Senin, 07 Maret 2016

5 Tips Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Balita

Pendidikan seks pada balita bisa dilakukan dengan cara sederhana


Pentingkah mengenalkan pendidikan seks sejak dini pada anak? Bagi saya, penting. Amat penting malah. Dan saya memang mengenalkan pendidikan seks ini pada anak-anak saya, sejak mereka balita.



Mengapa pendidkan seks ini penting bagi anak?


Sahabat Moma, sebagai orangtua, salah satu topik yang tidak bisa  kita hindarkan adalah topik yang berada di seputar wilayah sensitif ini. Ada beberapa alasan yang membuat saya menganggap pendidikan seks ini penting buat anak.

Pertama,  kita tahu, anak-anak adalah pemerhati terbaik dari lingkungan. Kita tidak bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan anak yang menjurus ke arah perbedaan jenis kelamin dan lain-lain. Misalnya dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan  seperti :
"Kok 'punya' Dedek beda sama 'punya'ku?"
"Kok aku enggak boleh pakai baju rok seperti Dedek?"

Kedua, kita tahu, pertanyaan-pertanyaan spontan yang keluar dari mulut anak didasari oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Bukan untuk diabaikan, namun juga bukan untuk terlalu diseriusi. (nanti saya jelaskan ya, Mom).
Misalnya : "Dari mana datangnya dedek bayi? Apa Ibu beli dari rumah sakit?"

Ketiga, jauh lebih aman dan penting bagi kita untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan usia anak, daripada membiarkan anak menggunakan kata-kata yang dia dengar tanpa tahu maknanya ( dan ini sering bikin kita jengah sendiri kan ya?)
Misalnya dengan menyebutkan 'harta milik'nya secara iseng, karena dianggap lucu.

Kenyataan tak terhindarkan di atas akan kita temui dalam keseharian kita bersama anak-anak.  Mungkinkah kita pertanyaan-pertanyaan itu? Ah, tentunya tidak. Sudah bukan jamannya kita mengabaikan pertanyaan-pertanyaan anak.

Pertanyaan-pertanyaan itu malah sering kali saya jadikan jembatan untuk membuat anak memahami hal-hal yang mereka tidak ketahui. Tentu dengan bahasa yang mudah difahami anak. Misalnya, dengan mengatakan, "Ya, punya Dedek berbeda, karena Dedek perempuan dan kamu laki-laki."

Bagaimana tips menghadapi anak yang bertanya tentang hal-hal tabu?


 1. Jangan panik.

 Ngeri-ngeri sedap memang bila mempunyai anak yang gemar bertanya dan ceriwis. Hadapilah masa ini dengan lapang dada. Mereka akan menghujani kita dengan pertanyaan.  Tiada pertanyaan kecuali ada pertanyaan lanjutan. Bila menemukan anak tipe ini, Wahai Moma, jangan panik!
Jawablah dengan santai dengan bahasa yang mudah difahami.  Reaksi kita yang berlebihan akan membuat mereka semakin penasaran.
Misal : dedek bayi keluar lewat jalan mana?
Saya biasa menjawab : lewat jalan lahir. Setiap bayi yang lahir punya jalan lahir.


2. Tidak perlu mendetail.

Anda tak perlu merah padam dan merasa bersalah bila tidak menjawab pertanyaan anak secara mendetail. Karena sering kali mereka hanya bertanya sekadar ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Belum masanya mereka mengetahui secara mendetail hal-hal yang tak perlu mereka tahu.
Misal, ketika mereka bertanya : "bagaimana cara membuat dedek bayi"  oh, sungguh, menurut saya, Anda tak perlu menjelaskan proses "pembuatan" itu secara rinci.

3. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan

Ya. saya sering menjawab pertanyaan-pertanyaan anak yang berbahaya (seperti pertanyaan di atas), dengan balas bertanya pada mereka.
Percayakah, bila saya katakan, mereka sebetulnya memiliki jawaban sendiri yang mencengangkan atas pertanyaan-pertanyaan mereka?
 Percayalah, mereka mempunyai jawaban sendiri yang sangat logis dalam pikiran mereka. Dan itu relatif aman. Dan lucu, pastinya.

Sahabat Moma, mengenalkan pendidikan seks sejak dini pada anak, tentu tidak cukup hanya seputar tanya jawab semata. Perlu trik-trik tersendiri dalam mengedukasi anak perihal ini.

