Selasa, 30 Agustus 2016

Ujian Hidup Ternyata Tak Mengenal Usia



Setiap fase dalam kehidupan tak lepas dari ujian hidup




Seringkali kita beranggapan, bahwa masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat bin pelik. Ujian hidup datang silih berganti tak mengenal ujung dan kata akhir. 


Seingat saya, sejak kecil saya punya masalah. Masalah cemburu dengan adik. Merasa diperlakukan berbeda. Ingin memiliki mainan atau barang seperti yang dimiliki teman, tetapi ortu tidak mengabulkan keinginan kita, itu menjadi masalah berat yang saya rasakan ketika kecil.

Ketika itu, rasanya tidaklah mudah mengatasi kecemburuan dan menanggung kekecewaan karena tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Akan tetapi, show must go on. Kita tidak mungkin berkubarng terus dalam masalah. Saat itu kita belajar sedikit tentang makna lapang dada dan kesabaran. 

(Ssst, saat kecil saya beranggapan, menjadi remaja adalah masa yang menyenangkan. Dan berkeinginan untuk segera remaja. Dan apa yang terjadi?)

Masa remaja yang saya cita-citakan tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Ok, saya bisa sedikit lebih bebas bermain. Mengunjungi toko buku/ perpustakaan sendiri, jalan-jalan dengan rombongan teman-teman sekelas, ataupun dengan sahabat dekat, bebas memilih baju yang diinginkan. 

Tetapi, masalah sepertinya ikut juga bertambah besar. Saya mulai merasa selalu ada yang salah dengan diri saya. Bila sebelumnya, hal-hal tertentu tidak akan membuat saya menangis, ketika remaja, hal-hal yang remeh itu seolah menjadi besar dan begitu penting. Emosi pun sering tak terkendali. Saya jadi begitu mudah meledak dan tak bisa dimengerti. 

Masa remaja yang semula tampak menyenangkan, menjadi kumparan masalah tak berujung. Saya mulai memimpikan masa dewasa. Dan berharap segera dewasa.

Namun, ternyata dewasa bukanlah persoalan jumlah bilangan usia. Melainkan kemampuan kita mengelola dan melatih diri ketika menghadapi masalah yang datang menerpa.

Menjadi dewasa ternyata tak pernah mudah. Karena ujian demi ujian menjadi lebih intens. Masalah yang datang tak pernah solo karir, melainkan selalu berombongan. Maka istilah sudah jatuh tertimpa tangga pun tidak berhenti sampai di sana. Masih ada tambahannya....

Sudah jatuh tertimpa tangga, tersiram cat pula.... sudah itu alih-alih ditolong orang lewat, yang ada malah diinjak-injak dan ditertawakan, ujar seorang teman.

Ya, begitulah hidup.
Pertambahan usia tidak saja diikuti dengan pengurangan usia, melainkan juga penambahan bobot masalah yang dihadapi. Tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim bahwa dirinya lepas dari masalah. Tentu, selama ia masih bisa berpikir dan hidup secara waras.
 
Sunatullahnya memang seperti itu.
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (Q.S Al Ankabut :2)

Jadi, sudah jelas, selama kita hidup, masalah demi masalah, ujian demi ujian, akan selalu hadir dalam hidup kita. Untuk apa? Untuk menguji kualitas hidup kita.

Seberapa hebat kita menanggung masalah. Seberapa sanggup kita melewati rintangan demi rintangan dalam hidup. Seberapa sadar kita bahwa ujian yang menghampiri, hanyalah sarana untuk lebih menyadari kelemahan diri kita sebagai seorang hamba.

Dan karena manusia itu terlahir unik, maka ujiannya pun berbeda-beda. Setiap takaran telah disesuaikan dengan kesanggupan manusia. Hanya kita saja yang sering kali menganggap rendah kemampuan diri kita, sehingga kerap merasa paling nestapa. Merasa beban yang kita tanggung terlalu berat untuk disandang.

