Jumat, 24 Juni 2016

Melatih Anak Mandiri Pada Usia Dini Bisa Meningkatkan AQ Anak

Melatih anak mandiri sejak usia dini merupakan bekal berharga bagi perkembangan anak kelak.


Melatih anak mandiri sejak dini bukanlah persoalan mudah. Hal-hal yang terlihat sepele seringkali membuat kita begitu ringan tangan membantu anak. Ya, membantu anak melakukan segala hal jauh lebih mudah daripada membiarkannya melakukan seorang diri.

Ada banyak alasan yang membuat kita begitu ringan membantu anak. Entah karena terlalu sayang, entah karena tak tahan mendengar suara rengekan, atau... ingin cepat beres. Ya semua bisa menjadi alasan untuk bersegera membantu anak mengatasi masalahnya. 

Suatu hari anak kelima saya yang masih berusia 5 tahun, meminta izin untuk membersihkan  aquarium kecil miliknya. Dalam hati, saya merasa keberatan. Karena aquarium itu memiliki satu sisi atas yang tajam akibat pernah terjatuh. Saya takut ia akan terluka terkena ujung yang tajam itu.

 Alangkah mudah menyuruh salah seorang kakaknya datang membantu. Seperti yang seringkali saya lakukan sebelum ini. Akan tetapi saya sadar, ia harus belajar mengatasi masalah yang dihadapinya.

Alih-alih membantu,  saya  hanya memberi nasihat agar ia berhati-hati dan melakukan sesuai arahan yang saya berikan. Di luar dugaan, ia melakukannya dengan baik. Yang menggembirakan, ternyata hal ini membuat ia sangat bangga terhadap dirinya. Ia bangga telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia merasa berharga.

Good job, Mom...
Good job, Kid! 

Jauh sebelum itu...


Ketika anak saya masih satu dan dua, saya cukup tegas menanamkan sikap mandiri ini. Terkadang  kuping terasa gatal juga ketika tetangga mengomentari cara saya melatih anak mandiri sejak dini. Mungkin bagi mereka saya tergolong ibu yang tegaan. 

"Wah, kalo saya sih nggak tega, Bu, nyuruh anak beresin mainan sendiri,"  ujar seorang tetangga saat melihat Si Sulung mengembalikan mainan ke tempatnya. "Pasti saya langsung beresin sendiri," lanjutnya lagi.

Ya, mungkin saya memang tergolong ibu yang tega pada masa itu.
Tega menyuruh anak-anak balitanya merapikan mainan sendiri. Tega menyuruh anak balitanya berusaha mandiri ketika makan serta mengambil minum sendiri saat mereka haus.

Tak ada yang dipaksakan, semua berlangsung begitu saja.
Sebagai IRT tanpa asisten, kondisi mengharuskan saya bersikap lebih tega pada kedua anak terbesar
agar bisa fokus mengurus anak ketiga yang sakit-sakitan.

Sikap tega ini mulai mengalami penurunan seiring bertambahnya jumlah anak. Entah karena usia yang terus bertambah, sehingga membuat urat leher menjadi lebih panjang. Entah karena jatuh kasihan pada anak. Saya pun berubah menjadi seorang ibu yang lebih penyabar.

Perubahan sikap ini ternyata berdampak pada pola asuh pada anak-anak yang lahir berikutnya. Mereka cenderung tidak mandiri dan mudah mengandalkan bantuan dari orang lain. Baik orangtua, maupun kakak-kakaknya.

Hingga suatu kali, saya mendapatkan sebuah artikel tentang bahaya membiarkan anak tumbuh tanpa kemampuan menangani stres. Menurut Elly Risman, kemampuan menangani stres, menyelesaikan masalah dan mencari solusi merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki setiap anak.

Keterampilan ini tidak tumbuh begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang dijalani setiap anak dalam kehidupannya.

Dari mengatasi hal-hal sepele semisal : mengancingkan baju, memakai dan melepas sepatu, membuka kemasan makanan dan lain sebagainya.

