Jumat, 26 Agustus 2016

Ken Arok & Ken Dedes, Novel Epik Gamal Komandoko Menyingkap Sejarah Raja-Raja Tanah Jawa


Novel epik Gamal Komandoko Menyingkap Sejarah Raja-Raja Tanah jawa


Siapa yang tak mengenal Ken Arok dan Ken Dedes, pasangan fenomenal dalam sejarah raja-raja tanah Jawa? Ya, meski hanya sebatas mengenal nama, dan sejumlah mitos yang melekat,  Ken Arok dan Ken Dedes bukanlah sosok manusia asing bagi penyuka epik sejarah tanah air.

Ken Arok- Ken Dedes : Antara Mitos, Kekuasaan dan Kutukan


Ken Arok hanyalah pemuda desa, perampok,  yang berambisi menjadi raja. Suatu ketika ia melihat keistimewaan yang dimiliki Ken Dedes, yang terletak pada betis indahnya. Konon, siapa saja yang berhasil memiliki permaisuri Tunggul Ametung itu, ia akan menjadi penguasa. Menjadi raja, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi.

 Lalu, dengan sepenuh tekad Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, dengan menggunakan keris Empu Gandring.  Keris yang diperoleh Ken Arok dengan membunuh Sang Empu, gurunya sendiri,  dan diikuti sebuah kutukan.

Ken Arok berhasil menikahi Ken Dedes. Dan dikisahkan, sesuai mitos, Ken Arok berhasil menjadi raja besar di Tanah Jawa. Kelak, kutukan Empu Gandring-lah yang mengakhiri kekuasaan Ken Arok, sang pendiri Wangsa Rajasa.

Hanya secuil kisah itulah yang saya tahu. Meski terbesit rasa kagum akan kegigihan Ken Arok dalam mewujudkan cita-cita menuju tampuk kekuasaan tertinggi, namun saya tak memiliki kesan istimewa akan sosoknya yang perkasa. Bagi saya, Ken Arok hanyalah seorang oportunis. Yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.

Sedang Ken Dedes, perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa dan keistimewaan terletak pada betis indahnya. Kekaguman seperti apa yang bisa saya sematkan untuk seorang istri yang rela menikah dengan pembunuh suaminya sendiri? Suami yang memberinya tempat istimewa sebagai seorang permaisuri, dan ayah dari anak kandungnya?

 Sepanjang ingatan, tak pernah saya mengagumi sosok Ken Dedes. Mungkin hanya ada rasa 'sedikit' iri akan kecantikan dan keindahan betisnya yang istimewa. Betis yang mewakili keindahan seorang perempuan. Dan ajaibnya, takdir menyebutnya sebagai jalan menuju kekuasaan.

Hanya sebatas itulah saya mengenal sejarah pasangan fenomenal itu. Sejarah yang muram dan buram. Diwarnai ambisi, darah, dan perebutan kekuasaan yang melelahkan. Meski Wangsa Rajasa berhasil menghancurkan kekuasaan Wangsa Isyana. Mengakhiri trah Empu Sendok dengan jatuhnya pemerintahan Sri Kretajaya. Tak ada getar rasa kagum pada Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi, Ken Arok, yang perkasa.

 Jauh di dalam benak saya, begitu banyak tanda tanya yang mengendap.

Novel Epik Gamal Komandoko Menyingkap Fakta Sejarah Raja-Raja Tanah Jawa

 

Lalu, sebuah novel sejarah tanpa diduga berada di tangan saya. Novel yang berhasil menyihir saya sejak membaca bagian prakata! Sebuah novel yang terinpirasi oleh sejarah. Novel yang tidak bisa ditulis dengan gegabah, melainkan melalui riset mendalam. Dan itulah yang telah dilakukan oleh penulis novel yang ---menurut saya--- keren banget ini.

Membaca novel ini, seperti menyusuri lorong-lorong sejarah. Belajar memisahkan mana mitos, mana fakta dan mana imaji penulis. Pelahan saya mulai memahami alur sejarah, memahami hubungan sebab akibat dalam peristiwa-peristiwa yang berkelindan di antara dinasti-dinasti penguasa tanah Jawa.

Pilihan-pilihan kata yang cermat, membuat  Ken Arok & Ken Dedes  tidak hanya bercerita tentang pertumpahan darah menuju singgasana. Namun juga  mengangkat sisi-sisi romantisme para tokoh kunci. Dan tentu saja, menyingkap fakta-fakta sejarah yang tak pernah dimuat dalam buku-buku sejarah di bangku-bangku sekolah.

Meski bergenre  fiksi, novel sejarah ini ditulis dengan penuh kesungguhan. Penulisnya --salah satu penulis yang saya kagumi dan menjadi salah satu guru menulis saya-- Mas Gamal Komandoko, sangat serius membangun karakter tokoh-tokoh yang menjadi simpul-simpul penting dalam sejarah bangsa ini.

Dan, ya, saya selalu percaya, bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan. Selalu ada sebab dan akibat serta alasan-alasan yang bisa dijelaskan dan diterima akal. Kecuali tentu, hal-hal yang berada di luar kesanggupan kita untuk memahaminya. Entah karena kebodohan, atau karena keterbatasan kita sebagai manusia. Akan tetapi pasti, hal itu bukanlah suatu kebetulan.


