Rabu, 24 Agustus 2016

5 Penyebab dan Tips Mengatasi Gagal Paham Antara Suami-Istri


Gagal paham seringkali menjadi sumber perselisihan dalam rumah tangga


Pernah mengalami gagal paham terhadap pasangan hidup? Oh, seriiiing. Entah berapa ribu kali gagal paham ini terjadi sepanjang 19 tahun lebih usia pernikahan kami. Hal mana yang selalu membuat saya takjub setiap kali berhasil melewati tahun demi tahun bersamanya.

 Bukan kejadian luar biasa, sebetulnya. Karena tidak ada pernikahan yang bebas dari gagal paham dan bebas dari perselisihan. Justru di situlah letak seninya berumah tangga. Tidak melulu berisi romantisme, tapi juga gejolak emosi dan pertengkaran.

Mungkin benar, bila anggapan menyatukan dua hati itu lebih mudah daripada menyatukan dua isi kepala. Penyatuan dua hati memudahkan kita memutuskan untuk menikah. Namun, menyatukan dua isi kepala ternyata membutuhkan perjuangan panjang. Membutuhkan kerja keras yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Bila sebelum menikah, kita beranggapan alangkah indahnya menjadi bagian hidup dari orang yang kita cintai. Kita lebih banyak membayangkan keindahan pernikahan dari hal-hal yang sering kita lihat atau amati dari luar. Kita tidak pernah tahu, berapa besar perjuangan atau pengorbanan setiap pasangan untuk menampilkan dan mewujudkan keluarga harmonis. Seberapa keras usaha yang dibutuhkan untuk mengatasi gagal paham yang kerap melanda.

5 Penyebab Gagal Paham Antara Suami-Istri


Berdasarkan pengalaman saya, beberapa hal berikut bisa menjadi penyebab timbulnya gagal paham antara suami dan istri. Saya sengaja tidak memasukkan perbedaan keyakinan (aqidah). Karena, ketika memutuskan untuk menikah, keyakinan dan kesamaan visi menjadi salah satu landasan pernikahan kami.

1. Perbedaan usia

Beda usia seringkali menyebabkan gagal paham antara suami istri. Semakin jauh jaraknya, semakin besar peluang gagal paham yang terjadi. Lebih-lebih bila perbedaan usia ini juga diikuti dengan ketidakdewasaan sikap.

2. Latar pendidikan dan sosial budaya

Nah, perbedaan latar belakang pendidikan dan sosial budaya ini yang seringkali saya alami bersama pasangan. Terutama 5 tahun pertama pernikahan.  Dia,  lulusan tehnik dari institut ternama, dari suku Jawa yang halus dan lain sebagainya. Sedangkan saya dari jurusan sosial, suku campuran, dan lain sebagainya.  Gagal paham karena perbedaan ini nyaris menjadi menu harian dalam keluarga kami. Ada bagian lucunya, banyak sewotnya. :D

3. Kepribadian

Beda orang, beda pula kepribadian. Saya yang terbiasa ceplas-ceplos, emosional dan nyaris tidak memiliki rencana apapun,  ternyata  memiliki suami yang kalem, serba terencana, serba dipikirkan ....dan pendiam. Bayangkan, betapa saya dan suami jungkir balik mengalami gagal paham karena hal semacam ini.

4. Kebiasaan dan Hobi

Saya suka baca. Suami juga suka baca dan belajar.  Tapi, bacaan yang saya suka sejenis fiksi dan aneka roman. Sedangkan suami lebih suka jenis bacaan berat. Entah itu kitab-kitab agama, bahasa asing, atau pengetahuan tentang teknologi terbaru (yang menurut saya hanya bikin pusing :) ).

Belum lagi kebiasaan sehari-hari yang berbeda. Yang membuat kami kerap merasa lelah dan frustasi ketika ingin mengubah kebiasaan itu.