Melatih Anak Mandiri Meningkatkan AQ Anak


Sahabat Moma, ketika kita melatih anak mandiri sejak dini, sesungguhnya kita telah melatih anak untuk mengatasi persoalan yang tengah dihadapinya.Terlihat sepele, namun merupakan titik penting  dalam kehidupan anak hingga puluhan tahun ke depan.

Melatih anak mandiri akan meningkatkan kecerdasan AQ anak.
Apa itu AQ atau Adversity Quotient ?
 Adversity Quotient (AQ), menurut Paul G. Stoltz, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dihadapi.

Kita tentu tahu, kesulitan dan masalah adalah suatu hal yang pasti dihadapi oleh siapa pun. Termasuk anak-anak kita. Melatih mereka mandiri sejak dini akan membuat mereka terbiasa menghadapi persoalan dalam hidup dan memecahkan masalah.

Cara melatih kemandirian ini tidaklah sulit, Mom. Kita dapat melatihnya dengan melakukan hal-hal sederhana yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, ketika kita meminta anak memakai baju sendiri, anak akan belajar bagaimana cara mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Ia akan menghadapi  kesulitan saat memasukkan kepala ke lubang baju. Dalam proses ini, tak jarang ia akan mengalami rasa frustasi, rasa lelah dan rasa tak nyaman.

Alangkah mudah bagi kita untuk langsung membantunya begitu saja. Semua akan lancar, dan tanpa masalah. Sayangnya hal itu berdampak buruk pada anak. Karena  pada saat yang sama, kita telah membunuh daya tahan anak terhadap tekanan yang dihadapinya. Ia akan segera tumbuh menjadi anak yang ringkih. Anak yang tidak resilient . Baca juga :5 Tips Melatih Anak Mengatasi Rasa Kecewa

Dalam proses melatih anak mandiri sejak dini, tidak selamanya berlangsung mulus dan baik-baik saja. Ada turun naik dan upaya tarik ulur. Di samping harus memiliki rasa tega, kita juga dituntut untuk memiliki kepekaan dalam menilai kesiapan anak.

Perbedaaan kondisi anak dan keunikan anak membuat kita tidak bisa memukul rata pada usia berapa sikap mandiri ini harus dimiliki seorang anak. Setiap anak memiliki titik kesiapan yang berbeda. Namun, tentu kita bisa mencari celah untuk melatih Si Kecil. Percayalah....

Semoga bermanfaat...







10 komentar:

  1. Saya juga sama mba, anak saya 2y10m sudah saya minta membereskan mainan sendiri, apabila ia menumpahkan sesuatu saya minta ia mengelap sendiri tujuan saya simpel agar selain anak belajar mandiri juga menurut pendapat psikolog anak yang terbiasa membereskan mainan dsb akan terlatih agar mampu menempatkan masalah. Walau kadang mesti ada drama tangis dan air mata ketika meminta anak untuk beresin hehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Herva, kalo cuma mikir pingin cepet beres dan praktis, sebetulnya lebih mudah membereskan sendiri yaa...
      Tapi kan anak juga perlu dibiasakan dan dilatih.
      Btw, terima kasih atas kunjungannya.

      Hapus
  2. Xixixi harus jadi si raja tega..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa boleh buat. Hiks.
      Trims tuk kunjungannya yaaa

      Hapus
  3. Xixixi harus jadi si raja tega..

    BalasHapus
  4. Menanamnkan jiwa rasa tanggung jawab pada anak, bukan asal tega-tega aja.
    Karena kadang, seorang kakak, juga jadi panutan untuk adiknya..
    CMIIW :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Khoir, maksudnya seperti itu sih.. :)

      Hapus
  5. *buat bekal kalau punya anak nanti* Hihi

    BalasHapus
  6. kalau pakai baju insyaallah anak sy udh mau dan bisa mb, tapiii kalau dsruh beresin mainan.itu lhoo..omaigatt pake drama dlu, kalo moodx.lg bagus dy mau tp harus saya bantuin katax, kalau udh capek yawes blas g mw and nangis aj kl dsruh.hadeh

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^