Bagaimana memberikan pendidikan seks sejak dini pada balita?


Dalam memberikan pendidikan seks pada anak balita, saya tidak memakai konsep-konsep yang rumit. Cukup dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa dan mudah dibiasakan pada anak-anak.
Berikut tips pendidikan seks yang saya terapkan di rumah.

5 Tips Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Balita


1. Mengenalkan konsep malu

Malu adalah sebagian dari iman, demikian bunyi sebuah nabi SAW.  Konsep malu ini pula yang saya tanamkan sejak usia balita pada anak. Malu dalam konotasi yang positif tentunya, terkait masalah aurat dan daerah privat.

Misalnya :
- Saya akan meminta anak-anak keluar kamar, atau minimal menutup mata, ketika saya/suami ingin berganti pakaian.
- Membiasakan anak berpakaian segera setelah selesai mandi.
- Mengulang kata "malu" bila anak terlalu lama tidak mengenakan pakaian atau celana untuk menutupi anggota tubuhnya.
- Membiasakan anak berpakaian lengkap bila keluar dari rumah.

2.  Memberikan anak pakaian, mainan dan asesoris sesuai dengan gendernya.

Mungkin terlihat sepele ya, Mom. Tapi, menurut saya, pakaian yang baik, bukan hanya yang nyaman dipakai, melainkan juga yang sesuai dengan jenis kelamin anak. Memang tidak saklek sih, terutama pada anak perempuan. Tapi sebisa mungkin, dalam memilih baju, saya akan menyesuaikan dengan jenis kelamin anak.

Hal ini terkesan sepele, akan tetapi sangat memudahkan kita dalam menjelaskan konsep perbedaan gender. Anak yang terbiasa menggunakan jilbab sejak bayi, tidak akan kesulitan dalam mengidentifikasikan dirinya. Hal mana yang akan memudahkan saudara laki-lakinya dalam mengidentifikasi diri.

Begitu pula dengan mainan. Saya cenderung membelikan boneka untuk anak perempuan, mobil-mobilan untuk anak laki-laki. Namun, saya tidak melarang bila mereka saling meminjami/ bertukar mainan sesekali. Misal :mereka bermain boneka bersama atau bermain mobil-mobilan bersama.

3. Memisahkan tempat tidur

Bila sudah cukup umur, pemisahan tempat tidur/kamar adalah hal yang wajib untuk diberlakukan. Selain itu, pemisahan selimut juga harus diterapkan, sekali pun mereka jenis kelamin mereka sama.

4. Mengenalkan perbedaan gender dengan cara sederhana.

Sahabat Moma, orangtua adalah model terbaik bagi anak untuk memahami konsep gender.
Pembagian peran yang jelas dalam keluarga akan sangat memudahkan anak mengenal konsep perbedaan gender.

Ah, ya, jangan bayangkan hal-hal sulit, Mom. Cukup dengan obrolan ringan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, tentu kita bisa memberi penjelasan tentang konsep ini.
Mengapa hal ini termasuk pendidikan seks ?
Karena dengan mengerti konsep perbedaan gender ini, anak akan belajar memahami diri mereka dan memiliki gambaran akan seperti apa mereka kelak.

5. Mengenalkan wilayah-wilayah privat

Mengenalkan wilayah privat ini akan membuat anak waspada dan berhati-hati terhadap keamanan mereka. Serta menumbuhkan rasa malu, bila 'milik' mereka terlihat oleh orang lain.

Sahabat Moma, saya sangat senang apabila tulisan ini bermanfaat bagi Anda semua. Bila tidak keberatan, sila meninggalkan jejak di kolom komentar. Saya akan sangat menghargainya.
Salam ^_^






10 komentar:

  1. aku ngajarin dikit2 soal itu. mreka cuma butuh jawaban yg sederhana sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Sebetulnya mereka hanya butuh jawaban sederhana.
      Btw, trims yaaa

      Hapus
  2. keren infonya mb

    btw udah kufolow blognya

    BalasHapus
  3. sepakat Mb ama idenya

    Blognya udah saya folow ya

    BalasHapus
  4. Betuul sepakat banget dengan mengenalkan budaya malu. Anak-anak kalau mandi suruh segera pakai handuk dan baju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, itu poinnya. Dengan menumbuhkan rasa malu, anak akan berusaha menjaga auratnya dengan baik. Hingga kelak mereka besar.
      Makasih ya atas kunjungannya mbak NAqi.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^