Jumat, 18 Maret 2016

Wajah Jompo Di Tengah Kita


Jompo di antara kita

Menjalani hari tua yang tenang, tenteram, sehat dan bahagia tentulah idaman kita semua. Hidup nyaman di tengah canda riang anak dan cucu merupakan harapan yang hampir seragam di benak kita. Namun sayangnya, hidup terkadang tidaklah seindah harapan. Setidaknya, tidak, bagi para jompo yang kerap saya temui dalam keseharian saya.

Saya tinggal di sebuah perumahan yang dikelilingi perkampungan setempat. Suasana perumahan yang ramai dan hidup, membuat para PKL berduyun-duyun memadati trotoar jalan utama. Di antara para PKL itu terselip wajah-wajah para jompo yang mencoba mengais rezeki dengan berjualan. Ada yang berjualan kacang rebus, balon dan mainan anak, telur asin dan lain-lain.

Meski, ada juga yang memanfaatkan ke-jompo-annya untuk mengemis. Menjadi peminta-minta mungkin lebih mudah bagi sebagian mereka. Cukup duduk dengan wajah memelas, maka, uang akan berdenting di kaleng rombengnya.

 Atau, berjalan menghampiri dan mencolek para pembeli yang sedang makan di sebuah tempat makan, maka sekadar seribu-dua ribu akan masuk dalam kantong mereka. Bayangkan, bila ada seratus orang yang memberi seribu, berapa yang mereka kantongi ketika pulang ke rumah?

Saya mengenal beberapa di antara para jompo itu. Salah satunya nenek penjual telur asin itu. Saya mengenalnya sejak awal menempati perumahan ini. Dulu, ia bukanlah seorang penjual telur asin. Melainkan menjadi pemulung. Satu-satunya pemulung yang berjenis kelamin perempuan, pada masa itu. Dan seorang nenek-nenek.

Ia sering melewati rumah saya dan mampir untuk meminta air minum. Tak jarang ia menyapu jalan di depan rumah saya yang kotor akibat rontokan daun belimbing wuluh yang luruh. Ia sempat berhenti mencari rongsokan dan sampah, hingga akhirnya ia datang sebagai penjual telur asin.

"Kok nggak mulung lagi, Nek?"
"Waduh, Bu, susah sekarang. Banyak saingan yang muda-muda. Lagian, harga jualnya sekarang murah banget. Saya nggak sanggup lagi, Bu. Ini, kebetulan ada yang percaya, menitipkan telur asin. Lumayan, Bu, untuk makan sehari-hari."
"Untungnya banyak, Nek?"

Nenek itu tertawa memperlihatkan giginya yang ompong. Menilik raut dan tulang wajahnya, sangat mudah memperkirakan seperti apa ia di usia muda. Pasti nenek ini cantik dan menarik. Ia berasal dari daerah Karawang. Tempatnya gadis-gadis cantik dan lumbung padi.

Dulu ia pernah menceritakan sedikit tentang kehidupannya. Anak semata wayangnya pergi meninggalkannya, entah kemana. Ia tak memiliki suami dan hanya memiliki saudara-saudara. Sebagian di kampung dan seorang kakak yang tinggal di sebelah gubuknya. Kakak perempuannya itu tidak bekerja dan hanya menjadi istri seorang pemulung yang juga sering beroperasi di perumahan. Hingga akhirnya tubuh tuanya tak sanggup lagi mencari sampah, dan memaksanya menjadi pengemis.

Tak banyak yang ia ceritakan tentang masa lalunya. Saya dapat merasakan keengganannya menceritakan masa mudanya. Terutama tentang suaminya. Jadi saya biarkan ia menyimpan semua kenangan masa lalu yang membuatnya terjebak dalam kehidupan yang begitu berat di usia rentanya.

"Untungnya nggak banyak, Bu. Telur ini saya jual 10 ribu 3 butir. Saya dapat untung 1000 dari 3 butir yang saya jual. Itu pun dibagi dua sama yang menitipkan telur. Jadi dari 10 ribu, saya cuma dapat 500 rupiah."
"Masa sih, Nek? Sedikit sekali."
"Eh, Ibu nggak percaya. Biar deh, Bu, sedikit juga. Asal saya bisa makan setiap hari. Enggak jadi pengemis. Aduuh, naudzubillah... jauh-jauh deh nasib dari jadi pengemis. Gini-gini juga, Bu, saya nggak mau jadi pengemis."

Nenek itu secara terang-terangan menyindir kakak iparnya, pengemis tua mantan pemulung yang mendatangi rumah saya secara berkala.

Jujur saja, saya termasuk orang yang tega menolak para pengemis yang datang meminta-minta. Terutama, bila mereka mengenakan atribut agama dan membawa-bawa berkas. Tidak serupiah pun yang bakal saya berikan.

Akan tetapi, kakek pengemis yang datang dengan langkah kaki dan tangan gemetar, apakah tega menolaknya?Sedang saya tahu, di kala sehat ia seorang bapak yang gigih bekerja, meskipun hanya menjadi pemulung.

Begitu juga dengan kakek-kakek penjual segala macam barang yang terkadang tak penting itu. Ada hak mereka dalam harta yang saya terima. Mereka berhak mengambil dan memintanya. Dan perniagaan selalu menjadi jalan keluar untuk menyelamatkan harga diri mereka.

Mereka adalah para jompo yang semestinya mendapatkan perlindungan dan hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dari pemerintah. Akan tetapi, karena pemerintah ini agaknya terlalu sibuk dengan berbagai urusan, dari urusan yang jelas sampai yang tak jelas, sepertinya, menjadi tanggung jawab kita-lah untuk ikut memperhatikan nasib mereka.

Tak banyak yang mereka harapkan. Mereka cukup senang bila kita membeli. Dilebihkan atau tidak, mereka akan gembira karena terbebas dari keinginan untuk jadi peminta-minta.

Atau, sekadar pemberian yang tidak memberatkan, sebagai pencuci harta kita. Dan agar kelak di hari kemudian, kita tidak dicap sebagai pendusta agama. ***



4 komentar:

  1. Kalau ngeliat kakek-nenek yang masih jualan, memang suka kasihan, tapi juga salut. Masih ada usaha untuk nggak ngemis. Padahal hasil ngemis mungkin lebih banyak, sedangkan kalau jualan, ada resiko nggak laku. Semoga sih laku terus dagangan mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Afifah. Seperti penjual telur itu... keuntungan perbutir hanya 150 rupiah. Coba kalo ngemis.... minimal orang kasih 1000 rupiah. TApi harga diri gak bisa ditukar dengan uang ya?
      Terima kasih sudah mampir ya^^

      Hapus
  2. nek aku malah tiap hari di datangi pengemis mbak. tapi ni orang sebetulnya akalnya memang kurang sehat. jadi dia mulung tapi juga minta duit, 500 doang si. tetep ku kasi, kasihan soale sama anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyolah, Mbak Wit.. anggap sabun pencuci harta kita.
      Lagi pula, ada hak mereka dalam harta kita. Ya kan?

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^