-akan ujian ini merupakan uji nyali dari apa-apa yang pernah saya tulis. Alhamdulillah, karena kasih sayang Allah Swt dan menerapkan isi tulisan tersebut, badai ini pun berlalu dengan cepat dan hanya menyisakan keindahan setelahnya. Alhamdulillah, ternyata hanya gagal paham yang biasa terjadi dalam kehidupan berumah tangga.

Sekalipun saya bukan Michel de Notredame or Nostredame, atau yang populer dengan nama Nostradamus yang menulis buku The Century. Buku  yang memuat ramalan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dunia. Seperti : Revolusi Perancis, melemahnya paham komunis, perang dunia, ramalan bom atom Hirosima dan Nagasaki, dan lain sebagainya.

 Atau sesakti , Prabu Jayabaya yang menulis Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya dan lain sebagainya, yang lebih dikenal sebagai Ramalan Joyoboyo. Tulisan-tulisan Sang Prabu ini berisi ramalan tentang Nusantara.

(Ya, ya, ya.... ramalan terkadang memang hanya dipas-paskan saja dengan kondisi kekinian. Bila dianggap pas, maka ramalan itu dianggap benar. Bila tidak, salah.
Ramalan atau bukan, nyatanya peristiwa-peristiwa itu PERNAH DITULIS. Baik dengan ungkapan langsung  maupun dengan kalimat-kalimat yang memerlukan penafsiran mendalam)

 Akan tetapi, kejadian ini membuat saya menjadi waspada dalam menulis. Karena saya tak mungkin menghentikan aktivitas menulis dalam keseharian, maka saya mencoba untuk menata ulang hati dan jiwa saya.

Lalu,  apa yang harus saya lakukan agar tulisan-tulisan saya tidak memberi efek negatif bagi pembaca atau berdampak buruk pada diri saya sendiri?

Berdasarkan diskusi dengan beberapa teman penulis, beberapa hal berikut ternyata bisa membantu saya mengatasi rasa takut akan menulis.

1. Tulislah hal-hal yang bersifat positif 

Menuliskan hal-hal yang positif dan bermanfaat, tidak hanya akan membuat si penulis merasa nyaman, melainkan juga bermanfaat bagi pembaca. Ini tentu memiliki efek yang baik untuk meningkatkan semangat dalam menulis.

"Tulislah hal-hal baik, agar apa-apa yang lahir darinya hanyalah kebaikan." 

Kalimat yang dituturkan oleh seorang sahabat ini begitu membekas dalam benak saya. Mengapa? Karena menulis hal-hal positif tidak akan pernah kita sesali di kemudian hari. Melainkan menjadi catatan indah yang tak akan bosan kita baca berulang-ulang kali.

2. Menulis hanya yang kita tahu, pahami dan lakukan

Setiap tulisan tentu akan ada pertanggung-jawabannya, entah di dunia atau pun di akhirat kelak. Jadi, menulis sesuai pengetahuan dan selingkung pemahaman kita, akan menghilangkan rasa cemas yang terkadang muncul begitu saja.

"Tulislah yang benar,  jangan mengada-ada. Jangan menulis apa yang tidak kamu kerjakan."

Nasehat di atas merupakan pesan dari mama saya, agar saya hanya menulis sesuai dengan pengalaman yang saya temui dalam keseharian.

 Misalnya, ketika saya menulis tentang parenting, tulisan itu harus benar-benar sesuai yang telah saya alami dan lakukan. Bukan mengarang-ngarang sehingga terkesan menjadi ibu yang bijaksana dan sempurna. Padahal dalam kenyataannya tidak seperti itu.

3. Jangan memaksa diri dalam menulis

Adalah normal bila seorang penulis memiliki ketakutan (trauma)  tersendiri terhadap tema-tema tertentu. Memaksakan diri menulis hanya akan membuat tulisan yang dihasilkan kehilangan ruh, tidak optimal dan -terkadang- pesan dalam tulisan tidak sampai.

"Menulislah untuk bersenang-senang."

Demikian yang kerap diucapkan oleh guru menulis saya, Bunda Nurhayati Pujiastuti. 

Menulis harus menimbulkan rasa senang. Menimbulkan kegairahan dan menghadirkan seluruh jiwa raga.  Agar tulisan yang dihasilkan menjadi tulisan yang bernas dan berbuah kebaikan. Bersenang-senang dalam menulis akan membuat kita lebih hidup dan optimis menjalani kehidupan.

Nah, Sahabat Moma, semoga tulisan di atas bermanfaat, terutama bagi teman-teman yang memiliki kendala, semacam trauma dalam menulis. Yakinlah, dengan usaha dan doa, kita bisa kok mengatasi ketakutan dan trauma dalam menulis dengan mengingat 3 langkah di atas. Percayalah...


  Sila baca juga :
Pertemanan Di Media Sosial Sejuta Rasanya




31 komentar:

  1. Semoga ujiannya segera berlalu ya. Mbk. Kalau aku alhamdulillah belum pernah ngalami apa yang aku tulis di cerpen, soalnya bakal seremlah kalau sama. Cerpenku banyak kisah kelam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah udah kelar masalahnya, Mbak Naqi.
      Sebetulnya lebih aman nulis fiksi ya... murni imajinasi.

