Minggu, 03 April 2016

3 Tips Menjaga Keikhlasan dan Sebutir Telur


Belajar keikhlasan dari nenek penjual telur asin
Menyelami makna keikhlasan terkadang mampu membuat kita tercenung. Bahkan menjungkir-balik segala hal seperti yang kita pikirkan. Hal ini juga yang kerap membuka mataku tentang kehidupan. mengajari betapa hidup ini menuntut kita terus belajar, bahkan pada mereka yang "tak beruntung". Bagaimana menjaga keikhlasan hati?



Saya punya pengalaman menarik, tentang makna keikhlasan ini.

 Jadi, ceritanya, di perumahan saya, ada seorang nenek penjual telur asin. Ia setiap kali lewat rumah, ia selalu menawari kami telur. Dan hampir selalu, kami membelinya.

Sekali waktu...

Nenek  penjual telur asin itu mengacungkan sebuah telur lagi pada suamiku, yang kebetulan keluar untuk menemuinya.
"Ini buat tambahannya...."
"Eh, jangan, Bu. Nanti nggak dapat untung."
"Enggak, apa-apa. Ada kok untungnya."
Lalu, dengan terheran-heran suamiku,  membawa masuk telur-telur asin itu.

Ini kali kedua, nenek penjual telur asin itu menghadiahkan telur tambahan pada kami. Dan bersikukuh tidak mau ditolak. Padahal kami tahu, untung berjualan telur asin itu tidaklah seberapa. Dari 3 butir telur yang dijualnya, ia hanya mendapat laba 1000 rupiah. Itu pun harus dibagi dua dengan pemilik modal. Laba bersihnya hanya 500 rupiah!

Artinya nenek itu harus menjual 21 butir telur untuk menutupi sebutir telur yang ia beri sebagai tambahan. Akan tetapi, mungkin saja nenek itu punya hitungan matematis yang lain. Entahlah...
Mungkin saja sebutir telur yang ia ikhlaskan akan mendatangkan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

*
Pada waktu yang lain...

Seorang laki-laki paruh baya yang sehat datang mengemis. Ia meminta keikhlasan pemilik rumah. Saat itu yang membuka pintu adalah anak laki-lakiku. Iba melihat sorot mata si bapak pengemis, anakku lalu merogoh sakunya. Dengan setulus hati, ia menyerahkan sisa uang jajannya hari itu. Hanya ada 500 rupiah di kantongnya.

Si bapak pengemis bergeming. Sambil tetap mengulurkan tangan, mulutnya berulangkali mengucapkan kata, "seikhlasnya, Den..."
Anakku terdiam. Ia merasa sudah sangat ikhlas memberikan uang itu. Ia tidak tega  masuk ke dalam rumah dan membangunkan ibunya yang sedang istirahat.

"Seikhlasnya..." kali ini nada suara bapak pengemis itu sudah agak memaksa. Dengan perasaan tak nyaman serta bingung anakku hanya bisa berkata : "maaf."
Ia masih mendengar gerutuan si pengemis saat beranjak meninggalkannya.  Pelahan, keikhlasan yang semula ia rasakan berubah menjadi kejengkelan.

Menjaga keikhlasan memang tak pernah mudah, bukan?. Ada banyak jalan untuk menghanguskan keikhlasan itu. Ibarat benda yang diletakkan di atas batu yang amat licin, mudah sekali tergelincir. Dan kata-kata yang kerap kita umbar layaknya api yang dengan mudah melahap dan menghanguskan semua keikhlasan yang telah kita jaga.

Dua kisah di atas sangat jauh berbeda. bahkan bertolak belakang. Namun sama-sama memberikan pelajaran penting dalam  hidup.

Bagaimana cara merawat keikhlasan dalam memberi?

Ada beberapa tips khusus mengenai hal ini. Tips ini kuperoleh dari mamaku, guru kehidupanku yang pertama dan selamanya.

Pertama, lupakan

Tidak ada hal yang lebih baik dari pada melupakan berapa banyak sedekah yang kita beri. Melupakan ini juga membuat kita tak mengharap imbalan pada mereka yang kita beri. Tentu saja terkadang hal ini tidak mudah. Tetapi bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

Kedua, perbanyak

Memperbanyak amal baik sedekah berupa materi, ilmu, bantuan tenaga ataupun senyum yang tulus pada sesama akan sangat membantu kita untuk menjaga keikhlasan. Semakin banyak dan sering beramal, akan semakin mudah kita melakukannya.

Ketiga, berilah pada orang yang tak mungkin membalas

Hal ketiga yang membantu menjaga keikhlasan dalam memberi adalah, bila kita memberi pada mereka yang tidak mungkin membalas pemberian kita. Terutama pemberian berupa materi. Misal, pada orang tak dikenal yang benar-benar membutuhkan. Dsb.

Jadi meskipun keikhlasan itu sulit sekali kita peroleh, tetapi bukan tidak mungkin dengan mempraktikkan tips di atas, Sahabat Moma bisa merasakan manisnya bersedekah. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam...

