Sabtu, 13 Agustus 2016

Nikah Muda Bukan Fenomena Masa Lalu

Keputusan Muhammad Alvin Faiz untuk menikah di usia yang sangat belia, 17 tahun, sontak mengejutkan nitizen. Pro dan kontra pun merebak di dunia maya. Tiba-tiba saja fenomena nikah muda menjadi topik yang hangat untuk dibahas.


Nikah Muda, fenomena yang tak lekang oleh waktu


Saya tak ingin membicarakan putra Ustad Arifin Ilham tersebut, saya hanya meyakini, bahwa keputusan yang diambil Alvin pastilah bukan keputusan tanpa pertimbangan dan asal-asalan. Saya yakin, pemuda yang berani memutuskan untuk menikah tanpa paksaan dari pihak mana pun adalah pemuda yang matang dan dewasa, terlepas dari bilangan usia yang telah dicapainya.

Beberapa sisi positif dari keputusan Alvin ini diulas secara menarik dan lengkap oleh teman saya Ade Delina Putri dalam blognya dengan judul : Apa Yang Bisa Diambil Dari Nikah Muda Alvin Faiz?
Alvin jelas memenuhi persyaratan untuk menikah di usianya yang belia. Namun, bagaimana dengan pasangan lainnya?

Dalam tulisan kali ini, saya ingin menyampaikan bahwa nikah muda itu bukan fenomena masa lalu. Melainkan fenomena yang yang masih berlangsung hingga saat ini.

Nikah Muda Tak Hanya Karena 'Kecelakaan'


Sering memang kita dengar menikah di usia muda yang terjadi akibat 'kecelakaan'. Nikah muda yang terjadi atas dasar keterpaksaan, akibat hamil di luar nikah. Tanpa kesiapan yang memadai, baik secara materi maupun mental.

Namun, saya juga menemui banyak pernikahan usia muda yang terjadi bukan karena 'kecelakaan'. Melainkan karena lingkungan yang mendukung. Ya, sama seperti pernikahan-pernikahan yang dijalani oleh kakek-nenek atau mungkin orangtua kita di masa lalu. Dengan alasan dan motif yang kurang lebih sama.

Semula saya pikir, saya tidak akan bertemu dengan pasangan-pasangan muda ini. Tidak di zaman sekarang. Tidak di daerah urban. Nyatanya, takdir mempertemukan saya dengan beberapa di antaranya.

Pasangan pertama yang saya kenal adalah  Sari dan Andi. Umurnya baru 18 th ketika menjadi karyawan saya, saat saya masih menjalani bisnis franchise minuman dingin di sebuah sekolah.
Ia menikah di usia 15 th. Setahun kemudian memiliki seorang putri. Namun sayang, karena suaminya tidak bertanggung jawab dan hobi berjudi, pernikahan itu selesai di usia ke-3 pernikahannya.

Pasangan berikutnya adalah Fitri dan Abu,  karyawan kedua saya. Ia juga menikah saat  baru lulus dari bangku SMP,  saat usianya baru 15 tahun, dan suaminya berusia 17 tahun. Bedanya, hingga saat ini pernikahan Fitri masih langgeng dan baik-baik saja. Ia beruntung memiliki suami yang bertanggung jawab dan mau bekerja keras.

Sementara Sari, setelah menjanda beberapa tahun dan menjadi karyawan di sebuah pabrik, barulah memutuskan untuk kembali menikah. Dan melupakan masa lalunya.

Ketika saya tanyakan, apa alasan pernikahan mereka menikah di usia yang demikian muda, ternyata alasannya sederhana : Karena Cinta. Itu saja. Dan mereka merasa siap menjalani biduk rumah tangga dalam usia belia.

Akan tetapi saya curiga kemudahan melangsungkan pernikahan di usia muda ini karena mereka didukung oleh keluarga dan lingkungan. Kecurigaan saya ternyata dibenarkan oleh karyawan saya yang lain, yang bertekad untuk menunda pernikahan hingga usianya cukup (20 tahun). Menurutnya, bila ada gadis yang belum menikah di usia 20 th, dianggap telat nikah, alias tidak laku.

Ini mengherankan,   mereka berada hanya selangkah dari ibukota, dalam arti arus informasi dari pusat sangat dekat, saya pastikan penyuluhan masyarakat tentang risiko  menikah muda sudah mereka dengar.

