Jumat, 05 Februari 2016

Serunya Dunia Imajinasi Anak



Dunia imajinasi anak adalah dunia tanpa tepi. Dunia kebebasan tanpa batas. Dunia yang terlepas dari otoritas orangtua atau siapa pun. Dunia di mana anak merdeka untuk mencipta mimpi.

Mom, berikut ini saya cuplikan salah satu materi dari buku duet parenting saya bersama Teh Endah Kurniadarmi. Tentang dunia imajinasi yang pernah begitu riuh menghiasi rumah saya.
Dunia imajinasi anak tak terukur luasnya.

Selamat Datang Ke Dunia Game




Seperti biasa, setiap ada kesempatan Bani dan Rafi sibuk mojok di kamar.  Mereka terlibat dalam permainan seru yang mencengangkan sekaligus menyebalkan bagi si empunya kamar. Permainan yang mereka ciptakan  persis  seperti kartun Spongebob, dalam episode  dimana Spongebob Squrepants dan Patrick Star menciptakan dunia fantasi mereka dalam kardus TV yang dibuang Squidward. Heboh dan seru.

Begitu serunya permainan dalam dunia imaji mereka, sehingga sang kakak pun merasa penasaran— ah, lagi-lagi mirip dengan rasa ingin tahu Squidward dalam episode yang sama.

"Dek, boleh ikut bermain?” tanya Arik.
“Mas Arik mau ikut bermain?”  Mata Bani berbinar.
“ Iya...”
“Seriuuus?”
Arik menggangguk-anggukkan kepala dengan serius.

“Kalo begitu, ucapkan kata sandi..” Bani  melirik ke arah Rafi. Sikapnya mencurigakan.
“Haa? Ada  kata sandinya?” Arik terkejut

“MAAF. KATA SANDI ANDA SALAH.” Bani menirukan suara operator selular.

“Lalu, aku harus bilang apa???” Arik bertanya penuh rasa bingung.
“ MASIH SALAH.”
 Bani dan Rafi terkekeh bersama, mereka menikmati permainan ini.

Arik mulai kesal. Ia pun mengeluarkan powernya sebagai seorang senior.
“Ayo ahh, Dek... Kasih tau apa kata sandinya?”
“Sudahlah, Dek, beritahu saja” kata Rafi menengahi. Ia mulai merasa khawatir.

“Ok. Kata sandinya adalah COCONUT. Hilangkan huruf terakhir dan ganti huruf O menjadi huruf A.” Bani kembali mengeluarkan suara ala operator game.
Arik diam  dan berpikir.

“Aha, aku tahu...KAKANA!” Teriaknya dengan nada puas.

“SELAMAT DATANG DI DUNIA CERITA.” Suara ala operator itu kembali muncul.

 Bani tersenyum  mencurigakan. “Ayo, Mas Arik, kita mulai bercerita. Mas Arik  mulai dari Level O (nol). Aku dan Mas Rafi sudah level ke-seratus.”

“Eh, kok gitu?” Arik merasa kaget.
“Iya donk. Kami kan sudah lama bermain game, sedangkan Mas Arik baru ikut bergabung.”
“Lantas aku harus bagaimana?” Arik mencoba memahami posisinya.
“Ya, Mas Arik harus mempunyai kekuatan (power). Seperti aku dan Mas Rafi.  Aku punya kekuatan petir, api,dll.”

“OK. Caranya?” Arik belum mau menyerah.
“Melewati tantangan.”
“Tantangannya?”

Bani melirik ke arah Rafi sambil tersenyum. Lagi-lagi sikapnya mencurigakan.
“Tantangannya harus mengalahkan aku sama Mas Rafi.”
“Haa? Tanpa kekuatan?”
“Iya. Karena  Mas Arik masih level nol.... belum punya kekuatan apa-apa.” Wajah Bani tampak polos.

“Gilaaaa.... masa aku disuruh melawan kekuatan angin, kekuatan api, petir tanpa senjata?”
Rabbani angkat bahu.  “Kan level enol...?”
“Ah, udah deh... Aku gak jadi ikut.”

“Kenapa, Mas? Coba aja dulu.” Bujuk Bani.
“Ngapain... yang ada aku babak belur dikeroyok berdua.”

Arik memilih undur diri setelah menyadari powernya sebagai kakak sama sekali tak berperan di dunia game milik adik-adiknya. Ia hanya akan diplonco habis-habisan sama adik-adiknya. Bukan Rafi yang ia khawatirkan. Tapi akal Bani yang kerap tak bisa dibaca yang pasti membuatnya kehilangan wibawa.

