Senin, 18 Januari 2016

Kisah Inspiratif : Ojek Payung Itu Kini Menjadi Manajer Artis Papan Atas



Gigil ini semakin rapat membungkusku. Aku tak ingin mengutuk hujan. Bagiku hujan merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk menyentuhku. Tak mungkin aku membenci hujan. Sebab melalui rintiknya yang tak henti aku bisa menyematkan harapanku akan masa depan.

Masa depan? Ah, alangkah naifnya. Adakah masa depan bagi seorang tukang ojek payung seperti diriku? 

“Dek, payung..!”

Lamunanku pecah. Kulihat seorang ibu kepayahan membawa barang. Aku bergegas menghampirinya. Untuk sesaaat aku melupakan rasa lapar yang menggigit perutku. 

*
Masa depan itu ada. Bagi siapa pun yang ikhlas berjuang untuk orang-orang yang mereka sayangi. Juga bagiku. Ojek payung hanyalah satu episode dalam sejarah hidupku.

Aku tak menganggapnya sebagai bagian paling pahit dalam perjalanan hidupku. Tidak. Kenyataannya menjadi ojek payung adalah sebuah langkah nyata bagiku sebagai proses menuju kehidupan yang lebih rumit di masa depan.

Menjadi ojek payung di usia belia mengajariku bagaimana cara bertahan hidup sekaligus menghidupi keluarga. Bagaimana mengakrabi dinginnya hujan sekaligus menyalakan bara harapan dalam dada. Aku harus berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk diriku dan adik-adikku. 

Bersama hujan yang luruh dari langit, aku tahu, Tuhan menghangatkan hatiku dengan mimpi-mimpi yang harus selalu kuraih. Harapan-harapan yang tumbuh subur bersama prestasi-prestasi  yang kuraih di bangku sekolah.

Hujan juga mengajariku satu hal. Sederas apapun ia menghantamku, aku akan bertahan dan terus melangkah. Seperti juga terpaan masalah yang terus menerpaku. Aku memilih untuk menghadapinya dan menyelesaikan satu demi satu masalahku.

Sejak menjalani PKL di Aerowisata Catring Servise Soekarno Hatta, aku sudah mendapatkan gaji yang lumayan besar untuk ukuran masa itu. Kemudian setamat SMK aku pernah menjadi Cook Helper Hotel Hilton. Kemudian pindah ke sebuah kafe di Bogor.

Pengalaman ini kemudian membuatku memberanikan diri untuk membuka bisnis sendiri. Aku mendirikan kafe Waroeng Gedung Sawah yang berlokasi di belakang Hotel Salak Bogor.

Namun sayang, krisis moneter membuatku tak bertahan. Aku harus memulai lagi dari titik nol. Tidak mungkin aku tidak memiliki penghasilan. Kedua orangtua dan adik-adikku bergantung sepenuhnya padaku. Dan pilihan itu membuatku kembali ke Jakarta. Mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianku di bidang kuliner. 
 Langkahku kemudian membawaku Prego Restaurant and Bar. Di tempat ini aku menggeluti beberapa pekerjaan sekaligus. Siang dan malam. Aku melupakan cerahnya matahari pagi dan kicau burung. Aku hanya tahu, aku harus mencari uang untuk menghidupi adik-adikku di kampung. Aku kehilangan orientasiku atas waktu. Saat bekerja di tempat inilah aku menjalin relasi dengan banyak pihak. Prego merupakan jempatan emasku menuju karir yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Bekerja siang dan malam tak urung membuatku merasa lelah. Rasa lelah yang menuntunku untuk mengevaluasi pekerjaan-pekerjaanku. Keputusanku untuk resign dari sebuah EO ternyata diikuti oleh seorang model yang memintaku untuk menjadi manajer.

Aldo, Revaldo Fifaldy Suria Permana menjadi anak asuh pertamaku. Kesuksesannya di layar kaca membuat banyak artis, baik senior maupun pemula memintaku untuk menjadi manajer mereka. 

Kepahitan hidup di masa lalu membuatku mudah mengerti dan memahami serta menghadapi berbagai karakter anak didikku. 

Sebagai manajer aku tak segan-segan bertindak jadi sahabat yang selalu mendengarkan keluhan dan harapan mereka. Sebagai seorang bapak, aku selalu siap melindungi dan membela mereka. 

Bahkan, terkadang aku bisa lebih kejam dari ibu tiri, ketika harus memaksa mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan demi perkembangan karir mereka.

Ojek payung, kini hanyalah kenangan yang kusesap kesenduannya lewat dingin hujan. Bukan untuk kusesali, melainkan untuk bersyukur atas rahmat yang dicurahkan Allah Swt. Dan di sinilah aku, di antara  gemerlap dunia selebritas.




 Kisah ini terinspirasi dari perjalanan hidup Wendra Basarah. Yang menjalani hidup dari seorang ojek payung dan berjuang untuk hidup yang lebih baik.


18 komentar:

  1. Kisah inspiratif nih, kalau dimasukakn ke link Viva bisa naik nih pengunjung blog :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...? ntar ajarin lagi yaaa. Thanks udah mampir

      Hapus
  2. Bagus juga Biografi ditulis gaya gini, ya. Mantaaf, tulisannya. Menginspirasi dan bikin semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... senang bila ada yang mengambil hikmahnya...
      Trims yaaa Izzah ^^.

      Hapus
  3. Inspiratif Mbak. coba kirim ke vivalog . siapa tahu naikin traffic

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok. Mbak Tatit siyaaaap...
      Thanks udah mampir yaa

      Hapus
  4. Balasan
    1. Tantangan buat kita untuk lebih baik hehehe
      Trims yaaa

      Hapus
  5. Balasan
    1. Makasih atas kunjungannya ya Mbak Dwi

      Hapus
  6. Balasan
    1. Hahaha.... saya gak punya cukup keberanian untuk jadi ojek payung.

      Hapus
    2. Hahaha.... saya gak punya cukup keberanian untuk jadi ojek payung.

      Hapus
  7. Subhanallah, merinding bacanya☺ saya jadi malu karna selama ini banyak ngeluh padahal kalau di bandingkan dengan cerita perjuangan beliau ga ada apa apanya😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya. .
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Terima kasih atas kunjungannya. .
      Semoga bermanfaat.

      Hapus
  8. Wah kisahnya luar biasa sekali mba. Masuk viva news juga mantap nih nanti pengunjungnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah nanti saya coba. Terima kasih masukannya yaaa

      Hapus

Sahabat Moma, saya akan senang sekali bila Anda berkenan menitipkan jejak pada kolom komentar.
Dimohon untuk tidak meninggalkan link hidup. Bila tetap dilakukan, dengan terpaksa saya akan menghapus komentar tersebut.
Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
Terima kasih... ^_^