Kamis, 07 Januari 2016

Penyimpangan Perilaku Seksual, Apa Penyebabnya?





Perbincangan santai  saya dengan seorang teman, kemarin, menyisakan banyak sekali bahan untuk saya renungkan. Salah satunya tentang pembiasaan pada anak yang bisa menjadi bibit penyimpangan perilaku bagi si anak di usia dewasanya kelak.



Seringkali tanpa kita sadari, kita  membiarkan anak-anak melakukan permainan yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak perempuan bermain mobil-mobilan, anak laki-laki bermain boneka. Kita menganggap hal itu sebagai bagian dari masa kanak-kanaknya dan akan berhenti seiring waktu.

Bahkan, sebagai ibu, kita juga sering menyebut anak laki-laki kita pemalas karena ia tidak mau disuruh mencuci piring dan melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik. Kita juga menggerutu ketika anak perempuan kita tidak semandiri teman-temannya, yang bisa lincah mengendarai sepeda atau motor.

Kembali lagi pada perbincangan saya di atas. berdasarkan pengalaman teman saya itu  -- saya pikir, kita bisa mengambil hikmah dari mana saja, termasuk dari pengalaman hidup orang yang berada di sekitar kita-- penyimpangan perilaku/orientasi seksual bisa terjadi karena  beberapa faktor, di antaranya :

1. Pembiasaan sejak kecil

Membiasakan anak laki-laki hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik secara terus-menerus tanpa memberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan nalurinya sebagai seorang laki-laki bisa membentuk perilaku feminim pada anak.

Sebaliknya, membiasakan anak perempuan melakukan perkerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai dengan kodratnya secara terus-menerus selama bertahun-tahun, bisa mengakibatkan terbentuknya jiwa maskulin padanya.

 2. Kekosongan figur 

Tiadanya figur ayah yang mampu menciptakan rasa aman, tentram dan bangga akan membuat anak merasakan kekosongan yang membuatnya kesulitan menduplikasi sikap-sikap maskulin yang sesuai dengan identitas dirinya.

Kekosongan ini bisa diatasi apabila Ibu mempunyai perhatian yang cukup untuk mendampingi dan terus membentuk anak agar berkembang ke arah yang sesuai dengan kodratnya.

3. Lingkungan

Lingkungan berperan penting dalam pembentukan identitas anak. Lingkungan bermain, keluarga, yang senantiasa mengarahkan anak untuk melakukan dan menyukai hal-hal yang bersifat feminin akan membuat anak merasa nyaman dengan kondisi tersebut.

Contoh : pujian berulang kali setiap anak laki-laki tampil menggunakan pakaian perempuan, meski hanya untuk lucu-lucuan, berpotensi membuat anak merasa nyaman.

Ya, saya tahu, masih banyak faktor yang bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku seksual. Namun tidak ada salahnya, bila kita lebih berhati-hati dalam bersikap atau pun memperlakukan anak-anak kita.

Tiba-tiba saya teringat sebuah pesan Rasulullah SAW : Ajari anak laki-lakimu berenang, memanah dan berkuda.
Tentu, bukanlah tanpa alasan Rasulullah SAW menyuruh demikian. Mungkin, salah satunya adalah agar anak laki-laki memiliki identitas diri yang jelas dan terhindar dari penyimpangan perilaku kelak di usia dewasanya.
Wallahu'alam...





24 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih ya tuk kunjungannya... semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Yg no.2 itu katanya rentan memicu disorientasi sexual kearah homosexual mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mak Riawani. Memang begitu adanya..Duh, semoga kita bisa menjadi figur bagi anak-anak.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. Betul sekali... garis bawah pada "pembiasaan yang terus-menerus selama bertahun-tahun"... (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dialami teman saya seperti itu...memasak, mengurus rumah dan tidak adanya kesempatan untuk tumbuh sebagaimana anak laki-laki pada umumnya, berpotensi mengarahkan anak pada disorientasi perilaku seksual.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. saya setuju banget mbak mudah2an keluarga dan orang yang kita sayangi terhindar dari penyimpangan nauzubillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. ..terima kasih atas kunjungan nya.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. Sepakat, Mbk. Mari saling menjaga anak-anak kita. Artikel yang pas.

    BalasHapus
  6. Ah ya. Kadang tanpa sadar suka muji kalo ada anak laki2 yg wajahnya imut kayak anak perempuan. Ada pula yg lucu2an makein jilbab ke anak laki. Hemm harus lbh ati2 buat muji nih dr skrg. Makasih udah diingetin ya Mak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mak. Makasih juga untuk kunjungannya :)

      Hapus
  7. Alhamdulillah anakku tetap macho meskipun seringkali bantu maknya cuci piring atau ngepel, ha.....betewe akhirnya saya mulai nulis lagi setelah vakum cukup lama http://tizara42.blogspot.co.id/2016/01/boleh-tidak-pacaran.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... selama ada kita memberikan kesempatan bagi anak laki-laki berkembang sesuai kodratnya, dan ada figur ayah yang bisa menjadi sosok idola, membantu ortu insya Allah menjadi nilai lebih bagi anak-anak. HAtur nuhun...
      Selamat ngeblog lagi teteh. Insya allah nanti saya berkunjung ke sana

      Hapus
  8. kalau aku sih lebih diarahkan dg cara bercerita , dan aku sih tetap mengajarkan anak alki amupun perempuan semau bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Karena aku sangat terbantukan sekali dg suami yg mau turun tangan membantuku dlm urusan rumah tangga. dan anak-anaku selalu bersama bekerja bakti setiap hari. Dan aku bisa tak punya pembantu walau aku bekerja.Semau bisa terurus. Annakku yg perempuan takut kalau diberi boneka yg berwujud manusia, malah dia suka banget dg mainan kakanya. tapi mereka tumbuh dg baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... senang mendengarnya. Saya juga mengajarkan anak saya laki-laki dan perempuan semua pekerjaan, tapi seiring dengan waktu, mereka ternyata memiliki kecenderungan sendiri. Ketika anak laki-laki tidak suka mencuci piring, maka saya berikan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, contoh beli gas dan buang sampah.

      Yang saya maksud dengan pekerjaan domestik di atas, adalah, adanya pemaksaan yang berlangsung bertahun-tahun tanpa diiringi kesempatan untuk mengembangkan sisi maskulinnya. :)

      Btw, Makasih Mak Tira atas kunjungannya.

      Hapus
  9. Mba, yang buat heran kenapa ketika ada anak perempuan yang tomboy dianggap biasa dan kadang dibanggakan. Tapi ini tidak terjadi pada anak laki yang melakukan kegiatan sebaliknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal sama aja ya? hehehe...
      Tapi mungkin juga kalo perempuan relatif lebih mudah kembali pada kodrat perempuannya. Kecuali bila dalam pergaulannya sudah terlibat secara mendalam pada hub sesama.

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^