Kamis, 04 Februari 2016

Skizoprenia Pada Wanita Kebanyakan Akibat Ulah Pasangan




Sebuah Oase Bagi Penderita Skizoprenia di Tambun Selatan


Saya tak menyangka kunjungan sosial yang diadakan oleh pengajian ibu-ibu di perumahan akan membawa langkah saya ke sebuah lokasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Tempat pembinaan penderita skizoprenia yang—kebanyakan--  diabaikan oleh keluarga dan masyarakat.

Pada bangunan sederhana itu, terpampang tulisan : Panti Rehabilitasi Cacat Mental. Sebuah istilah yang terlalu menyakitkan tentunya. Namun kondisi penghuni yang menyambut kedatangan rombongan kami, memang menandakan ketidakseimbangan mental penderitanya.


Panti sosial yang didirikan dan dibangun secara pribadi oleh pemilik yayasan ini menampung dan merawat puluhan penderita skizoprenia. Baik yang dititipkan oleh pihak keluarga, maupun penderita yang menggelandang di tepi jalan—bahkan ada beberapa orang yang dititipkan oleh dinas sosial.

Di samping menampung dan merawat penderita skizoprenia, panti yang berlokasi di Kampung Pulo, Tambun Selatan, Bekasi  ini juga menampung nenek-nenek jompo yang sebelumnya terlantar di pinggir jalan. Tanpa satu pun pihak keluarga yang bisa dihubungi.
Siapakah yang bertanggung jawab atas nasib kaum jompo terlantar ini?




 Sambutan hangat Ana

Ana, Si Bintang Puisi


Saya tak bisa melupakan sambutan hangat yang diberikan oleh Ana, salah seorang penderita yang berasal dari Singkawang. Wanita berperawakan kurus, berkulit langsat dan tampak bersih itu menyambut kami dengan pembacaan puisi (karangannya sendiri).

Puisi yang --meski pun-- dibawakan dengan sungguh-sungguh dan keseriusan yang menakjubkan, tak urung membuat kami tersenyum. Karena isinya yang sungguh lucu dan polos.  

Namun tak urung keharuan itu menyeruak tatkala melihat Ana mengakhiri puisinya dengan kesungguhan yang dramatis. Ia mengatupkan kedua tangannya di dada dan mengangguk takzim seraya mengucapkan terima kasih.
Saya sempat berpikir, apakah mungkin di masa lalu, Ana adalah seorang selebitas di lingkungan sekolah yang kerap mewakili dalam  lomba pembacaan puisi?
Berdasarkan informasi dari Pak Ustad, ia merupakan TKW yang menjadi korban di negara jiran. Entah trauma apa yang membuatnya kehilangan ekstistensi diri dan terdampar di sini. Alangkah jauh nasib membawanya.

Dan kesantunan pun itu pecah seketika, saat panggung itu hilang. Sosok Ana yang sesaat lalu menjadi bintang berubah menjadi seorang pesakitan yang demikian nyata.

Ia menghampiri setiap tamu seraya meminta uang dengan wajah memelas. Berulang kali bertanya. Dan berulang kali pula ia membantah sendiri ucapannya.
 
Kak, minta uang seribu.

Tidak?

Dua ribu.

Tidak juga?

Seribu tidak. Dua ribu tidak.

Seribu saja?

Getir.

Ana hanyalah salah satu. Di sana masih ada puluhan wanita malang yang menderita skizoprenia. Ada yang baru melahirkan. Ada yang baru melahirkan dan membunuh anaknya. Ada juga yang mendendam demikian hebat pada mantan suaminya. Ada yang ketakutan dan depresi akibat diancam pacarnya.

Alangkah sukar mencerna ledakan dalam dada, ketika Pak Ustad, pemilik yayasan Al Fajar itu menjelaskan bahwa 90% kasus ketidakseimbangan jiwa itu diakibatkan oleh pasangan.

Mereka adalah orang-orang yang tidak beruntung, yang telah meletakkan kepercayaan begitu tinggi pada pasangannya, sehingga ketika dikhianati – entah akibat selingkuh atau trauma pada fisik yang dilakukan secara terus menerus—mengakibatkan timbulnya trauma psikis yang sulit untuk sembuhkan.

Lemahnya posisi mereka secara ekonomis membuat hidup mereka kian memprihatinkan. Sebelum ditampung di panti ini, mereka terlunta-lunta di jalan dengan kondisi pakaian yang menyedihkan.

Beruntung masih ada sosok seperti Pak Ustad, yang mau menyediakan tempat untuk menampung dan memberikan pembinaan pada penderita skizoprenia itu.Sebuah oase tersembunyi di pojok Tambun Selatan.

Selain pasien perempuan, panti rehabilitasi juga menerima dan menampung pasien laki-laki. Lokasi panti penderita laki-laki dan perempuan berseberangan. 
Di panti sederhana itu, selain mendapatkan makan dan tempat tidur yang layak, mereka pun mendapatkan siraman rohani dan terapi fisik (pijak refleksi) serta obat herbal.

Penderita yang hanya mengalami goncangan ringan atau hampir sembuh, dan dianggap mandiri, ditugaskan untuk membantu merawat panti dan merawat pasien-pasien baru yang datang.

Dibantu dengan tenaga kerja yang dibayar tak seberapa, Pak Ustad berhasil menciptakan kondisi panti yang relatif kondusif. Tidak ada penyerangan ataupun tindakan agresif dari penghuni panti tersebut.