Ternyata tak banyak yang berubah. Hingga saat ini, masih banyak anak-anak yang baru tamat mengenyam bangku lanjutan pertama sudah menikah. Itu terjadi pada beberapa teman anak sulung saya.

Pendidikan Rendah Orangtua Salah Satu Penyebab Nikah Muda

Tinggal di daerah urban selama belasan tahun membuat saya faham, bahwa tidak mudah memupus kebiasaan masyarakat setempat untuk menghentikan kebiasaan para orangtua untuk tidak menikahkan anak-anaknya yang masih belia.

Tingkat pendidikan mereka yang relatif rendah membuat mereka beranggapan bahwa menikahkan anak-anak mereka setamat SMP akan membantu mengurangi beban keluarga. Syukur-syukur dapat menantu anak orang kaya.

Akan menjadi aib bila memiliki anak gadis yang belum menikah di atas usia 20 tahun. Apa lagi bila si anak gadis tidak bekerja. Sementara menyekolahkan hingga ke jenjang pendidikan tinggi bukanlah prioritas mereka.

Anak-Anak Yang Tumbuh Dalam Asuhan Dunia Maya

Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat para orangtua sibuk bekerja serabutan. Khususnya ibu-ibu. Entah menjadi buruh pabrik-pabrik atau menjadi tenaga serabutan di perumahan-perumahan. Sementara bapak-bapaknya kebanyakan lebih santai dan asyik bercengkrama di pangkalan ojek. Tidak semua, memang, tapi banyak.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Jangan beranggapan bahwa mereka begitu terbelakang dan tak tersentuh modernisasi. Nyatanya, anak-anak mereka menggenggam gawai dan aktif berseluncur di dunia maya. Anak-anak yang dengan mudahnya mengadopsi gaya berpacaran ala-ala hingga kerap kebablasan.

Anak-anak ini tumbuh dalam asuhan dunia maya tanpa perhatian orangtua yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, nikah muda kerap dijadikan salah satu jalan keluar yang paling memungkinkan bagi semua pihak.

Jangan bertanya, tentang masa depan. Dalam kondisi seperti itu, masa depan tak lebih penting dari hari ini. Yang penting, hari ini bisa makan, soal esok, biarlah tetap menjadi misteri.

Sahabat Moma, semoga tulisan yang lebih mirip curhat ini berkenan dan bermanfaat. Nikah muda, sekali pun berisiko tinggi, tetapi kerap menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya di daerah pinggiran.













8 komentar:

  1. Yap. Nikah muda itu sebenernya udah ada dr dulu bahkan hingga kini pun ga sedikit. Tinggal yang mau menjalaninya aja harus butuh persiapan ya mbak. Biar ke depannya tetap langgeng :) TFS Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap ya harus ada kesiapan baik mental maupun material. Sebetulnya bukan umur faktor utamanya, kalo menurut saya sih. Karena umur dan kedewasaan itu sifatnya relatif.

      Hapus
  2. wah... beneran jadi viral ya mba... padahal mah nikah mudah udah biasa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Viral, karena ada figur, jadi dianggap aneh dan jadi bahan gosip. Padahal masih banyak banget yang nikah muda.

      Hapus
  3. tetangga saya dulu dua anak perempuannya nikah muda. yang pertama usia SMP. alasannya karena teman-temannya udah pada nikah.

    yang kedua nikah juga pas usia SMP, 13 tahun. alasannya karena udah punya pujaan hati.

    anak yang pertama pernikahannya berakhir lalu nikah lagi. anak yang satunya baik - baik aja sampe sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali pada kesiapan individunya masing-masing ya?
      Toh, yang usia cukup atau kelewat matang juga sama mengalami konflik dalam rumah tangga.
      Terima kasih sudah mampir yaa

      Hapus
  4. Kalau sya lebih mencemaskan kesiapan alat2 reproduksinya hehe kejauhan ya mikirnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... memang itu salah satu risiko yang harus dipikirkan pasangan muda. Meskipun, banyak juga ibu-ibu usia muda yang melahirkan dengan selamat, namun tetap lebih berisiko ketimbang yang berusia di atas 20 th. Imho

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^