      Hapus
  2. Saya setuju dengan ketiga poin di atas.Apalagi yang poin satu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) siiiip....!
      Makasih udah mampir ya mbak Aira

      Hapus
  3. Suka sama tulisan ini. Beda ya kalau penulis buku/media nge-blog. Tulisannya runut, rapi dan enak dibaca. <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaah.... Dydie bikin geer...!
      Makasih ya dah mampir

      Hapus
  4. So far saya menulis dari pengalaman orang2 di sekitar saya, Mak. Mulai dari orang dewasa sampai anak2 yg kemudian saya kemas lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih aman dan nyaman sebetulnya seperti itu. Mengambil inspirasi tulisan dari sekitar.
      Yuk, lanjut nulissss

      Hapus
  5. Tiga tipsnya memang benar. Kalau non-fiksi, saya nulis yg memang sudah saya praktekkan. Kalau fiksi, saya ga mau berkhayal yg seram2. Yang indah2 aja hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang harusnya begitu ya, Mbak Leyla. Jadi kebenarannya teruji.
      Btw, samaaa...klo nulis fiksi saya maunya yang indah-indah. hehehe.
      Penganut sweet ending garis keras.

      Hapus
  6. Never stop writing ya mbak Liza,, kalau kata LKS jaman dulu "ikatlah ilmu dengan menulisnya"
    Hahaha, nggak nyambung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak dong saaaay...
      Udah keburu nyemplung, basah, masa mau udahan?
      Trims yaaa

      Hapus
  7. Ooh gitu ya mbak,. Saya jadi tercerahkan. Makasih mbak :)

    Salam kenal dari djayanti di Karawang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal lagi, Mbak Djayanti.

      Alhamdulillah bila tulisan ini bermanfaat.
      Makasih sudah mampirdi sini.

      Hapus
  8. "Tulislah apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu tulis", seseorang pernah menasehati saya seperti itu. Dan memang itu merupakan salah satu cara yang lebih.mudah utk mengatasi stag menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuuuuuuuuul... memang harus seperti itu ya, Mba Ririe.
      Kita pun bisa menulisnya dengan enjoy.

      Hapus
  9. Mba, beneran ih, aku juga pernah kayak gitu, tapi ya aku mikirnya kebetulan aja danbterus nulis. Makasih ya tipsnya..berguna banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kayak semacam kutukan penulis ya, Mba Zata.
      Trims sudah mampir

      Hapus
  10. Wah bener banget mba Liza. Jangan memaksa diri untuk menulis,jadi ga ber ruh hehe. Btw ketiga poin itu berguna bagiku. Makasih tips kerennya teh Liza. Saya juga penganut sweet ending lo, ikut happy soalnya xixi....Sukses ya teh Liza :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sweet ending? tooooosss.... hehhe
      Makasih ya Mba Fitri tuk kunjungannya

      Hapus
  11. Iya sama kadang klo mau nulis topik2 sensitif yg negatif misal yg tentang relationship, suka parno, makanya sekarang lebih hati2 aku klo mau nulis, akhirnya bener kaysk kata mb, nulis yg positif ato hal2 nyenengin aja utk dikenang ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi... yang penting kita tetap bersenang-senang dalam menulis ya, mbak Gustyanita

      Hapus
  12. Baru tau ada trauma menulis. Lalu, paragraf 3 itu bikin ngeri.
    Semoga kita bisa menulis yang baik terus, ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang, makanya saya sempet rada trauma menulis.
      Tapi, dengan tekad hanya menulis yang baik dan bermanfaat, lumayan menolong mengembalikan mood menulis.

      Hapus
  13. Jangan berhenti nulis dan kapok y mba justru jika memang akhirnya spt yang mba alami kita malah mempraktekan hal2 yang kita tuliskan, bener ga si mba?hehhee salam kenal mb ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mbak Herva... ^_^
      Insya Allah enggak, Mbak. KArena saya udah tanggung nyebur di dunia penulis. hehehe

      Hapus
  14. nomer 2 itu ujian kejujuran ya mbak.

    BalasHapus
  15. Belum pernah mengalami yang seperti ini sih, soalnya memang belum aktif nulis dan seringnya nulis tentang diri sendiri, yg tentunya hasil pengalaman sendiri.. tapi dgn baca artikel ini jadi tau, bahwa sebaiknya kita menulis yang positif saja :)

    BalasHapus
  16. @ Mbak Diah....
    Betul sekali, jujur adalah kunci kenyamanan dalam menulis.

    @ Mbak Annisa
    Iya, say, tulislah hal-hal positif. Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari


    Semangaaaaaatttt

    BalasHapus
  17. Seneng aku baca postingan ini mak, padat dan berisi. Alhamd selama ini aku blm pernah mengalami trauma menulis. Kl stuck sih pasti pernah ya :)

    Sepakat share positive things dan biarkan itu memantul ke diri kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Prita....Yuk terus menulis.Terus menebar manfaat lewat tulisan

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^