Minggu, 07 Februari 2016

5 Tips Mendidik Anak Mengatasi Rasa Kecewa



5 Cara Mendidik Anak Mengatasi Rasa Kecewa

Mendidik anak mengatasi rasa kecewa merupakan salah satu kewajiban orang tua.

 

 

Sahabat Moma, sering kali kita menemukan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Kondisi yang membuat kita merasa kecewa terhadap satu atau banyak hal. Begitu pula dengan anak-anak, tanpa kita sadari, sering membuat mereka kecewa. Bagaimana mendidik anak agar mampu mengatasi rasa kecewa?


Menurut seorang psikolog psikoanalisa, Heinz Kohut, dalam teori tentang dissapoinment, rasa kecewa dan rasa frustasi dalam dosis tertentu diperlukan  dalam proses menuju kedewasaan. Semacam latihan, agar seseorang menjadi pribadi resielient, tahan banting, menghadapi persoalan hidupnya di masa mendatang.

Menariknya, terkadang saya menjumpai fenomena, di mana orangtua merasa perlu melindungi anaknya dari ancaman rasa kecewa. Orangtua merasa perlu mengungkapkan rasa cinta dan sayang melalui tindakan meluluskan semua permintaan anak demi menghindarkan anak dari kecewa yang mungkin muncul.

Padahal tentu kita tahu, rasa kecewa merupakan salah satu proses dan bagian hidup yang tidak mungkin selamanya bisa kita hindari.

Nah, untuk melatih anak menghadapi rasa kecewa ini, saya melakukan wawancara dengan seorang teman psikolog saya yang ramah dan baik hati, Natalia Indrasari Soetrisno, Psi.

Bagaimana cara melatih anak dalam mengatasi rasa kecewanya?


1. Validasi perasaan anak

Ketika anak merasa sedih atau kecewa akibat suatu hal, ungkapkan rasa simpati dan empati Anda. Agar ia tahu dan mengerti pedihnya rasa kecewa. Biarkan anak mengerti ada rasa kecewa/frustasi dalam hidupnya.

Misal, ketika anak tidak jadi pergi ke pesta ulang tahun, akibat hujan besar, jelaskan bahwa kondisi itu memang mengecewakan.

2. Ajarkan bahwa hidup banyak alternatif 

- Tawarkan berbagai alternatif yang bisa dipilih anak.
- Ajarkan anak berpikir kreatif dan mencari solusi.
Misal, karena tidak jadi pergi ke pesta ulang tahun, tawarkan anak untuk melakukan kegiatan lain yang menyenangkan di rumah. Seperti : nonton bersama, bermain lego, dll.
-

     3. Berikan peneguhan

Ketika anak sudah berhasil melewati perasaan kecewanya dan tenang, berilah peneguhan (reinforce) dengan kata-kata, sehingga kelak anak akan mampu mengatasi kekecewaannya dengan memilih alternatif lain yang ditemuinya dalam hidup.

Misal dengan mengatakan, “wah, ternyata meskipun tidak jadi ke pantai, kita bisa bersenang-senang dengan melakukan kegiatan ini ya...”

4. Konsisten

Mom, lakukan hal yang sama setiap kali anak berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang membuatnya kecewa. Jangan pernah menolak perasaan tersebut, melainkan, akuilah sebagai perasaan yang wajar. Dan perasaan itu ada akhirnya.


5. Teladan


Ketika Anda menghadapi kekecewaan, tunjukkan pada mereka bagaimana cara Anda mengatasi rasa kecewa tersebut. Reaksi yang Anda tunjukkan akan sangat mempengaruhi sikap anak dikemudian hari.

Apa yang terjadi bila anak tidak dilatih menghadapi rasa kecewa?


Menurut Psikolog Fred Liskin, seorang profesor dari Stamford, orang yang tidak bisa merasakan kebahagiaan, merasa selalu memiliki masalah,  adalah orang yang tidak terbiasa mendengar kata “tidak” dalam hidupnya. Atau, orang tersebut selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dalam kehidupan.

 Orang seperti ini  cenderung tumbuh menjadi pribadi yang narsistik, dimana dia merasa dirinya adalah pusat perhatian. Merasa menjadi orang yang paling penting, butuh diperhatikan terus-menerus, tidak mandiri dan selalu membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Tugas orangtua dalam mendidik anak


“ Karena hidup tak selamanya sejalan dengan yang kita maui. Belajar menghadapi kekecewaan, ketika hidup mengalami kondisi ‘jatuh’ sangatlah penting.” Demikian ujar Natalia, konselor yang concern menangani masalah parenting and relationship communication ini.

 “Orangtua bisa saja berusaha untuk tidak mengecewakan anak, tapi bukan berarti anak bisa terlindungi (terbebas) dari perasaan kecewa. Karena rasa kecewa itu bisa muncul dari berbagai faktor atau disebabkan oleh orang lain dalam hidupnya.

Kita tidak bisa mencegah orang lain mempunyai perasaan negatif. Kesalahan persepsi kerap menimbulkan perasaan negatif. Dan tentu, kita tidak bisa mengontrol orang lain untuk tidak berpikir negatif seperti harapan kita.

Jadi, anak tetap harus diajarkan cara menghadapi perasaan kecewa yang sifatnya positif, supaya anak tumbuh menjadi manusia yang resielient (pantang menyerah).”jelasnya kemudian

Tugas orangtua dalam perkembangan ini, bukan melindungi anak dari rasa frustasi. Juga bukan sengaja membebani anak dengan rasa kecewa. Melainkan mendampingi anak menghadapi rasa kecewa itu dengan memberikan penjelasan, bahwa rasa kecewa itu memang ada dan nyata.

Nah, Mom, selamat melatih buah hati Anda. Mendampingi mereka agar mereka faham, bahwa kita selalu ada untuk menguatkan mereka.

8 komentar:

  1. Makasih dah sharing, Kak Liz. Postingannya yang sangat bermanfaat. Artikel seperti ini sangat dibutuhkan para Momas (:D) dalam prosesnya mendidik buah hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...makasih ya udah mampir :)

      Hapus
  2. Terima kasih sharingnya mak, iya nih kita memang harus mengenalkan rasa kecewa ini agar anak juga tau kadang ada hal2 yg tdk sesuai dg harapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mak Uniek, sudah kewajiban kita melatih anak untuk mandiri, termasuk menghadapi rasa kecewa. Terima kasih ya atas kunjungannya.

      Hapus
  3. Jadi ingat pas anakku nangis karena gak menang lomba sama sekali. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... memang itu bagian yang sulit dihindari ya Mbak Anisa.
      Semoga tetap bersemangat ikut lomba berikutnya.

      Hapus
  4. Share ya mbaaak... tengkyu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan Mbak Junizar... Terima kasih juga yaaa :)

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^