Minggu, 31 Januari 2016

Trik Mengatasi Takut Pada Anak



 

Mengatasi Takut Pada Anak

Setiap anak tumbuh dan berkembang secara unik. Ada anak yang berani melakukan segala hal, namun ada juga anak yang serba takut. Hingga kerap dijuluki anak penakut.
Kemarin ketika mengantar Arsyad mengikuti lomba di salah satu SD swasta di wilayah Tambun Selatan, iseng-iseng saya mengajak Zidna bermain perosotan. 

Menariknya, perosotan itu tidak seperti yang biasa, melainkan terdiri dari rangkaian panjang. Mulai dari tangga biasa kecil, jembatan menanjak, juga jembatan goyang, barulah perosotan.


Apa yang terjadi?

Pada mulanya Zidna tampak bersemangat mengikuti rangkaian itu. Lalu tibalah ia di jembatan goyang. Keraguan tampak nyata di wajah mungilnya. Namun dengan suport yang saya berikan, ia mulai melangkah di jembatan goyang.

Persis di tengah jembatan, rombongan anak yang lebih besar, yang berada di belakang Zidna mulai tak sabar. Dengan kekhasan para bocah mereka menggoyang hebat jembatan itu. Akibatnya  keberanian Zidna pun hancur seketika.

Zidna menangis ketakutan di tengah perjalanan. Ingin sekali rasanya memeluk Zidna dan memberikan rasa aman. Sayang, posisi saya di bawah  hanya bisa memberi suport menenangkan. Syukur ia bisa  menyelesaikan sisa perjalanan hingga ujung jembatan, sambil terus menangis ketakutan. 

Ia menolak meluncur di perosotan/seluncuran. Ia menunggu pertolongan Bapaknya yang segera datang menurunkan dan memeluknya. Dapat dipastikan setelah peristiwa itu, ia menolak keras permainan itu, meski sudah tak ada lagi anak-anak iseng yang membuatnya takut.

Wajarkah rasa takut ini pada anak?


Mom, rasa takut sejatinya merupakan salah satu perangkat yang diberikan Allah Swt pada makhluk hidup agar mampu menjaga hidupnya dengan baik. Rasa takut merupakan bagian dari  daya survive yang berkembang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman.

Bukankah  kita pun sering kali takut pada segala hal yang terkadang sangat tidak jelas? Ya. Rasa takut seringkali muncul oleh sesuatu hal yang tidak jelas dan nyata dalam kehidupan kita. 

Anak-anak saya sering  merasa takut pada serangga, seperti laba-laba dan serangga-serangga kecilnya.

Bahkan terkadang rasa takut pada anak muncul dalam bentuk yang menggelikan. Seperti putri sulung saya, rasa takut terhadap ketinggian membuatnya menangis bila disuruh melangkah sendiri di atas polisi tidur. 

Polisi tidur? Ya. Polisi tidur. Lucu kan? Dan jangan pernah membayangkan bagaimana reaksinya bila disuruh menaiki tangga perosotan seorang diri. Padahal usianya ketika itu 3 tahun lebih. Sama dengan usia Zidna saat ini. 

Mengapa rasa takut itu muncul?


Pada anak-anak rasa takut ini muncul karena mereka belum mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang cukup atas segala hal yang mereka temui di awal kehidupannya.
Bertambahnya usia, selain bertambah pengalaman dan pengetahuan terhadap segala hal di luar dirinya, emosional anak pun mengalami perkembangan. Mereka lebih mudah marah, mudah merasa cemas dan mudah dihinggapi rasa takut. 

Daya fantasi anak  pun turut berperan dalam menimbulkan rasa takut. Sementara itu, daya berpikir logis anak belum terbentuk sempurna, sehingga kerap mencampur aduk antara realita dan fantasi.

Mom, kondisi ini bila tidak diatasi dengan baik dampaknya di masa depan akan cukup serius. Yaitu munculnya rasa cemas hingga usia remaja. 

Bagaimana cara mengatasi takut pada anak?


Menurut Endah Kurniadarmi, dalam buku Nyebur Ke Dunia Anak (buku duet saya*promo detected hehehe) salah satu “obat” untuk hal-hal yang bersifat emosional adalah membuat anak merasa nyaman.

Rasa takut pada segala sesuatu bisa menimbulkan kecemasan. Dan kecemasan ini hanya bisa diatasi dengan cinta, keinginan untuk berkorban, menyenangkan hati orang lain, menimbulkan kebanggaan pada orang yang disayangi dan sebagainya.

Selain itu, tentu harus diimbangi dengan latihan-latihan, penambahan pengetahuan dan pengalaman si anak agar bisa mengatasi rasa takutnya.

Trik-trik berikut mungkin bisa membantu sahabat Moma  dalam mengatasi rasa takut yang muncul pada anak, terutama takut pada ketinggian – setidaknya, trik ini berhasil pada anak sulung saya.