Ujian dalam hidup, sejatinya merupakan sarana untuk kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Swt, Yang Maha Perkasa sekaligus Maha Rahim. Mengakui kebesaranNya dan kelemahan diri kita sebagai seorang hamba.

Bukankah Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya?
Bukankah kita hanya mendapatkan kebaikan atau keburukkan sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan?

Maka, selayaknya kita melantunkan sebuah doa, agar kita sanggup menghadapi ujian hidup ini, dengan sebait doa ...

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Sungguh Engkau-lah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Q.S Al Baqarah : 286)
 
Tulisan ini merupakan kontemplasi diri saya untuk menghadapi bertambahnya bilangan usia dan berkurangnya jatah usia dari waktu ke waktu. Semoga dengan bertambahnya usia, bertambah pula keinsyafan diri ini. Bertambah pula keluasan hati dalam menyikapi ujian hidup ini.

Oya, Sahabat Moma, bicara mengenai usia, ada lho tips menghadapi hari senja agar tidak terkena penyakit demensia atau alzheimer. Menjalani hari tua dengan senang dan tenang. Silakan meluncur ke sini ya

18 komentar:

  1. masalah ada titik perubahan untuk lebih dewasa. Dan masalah akan muncul terus sesuai kapasitas penerimanya. Gak mungkin masalah tukang becak tertukar dengan masalah pejabat. Salam criing bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mas Deco. Setiap orang punya takaran masing-masing yang membuat mereka berada pada titik tertentu dan secara keseluruhan membentuk sebuah keseimbangan.
      Salam kembali. Dan terima kasih tuk kunjungannya

      Hapus
  2. Assalamualaikum Mak... Hidup itu bukan selalu maslah kesenangan, tapi juga masalah kesulitan, disitulah kita diuji untuk bisa mengatasi dan lolos dari lubang jarum untuk naik tingkat dan tentunya mendapatkan ujian yang lebih sulit lagi. Ujian-ujian ini akan menjadikan manuasia yang berbeda dan lebih bijak tentunya... hahhahah orang tua banget ya saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam Mak Nita... Betul sekali. Setiap tahapan akan membentuk kita menjadi manusia yang berbeda. ^^
      Makasih ya tuk mampirnya

      Hapus
  3. Ada suatu masa di mana saya b3gitu merindukan masa kecil dan remaja. Rasanya masa2 itu masalah saya hanyalah PR dan harus belajar utk ulangan hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ideeem... hehehe. Masalah gak serumit sekarang yaaa

      Hapus
  4. "Sudah jatuh tertimpa tangga, tersiram cat pula....sudah itu alih-alih ditolong orang lewat, yang ada malah diinjak-injak dan ditertawakan"

    Duhai...ngenes banget, mbak. semoga kita tidak termasuk yang seperti itu ataupun yang memperlakukan orang lain seperti itu.

    Makasih sudah berbagi, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak Diah. Tapi banyak lho yang ngalamin seperti itu. Ngenes banget yaa...

      Hapus
  5. Aku waktu kecil pengen cepet dewasa, sekarang malah pengen kembali ke masa lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... mendadak labil ya, mbak Witri.

      Hapus
  6. betul mba selama hidup pasti ada ujian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai kita bisa memilih ujian ya... hahaha
      Makasih mba Rina tuk kunjungannya

      Hapus
  7. Benar Bunda. Menjadi dewasa, kita akan terus diberikan ujian yang semata mata untuk menguji keimanan dan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idealnya seperti itu Bunda Akarui... berproses ke arah yang lebih baik. Semoga kita bisa menjadi lebih baik.

      Hapus
  8. Yess. Bahkan anak kecil saja sudah punya masalah. Walaupun menurut kita orang dewasa masalah mereka sepele. Tapi menurut mereka, ya itulah masalah yang berat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan, masalah yang kita hadapi saat ini pasti rasanya lebih berat dari sebelumnya. hehehe

      Hapus
  9. manusia dikasih masalah biar naik kelas, katanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.... betul.
      Tapi semoga kita selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam menghadapinya. aamiin

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^