5. Cara mendidik anak

Ya. Sebagai ibu, saya seringkali gagal paham dengan cara suami dalam hal mendidik anak. Begitu pun suami. Perbedaan cara orangtua kita mendidik kita, mempengaruhi cara kita mendidik anak-anak. Semula, saya sedih bukan kepalang melihat ketegasan dan cara suami bersikap terhadap anak-anak.

Sebagai ibu, saya merasa, yang berhak memarahi dan menghukum anak hanyalah ibu. Padahal, selain memenuhi kebutuhan secara materi, seorang ayah juga harus mengajari anak-anaknya. Termasuk menghukum si anak bila dianggap bersalah. Nah, di situlah gagal paham yang sering saya alami.

Tips Mengatasi Gagal Paham

Sahabat Moma, saya akui, dengan perbedaan-perbedaan di atas, pernikahan terkadang membuat saya mengalami jetlag. Terkadang membuat saya seakan berada di taman surga, merasakan semilir angin yang membuai. Namun terkadang membuat saya seakan terhempas di batu cadas. Atau berada dalam amukan badai. Tawa dan airmata mewarnai pernikahan kami. Tapi, ya seperti itulah sebuah pernikahan. Dan saya bersyukur telah melewatinya sejauh ini. Alhamdulillah.

Bagaimana cara mempertahankan pernikahan?


1. Legowo

Legowo atau lapang dada. Ini harga mutlak untuk mengatasi gagal paham. Lapang dadalah menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangan. Seperti dirinya, kita pun memiliki banyak kekurangan.... juga kelebihan (jangan abaikan ini. Menganggap diri kita tidak memiliki kelebihan sama artinya tidak bersyukur dan menjerumuskan diri ke lembah kehancuran). Begitu pun sebaliknya.

Dengan sikap legowo ini, hal-hal yang semula tampak menyebalkan bisa berubah menjadi lucu. Bisa meringankan beban pikiran. Toh, tidak ada satu pun manusia yang sempurna di atas muka bumi, kecuali para nabi.
Bila suami memiliki kekurangan, itu artinya, kita punya kesempatan untuk melengkapi kekurangan tersebut. Sementara kelebihan suami,seringkali menjadi rezeki yang menyenangkan untuk kita.

2. Meminta maaf

Perlukah meminta maaf sementara kita merasa tidak bersalah? Ya. Perlu. Meski terkesan klise, tapi efektif untuk mencairkan kondisi tegang yang tercipta akibat gagal paham. Dengan meminta maaf, biasanya persoalan yang semula tidak kita mengerti akan terbuka. Dan pelahan, kita akan belajar memahami  jalan pikiran suami.

3. Mencoba memahami perasaan pasangan

Berempati atau mencoba memahami perasaan pasangan akan membuat kita mengerti sebab-sebab gagal pahamyang terjadi. Misal saat kita ingin diperlakukan istimewa di hari istimewa, ternyata pasangan bersikap dingin, mungkin saja hal itu karena pasangan sedang ada masalah di luar. Atau, mungkin ia memang tidak terbiasa merayakan hari-hari yang menurut kita istimewa.

4. Berikan sentuhan

Komunikasi macet, gunakan jurus sentuhan. Oh, ini sangat manjur, Mom. Jauh lebih manjur daripada seribu kalimat yang kita lontarkan.  Sentuhan ini akan membuat simpul-simpul saraf yang semula tegang menjadi kendur. Maksimalkan sentuhan di saat hati sedang panas dan kesal melanda. Temukan lagi indahnya pernikahan lewat sentuhan lembut dan mesra. Yakin deh, gagal pahamlewat.


5. Tepikan ego dan utamakan anak

Tidak bisa dipungkiri, anak memang selalu menjadi alasan untuk menyatukan dua hati dan kepala yang tengah kalut. Mengutamakan anak akan membuat kita menepikan ego. Jangan jadikan anak sebagai korban dari ego kita yang tak terkendali.