Trik-trik mengatasi takut pada ketinggian pada anak

Peralatan yang harus disediakan:
           -  Sebilah papan yang kuat/ balok-balok kayu
           -  Bangku kecil 2 buah
           -  Kursi 2 buah

1. Berjalan meniti

Ambillah  papan atau balok, letakkan di lantai. Suruhlah anak berjalan meniti di bilah papan/ balok tersebut hingga ia merasa aman, nyaman dan menemukan keseimbangan.

2. Melewati jembatan

Letakan papan atau balok pada 2 bangku pendek dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Bimbing anak melewati jempatan kecil itu, hingga ia merasa aman dan mampu.
Bila anak sudah merasa berani, Mom boleh melepas pegangan tangannya. Dan membiarkan ia melewati jembatan itu seorang diri.

3. Rintangan yang lebih tinggi

Letakkan papan atau balok-balok pada permukaan kursi. Ulangi latihan seperti pada latihan kedua.
Lakukan hingga anak merasa puas dengan kemampuannya sendiri.

Beberapa catatan yang mungkin perlu diketahui, bahwa, latihan tersebut tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Pada anak-anak, umumnya, hal itu berlangsung mudah dan tanpa rintangan yang berarti.

Namun, pada anak-anak dengan tingkat ketakutan yang lebih tinggi. Membuatnya mau menjalani latihan tersebut bukanlah hal yang mudah. Selain memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Barangkali, Mom pun perlu mengawalinya dengan menciptakan kondisi bermain yang menyenangkan.

Tidak mudah memang menghilangkan rasa takut ini. Kadang kala hasilnya pun tidak tampak seketika. Namun percayalah, tidak akan ada perjuangan yang sia-sia.
Bila tidak tampak hari ini, mungkin kelak, pada tahun-tahun mendatang Mom akan dibuat takjub oleh keberanian buah hati melakukan berbagai aktraksi mendebarkan.

 (Well, saya mengalami itu! Si Sulung yang takut pada polisi tidur di usia balita, ketika remaja ternyata mampu melewati rintangan yang demikian tinggi. Meniti di atas seutas tali tambang dan hanya berpegangan pada tali temali yang digantung. Sungguh tantangan yang mendebarkan. Tak heran banyak orang dewasa yang menolak melakukan hal itu).

Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat mencoba.... ^_^

Referensi :
Nyebur Ke Dunia Anak, Liza Permasih & Endah Kurniadarmi, Kaba Media Internusa 2015.

12 komentar:

  1. Perlu dicoba juga nih ke si kecil. Semoga dia tidak takut lagi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga lancar yaaa Mbak Anisa. Keep spirit!

      Hapus
  2. Untungnya anakku jrg takut sih mba..justru aku yg suka dag dig dug kalo dia ngelakuin hal2 yg sdkt extreme pertama kali... pas ke themepark aja mintanya pgn naik kora2.. aku sih seneng kalo seandainya anakku tinggi bdnnya udh cukup :D.. lah ini masih di bawah syarat minimal, ya jelas dilarang.. tp sepupunya dia nih, yg penakutnya abis2an deh -__-. laki2 padahal... tp krn memang anak itu beda2 ya, berharap aja sepupunya nanti jd agak beranian.. ibunya sndiri ngebiarin, akunya juga jd ragu mw ngelatih supaya berani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kadang gak ngerti rasa takut itu datangnya dari mana. Padahal anak-anak gak pernah saya larang-larang kalo mau manjat atau lompat-lompat. Tapi ya... gitu deh. Tetep aja takut-takut...
      Jadi deh bikin kerjaan, melatih mereka supaya berani. Hehehe

      Hapus
  3. Makasih tips nya mba.Anakku juga suka takut-takut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ini kerjaan tambahan buat kita, Mbak Ety, melatih anak supaya berani. hehehe

      Hapus
  4. Dulu anak sulung syaa juga pernah takut seperti itu. Saya gak latih dengan bantuan alat, sih. Tapi paling untuk pertama-tama, saya bimbing dengan cara memegang tangannya ketika melewati papan itu. Pelan-pelan aja sampai akhirnya dia berani :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good job, Mbak Keke. DAn hal seremeh itu bisa jadi modal penting anak hingga dewasa kelak.

      Hapus
  5. HAna ga takut ketinggian si, tapi pgn juga tu nyoba ide papan titiannya. Nice info mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hana sih emang kereeeen...
      Kan turunan bapake, eh, salah... turunan bune. *modus

      Hapus
  6. Terima kasih tips-nya.
    Sejauh ini Salfa, anak saya, hanya takut sama gelap.
    Kalau takut dengan ketinggian, itu saya. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi.. kalo gitu sini Mbak Rahmah, latihan dulu...

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^