Jumat, 19 Agustus 2016

Kisah Inspiratif - Dwi Titi Maesaroh, Mahasiswa Berprestasi Universitas Ahmad Dahlan

Dalam sebuah kesempatan, saya mendapat kehormatan untuk menuliskan kisah inspiratif mahasiswa berprestasi dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.  Saya masih mengingat dengan baik, betapa haru dan kagum menyelimuti diri, saat mencoba menuliskan jejak-jejak prestasi mereka. Prestasi yang mereka torehkan dengan kesungguhan dan menjadi persembahan terindah. Bukan hanya bagi diri dan keluarga, melainkan bagi bangsa dan negara.


Salah satu di antaranya,  Dwi Titi Maesaroh, sosok inspiratif yang berhasil memesona saya, hingga saat ini. Ya, hingga saat ini.

Kisah yang saya tuliskan ini hanyalah salah satu dari kumpulan kisah inspiratif lainnya yang terdapat dalam buku yang berjudul : CAHAYA PRESTASI.

Cahaya Prestasi,  Buku Yang Istimewa


Buku ini istimewa, menurut saya.
Ada beberapa alasan  mengapa saya menyebut buku ini istimewa.

Pertama

Menyajikan kisah inspiratif para mahasiswa yang berprestasi dengan gaya bahasa yang menarik, indah sekaligus menyentuh. Berbeda dengan gaya penulisan kisah inspiratif pada umumnya. Sebuah buku inspiratif dengan cita rasa fiksi.


Kedua

Membaca kisah-kisah perjuangan para mahasiswa ini, akan membuat kita belajar, bahwa hidup adalah perjuangan. Dan, tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Selain itu, membuat kita optimis akan masa depan ibu pertiwi. Karena, ternyata, masih negeri ini masih memiliki generasi yang luar biasa dan membanggakan.

Ketiga

Ditulis oleh penulis-penulis keren yang sering mewarnai media massa nasional dengan karya-karyanya. Beberapa di antaranya  bahkan pernah menjuarai ajang lomba-lomba memulis tingkat nasional.
Yap. Buku ini ditulis oleh penulis-penulis keren : Nurhayati Pujiastuti, Ruwi Meita, Yulina Triharningsih, Saptorini, dan saya sendiri :)
Selamat menikmati, semoga bermanfaat...

(Oya, bagi yang berminat membaca isi buku ini secara lengkap bisa memesan buku ini melalui penulisnya lho.... ^_^)



Kumpulan kisah inspiratif mahasiswa UAD yang menggetarkan jiwa




Menjemput Takdir di Tanah Papua

Kisah Dwi Titi Maesaroh


            “Saat pertama kali saya masuk universitas ini, saya tidak tahu, apa yang sebenarnya saya inginkan. Saya hanya ingin kuliah, lulus, mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji bagus. Menikah dan hidup bahagia selamanya. 

Namun kemudian, setelah begitu banyak pengalaman yang saya peroleh selama kuliah di universitas ini, saya mulai menyadari, bahwa hidup tidak sesederhana itu.  Hidup tidak cukup sekadar menjadi baik. Hidup menuntut kita untuk semakin baik, dan semakin baik terus-menerus. 


Life is also not merely about ourselves.

It’s not about how to get as much as possible

But, how to give as much as possible. 


Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri. Hidup bukan tentang bagaimana kita bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, bagaimana kita bisa memberi sebanyak-banyaknya.”
Aku diam sejenak, memberi jeda agar  pidato yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari, tidak hanya menjadi untaian  kata tanpa bekas, larut dalam eforia prosesi wisuda.
Aku sendiri tak menyangka, bahwa pada akhirnya, aku akan berdiri  di sini,  di hadapan para wisudawan –wisudawati, para orangtua, serta pejabat dan dosen universitas, untuk menyampaikan pidato sebagai wisudawati terbaik.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh hadirin yang memenuhi aula Universitas Ahmad Dahlan. Dan tatapankuku terpaku pada wajah teduh yang tengah menatapku dengan sorot bangga. Ayah. Kurasakan rasa haru yang berdesakan dalam dada.
*
Hari masih teramat gelap, saat ayah memboncengku dengan sepeda menuju mesjid. Masih kurasakan dinginnya hawa pedesaan menembus baju yang kukenakan sepanjang perjalanan yang sunyi itu. Sesekali aku akan memandang ke langit melihat taburan bintang di kejauhan, akankah kelak aku bisa meraihnya?
 Sesampainya di mesjid, aku akan duduk diam mendengarkan ayah mengaji. Lantunan ayat suci dari bibir ayah mengalun lembut melalui pengeras suara. Menyelusup lembut dalam hatiku, menimbulkan rasa tenteram dan damai. Suara ayah pula yang membangunkan setiap jiwa yang tengah tertidur untuk bangkit dan bergegas menghadap Sang Pencipta, hingga waktu shubuh tiba.  Ya, Ayahku adalah imam mesjid dan muadzin di desa kami. 
Ayahku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Beliau bahkan tak lulus SD,  hanya pernah ikut program kesetaraan. Namun, beliau sosok yang lembut dan guru yang mengajariku mengaji, sholat dan menanamkan pentingnya menjalani hidup sebagai sebaik-baiknya hamba di mata Allah Swt. Sedangkan ibuku, beliau adalah sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Ibu pula yang memberiku nama Dwi Titi Maesaroh. 
Sebuah nama yang beliau persiapkan jauh sebelum kelahiranku. Meski kala itu, belum ada fasilitas USG untuk memastikan jenis kelaminku. Bapak dan ibu baru mengetahui anaknya berjenis kelamin perempuan, setelah aku benar-benar lahir pada hari selasa kliwon jam 7 pagi di rumah,  tanpa bantuan bidan, di desa Kejobong, Purbalingga pada tanggal 17 Januari 1989.
.
                                                                    *
Tak ada yang paling kuinginkan dalam hidup, kecuali berhasil menjalani setiap fase kehidupanku dengan baik. Ada kalanya aku mengalami kegagalan, kekecewaan, dan terluka atas satu – dua peristiwa yang terjadi. Namun aku bersyukur telah menjalani fase kehidupan di universitas dengan baik, meski tak sempurna.
Kutatap haru piagam-piagam penghargaan yang kuperoleh. Termasuk penghargaan yang kudapat di negeri jiran,  sebagai pemakalah  dalam 1st International Conference di Universiti Sains Malaysia” tahun 2011.
Kenangan tentang Ames, menyeruak. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mencari jejak kota impian itu dalam hatiku. Ames merupakan kota yang sangat indah. Di sana tak ada gedung tinggi yang membuat kepalaku terlalu mendongak untuk melihat puncaknya. Tak ada jalanan macet yang membuatku sakit kepala. Pepohonan  dan rerumputan yang menghijau, rumah-rumah dan bangunan yang tertata rapi dengan aksitertur yang khas. Pemandangan siang dengan langit biru tersaput awan, dan malam bertabur bintang. Kenangan yang terhimpun selama memperoleh  beasiswa IELSP Cohort 9 Kementerian Dalam Negeri AS  dan belajar bahasa Inggris selama 8 minggu di Iowa  State University di tahun 2011. 
Aku pun tak henti-hentinya bersyukur atas kesempatan mengikuti seleksi mawapres mewakili kampus, aku menduduki peringkat 8  dalam 16 besar finalis mawapres nasional 2011, sebuah ajang puncak bagi seluruh mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia. Satu kesempatan yang hanya bisa kuperoleh karena kebesaran Allah Swt semata, karena aku sadar, aku bukanlah mahasiswa terbaik UAD, apalagi mahasiswa terbaik di Indonesia.
Ingatanku melayang ke masa lalu. Pada rumah sederhana kami yang berlantai tanah. Ujar mbok yang merawatku dulu, aku menjadi gadis yang pintar dan berprestasi, karena ketika bayi, kepalaku kerap terbentur tanah. Entahlah.
Juga pada saat belajar dengan menggunakan sentir. Lampu minyak tanah. Asapnya membumbung menghitamkan dinding dan langit-langit rumah. Bila terlalu lama belajar, hidungku pun menjadi hitam karena jelaganya. 
Aku pun teringat akan ayahku. He is strong man.  Ia yang sanggup mengangkut dua ember besar dari sumber air untuk mengisi tempayan di rumah kami. Ia akan berjalan terus tanpa henti di jalan yang terus mendaki sepanjang 800 meter. Ia pun terus berjalan meski harus melewati jurang kecil yang dihubungkan oleh jembatan bambu kecil. 
Aku mencoba seperti ayah. Membawa air dengan ember ternyata tak semudah yang terlihat olehku. Terutama di musim penghujan. Kerap aku terpeleset dan air yang kubawa malah mengguyur tubuhku. Tapi aku tak pernah menyerah. Aku ingin menyerah. Bila tubuh kecilku tak sanggup membawa seember penuh air, aku akan menguranginya hingga batas yang sanggup ditanggung tubuhku.
Begitu pula dengan kegelisahan yang terus mengusikku. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Rasa gelisahku sedikit terobati ketika aku merintis rumah baca “Meretas Ruku”. Melintas Batas Ruang dan Waktu. Menanamkan budaya baca, terutama pada anak-anak dan remaja. Aku ingin rumah baca ini menjadi sumber  inspirasi dan motivasi bagi masyarakat yang kurang beruntung, agar bisa maju dan berkembang. 
Aku sungguh beruntung mendapat beasiswa penuh dari PT International Test Center untuk melanjutkan pendidikanku di Universitas Ahmad Dahlan, dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, bidang studi yang memang kuminati sejak lama. Aku ingin, jauh lebih banyak lagi anak-anak yang bisa mengenyam pendidikan yang tinggi.

