Rabu, 27 Januari 2016

Pertemanan Di Sosial Media Sejuta Rasanya



Ada yang mengatakan  sosial media hanya menciptakan ikatan semu dalam jalinan pertemanan. Ada juga yang mengatakan pertemanan di dunia maya tak bisa diharapkan sekokoh interaksi yang terjadi di dunia nyata.

Oh, saya tak ingin membenarkan atau pun menyalahkan pendapat-pendapat bernada suram di atas. Memang sering kali kemudahan dalam menjalin interaksi di sosial media terjadi ketika kita menanggalkan sebagian diri kita. Dan hanya menampilkan sisi-sisi positif yang kita miliki.

Tapi jangan lupa, kondisi tersebut juga kita lakukan pada saat kita berhubungan dan bertatap muka di dunia nyata. Nyatanya, sebagai manusia normal, kita hanya menampilkan sisi-sisi yang pantas untuk kita tampilkan.



Menarik, ketika pertemanan di media sosial kita terhubung dengan pribadi-pribadi tulus yang tidak saja memiliki kesamaan minat, hobi atau pun kebutuhan. Hubungan ini tidak hanya sekedar basa-basi di dunia maya. Atau pun sekadar urun jempol pada status yang kita tampilkan. Melainkan berubah menjadi interaksi dinamis yang saling mendukung, mengayakan dan penuh warna.

Baiklah, agar tak seperti kacang yang lupa akan kulitnya,  bisakah saya katakan bila karir kepenulisan saya bermula dari pertemanan di sosial media?

Ya. Pada awal karir saya, 6 tahun lalu, saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang didirikan Teh Indari Mastuti. Komunitas yang sangat menyenangkan, karena di sana saya berkenalan dengan teman-teman penulis yang tak sungkan berbagi ilmu.

 Di sana saya mengikuti sejumlah lomba tulis sehingga nama saya kemudian tercantum dalam sejumlah buku parenting dan inspiratif. Hal ini tentu sangat berarti dalam karir saya, minimal membuat saya merasa merasa mudah ketika harus mencantumkan sejumlah karya terbit.

Dalam komunitas itu pula, saya mengenal seorang sahabat yang memberikan peluang menulis yang hingga kini masih saya tekuni. Menakjubkan, bukan?

Kemudian, lewat pertemanan di sosial media pula saya mendapatkan informasi adanya kelas Penulis Tangguh. Kelas menulis gratis yang didirikan Bun Nurhayati Pujiastuti. Kelas yang pada awalnya nyaris membuat saya patah hati dan merasa tidak ada apa-apanya bila dibanding teman-teman lainnya yang luar biasa hebatnya.

Alhamdulillah, perasaan itu tidak membuat saya mundur dari beratnya tantangan di Kelas Penulis Tangguh. Bukan karena saya memiliki hati setangguh karang atau mempunyai kekebalan berlapis dalam menghadapi kelas yang selalu meriah itu.

Melainkan, karena saya memiliki teman-teman keren yang selalu mendukung dan memberi semangat. Mereka sungguh tak pernah segan mengkritik dan memberi masukan untuk menghasilkan karya-karya yang mampu memikat editor.

Ah, ya, bukankah pernah saya katakan kekerenan itu menular?
Dan teman-teman saya yang keren itu pun menulari saya dengan aura keren mereka. Dan hingga saat ini, kami saling menulari kekerenan. Dan menjaga persahabatan yang tulus dengan segala perbedaan yang ada.

Banyak sekali  cerita menakjubkan yang saya temukan lewat interaksi dunia maya ini. Seperti berkenalan dengan sosok-sosok keren yang sebelumnya tak terbayangkan akan saya sapa. Pribadi-pribadi hangat yang selalu meluangkan waktu hanya untuk mendengar keluhan saya. Atau pun mengajari saya meniti seluk-beluk dunia blogger.
 
Dan hari ini sebuah paket dari seorang sahabat yang saya kenal hanya melalui interaksi di media sosial. Bingkisan ketiga yang saya terima darinya. Bingkisan sebagai ungkapan sayang antar sahabat.

Jadi, sekali pun hasil penelitian tentang pertemanan di media sosial seakan tak menjanjikan. Namun saya tetap yakin, ketulusan dan keinginan untuk menciptakan interaksi yang sehat akan selalu dapat diandalkan.

Percayalah kawan.
Semoga, Allah Swt memberkahi silaturahmi kita.



12 komentar:

  1. Pengguna Socmed Indonesia tu memang unik, dan biasanya, unpredictable .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seleksi dari awal perlu banget untuk menghindari hal-hal yang unpredicteble... aku sih gitu. hehehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Tooosss Mbak Sri.
      thanks udah mampir

      Hapus
  3. Dari socmed malah saya banyak belajar mbak, alhamdulillah... jadi ga ada semu2nya sama sekali hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Saya juga merasakan itu.
      Pertemanan di fb bisa membuat kita belajar banyak hal.

      Makasih udah mampir ya Mbak Juni

      Hapus
    2. Betul. Saya juga merasakan itu.
      Pertemanan di fb bisa membuat kita belajar banyak hal.

      Makasih udah mampir ya Mbak Juni

      Hapus
  4. setuju sama artikel ini, socmed membuatku belajar tentang apa saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal kita memulai dengan niat baik... insya Allah hasilnya baik.

      Terima kasih atas kunjungannya mbak Silvi

      Hapus
    2. Asal kita memulai dengan niat baik... insya Allah hasilnya baik.

      Terima kasih atas kunjungannya mbak Silvi

      Hapus
  5. Aamiin. Semoga bisa terus sukses di dunia menulis dan sosmed, ya? ^^

    BalasHapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^