Karena itu tidak aneh, bila selama ini saya tidak bisa memahami, mengapa seorang pemuda badung dan perampok bisa menjadi raja besar yang namanya terus bergaung di lorong-lorong waktu? Saya tidak bisa memahami, mengapa seorang oportunis bisa mengubah sejarah dengan begitu heroik?

Seperti saya juga tidak bisa memahami mengapa seorang istri, kok mau-maunya, menikah dengan pembunuh suaminya? Apakah seorang Ken Dedes sebegitu lemahnya hingga pasrah pada keinginan Ken Arok? Terlalu absurd untuk dipahami. Betapa saya gagal paham setiap kali mencoba membaca sejarah ini.

Ken Arok Bukan Seorang Oportunis


Menurut saya, seorang oportunis tidak akan pernah menjadi seorang pemimpin. Mungkin takdir bisa menasbihkannya menjadi seorang penguasa. Namun, ia tidak akan pernah menjadi pemimpin. Karena pemimpin itu bukan hanya persoalan kesempatan dan ambisi. Melainkan akumulasi dari karakter yang kuat, teguh pendirian, kecerdasan, kemahiran dalam mengatur strategi dan keterampilan serta itikad baik untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan kehidupan.

Maka membaca novel ini membuat saya seolah-olah menemukan potongan-potongan puzzle yang selama ini tersembunyi. Fakta-fakta sejarah diungkapkan dengan detil. Sepotong demi sepotong hingga membentuk gambaran yang semakin lama semakin jelas dan benderang. Tidaklah heran bila pada akhirnya membuat saya terpana,  lalu terpesona.

Sosok Ken Arok terbentuk dengan karakter yang demikian kuat membuat saya jatuh cinta. Ia bukan lagi pemuda nakal yang secara kurang ajar melihat betis Ken Dedes yang cemerlang. Ia bukan seorang durjana yang membunuh Sang Empu dengan semena-mena lalu menghabisi Tunggul Ametung untuk mempersunting jandanya.

Ia adalah seorang  manusia yang terlahir dengan takdir menjadi pemimpin. Seorang pemimpin besar yang tak mudah disingkirkan. Bukan karena kesaktiannya tak terukur, namun karena kecintaan rakyat terhadapnya. Seorang pemimpin sejati yang dididik melalui tangan-tangan kaum bijak bestari.

Novel ini juga menyingkirkan gagal paham saya terhadap Ken Dedes. Hilang sudah gambaran perempuan lemah dan naif dalam benak saya. Berganti dengan sebuah pengertian dan rasa lega yang mendalam. Bahwa Ken Dedes, yang ditakdirkan menjadi pendamping raja-raja dan ibu para raja-raja bukanlah jenis perempuan sembarangan. Ia tidak hanya sekadar figuran dalam sejarah. Namun, memegang kunci sejarah dengan karakternya yang tak tercela.

Begitu pula dengan karakter-karakter lain dalam novel ini. Karakter-karakter unik yang  dilukis dengan sangat tajam oleh penulis. Sehingga memberikan gambaran utuh wajah sejarah kerajaan-kerajaan besar di masa lalu.

Sejarah yang jejaknya masih bisa kita sentuh lewat berbagai situs peninggalan. Menghidu aromanya yang tersisa dan mengendap dalam laku dan lakon. Sejarah yang menitis sepanjang waktu melalui kisah-kisah penuh imaji.

Ah, ya, terima kasih, Mas Gamal atas buah karya ---yang tidak hanya indah namun juga-- memukau ini. Sebuah novel yang mencerahkan dan berhasil menjawab berbagai pertanyaan yang mengendap dalam benak saya selama berpuluhan tahun. Ini sungguh melegakan.

Saya menunggu lahirnya novel epik keren lain dari Mas Gamal, novel  yang menginspirasi generasi penerus bangsa ini. Hingga kebanggaan akan khazanah budaya leluhur tidak sirna di terjang arus globalisasi. Melainkan terus digenggam dan menjadi kekayaan diri yang terus dipertahankan.

Terima kasih juga untuk Sahabat Moma yang telah membaca tulisan ini hingga selesai. Semoga tulisan ini menjalin silaturahmi di antara kita. ^^




6 komentar:

  1. Kayanya ini kalo di film kan keren bgt ya mba.. tulisan sepanjang ini sy betah aja mbaca nya sampe akhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, kalo difilmkan pasti cakep nih.
      Tapi baca bukunya juga keren banget... Betul-betul mencerahkan!

      Hapus
  2. wahhh...nggak ada bocorannya blas :-D

    kesan saya kalo dengar ken arok ken dedes itu kok kurang sedap ya. mungkin saya juga harus baca novel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... ini review, bukan resensi.

      Harus banget baca novelnya. Kereen... gak bakal nyesel!

      Hapus
  3. Terima kasih revienya mbak. Ini termasuk novel yang diangkat dari kisah Sejarah ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ini novel sejarah. Keren bangeeeetttt...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^