Sabtu, 13 Februari 2016

4 Tips Tumbuh kembang Anak : Ketika Anak Merasa Berbeda



Dalam proses tumbuh kembang, anak kerap merasa berbeda



Tumbuh Kembang  Anak  : Ketika Anak Merasa Berbeda

Sahabat Moma, kita tentu tahu, bahwa  setiap anak terlahir unik, istimewa, dan tiada duanya. Bahkan anak kembar  identik sekali pun memiliki sejumlah perbedaan. Tumbuh kembang  anak berjalan secara bertahap sesuai dengan tingkat pemahaman dan pengalamannya.  


Di samping memiliki kekhasan tersendiri, kita juga bisa menemukan sejumlah persamaan pada anak-anak kita. Entah persamaan secara fisik, maupun karakter.
Seperti anak-anak saya. Meski pun wajah mereka berbeda satu sama lain, namun secara umum orang dengan mudah mengategorikan mereka dalam kelompok-kelompok tertentu. 

Misal, anak-anak nomor ganjil berkulit putih dan memiliki mata yang sipit, sementara anak-anak genap berkulit lebih berwarna dan mata yang bundar. 

Nah, bagaimana dengan anak-anak itu sendiri? Apakah mereka menyadari sejumlah perbedaan dan persamaan itu

Ya. Mereka menyadari.  Dan terkadang dalam bentuk yang ekstrim—perbedaan yang sangat menyolok--, mereka memprotes kondisi fisik mereka yang berbeda dengan saudara-saudaranya.

 Mereka cenderung mengabaikan persamaan yang ada dan lebih memilih mempersoalkan perbedaan di antara mereka.

Lalu, pertanyaan seperti : Kenapa sih aku hitam sendiri?  Kenapa sih aku nggak cantik seperti kakak? Kenapa sih aku nggak tinggi? dsb, akan sering sekali terlontar sebagai ungkapan protes mereka.

Pertanyaan-pertanyaan ini, meski kadang kala terasa lucu dan sepele, alangkah baiknya bila tidak kita abaikan.

Mom, bukankah kita tahu,  fisik merupakan hal pertama yang akan dilihat orang. Perbedaan fisik yang menyolok merupakan salah satu hal yang kerap menimbulkan kesan dalam diri seseorang.

Sehingga terkadang, dengan nada ringan orang akan mempertanyakan hal-hal tersebut pada si anak. Hal-hal sepele seperti ini terkadang menjadi persoalan besar dalam tumbuh kembang anak. Dan bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri.

Padahal kita tahu, perbedaan maupun persamaan itu diperoleh anak melalui penurunan genetis dari orangtuanya. Ada yang memperoleh sifat dominan kedua orangtuanya, ada pula yang mewarisi gen resesif.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi rasa tak nyaman anak atas kondisi fisik mereka yang berbeda?



1. Bantu mereka mengatasi persoalan fisik mereka


Bila anak merasa hitam, barangkali kita bisa membantunya dengan menyediakan lotion yang bisa membuat kulitnya tampak lebih cerah dan bersih.

Bila anak merasa pendek, bantu mereka dengan memberi dukungan pada aktivitas yang bisa membuat tubuh mereka lebih tinggi, misal : renang,  bersepeda, senam dsb.
Bila anak merasa gemuk, bantulah ia dengan program-program diet yang sehat dan bermanfaat.



2. Bantu anak agar ia merasa diterima


Merasa dirinya diterima akan membuat anak merasa dimengerti. Saat anak merasa bahwa dirinya dimengerti, ia akan lebih  mudah berempati dan jujur. 

Kita tentu tahu, bahwa empati dan jujur merupakan moda penting dalam pertemanan. Sikap inilah yang membuat seseorang tidak mudah menghina orang lain. Ia akan mudah menerima dirinya dan orang lain secara apa adanya.



3. Terimalah kondisi anak apa adanya


Seperti anak yang tidak bisa memilih dari ibu mana ia dilahirkan, kita pun tidak bisa memilih seperti apa anak yang kita miliki. 

 Penerimaan kita akan kondisi anak merupakan hal penting yang akan mempengaruhi penerimaan anak terhadap dirinya sendiri.
Hindari meledek anak atau memanggilnya dengan panggilan yang tak disukainya. Misal : Anak gendut, Si Hitam dsb.



4. Tanamkan rasa syukur anak terhadap kondisi fisiknya


Ini merupakan langkah dasar yang harus dilakukan orangtua, agar anak memiliki pemahaman dan pengertian yang baik, agar ia merasa nyaman dengan kondisi fisik, pikiran dan perasaan yang ia miliki. Sehingga anak merasa lebih percaya diri dan merasa berharga. 

Nah, sahabat Moma, semoga tulisan ini bermanfaat dan anak-anak dapat tumbuh ceria dan penuh percaya diri, meski pun ia berbeda.

 







12 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mak... meski berbeda toh tetap Ok!
      Terima kasih atas kunjungannya ^^.

      Hapus
  2. Peran ortu dan keluarga penting banget buat menanamkan hal positif ya Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Mbak Vhoy... betul banget.

      Hapus
    2. Yup. Mbak Vhoy... betul banget.

      Hapus
  3. gmn yah klo kita pernah salah mengasuh, apa diusia merek selanjutnya kita masih bisa memperbaiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu bisa, Bang Day. Anak bukan benda mati yang tidak bisa berubah. Mereka berubah dan berkembang. Seperti juga kita. Untuk mengatasi rasa bersalah kita pada anak-anak, gak salah kok kalau kita sering meminta maaf. Hal ini akan bernilai positif di mata anak.
      Anak-anak itu pemaaf kok.
      Ada mungkin yang tak bisa dihilangkan dan terus membekas, tapi, insya Allah dengan semakin matang usia anak, mereka akan memahami kekhilafan kita di masa lalu.
      Rasanya,tidak ada orangtua yang tidak pernah salah dalam mendidik, kecuali para nabi dan orang-orang terpilih. Sedang kita hanya bisa berusaha memberi yang terbaik sesuai kondisi dan pemahaman kita.
      Tetap semangat ya Bang Day... ^^

      Hapus
  4. Semua tergantung pada ortu, ya?

    BTW. Tampilan blognya baru, lebih kece dan nyaman dilihat. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum... sebagian besar iya. KArena anak kan berada dalam asuhan dan tanggung jawab kita.

      Oyaaaaa??? tengkyuuuuuuu

      Hapus
  5. Anakku cuma 2 tapi nggak ada yg sama. Kalau berantem mereka rebutan mana yg lebih mirip ortu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...paling mirip ortu emang bikin anak bangga.
      Mungkin juga merasa aman ya Mak Lusi?

      Hapus
    2. Hahaha...paling mirip ortu emang bikin anak bangga.
      Mungkin juga merasa aman ya Mak Lusi?

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^