31 komentar:

  1. Masya Allah makasih sudah diingatkan, Mbk

    BalasHapus
  2. Kalo ada org yg msh mampu kerja, kdg aku mikir, kok ngemis?

    aku lbh salut kaya si mbah itu, jualan walopun nggak seberapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuul, Jiaah... Trims ya udah mampir

      Hapus
  3. gampang mengatakan ikhlas kadang susah juga pas prakteknya ya.
    ngasih seikhlasnya, tapi tetep aja menggerutu :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Teh Nchie. Kadang yang udah kita lupakan pun suka muncul hehehe

      Hapus
    2. Jadi, mending nggak ngasih ya? he he he

      Hapus
    3. Kalo kita gak ngasih...yakin, kita sudah punya bekal yang cukup tuk hari esok?
      hehehe

      Hapus
  4. ikhlash itu ilmu tingkat tinggi, bahkan kita tak bisa melihat wujudnya meski efeknya sangat nyata ya. TFS mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuuuul...
      Kalo mudah, jalan ke surga pasti bisa dibeli

      Hapus
  5. Saya pernah mba kasih pengamen 500 rupiah di buang uangnya,...hmmm susah-susah gampang memang untuk ikhlas yaa..dan saya sepakat sama semua poinnya mba, tinggal prakteknya, mampukah? Semoga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... elus dada. Ngeselin banget pengamennya. Nolak rezeki tuuh...
      Aamiin... semoga kita bisa terus belajar untuk ikhlas.

      Hapus
  6. Salut sama Mbahnya..

    jadi ingat berita kemarin tentang seorang penyanyi dangdut yang dipatok ular karena dia nyanyi sambil goyang ular. temen sy nyeletuk 'waduh.. nyari duit ko susah sekali..' maksud dia nyari uang yg halal dan haram sama-sama susah ko dia pilih yang begitu.. tapi ya itu pilihan dia sih,

    Mbah yang satu ini perlu banget dicontoh. untuk bertahan hidup meskipun harusnya sudah bukan waktunya bekerja. tapi kadang mereka beralasan agar ada aktivitas, seperti Mbahku yang sampai sepuh masih produksi opak ketan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salut buat mbahnya mbak Arina!
      Kadang mereka masih pingiiin sedekah dari hasil keringat sendiri. Katanya beda dengan sedekah hasil pemberian anak.

      Hapus
  7. ketiga tips di atas mudah tapi suka sulit untuk dijalankan

    BalasHapus
  8. Terima kasih mbak telah mengingatkan saya, sebagai sesama muslim kita memang harus selalu mengingatkan, ...

    BalasHapus
  9. liat pengemis segar bugar suka ga ikhlas ngasih padahal siapa tahu dia memang butuh ... artinya saya belum ikhlas ya masih ngitung ngukur-ngukur heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya milih gak ngasih, Mbak.
      mending ngasih ke pemulung ibu-ibu atau bapak-bapak tua.
      pengemis? No way... hehehe

      Hapus
  10. Bener banget Mbak, harus melupakan nih :D, karena pada saat tidak melupakan bahwa kita sudah bantu orang dan ternyata orang itu tidak bantu kita kembali, akhirnya kita jadi jengkel dan jadi tidak ikhlas :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum... emang seringnya gitu. Kita jadi jengkel sendiri. hehehe...
      Rugi deh jadinya.

      Hapus
  11. Setiap mengingat kata ikhlas yang ada adalah gambaran kebaikan diri yang selalu dingat-ingat. Ujub riya. Sungguh jauh dan susah dalam mempraktekkannya. Namun Insya Allah akan terus berusaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... kalo ikhlas mudah, masuk surga jadi alangkah murahnya... :)

      Hapus
  12. Hai MBak Liza salam kenal ya, tadi baca tentang Mbak LIza di blognya Mbak liza yg lain :) ternyata tinggal di Bekasi juga ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Lidya. Sesama Bekasi kita yaaa... Salam kenal ^^

      Hapus
  13. Betul sekali pembahanasannya kita sudah iklas tapi terkadang si pengemis ini ngegerutu atau kita di bohongi misal pura pura buntung kakinya.

    terkadang kita bingung mau ngasih pengemis di lampu merah sebenarnya yang mana yang mesti kita kasih. banyak modus mengemis seperti di bekasi barat kadang ada yang nyodorin kardus dengan badan setengah telanjang di balurin cat silver dengan modus bantu bencana wallahu alam bener apa ngga menyalurkannya entah di bawa kemana uang itu.

    mungkin sebaiknya kita beramal melalui yayasan yayasan atau lembaga yang jelas menyalurkannya ... hanya untuk iklas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Saya juga kurang respek sama pengemis yang minta minta. Selain melalui yayasan, saya lebih suka memberi yang memang dalam kondisi membutuhkan dan tetap bekerja, misal, pemulung.

      Hapus
  14. Tulisannya cakep banged Mbak, sepertinya memang ini yang namanya benar-benar ikhlas. Salam kenal dari #BloggerKalimantan ya... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims Dwi Wahyudi.... salam kenal kembali ^^

      Hapus
  15. pengemisnya sudah kaya mbak, makanya kalo dikasih uang sedikit masih kurang.. hahahaa

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^