Selasa, 02 Februari 2016

Kisah Inspiratif Tentang Perempuan Yang Kehilangan Rahim







Karena Kau Beruntung
Oleh : Liza P Arjanto

            “Karena kau beruntung.”
            Seketika aku terdiam. Jawaban lugas itu terdengar bagai petir yang menyambar kesadaranku. Tidak ada setitik pun keraguan dalam nada suara perempuan yang telah melahirkanku puluhan tahun itu. Sungguh, aku ingin mempercayai hal itu, tapi bagaimana mungkin aku bisa. Puluhan tahun sudah aku menjalani kehidupan yang melelahkan ini. Cobaan dan ujian kehidupan seperti karib yang enggan berpisah terlalu lama denganku. Hidupku seakan bertolak dari satu masalah ke masalah lain. Dari satu penderitaan menuju penderitaan yang lebih dalam lagi.
            Dan, Mamaku mengatakan aku beruntung?

            Tuhanku, dimanakah letak keberuntungan seorang perempuan yang menjadi gudang segala macam penyakit keturunan? Hingga di usiaku yang masih muda, belum mencapai empat puluh tahun, namun sudah terlihat renta dan lemah? 

            Dimana keberuntunganku, jika tak pernah sekalipun aku merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu yang mengandung. Merasakan sensasi menakjubkan manakala sebentuk kehidupan tersusun dalam rahimku. 
  Bagaimana bisa dikatakan, beruntung, bila aku menjalani pernikahan tanpa rahim yang  memungkinkan aku menjadi seorang ibu dan istri yang bahagia lahir dan batin? Kista itu telah merengut rahimku tak lama setelah pernikahanku berlangsung. Mungkin, akulah satu-satunya makhluk Tuhan di muka bumi, satu-satunya perempuan minus rahim, yang dikatakan beruntung. Alangkah aneh dan ironis, kudengar.

            Di mana letak keberuntunganku, bila sepanjang hidupku aku tidak pernah merasakan nikmatnya bergelimang harta dan kemewahan. Aku selalu dalam kondisi hidup pas-pasan. Selalu dituntut untuk mencukup-cukupkan berapa pun rezeki yang diberikan Tuhan padaku.

 Betapa pun besar hasratku untuk merasakan nikmatnya menjalani hidup berkecukupan,  namun untuk itu pun aku harus bersabar. Bersabar dengan prinsip hidup yang dipegang teguh suamiku. Prinsip hidup, idealisme yang –sepertinya- tak akan pernah berubah. 

Idealisme itu mengalir deras dalam darah suamiku, membentuk  hidupnya dan sekaligus hidupku. Hal ini pula yang membuat aku harus menahan diri, agar tak menuntut lebih banyak darinya.

            Sesungguhnyalah, suamiku adalah salah satu dari setitik keajaiban yang tersisa di muka bumi ini. Sebagai peranakan India – Padang, suamiku memiliki rupa setampan bintang film India. Dengan perawakan tinggi besar, suamiku lebih pantas menjadi aktor film drama ketimbang menjadi seorang dosen. Apalagi seorang dekan pula.

            Ya, suamiku seorang dosen di sebuah universitas swasta di propinsi yang kaya akan minyak bumi dan perkebunan sawitnya, namun tersisih dari program pembangunan nasional. Menjadi tenaga pendidik di tanah kelahiran menjadi pilihan suamiku, meskipun dengan gaji yang minim.

 Ia  bergeming, meski pun posisinya sebagai dekan fakultas, dan pergaulannya yang luas dengan pejabat-pejabat daerah memungkinkannya untuk memperoleh posisi-posisi penting dalam pemerintahan daerah. Ia pun tak hendak memanfaatkan posisinya untuk memperoleh kekayaan di luar haknya.

            Suamiku teramat jujur dan lurus. Melihatnya menolak pemberian para mahasiswa bimbingannya, menjadi pemandangan biasa bagiku. Suamiku itu selalu berada dalam rel yang lurus, hingga kerap saudara kandungku mengoloknya sebagai “makhluk ajaib”.

            Suamiku tak pernah tergiur untuk melakukan praktek-praktek KKN, bahkan dalam hal yang paling lumrah sekalipun. Ia begitu kukuh memegang jalan hidup yang lurus. Jalan ini terkadang membuat aku bagai berjalan di atas tebing terjal. Mendaki. Dan penuh hempasan angin. Saat-saat seperti itu, aku hanya berpasrah diri.

 Sesekali aku akan bertanya pada suamiku, sekuat apa ia bertahan. Biasanya suamiku hanya menjawab, “Tuhan tidak akan memberi cobaan, melainkan sesuai dengan kemampuan hambanya.” Jawaban singkat yang membungkam mulutku untuk beberapa waktu.

            “Halooo....” 