“Aku keluar....” ujar Arik sebelum babak belur.
“MAAF. KATA SANDI ANDA ... SALAH.”
“OMG...! Lagiiiiii?”
“MAAF... MASIH SALAH.”
“Truss.. aku harus bilang apa?”
“PERMINTAAN ANDA DITOLAK.”
“Dek, pleaseee... aku mau keluar.” Pinta Arik.
“DITOLAK.”
“Deeeek, pleaseeeee... keluarin aku doonk.” Arik memohon.
“DITOLAK.”
“DEK...! POKOKNYA AKU KELUAR...” Arik mengeluarkan powernya.
“DITOLAK.”

“Rafi, bantuin Mas Arik donk... Mas Arik udahan.” Arik mengalihkan sasaran. Rafi biasanya lebih lunak. Rafi yang cekikikan mengangkat bahu. “Bani yang pegang kuncinya.”
Aha, rupanya mereka berkomplot. Kapan lagi mengalahkan Mas Arik, kalau bukan di dunia game?

“Aaah, pokoknya aku keluar. Titik!” Arik frustasi.
“DITOLAK.”
“Deeeek, pleaseeeee....” Arik menghiba-iba.

Rafi mengamit adiknya. Mereka berbisik-bisik sebentar.
“Baiklah... permintaan Anda diterima.”
“Haaa? Hore.... makasih,  Dek...” Arik melompat girang.

Karimna yang sedari tadi hanya senyam-senyum memperhatikan tingkah adik-adiknya bertanya pada Arik.  “ Gimana rasanya terjebak di dunia BER-CERITA mereka?”

Arik pun mengeluarkan kekesalannya.
“Gilaaaa.... Pokoknya aku enggak bakal mau lagi bilang KAKANA...”

“SELAMAT DATANG.... ANDA TELAH MEMASUKI DUNIA BERCERITA.”

“Tidaaak....!” Arik mengejar adik-adiknya yang tergelak sambil berlari.

***

Mom, dunia anak-anak adalah dunia yang penuh imajinasi. Penuh dengan kompetisi namun tetap dalam persahabatan yang indah. Tengoklah, bagaimana mereka akan segera rukun kembali setelah saling ledek, memukul, bahkan menangis meraung-raung karena merasa tersakiti.

Anak Usia Sekolah mengalami perkembangan imajinasi yang luar biasa. Sedahsyat-dahsyatnya. Di masa ini pula anak berada dalam tahap intensitas paling kuat, memorisasi yang paling kuat, dengan materi ingatan yang paling banyak.

Anak seusia Bani, Rafi dan Arik amat menyukai dongeng dan cerita, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu, mereka mulai mempelajari cara berpikir konkrit. Membedakan informasi-informasi yang bersifat logis, nyata, atau pun khayalan semata.

Pada masa ini juga ketakutan-ketakutan akan hal-hal gaib mulai muncul, juga rasa takut pada hal-hal lainnya. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah senantiasa mendampingi buah hati, termasuk juga memperkaya khazanah pengetahuan agar setiap kali anak bertanya, kita mampu memuaskan rasa ingin tahunya.

Semoga bermanfaat ^^


15 komentar:

  1. Serunya jadi orang tua ya Mbak :)

    BalasHapus
  2. Anak2ku jg lagi seneng berimajinasi dan emang bener main game itu bikin mereka suka berimajinasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Leyla Hana.... bukan cuma game sebetulnya. Tapi juga bacaan dan tontonan.
      Memang masanya.

      Hapus
    2. Iya Mbak Leyla Hana.... bukan cuma game sebetulnya. Tapi juga bacaan dan tontonan.
      Memang masanya.

      Hapus
  3. Alhamdulillah. ..seruuuuu!
    Trims ya Mbak Titis

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah. ..seruuuuu!
    Trims ya Mbak Titis

    BalasHapus
  5. Seru sekali game-nya mbak... serasa ada di lokasi dan ikut main juga hihi

    Ijin berbagi ya mbak

    BalasHapus
  6. Aku lebih suka mendongeng buat dia. Seru banget. Apalagi kalau tokoh utamanya juga dia. ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang harusnya begitu, Mbak Anisa.
      Ini karena mereka suka main game, jadi begitu deh.

      Hapus
    2. Sekarang anakku juga mulai ngegame deh. Sejak dapat lungsuran S2 dari saya -,-
      Tapi tetep lebih ke suka dongeng ma mewarnai

      Hapus
    3. Hahaha.. hati-hati, Mbak Anisa. Kudu diawasi.

      Hapus
  7. Aku suka banget sama cerita imajinasi ketiga bersaudara ini..
    Jadi ngebayangin gimana itu ricuhnya mereka.
    hahaa.

    KAKANA
    Selamat anda telah bergabung
    Aku mau keluaar
    Permintaan di tolak.

    Kreatif lhooh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulaah... dunia anak-anak. Bisa bikin kepingkel sambil bingung. hehehe.
      Selamat bergabung. KAKANA!

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^