6. Bangun kepercayaan dan rasa cinta terus-menerus

Ini tentu tidak mudah. Rasa bosan, rasa lelah  yang kita rasakan serta kekurangan pasangan yang semakin hari tampak semakin banyak, seringkali meruntuhkan kepercayaan dan menghanguskan rasa cinta. Namun, percayalah, cinta itu bisa diperbaharui. Mungkin kadar cinta kita akan berubah dari waktu ke waktu, tetapi kita harus berupaya untuk terus membangunnya dalam hati.

Mengapa? karena perasaan cinta ini akan menjadi energi yang luar biasa dalam menghadapi persoalan dalam rumah tangga. Termasuk mengatasi gagal paham ini. Dan, jangan salah, meski belasan tahun menikah, itu bukan berarti gagal paham menghilang begitu saja. Namun, rasa cinta akan membuat kita kuat dan terus bertahan.

Nah, Sahabat Moma, semoga pengalaman saya dalam mengatasi gagal paham dalam rumah tangga bermanfaat. Oya, ingin mengetahui gagal paham lainnya? Coba deh baca tulisan Ade Delina Putri yang membahas gagal paham yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari di sini


Baca juga :
Quality Time Bersama Pasangan : 5 Tips Sederhana Merawat Pernikahan















18 komentar:

  1. Yuhhu keren. Dan aku jadi terinspirasi lagi nih :D memang. Banyak gagal paham terjadi sebetulnya dekat dengan kita. Selain dari diri sendiri juga dari pasangan kita :)) Tipsnya oke banget nih. Makasih ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masama Mak Ade. Gagal paham emang sesuatu banget ya....

      Hapus
  2. jadi hal utama untuk mengatasi gagal paham itu lapang dada ya mba dan jangan saling egois :) wah artikel ini bisa jadi pedoman nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau gak mau ya begitu deh kalo ingin pernikahan awet dan harmonis. Makasih sudah mampir yaa

      Hapus
  3. Wah bisa buat belajar ini mbak :) Kami baru 2 tahun menikah,beda budaya dan bahasa. Haha kadang gak nyambung, kalau saya sebel saya menggerutu pake bahasa Jawa dulu, diam, lalu menjelaskan dengan bahasa yang kami berdua mengerti. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... usia pernikahan 2 tahun itu seruuuu... Dinikmati aja ya. Percayalah, tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi, meski tak sempurna pernikahan itu layak dipertahankan.

      Hapus
  4. Intinya harus ada yg ngalah, jadikan suami sebagai teman/partner hidup ..hehe

    salam kenal ya mba
    vivitvinifera.blogspot.com

    BalasHapus
  5. semoga bisa saling mengerti suami dan istri bareng2 aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga tetap langgeng dan bahagia ya

      Hapus
  6. tfs mbak. tipsnya kece.

    kl saya sentuhan saat suasana hati sedang ga panas biasanya malahan. hehe... kl lagi panas biasanya masing-masing menyepi dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak papa nyepi dulu. Asal jangan kelamaan. Tapi sentuhan itu efeknya lebih cepat lho.

      Hapus
  7. Aiiiih perasaan saya lagi ada di rumah mbak Liza, entah sepertinya jadi Zidna kali yaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha... ada-ada aja Teh Lia mah. Nuhun yaaa udah mau baca

      Hapus
  8. Nah legowo itu tuh mba...yg agak2 susah apalagi klo berulang2 gagal pahamnya haha...
    Btw nice share mba...
    Semuanya bener...tinggal praktikinnya nih

    BalasHapus
  9. setiap manusia memang berbeda, dan alangkah bijaksananya jika kita bisa saling mengisi perbedaan tsb, apalagi thdp pasangan hidup. makasih sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mba Santi.
      Ya, nggak ada manusia yang sempurna. Saling mengisi dengan pasangan justru salah satu upaya menyempurnakan diri.
      Terima kasih juga sudah mampir

      Hapus
  10. terima kasih tipsnya ya mba. aku juga merasakan belasan tahun menikah dengan suami, terkadang masih ada saja gagal paham antara kami berdua hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak usah sedih Mba Yuniiii.... yang puluhan tahun nikah aja sring gagal paham kok. hehehe. Apalagi kita yang baru belasan tahun.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^