Rabu, 23 Maret 2016

Penting Tidak Sih, Melatih Anak Mengelola Emosi ?

Sebagai seorang ibu, saya akhirnya memahami, ada tugas berat yang harus dijalani, yaitu melatih anak mengelola emosi. Ini sungguh tidak mudah. Tetap harus dilakukan, meski harus bertega hati. Meski itu artinya harus melukai hati sendiri.

*
Suatu hari Si Kakak membeli tamiya, ia sudah mengumpulkan uang selama seminggu untuk membeli mainan tersebut. Ketika ia memainkan mobil-mobilan itu, adiknya kontan merengek minta dibelikan mainan yang sama.

"Bu, boleh enggak aku beli tamiya?"tanyanya pada Ibu.
"Boleh."
"Horeee...! Makasih, Bu."
"Iya, tapi harus menabung dulu ya?"
"Menabung?" Kegembiraan di wajahnya meredup.
"Seminggu. Kalau sekolah kan Ibu kasih uang jajan. Uang jajannya dititipkan sama Ibu. Nanti kalau sudah seminggu, baru beli."
"Lamaaa..."
"Enggak. Coba aja."

Si Adik mencoba mencari celah, ia bertanya pada Bapak.
"Pak, aku boleh beli tamiya?"
"Apa kata Ibu?'
"Boleh. Tapi.... aku harus nabung."
"Oh, kalau begitu, nggak boleh bolos sekolah. Nanti nggak dikasih uang jajan lho sama Ibu."

Adik tidak punya pilihan, ia harus bersabar.

*

Sahabat Moma, percayalah, tidak mudah melatih anak bersabar terhadap keinginannya. Apalagi pada anak yang biasa mendapatkan segala kemauannya dengan cara yang  mudah. Dengan menggunakan senjata rengekan atau ngambek.

Begitu juga dengan Si Adik, pada mulanya sering ia uring-uringan karena hari belum genap seminggu. Ia pun sering bosan menghitung hari. Pada saat seperti itu, yang saya lakukan hanya memberinya semangat dan berusaha konsisten.

Saya sadar, bila sekali saja saya tergelincir untuk mengiyakan permintaannya, maka selesailah sudah apa yang sudah saya mulai. Dan kelak, akan dibutuhkan usaha yang jauuuuuuh lebih berat melatih anak  dalam mengelola keinginannya.

Dan, sejujurnya, bagi seorang ibu, jauh lebih berat bersikap tega pada anak daripada sekadar meluluskan keinginannya. Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang ingin membuat anaknya merasa kecewa. Bukankan letak kebahagiaan seorang Ibu sejatinya terletak pada senyum dan tawa buah hatinya?

Akan tetapi, ada sebuah tugas penting yang juga menjadi kewajiban seorang ibu, yaitu mendukung anak dalam mengelola emosi, termasuk mengelola keinginannya.

Mungkin saja anak merasa senang ketika ia berhasil memperoleh mainan seperti keinginannya. Entah dengan mengandlkan jurus ngambeknya atau jurus histeria. Akan tetapi, apakah hal itu akan membuatnya merasa nyaman? Atau, hanya sebatas rasa senang saja?

Sahabat Moma, dalam buku Nyebur Ke Dunia Anak, buku duet saya bareng psikolog  Teh Endah Kurniadarmi --promo detected, hehehe.--  dijelaskan, jika seorang anak hanya merasakan emosi sebatas rasa senang saja, maka ia belum mencapai tingkat nyaman.

Padahal rasanya nyaman baru bisa dirasakan seseorang pada saat memperoleh hal-hal yang lebih tinggi dari sekadar perasaan senang saja.

Ketika seorang anak belajar menahan diri, ia akan belajar mengelola emosinya. Ia akan mempelajari bagaimana cara menghormati aturan, bagaimana cara mendapatkan sesuatu melalui proses yang benar. Dan ini merupakan proses dalam membentuk hati nurani anak.

Kita tahu, keinginan seorang anak manusia tak akan pernah mencapai kata puas. Ia akan terus berkembang sesuai dengan pengalaman, usia dan kebutuhannya. Akan tetapi anak yang dilatih mengelola keinginan akan selalu belajar memperolehnya sesuai dengan konsep kebenaran dan hati nuraninya sesuai dengan pengalamannya (kognitif).

Teh Endah juga menyebutkan, salah satu ciri keberhasilan proses ini adalah anak akan merasa nyaman ketika melakukan hal-hal baik dan sebaliknya, akan muncul perasaan bersalah dan tidak puas jika ada yang tidak sesuai dengan kognitifnya.