(Catatan : pasien yang dibiarkan bebas adalah yang sudah berproses menuju kesembuhan dan keseimbangan mental. Sementara yang masih dalam kondisi parah dan membahayakan diri dan orang lain, mendapat perlakuan yang disesuaikan dengan kondisinya. Ada yang dikurung dalam ruangan. Ada juga yang dirantai).

Sebagian dari mereka tampak apatis. Terperangkap dalam dunia yang hanya dipahami oleh mereka. Mereka hanya duduk melamun. Atau berbicara antar mereka. Entah dengan tingkat kesaling-pahaman seperti apa.

 Sebagian lagi menyambut kedatangan tamu dengan antusias.  Seakan mereka rindu disapa. Rindu dianggap ada. Rindu dimanusiakan. Sebagaimana halnya Ana.
Untuk memudahkan sosialisasi penghuni yang sudah dinyatakan sembuh, Pak Ustad memfasilitasi mereka dengan upaya membaurkan mereka dengan masyarakat. Sesuai dengan keterampilan dan bakatnya.

Seperti pada pasien laki-laki, Pak Ustad mencarikan lapangan kerja di sekitar panti.  Misalnya menjadi tenaga kerja kasar dsb. 

Berbeda dengan penderita perempuan,  penderita laki-laki, menurut Pak Ustad, biasanya disebabkan benturan dalam pikiran karena mengikuti aliran sesat atau pengaruh narkoba.

Saya tak bisa membayangkan bila tak ada uluran tangan orang-orang berhati luas seperti Pak Ustad. Akankah mereka akan dibiarkan berkeliaran di jalanan. Berebut makanan dengan hewan-hewan liar dan tak memiliki setitik pun penghargaan atas rasa kemanusiaan. 

Panti yang mengandalkan swadaya masyarakat ini masih sangat memerlukan uluran tangan. Kondisinya masih amat terbatas. Lihatlah dapurnya yang masih sangat memprihatinkan. Terdiri dari tungku-tungku tanah berdinding bambu dan beralaskan tanah.
Dapur yang "sederhana"

Gaplek sebagai salah satu sumber pemasukan panti.



Sesuatu yang mengendap


Adalah pertanyaan demi pertanyaan. Bukan pada orang lain. Melainkan pada diri saya sendiri.

 Apakah masyarakat ini siap menerima kehadiran mantan skizoprenia di tengah-tengah hidup mereka ? Akankah masyarakat ini berlapang hati menerima mereka yang rapuh secara mental?

Tentu bukan hal yang mudah. Tetapi, juga bukanlah hal yang mustahil. 

 Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuat kita lebih bersyukur atas nikmat sehat, baik lahir maupun batin, yang kita rasakan saat ini.
Salam....

Kenangan yang tersisa saat kunjungan Ramadhan 2014 silam. Sungguh perjalanan yang tak akan pernah terlupakan.

Sambutan Pak Ustad Pemilik Yayasan

Lamunan nenek-nenek jompo
Pendatang baru yang masih suka menyakiti diri sendiri.
 
 
Ia yang memiliki bakat dalam menggambar
Ia yang terjebak dalam dunianya yang terlindungi

 
Aku dan teman-teman liqo binaan Umi Haryanti bersama Pak Ustad

13 komentar:

  1. Iya mba bener sekali. Banyak dari mereka menjadi seperti itu karena terlalu tinggi meletakkan rasa percaya kepada pasangannya. Terlalu cinta dan terlalu kagum..namun sebenarnya itu takkan terjadi bila dia memiliki seseorang dan lingkungan yang mampu mengaitkannya. Memberi dukungan penuh...bukan sekedar ucapan simpati. Makanya aku selalu memberi ruang untuk orang orang yang baru saja mengalami hal itu, agar mereka tidak hilang kesadaran. SUNGGUH HANYA CINTA ALLAH lah yang takkan membuat kita kecewa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Jeng Sri. Cinta Allah Swt saja yang tidak membutakan dan membahayakan. Salut untuk dirimu yang selalu membuka hati dan tangan untuk mereka. *peluuuk

      Hapus
  2. duh, yang begini ni, yang seringkali masih terlupa

    BalasHapus
  3. MasyaAllah ya, mulia banget Pa Ustadz ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Istiana...
      Mulia sekali beliau.

      Hapus
    2. Betul Mbak Istiana...
      Mulia sekali beliau.

      Hapus
  4. Duh miris banget melihat keadaan seperti ini. :( Sampe mataku berkaca-kaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Anisa... jadi meski pun saya lupa data-data penting, termasuk nama Pak ustad, tiap liat foto itu di folder, saya jadi teringat nasib mereka.
      Juga kesan-kesan yang membekas dalam dalam benak saya.

      Hapus
  5. Ya Allah gak tau mesti ngomogn apa. semoga pa ustadz selalu diberikan kekuatan, dan semoga semakin banyak org peduli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... aamiin... aamiin... saya juga terharu banget waktu berkunjung ke lokasi. BAnyak banget lho yang diurus. Luar biasa Pa Ustad dan keluarganya

      Hapus
  6. terharu baca tulisan mbak....bingung mau komentar apa, salut dengan orang2 baik yang peduli dengan mereka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih terbayang-bayang saat disambut dengan pembacaan puisi spontan salah satu penghuni panti. Mungkin, saat yang sama dia sedang merasa berada di atas panggung.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^