            Suara dari seberang pulau itu menghentikan lamunanku. Ribuan kilo meter jaraknya dariku, namun mama terasa begitu dekat. Sebentuk rasa pedih membuat mataku berkaca-kaca.

            “Bagaimana mungkin, aku beruntung, Mama.” Isakku tertahan.

            “ Tentu saja kau beruntung, Anakku. Kau punya seorang suami yang memperlakukanmu dengan baik. Yang menghormatimu dan mencintaimu dengan tulus. Tidak  mengeluh atau meninggalkanmu, meski pun kondisimu begitu rapuh. 

            Lihat berita-berita di teve, di koran-koran, begitu banyak istri yang diperlakukan dengan semena-mena oleh suaminya. Dicampakkan. Dikasari, disiksa bahkan dijual oleh suaminya.

            Kau jauh lebih beruntung dari mereka. Kau dihormati orang karena suamimu terjaga hidupnya. Rezekimu dicukupinya dengan jalan yang halal. Ia pun tidak meninggalkanmu, meskipun ia berhak untuk mendapatkan yang lebih darimu.”

            “ Tapi, Ma..”

            “ Penyakit-penyakitmu itu hanyalah jalanmu menuju surga. Asal kau ikhlas menjalaninya. Mama doakan, semoga hidupmu beruntung dunia dan akhirat.”

            Airmataku tumpah tak tertahan. Kalimat itu menjelma menjadi obat paling mujarab yang membuat lidahku malu untuk mengeluh. Aku tidak punya pilihan lain kecuali belajar menerima kenyataan dan ikhlas menjalaninya. Tidak pernah mudah bagiku. Tapi aku akan bertahan. 

            Kini usiaku menapak menuju angka separuh abad. Tidak ada lagi gelombang emosi yang menguras tenagaku. Tidak ada lagi gugatan atas takdir yang telah ditetapkanNya untukku. Kehidupanku berjalan senormal biasanya. Serba pas-pasan dan selalu jatuh sakit, manakala aku terlalu letih menjalani aktivitasku.

            Aku mengisi waktuku dengan menjadi kepala madrasah di daerahku. Amanah yang dipercayakan, entah atas pertimbangan apa. Suamiku sesekali meninggalkanku berdua dengan anak angkatku untuk melanjutkan studi S3nya di kota lain. Tak ada yang berubah darinya. Ia tetap sesantun dulu padaku. 

Di sela-sela waktu luangnya, ia selalu membuatku tertawa dengan caranya. Ia pun tak pernah bosan menghujaniku dengan berbagai oleh-oleh yang -terkadang, menurutku- berlebihan, manakala ia mendapat rezeki berlebih. 

            Hidupku dan hidup suamiku berjalan pelan. Setiap detik membawa kematian kian dekat pada kami. Namun, sebuah keyakinan kian menghunjam dalam dadaku. Keyakinan akan kebenaran ucapan mamaku bertahun-tahun lalu. Bahwa aku adalah orang yang beruntung. Kuharap, hidupku yang sederhana ini, tidaklah sia-sianya adanya.
            
Kisah ini merupakan kisah nyata dari seseorang yang amat saya sayangi. Kisah ini juga dimuat dalam buku antologi : Berpikir Positif , yang diterbitkan oleh PT Gramedia. 
Semoga menginspirasi. Salam....


15 komentar:

  1. Luar biasa mbak, saya terharu membacanya.
    Iya, dia wanita yg beruntung, krn dikelilingi cahaya cinta sekitarnya, terutama kekasih hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Betul...
      Tak lama lagi mereka berangkat ke tanah suci. Semoga dimudahkan.

      Hapus
  2. Ahhh sebuah lecutan hangat di hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims Mbak Anisa, semoga bermanfaat

      Hapus
    2. Trims Mbak Anisa, semoga bermanfaat...

      Hapus
  3. aku malah lupa mau beli bukunya .... sampe sekarang ha ha ha

    BalasHapus
  4. Kisahnya mengharukan sekali mbak. Apapun kondisi kita,kita harus tetap bersyukur kan mbak? :-) Terima kasih udah mau berbagi. Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mau baca tulisan kecil ini, Mbak Nova.
      Salam kenal

      Hapus
  5. Di setiap gurat keringkihan hidup, selalu ada hal yang bisa disyukuri. So inspiring, Kakak Liz. Lanjutkeun! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Semoga kita termasuk golongan orang yang beruntung ya...
      Trims ya dik izzah

      Hapus
  6. Subhanallah, sy juga pernah menemukan seorang gadis yg bahkan tak berani bermimpi menikah karena dia menderita penyakit yg membuatnya tdk bs haid, :(,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal, jodoh dan anak itu rezeki ya Mbak Nurin. Dan kita hanya diwajibkan untuk ikhtiar...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^