Jadi, menurut saya, meski tidak menyenangkan, melatih anak mengelola emosi ini amat penting dalam proses pembentukan hati nurani anak. Hal ini pula yang kelak akan mempengaruhi tindakan anak ketika berinteraksi dengan lingkungannya.


**

Melatih anak mengelola emosi akan menerbitkan senyum puas dan bahagia di wajahnya.

Seminggu kemudian, Si Adik berhasil mendapatkan mainan yang diidamkannya. Ibu yakin rasa puas dan nyaman yang terbit di wajahnya tidak akan segera pudar. Melainkan menjejak lama di jiwanya yang murni.

Oya, hampir lupa, jangan lupa melibatkan ayah dalam proses ini ya. Mom. Karena tanpa kekompakan dan kerja sama, yakinlah, semua upaya akan hanya menemui jalan buntu. Selamat mencoba...^^


19 komentar:

  1. Aku juga mikir begitu. Seorang anak gak boleh dibiasakan dengan mudahnya mendapatkan yang dia inginkan. Tapi kadang ketika kita sudah meminta dia bersabar eh ada aja faktor lain yang tiba2 mewujudkan hal yang diinginkan. Dan itu nyebelin banget. Dan kita di judge gak sayang anak karena gak langsung ngasih yang anak ingin kan, hiks #malahcurcol :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang gitu tantangannya, Mbak Enny. Saya juga sempat ngalamin posisi seperti itu. Tapi,saya minta suami ikut campur untuk menegaskan posisi saya plus deketin anak untuk kasih pengertian. hehehe...
      So, menurut pengalaman saya, tetap kekompakan ortu yg lebih berperan...

      Hapus
  2. Dapet ilmu baru mbak. Semoga saja kelak saya dapat merasakan bagaimana rasanya mendidik anak :D Salam kenal mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.... salam kenal kembali Mbak Widya. Semoga kelak bisa merasakan serunya mendidik anak^^

      Hapus
  3. sepakat mbak..satu lagi ya kekompakan dan kerjasama tidak hanya ayah dan ibu, jika di rumah ada orang lains eperti nenek atau kakek...harusnya mrk juga mau dikompakin utk mendisiplinkan anak tp tantangannya luar biasa jika ada org lain yg ternyata punya "nilai" yg berbeda dg kita. anak2 menjadi nilai lain itu sbg jalan pintas. hiksss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuuuul banget Mbak Ophi. Itu juga artinya kerja tambahan untuk kta. hehehe. Apalagi anak selalu mencari titik lemah yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan apa yang dia mau.

      Hapus
  4. wah bu saya benar2 terinspirasi dngn karya2 ibu
    terima kasih bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.... terima kasih sudah berkunjung ^_^

      Hapus
  5. HIhihihihi... saya senyum2 ketika membaca ini. Kuncinya harus kompak dengan Ayah, maka upaya melatih anak akan berhasil. Saya dan suami juga begitu, siapa yang ditanya duluan harus cerdas menjawab, yang satunya memback-up.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaah, bener banget, Mbak Susi. Anak tuh pinter banget nyari celah dan ngadu domba antara ayah dan ibu... heheheh

      Hapus
  6. Hai mba.. Salam kenal :)
    Ahza 2yo juga udah mulai suka tantrum kalau keinginannya ga dikabulkan. Nangisnya bisa lamaaa bgt. Menurut mba, apakah tidak apa2 membiarkan anak menangis terlalu lama? Makmak galau nih saya hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. KAlo saya sih prinsipnya gini, kalo udah bilang enggak, ya enggak. Pasti anak akan ngamuk dsb. Tapi, sekali dua kali, dia akan belajar. Asalkan kita konsisten sejak awal.

      Hapus
  7. Anak saya masih sulit mengelola emosi, kurang sabar dan pengertian, kadang saya nyerah, ternyata justeru ngga baik yaa untuk perkembangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkadang, saya juga lelah mbak Nunu...
      TApi sebagai ortu kita memang harus pintar tarik ulur sama anak ya.
      Untuk kasus-kasus berat saya diskusikan dengan suami terlebih dulu.

      Hapus
    2. Sorri mbak Nunuuuu... baru baca ini.... jadi baru jawab sekarang

      Hapus
  8. Mba Liza, setuju sama postingan ini. Sering pada awalnya anak nolak, ngga mau,ngambek.. Bertahan dia dengan keinginannya, tapi beberapa menit kemudian luluh juga..
    Juga harus kompak sama mba di rumahku mbaa Liz, suka minta dukungan dia hihiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaaf baru jawaaab....

      Iya, betuuuuul. Kita harus kompak dengan orang-orang terdekat di sekitar anak.
      KAlo udah kompakan, lancar deeh...

      Hapus
  9. terimakasih gan infonya dan salam sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... terima kasih sudah mampir ^^

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^