*
“.... namun, pendidikan bukanlah apa yang kita siapkan untuk hidup. Karena pendidikan sejatinya adalah hidup itu sendiri. 


Don’t let our fear for failur avoids us to do what we love and achieve what we dream.

Jangan biarkan rasa takut akan kegagalan mencegah kita melakukan apa yang kita cintai, dan mencapai apa yang kita impikan. Yakinlah, bahwa Allah Swt akan selalu membersamai langkah kita dalam kebaikan.
Listen to your heart, your intuition, and Allah’s guidance.”
Tepuk tangan membahana sesaat setelah kuakhiri pidatoku di hadapan audiens. Kurasakan dadaku bergetar, bukan oleh gemuruh tepuk tangan atau keharuan yang memenuhi ruang aula. Melainkan oleh kesadaran yang kian menghunjam dalam dadaku.
*
Dingin udara Guangxi menyentuh kulitku. Mempelajari bahasa Mandarin di tempat asalnya,  jauh dari tanah air, jauh dari orang-orang terkasih bukanlah perkara mudah untukku. Namun aku akan menyelesaikannya demi memenuhi keinginan orangtuaku. Setahun lamanya aku berada di China. Melanjutkan pendidikan seperti yang ditawarkan oleh almamaterku. Dua tahun berikutnya kulalui dengan mengajar mahasiswa di almamater.
Hingga tibalah masanya menunaikan sebuah janji pada negeri yang kucintai tanpa syarat.  
 Kakiku melangkah mengikuti jalanan yang bergelombang. Naik dan turun. Kuhikmati hawa panas yang mengepungku. Fakfak  memiliki langit cemerlang dan lautan membiru seluas mata memandang.
Di depan bangunan sekolah Islam Terpadu tempatku mengajar, bocah-bocah berkulit gelap maupun terang berlarian menyongsong kedatanganku.
“Ustadzah ...!”
Suara mereka menyejukkan hatiku. Aku tahu, takdir membawaku untuk mengabdi di tanah Papua.
Liza Permasih











8 komentar:

  1. Yogyakarta memang menyimpan banyak mutiara manusia2 inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Ardiba. Dan keberadaan mereka membuat kita optimis ya akan masa depan negeri ini.
      Makasih sudah mampir ^_^

      Hapus
  2. Jd kepengen punya bukunya, siapa tau terinspirsi :D
    TFS Mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, pesen Mbak Apriiiiiil.... hehehe

      Hapus
  3. dari anak ndeso jadi melangkah ke dunia internasional ya mbak.

    dari kisah-kisah inspiratif seperti ini selalu tertangkap pesan bahwa orang tua, khususnya ibu, lah yang membentuk kita hari ini. doa-doanya selalu 'jadi'.

    masya Alloh. UAD, dulu pas kerja di advertising UAD ini salah satu klien tetap. sering bgt ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Diah... peran ibu memang penting banget ya bagi pembentukan kepribadian anak di masa depan.

      Hapus
  4. Selalu terharu dan merinding baca kisah ini :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Yuliiiiiiin...
      Aku pun masih terkagum-kagum sama Dwi Titi ini.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^