Minggu, 20 Maret 2016

Tips Sederhana Deteksi Dini Anak Terlambat Bicara

Deteksi dini anak terlambat bicara bisa dilakukan dengan cara sederhana


Semula saya menyangka anak ketiga saya mengalami autisme. Karena hingga usianya menginjak 12 bulan, ia tidak pernah bicara, tidak mengoceh dan tidak mau menatap mata bila diajak berkomunikasi.



Ia pun sangat anteng bila ditinggal menonton TV. Matanya akan terpaku ke layar kaca. Sesekali ia akan tersenyum, namun masih tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Selain itu ia suka sekali menyusun mobil-mobilan dalam bentuk garis lurus dan berurutan dari yang paling besar hingga yang paling kecil.

Perlahan dengan bertambahnya usia, kami menyadari, meski anak kami belum mau berbicara dan mengoceh, ternyata ia bukanlah anak autisme. Ia mulai bisa berinteraksi dengan saudara-saudaranya. Mulai tertawa lebih banyak ketika mendengar suara lagu yang ia sukai. Kelak, berdasarkan hasil observasi di klinik tumbuh kembang, kami mengetahui anak kami tergolong anak delayed (anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangannya).

Selain terlambat berjalan -- ia baru bisa berjalan ketika usianya hampir 3 tahun-- ia pun terlambat bicara. Sehingga kami memutuskan untuk memberikan terapi di yayasan tumbuh kembang.

Sahabat Moma, memang anak-anak delayed kerap diduga autisme karena terjadi di usia dini. Mereka cenderung lebih banyak menggunakan bahasa isyarat daripada bahasa verbal. Namun demikian, sebetulnya perbedaan antara anak delayed dan autisme amat banyak.

Perbedaan antara anak delayed dan anak autisme

1.  Berdasarkan hasil stimulasi, Autisme  sulit maju, sementara delayed, maju secara bertahap.
2. Autisme sulit berganti-ganti mainan sementara delayed bila sudah bisa ingin mainan.
3.  Perhatian anak autisme sulit diarahkan, anak delayed mudah diarahkan.
4. Autisme merespon reaksi secara aneh, sementara delayed merespon reaksi dengan wajar. 
5. Emosi  dan prilaku anak autisme sulit diredakan dan dikendalikan sementara anak delayed mudah reda dan dikendalikan, 
6.Anak autisme tidak mau disentuh sementara anak delayed merasa senang bila disentuh. 
7.Autisme memerlukan obat antipsikotik, sementara delayed tidak memerlukan obat-obatan medik.
 
Selain hal-hal di atas, saya pun mempunyai  tips ringan yang bisa Sahabat Moma terapkan bila ingin mengetahui apakah anak Anda tergolong anak delayed.

 Tips Deteksi Dini Anak Terlambat Bicara

1. Bicaralah sambil menatap mata anak

 Anak delayed relatif lebih mudah menjalin kontak mata sementara anak autisme cenderung menghindari kontak mata 

2. Perhatikan reaksi  anak terhadap bunyi-bunyian yang ada di sekitarnya

 Hal ini penting untuk memastikan pendengaran anak Anda  normal ataukah mengalami masalah. Misalnya, dengan cara memanggil namanya dari arah belakang. Atau tepuk tangan di belakang telinganya. Atau, terkejutkah ia saat mendengar suara petir dan suara keras lainnya?


3. Perhatikan kemampuan anak mengucapkan hurup mati atau konsonan

Sahabat Moma,  salah satu tanda bahwa buah hati kita tidak menderita gagu adalah kemampuannya mengucapkan huruf-huruf konsonan. Seperti pengucapan kata-kata sembarang yang sederhana, semisal : ma-ma, ba-ba, pi-pi, da-da


Saya sudah mengalami, bahwa tidaklah mudah memiliki seorang anak yang mengalami delayed, meski tidak sesulit menghadapi anak autisme, namun diperlukan waktu yang amat lama untuk membantu anak mengejar ketinggalannya dibanding teman-teman seusianya.

Saya masih ingat dengan jelas, ketika lulus dari TK, anak saya baru bisa mengucapkan satu kalimat lengkap sederhana dengan kata-kata yang tak sempurna. Bila ingin mengatakan : aku mau makan, ia hanya mengucapkan : Aku mau mam. Atau, aku mau pis, bila ingin ke kamar mandi. Saya kerap sedih membayangkan seperti apa perlakuan yang ia terima dari lingkungan bermainnya.

Namun, Alhamdulillah, anak saya ini tergolong anak yang tabah. Meski kerap mengalami kesulitan dalam berinteraksi, ia tetap mau bermain dan berteman.

Sahabat Moma,  saya percaya,  tak ada usaha yang tak membuahkan hasil. Meski ia baru bisa berkata-kata dengan jelas ketika duduk di bangku kelas 2 SD, namun secara pelahan, ia mulai mengejar ketinggalannya. Harapan saya, kelak ia mampu berkembang sebaik rekan-rekan seusianya dan menjadi anak yang penuh empati terhadap orang lain.

Semoga ulasan singkat saya tentang deteksi dini anak delayed ini bermanfaat bagi sahabat semua. Dan tetap bersemangat membersamai buah hati apa pun kondisi mereka. Salaaaaam....^^

Baca juga :

13 komentar:

  1. Semangat terus Maaaak. Setiap anak memang berbeda ya perkembangannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul...gak ada yang sama. Meski diperlakukan sama. Hehehe.
      Terima kasih tuk suportnya

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Hei Elizabeth, masukkah komenku? ;-)

      Hapus
  2. Ini foto Zidna bukan ya?
    Towel pipi Zidna ah!

    BalasHapus
  3. dulu anak saya juga telat bicara Mbak, alhamdulillah setelah usianya 3 tahun bicaranya jadi lancar banget :)

    setuju sama Mbak Adriana, setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda, jadi sangat tidak adil jika kita menuntut perkembangan anak kita agar sama dengan anak tetangga :)

    Ayo semangat Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuul Mbak Irawati.... syukurlah telah melewati masa itu yaa.
      Thanks buat suportnya

      Hapus
  4. Semangat teh Liza...anak ketiga sy jg begitu mngalami keterlambatan bicara, pernah terapi d tumbuh kembang..Sy sempat sedih dan bingung bgm menangani, tp sy yakin Allah tdk pernah mnciptakan produk gagal.Ketika terapi sy perhatikan caranya, sy terapkan d rumah.Betul interaksi sosial sangat berpengaruh, ketika main dg teman2x otomatis ia akan meniru ucapan2..sy sekolahkan ke sekolah alam yg berbasis tdk memaksa anak hrs ini itu, tp dilakukan dg fun, alhamdulillah skrg sdh jelas dan ceriwis. Betul teh tiap anak beda2 perkembangannya.Justru ketika kita dberi amanah begitu, kita akan semakin belajar utk menanganinya walaupun jatuh bangun hehe..mksh tipsnya teh Liz :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. HEhehe... memang tahapannya harus kita lewati ya Mbak Fitri. Anak ketiga saya juga sekarang udah lancar banget ngomongnya.
      Tapi saya masih punya PR untuk si bontot nih.

      Hapus
  5. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya, Mbak Lia. Psikologi perkembangan memang menarik untuk diperhatikan ya...
      Saya akan mampir ke sana yaa...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^